BAB III. METODE PENELITIAN
3.4 Prosedur Penelitian
3.4.4 Skrining Fitokimia Ekstrak Kasumba Turate
Ekstrak kasumba turate diambil sebanyak 3 tetes dan dimasukkan ke dalam plat tetes. Ekstrak tersebut ditambahkan 3 tetes pereaksi
36 Liebermann-Bucchard. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya jingga atau ungu untuk terpenoid dan warna biru untuk steroid (Harborne, 1996) b. Uji kandungan alkaloid
Ekstrak kasumba turate diambil sebanyak 3 tetes dan dimasukkan ke dalam plat tetes. Ekstrak tersebut ditambahkan 3 tetes pereaksi Wagner.
Hasil positif ditandai dengan terbentuknya endapan cokelat (Harborne, 1996).
c. Uji kandungan alkaloid
Ekstrak kasumba turate diambil sebanyak 3 tetes dan dimasukkan ke dalam plat tetes. Ekstrak tersebut ditambahkan 3 tetes pereaksi Mayer.
Hasil positif ditandai dengan terbentuknya endapan putih kekuningan (Harborne, 1996).
d. Uji kandungan alkaloid
Ekstrak kasumba turate diambil sebanyak 3 tetes dan dimasukkan ke dalam plat tetes. Ekstrak tersebut ditambahkan dengan pereaksi Dragen Droff. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah jingga (Harborne, 1996)
e. Uji kandungan flavonoid
Ekstrak kasumba turate diambil sebanyak 3 tetes dan dimasukkan ke dalam plat tetes. Ekstrak tersebut ditambahkan dengan 3 tetes H2SO4. Hasil positif ditandai dengan terjadinya perubahan warna jingga (Harborne, 1996).
f. Uji kandungan flavonoid
Ekstrak kasumba turate diambil sebanyak 3 tetes dan dimasukkan ke dalam plat tetes. Ekstrak tersebut ditambahkan dengan 3 tetes pereaksi NaOH 10%. Perubahan warna jingga menunjukkan adanya senyawa flavonoid (Harborne, 1996).
g. Uji kandungan tanin
Ekstrak kasumba turate diambil sebanyak 3 tetes dan dimasukkan ke dalam plat tetes. Ekstrak tersebut ditambahkan dengan 3 tetes pereaksi FeCl3. Perubahan warna biru kehitaman menunjukkan adanya senyawa tanin (Harborne, 1996).
37 3.4.5 Analisis Gugus Fungsi Kasumba Turate melalui FTIR
FTIR digunakan untuk menganalisis gugus fungsi. FTIR dengan perangkat sampling Smart iTR Attenuated Total Reflectance (ATR) yang berfungsi menghilangkan preparasi sampel sehingga proses pengujiannya lebih sederhana. Sampel dimasukkan pada perangkat iTR. Selanjutnya, proses analisis dilakukan.
3.4.6 Pengujian Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kasumba Turate a. Pembuatan 50 mL larutan DPPH 0.4 mM
Pembuatan reagen DPPH dengan konsentrasi 0.4 mM diawali dengan cara 0.0078 g DPPH ditimbang dengan menggunakan neraca digital pada wadah gelas kimia 10 mL. Selanjutnya, DPPH tersebut dilarutkan dengan larutan metanol grade Emsure, dan dituang dalam labu takar 50 mL. Larutan diimpitkan dengan metanol hingga tanda batas.
Dengan demikian, reagen DPPH 0.4 mM sebanyak 50 mL diperoleh.
b. Pembuatan deret standar asam askorbat 1) Pembuatan asam askorbat 1000 ppm
Pembuatan deret standar asam askorbat didahului dengan cara 10 mg asam askorbat ditimbang dengan menggunakan neraca digital pada wadah gelas kimia 10 mL. Selanjutnya, asam askorbat dilarutkan dengan metanol, diaduk dan dituang ke dalam labu takar 10 mL. Larutan kemudian diimpitkan dengan metanol hingga tanda batas. Larutan standar asam askorbat dengan konsentrasi 1000 ppm atau 1000 mg/L diperoleh.
