• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Skrining dan Uji diagnostik

Skrining adalah penerapan tes untuk mendeteksi potensi penyakit pada seseorang yang tidak memiliki tanda atau gejala penyakit (Snow, 2004). Skrining mempunyai dua tujuan yaitu untuk mendeteksi dini penyakit dengan harapan intervensi dapat segera dilakukan sehingga pengobatan akan lebih efektif dan ekonomis. Tujuan lainnya adalah untuk mendeteksi tingkat faktor risiko seseorang terhadap suatu penyakit dengan harapan dapat memodifikasi risiko penyakit sebagai bentuk pencegahan. Namun, tetap harus dilakukan pemeriksaan lain menggunakan standar baku (Gold Standart) untuk menentukan diagnosis yang pasti (Chandra, 2009; Snow,2004).

Sebagai salah satu bentuk pencegahan terhadap penyakit, umumnya kegiatan skrining dilakukan berdasarkan tiga target pencegahan. Pertama adalah Pencegahan Primer, ditujukan kepada orang-orang yang tidak memiliki gejala untuk mengidentifikasi faktor risiko dini sehingga proses patologi penyakit dapat ditahan. Kedua adalah Pencegahan Sekunder, ditujukan kepada orang-orang dalam proses awal penyakit untuk memperbaiki prognosis. Target ketigas ialah Pencegahan Tersier, ditujukan kepadan orang yang mengalami komplikasi, skrining tersebut dilakukan untuk mencegah dampak lanjutan dari komplikasi tersebut (Morton dkk., 2009). Skrining prahipertensi dengan alat ukur obesitas dalam penelitian ini termasuk pencegahan sekunder, dimana fungsi

prognosisnya adalah untuk menentukan rencana perawatan atau terapi lanjutan serta rehabilitasi.

Sebuah alat skrining perlu memiliki performa yang baik dalam membedakan individu yang sakit dan yang tidak sakit melalui uji diagnostik. Uji diagnostik merupakan penelitian untuk menguji akurasi atau kemampuan suatu alat uji dalam mendiagnosa penyakit. Uji ini dilakukan untuk mendeteksi penyakit, memperkuat atau menyingkirkan suatu dugaan penyakit (Budiarto, 2003).

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa alat skrining adalah sebuah alat bantu untuk mendeteksi dini. Namun, untuk menegakkan sebuah diagnosa penyakit perlu dilakukan pemeriksaan lebih akurat menggunakan standar baku. Berikut penjelasan lebih lanjut terkait standar baku dan analisis diagnostik yang digunakan dalam penelitian.

1. Standar baku dan Indeks

Dalam uji diagnostik terdapat istilah standar baku atau pemeriksaan penunjang. Sebelum menegakkan diagnosa penyakit, dokter atau ahli kesehatan akan melakukan pemeriksaan standar baku. Standar baku adalah pemeriksaan yang dijadikan sebagai rujukan akhir untuk menentukan pasien menderita penyakit atau tidak (Dahlan, 2009; Sastroasmoro, 2014). Terdapat bermacam-macam pemeriksaan standar baku disesuaikan kebutuhan kasus, contohnya pemeriksaan laboratorium, radiologi, USG, Elektrokardiogram, dan sebagainya (Budiarto, 2003). Dalam penelitian hipertensi ini, standar

baku yang digunakan adalah pemeriksaan tekanan darah menggunakan alat pengukur tekanan darah sesuai dengan yang dilakukan dalam penelitian Riskesdas.

Sedangkan indeks adalah alat atau bentuk pemeriksaan yang sedang diteliti. Syarat dari indeks adalah memiliki nilai diagnostik yang lebih rendah dari standar baku, bukan merupakan salah satu komponen standar baku, dan memiliki kelebihan yang relatif cukup baik untuk dijadikan pilihan untuk menjadi alat diagnosa (Dahlan, 2009). Dalam penelitian ini indeks yang dimaksud adalah cut off

obesitas dari indikator Lingkar Pinggang. Indikator ini dipilih karena mudah, cepat dan ekonomis dibandingkan standar bakunya yaitu alat ukur tekanan darah.