Dari larutan tersebut diambil 1 mL diencerkan dengan metanol pada labu takar 10 mL diperoleh konsentrasi 100 ppm.
2) Pembuatan asam askorbat 10 ppm
Pembuatan asam askorbat 10 ppm dilakukan dengan cara 2.5 mL larutan asam askorbat 100 ppm dipipet dengan pipet skala 25 mL dan dimasukkan dalam labu takar 25 mL. Larutan kemudian diimpitkan dengan metanol hingga tanda batas. Larutan asam askorbat dengan konsentrasi 10 ppm atau 10 mg L-1 diperoleh.
3) Pembuatan deret standar asam askorbat 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, dan 8 ppm
Larutan deret standar dibuat dengan deret 2 ppm; 4 ppm; 6 ppm; 8 ppm. Larutan asam askorbat 10 ppm dipipet dengan volume tertentu dan dimasukkan dalam labu takar 10 mL hingga diperoleh deret standar asam
38 askorbat dengan konsentrasi tersebut. Volume asam askorbat yang dipipet disajikan dalam Tabel 1.
Tabel 1. Pengenceran asam askorbat standar 100 ppm Labu Takar
c. Pembuatan larutan uji ekstrak air kasumba turate
1) Pembuatan larutan uji ekstrak air konsentrasi 5000 ppm
Sebanyak 2.5 mL ekstrak kasumba turate 5% dipipet dengan pipet skala 5 mL dan dimasukkan ke dalam labu takar 25 mL. Ekstrak tersebut diimpitkan dengan metanol hingga tanda batas. Dengan demikian, 25 mL larutan uji ekstrak air kasumba turate dengan konsentrasi 5.000 ppm.
2) Pembuatan larutan uji ekstrak air konsentrasi 1000 ppm, 2000 ppm, 3000 ppm dan 4000 ppm
Larutan uji ekstrak air kasumba turate dibuat dengan deret konsentrasi 1000 ppm; 2000 ppm; 3000 ppm; dan 4000 ppm. Ekstrak air kasumba turate dipipet dengan volume tertentu dan dimasukkan dalam labu takar 10 mL. Ekstrak tersebut diimpitkan dengan metanol hingga tanda batas. Dengan demikian, larutan uji dengan konsentrasi tersebut diperoleh. Volume kasumba turate 5000 ppm yang dipipet disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Pengenceran ekstrak air kasumba turate 5000 ppm Labu Takar
39 d. Pengukuran serapan larutan uji dengan spektrofotometer visibel
1) Larutan blanko
Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan pengujian serapan/absorbansi larutan blanko. Larutan blanko yang digunakan pada pengujian ini adalah metanol. Metanol dipipet sebanyak 3 mL dan dimasukkan dalam tabung reaksi yang sebelumnya telah ditutup dengan aluminium foil. Selanjutnya, 3 mL larutan DPPH 0.4 mM dicampurkan ke dalam tabung reaksi. Larutan dihomogenkan dengan pengocok vortex pada kecepatan 12000 rpm. Larutan diinkubasi dalam ruang gelap selama 20 menit. Serapan diukur dengan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 517 nm.
2) Larutan deret standar asam askorbat
Sebanyak 3 mL larutan standar asam askorbat dengan konsentrasi 2 ppm; 4 ppm; 6 ppm; 8 ppm; dan 10 ppm masing-masing dipipet dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Selanjutnya, larutan standar tersebut ditambahkan dengan 3 mL larutan DPPH 0.4 mM. Larutan kemudian dihomogenkan dengan pengocok vortex pada kecepatan 12000 rpm.
Larutan diinkubasi dalam ruang gelap selama 20 menit. Serapan diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang gelombang 517 nm.
3) Larutan ekstrak air kasumba turate
Sebanyak 3 mL ekstrak air kasumba turate dengan konsentrasi 1000 ppm; 2000 ppm; 3000 ppm; 4000 ppm; 5000 ppm masing-masing dipipet dan dimasukan ke dalam tabung reaksi. Kemudian, ekstrak ditambahkan 3 mL DPPH 0.4 mM masing-masing ke dalam tabung reaksi tersebut. Larutan dihomogenkan dengan pengocok vortex pada kecepatan 12000 rpm. Larutan diinkubasi dalam ruang gelap selama 20 menit.
Serapan diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang gelombang 517 nm.
40 Gambar 17. Skema penelitian skrining aktivitas antibakteri kasumba turate
41 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Studi Fitokimia Ekstrak Air Kasumba Turate
Ekstrak air kasumba turate memiliki ciri-ciri fisik berwarna kuning kecoklatan dan berbau khas. Ekstrak tersebut dilakukan uji fitokimia terhadapnya dengan tujuan untuk mendeteksi kehadiran metabolit sekunder di dalamnya. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Studi fitokimia ekstrak air Kasumba Turate Pengujian Pereaksi Hasil Keterangan terpenoid dan
steroid
Lieberman - jingga
alkaloid Wagner + cokelat
alkaloid Mayer - kuning kecoklatan
(muda)
alkaloid Dragendroff + jingga
flavonoid H2SO4 p.a +++ jingga flavonoid NaOH 10% +++ coklat muda
tanin FeCl3 +++ biru kehitaman
Hasil dari pengujian senyawa terpenoid dan steroid tidak menunjukkan adanya perubahan warna. Hal tersebut terjadi karena kedua senyawa tersebut bersifat nonpolar, sementara pelarut yang digunakan ialah air yang bersifat polar. Perbedaan kepolaran tersebut mengakibatkan kedua senyawa ini kemungkinan tidak terekstrak dalam sampel. Oleh karena itu, ekstrak air kasumba turate tidak mengandung terpenoid dan steroid.
Hasil yang diperoleh pada penelitian ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian sebelumnya. Flavonoid merupakan salah satu komponen utama yang terdapat pada bunga kasumba turate (Shirwaikar et al., 2019).
Natsir (2018) mengemukakan bahwa ekstrak etanol kasumba turate terdiri atas komponen alkaloid, flavonoid, dan steroid/triterpenoid. Hamsidi et al. (2018) melaporkan bahwa ekstrak etanol kasumba turate mengandung senyawa metabolit sekunder di antaranya terpenoid, flavonoid, tanin, dan beberapa senyawa fenolik lainnya. Sabah dan Saleh (2015) melaporkan bahwa ekstrak eter kasumba turate tidak terdapat kandungan alkaloid, karbohidrat, glikosida, saponin, dan tanin. Namun, ekstrak tersebut
42 mengandung fenol, steroid, dan terpenoid. Sementara ekstrak flavonoid kasumba turate hanya mengandung senyawa flavonoid.
Gambar 18. Reaksi identifikasi alkaloid menggunakan pereaksi Wagner
Gambar 19. Reaksi identifikasi alkaloid menggunakan pereaksi Dragendroff Deteksi alkaloid dilakukan dengan menggunakan tiga jenis pereaksi, yaitu pereaksi Wagner, Mayer, dan Dragendroff. Untuk pereaksi Wagner, hasil positif ditandai dengan terbentuknya endapan kalium-alkaloid yang berwarna coklat hingga merah (gambar 18). Untuk pereaksi Mayer, hasil positif ditandai dengan terbentuknya endapan kalium-alkaloid yang berwarna putih. Sementara untuk pereaksi Dragendroff, hasil positif ditandai dengan kehadiran endapan kalium-alkaloid berwarna jingga (Gambar 19).