2. Analisis uji diagnostik

Uji dianostik mempunyai tiga cara analisis. Ketiga cara analisis tersebut memiliki fungsi yang berbeda (Dahlan, 2009), yaitu:

a. Tabel 2 x 2

Analisis ini berfungsi untuk mendapatkan performa alat uji yang terlihat dari sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif, niali duga negatif, rasio kemungkinan positif dan rasio kemungkinan negatif.

b. Kurva ROC

Kurva ROC atau Receiver Operating Characteristic

mempunyai fungsi untuk melihat nilai AUC atau Area under Curve untuk memperoleh cut off point yangdirekomendasikan. c. Multivariat Berjenjang

Merupakan analisis uji diagnostik yang lebih kompleks dengan melihat nilai diagnostik dari parameter anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang sederhana, pemeriksaan penunjang canggih. Dengan yang cara ini akan menghasilkan nilai AUC untuk memperoleh cut off point

rekomendasi.

Penelitian ini menggunakan analisis tabel 2x2 karena fungsinya yaitu untuk melihat akurasi alat yang diuji. Analisis ini dinilai paling sederhana namun dapat menunjukkan akurasi alat uji yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Penelitian ini bertujuan membandingkan performa cut off terbaik sebagai alat skrining hipertensi. Harapannya, alat skrining tersebut dapat digunakan oleh semua orang, sehingga jika seseorang telah dinyatakan obesitas oleh alat tersebut, maka ia akan segera mendatangi ahli kesehatan atau fasilitas kesehatan untuk mendapatkan diagnosa pasti dengan pemeriksaan tekanan darah dan bisa segera menerima intervensi kesehatan.

Alat skrining diharapkan mampu menjaring banyak orang berisiko sehingga penyakit dapat segera diintervensi. Untuk tujuan tersebut, diperlukan nilai sensitivitas dan spesifisitas yang baik yaitu persentase yang paling mendekati 100%. Namun, kedua nilai tersebut selalu berbanding terbalik. Jika menginginkan nilai sensitivitas yang tinggi maka akan terjadi penurunan nilai spesifisitas, begitu pula sebaliknya.

Sehingga penetapan cut off berdasarkan nilai validitas bergantung pada pertimbangan klinis sesuai penyakit yang diteliti. Jika penyakit tersebut termasuk sangat jarang atau mematikan maka diperlukan sensitivitas yang tinggi agar lebih banyak orang yang terjaring dan segera memeriksakan kesehatan lebih lanjut (Morton dkk, 2009). Sehingga peneliti akan lebih mempertimbangkan tingginya nilai sensitivitas dalam membandingkan performa cut off terbaik.

3. Langkah Mendapatkan Nilai Diagnostik

Nilai diagnostik yang diinginkan pada penelitian ini adalah sensitivitas dan spesifitas. Nilai diagnostik tersebut diperoleh melalui analisis tabel 2x2, sebagai berikut:

Tabel 2.3

Rumus Analisis Tabel 2x2

Positif Negatif Positif a b a + b Negatif c d c + d a + c b + d Rumus Sensitivitas = a : (a+c) Spesifisitas = d : (b+d)

Nilai diagnostik diatas dipilih berdasarkan fungsinya dalam menginterpretasi kemampuan suatu alat uji. Sensitivitas dan spesifisitas dapat menyatakan validitas alat uji dalam arti kemampuan alat uji untuk mengukur apa yang seharusnya diukur (Morton dkk., 2009; Chandra, 2009):

a. Sensitivitas adalah persentase kemampuan alat uji untuk mengklasifikasikan positif pada orang sakit. Parameter ini dapat menyatakan persentase orang sakit yang dideteksi oleh alat uji dari kelompok orang yang benar-benar sakit.

b. Spesifitas adalah persentase kemampuan alat uji untuk mengklasifikasikan negatif pada orang sehat. Parameter ini dapat menyatakan persentase orang tidak sakit yang dideteksi oleh alat uji dari kelompok orang yang benar-benar tidak sakit. Titik

potong