Gambar 20. Reaksi identifikasi flavonoid menggunakan pereaksi NaOH 10%
43 Deteksi flavonoid dilakukan dengan menggunakan dua jenis pereaksi, yaitu H2SO4 p.a dan dan NaOH 10%. Untuk pereaksi H2SO4, hasil positif ditandai dengan terbentuknya warna jingga. Untuk pereaksi NaOH, hasil positif ditandai dengan terjadinya perubahan menjadi warna coklat (Gambar 20).
Kehadiran senyawa flavonoid pada ekstrak air kasumba turate dipengaruhi oleh keberadaan gugus hidroksil yang banyak. Gugus ini menyebabkan flavonoid bersifat polar. Semakin banyak gugus hidroksil, semakin besar kelarutan senyawa tersebut di dalam air.
Gambar 21. Reaksi identifikasi tanin menggunakan pereaksi FeCl3
Deteksi tanin dilakukan dengan menggunakan pereaksi FeCl3. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya warna hijau, merah, ungu, biru atau hitam yang kuat. Warna tersebut terbentuk karena ekstrak air kasumba turate mengandung gugus fenol pada tanin yang bereaksi dengan ion Fe3+. Hasil reaksi ini adalah senyawa kompleks yang memiliki warna tersebut (Gambar 21).
Senyawa kompleks terbentuk karena kehadiran Fe3+. Ion ini bertindak sebagai atom pusat, sedangkan atom O pada tanin bertindak sebagai ligan yang dapat mengkoordinasikan pasangan elektron bebas (PEB) ke atom pusatnya. Ion Fe3+ tersebut berikatan dengan tiga tanin,
44 dua atom O pada dua gugus hidroksi posisi 4’ dan 5’ mengkoordinasikan elektronnya sehingga terdapat enam PEB dikoordinasikan ke atom pusat.
Atom O pada gugus hidroksi 4’ dan 5’ tanin mempunyai energi paling rendah dalam pembentukan senyawa kompleks sehingga senyawa tersebut memiliki kemampuan untuk menjadi ligan.
4.2 Analisis Gugus Fungsi Ekstrak Air Kasumba Turate
Gambar 22. Spektrum IR ekstrak air kasumba turate
Ekstrak air kasumba turate menjadi sasaran analisis FTIR. Analisis ini dimaksudkan untuk membuktikan dugaan kehadiran senyawa-senyawa berdasarkan studi fitokimia (Gambar 22). Hasil tersebut memperlihatkan adanya spektrum serapan yang khas. Spektrum tersebut berada bilangan gelombang 614.41 cm-1; 1637.96 cm-1; dan 3452.90 cm-1.
Bilangan gelombang 1637.96 cm-1yang terletak antara 1600-1500 cm-1 diduga gugus C=O karena puncaknya sangat tajam dan khas. Daerah serapan 3500-3000 muncul puncak yang diprediksi sebagai serapan -OH yang luas pada bilangan gelombang 3452.90 cm-1. Data tersebut mengindikasikan terdapat senyawa golongan asam karboksilat. Selain itu, serapan 3500 cm-1 memperlihatkan kehadiran gugus -NH. Serapan pada 1650 cm-1 menunjukkan adanya alkena, sedangkan serapan pada 1650-1450 cm-1 memberikan dugaan kehadiran senyawa aromatis.
614.41
45 4.3 Aktivitas Antibakteri Ekstrak Air Kasumba Turate
Daya hambat terhadap bakteri diduga merupakan salah satu potensi dari kasumba turate. Hal ini didasarkan pada keberadaan metabolit sekunder yang ditimbulkan dari zat warna pada kasumba turate. Penelitian ini menyelidiki pengaruh kasumba turate pada bakteri pathogen. Hal ini diukur dengan mengetahui zona bening yang dihasilkan setiap ekstrak kasumba turate. Pengukuran zona bening (zona hambat) bakteri dilakukan dengan alat jangka sorong. Pengukuran zona hambat terhadap bakteri patogen tidak hanya pada ekstrak kasumba turate, akan tetapi juga digunakan kontrol positif dan kontrol negatif. Kontrol positif yang digunakan adalah kloramfenikol, sedangkan kontrol negatifnya adalah natrium klorida. Jumlah ekstrak yang akan diuji daya hambatnya adalah 15 ekstrak kasumba turate dengan kondisi ekstraksi yang berbeda-beda.
Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak air kasumba turate diskrining berdasarkan tiga kondisi/faktor, yaitu variasi konsentrasi, variasi suhu, variasi waktu perendaman. Nilai zona hambat dievaluasi untuk mengetahui aktivitas ekstrak kasumba turate dalam menghambat bakteri.
Tabel 4. Pengaruh konsentrasi terhadap aktivitas antibakteri
Konsentrasi Zona hambat memiliki aktivitas antibakteri yang kecil. Selama penelitian ini, isolat dengan variasi konsentrasi dapat dikendalikan, sementara isolat yang lain merespons dengan sangat buruk atau tidak dihambat. Isolat E. coli yang merupakan bakteri gram negatif tidak dapat dihambat oleh ekstrak air kasumba turate. Sedangkan, isolat S. aureus dapat dihambat pertumbuhannya oleh ekstrak tersebut meskipun kemampuannya untuk menghambat sangat kecil. Ekstrak air kasumba turate dengan konsentrasi
46 5% memiliki nilai hambat yang besar di antara variasi konsentrasi yang lain, namun ini belum bisa dikategorikan kuat dalam menghambat. Nilai hambat ekstrak ini sangat jauh berbeda dengan kontrol positif (kloramfenikol yang merupakan antibakteri standar).
Tabel 5. Pengaruh suhu terhadap aktivitas antibakteri
Suhu Zona hambat
Tabel 5 juga menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri ekstrak air kasumba turate kecil. Selama penelitian ini, isolat dengan variasi suhu juga dapat dikendalikan, sementara isolat yang lain merespons dengan sangat buruk atau tidak dihambat. Isolat E. coli yang merupakan bakteri gram negatif tidak dapat dihambat oleh ekstrak air kasumba turate.
Sedangkan, isolat S. aureus dapat dihambat pertumbuhannya oleh ekstrak tersebut meskipun kemampuannya untuk menghambat sangat kecil.
Ekstrak air kasumba turate suhu 80 ºC memiliki nilai hambat yang besar di antara variasi suhu yang lain, namun ini belum bisa dikategorikan kuat dalam menghambat. Nilai hambat ekstrak ini sangat jauh berbeda dengan kontrol positif (kloramfenikol yang merupakan antibakteri standar).
Tabel 6. Pengaruh waktu pemanasan aktivitas antibakteri Waktu pemanasan
47
20’ 2.70 mm 0.00 mm
25’ 2.44 mm 0.00 mm
Tabel 6 juga menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri ekstrak air kasumba turate kecil. Selama penelitian ini, isolat dengan variasi waktu perendaman juga dapat dikendalikan, sementara isolat yang lain merespons dengan sangat buruk atau tidak dihambat. Isolat E. coli yang merupakan bakteri gram negatif tidak dapat dihambat oleh ekstrak air kasumba turate. Sedangkan, isolat S. aureus dapat dihambat pertumbuhannya oleh ekstrak tersebut meskipun kemampuannya untuk menghambat sangat kecil. Ekstrak air kasumba turate waktu perendaman 15 menit memiliki nilai hambat yang besar di antara variasi waktu lainya, namun ini belum bisa dikategorikan kuat dalam menghambat. Nilai hambat ekstrak ini sangat jauh berbeda dengan kontrol positif (kloramfenikol yang merupakan antibakteri standar).
Berdasarkan data tersebut, aktivitas antibakteri optimum pada tiga kondisi ditunjukkan pada konsentrasi ekstrak 5% dengan suhu pemanasan pelarut 90 ºC selama 15 menit. Ekstrak pada kondisi ini menghasilkan spektrum yang luas di antara kondisi ekstraksi lain, meskipun ekstrak tersebut belum dapat dikategorikan sebagai agen antibakteri yang baik atau agen antibakteri yang kuat. Menurut David dan Stout (1971), apabila nilai daya hambat zat antibakteri sebesar 11-19 mm maka senyawa antibakteri tersebut tergolong kuat. Khatimah et al. (2021) menyatakan bahwa ekstrak kasumba turate dengan berbagai variasi konsentrasi yang dilarutkan di dalam air mendidih pada suhu 90 ºC dalam kurun 15 menit menghasilkan zona hambat pada media pertumbuhan bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa zat aktif pada ekstrak tersebut bertindak sebagai antibakteri pada bakteri S. pullorum dan E. coli. Hasil studi tersebut sedikit berbeda dengan hasil yang diperoleh pada penelitian ini. Ekstrak air kasumba turate yang diperoleh memberikan hasil negatif pasda E. coli. Namun, berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, zona bening pada media sempat terbentuk pada 10 jam pertama masa inkubasi. Perlu diketahui bahwa komponen hidrofobik minyak esensial yang terkandung dalam ekstrak kasumba turate dilaporkan efektif melawan bakteri gram positif dan gram negatif (Greathead, 2003) (Calsamiglia et al., 2007). Namun, adanya tiga lapis membran sel bakteri gram negatif menyebabkan bakteri gram negatif sulit ditembus (Siswandono, 2000). Sementara studi ini menggunakan pelarut air untuk mengekstrak kasumba turate sehingga komponen minyak esensial dalam sampel kasumba turate tersebut tidak terekstrak karena perbedaan kepolaran pada kedua zat. Berdasarkan pernyataan tersebut, hal
48 ini menjadi wajar ketika ekstrak air kasumba turate tidak dapat menghambat pertumbuhan bahkan mematikan bakteri E. coli.
Senyawa bioaktif ekstrak kasumba turate terdiri dari senyawa flavonoid, glikosida, sterol, dan turunan serotonin. Senyawa ini dilaporkan memiliki cara kerja yang berbeda dalam menghambat pertumbuhan bakteri seperti menghambat sintesis protein dan membran sel (H. Wijayakusuma, 2008) (H. Wijayakusuma, 2008); mengganggu dan menghambat pengikatan enzim seperti ATP-ase (Li et al., 2003); menghambat penggunaan oksigen oleh bakteri (Chusnie dan Lamb, 2005); dan mendenaturasi protein sel bakteri dan merusak membran sitoplasma (Volk dan Wheeler, 1988). Semua hal ini merupakan aktivitas yang menyebabkan kematian bakteri.
Ekstrak air kasumba turate yang diperoleh pada kondisi optimum dapat membentuk zona bening pada media pertumbuhan S. aureus karena hasil fitokimia pada studi ini memperlihatkan bahwa terdapat komponen flavonoid pada ekstrak tersebut. Flavonoid merupakan salah satu senyawa aktif pada tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri (Abdul, 2008). Flavonoid disintesis oleh tanaman sebagai respons terhadap infeksi mikroba, jadi secara in vitro flavonoid efektif sebagai substansi antimikroba yang membunuh banyak mikroorganisme. Mekanisme antibakteri flavonoid menghambat sintesis asam. Nukleat adalah cincin A dan B yang memegang peran penting dalam proses interkelasi atau ikatan hidrogen dengan menumpuk basa asam nukleat yang menghambat pembentukan DNA dan RNA. Letak gugus hidroksil di posisi 2’,4’ atau 2’,6’ dihidroksilasi pada cincin B dan 5,7 dihidroksilasi pada cincin A berperan penting terhadap aktivitas antibakteri flavonoid. Flavonoid menyebabkan terjadinya kerusakan permeabilitas dinding sel bakteri, mikrosom, dan lisosom sebagai hasil interaksi antara flavonoid dengan DNA bakteri (Chusnie and Lamb, 2005).
Selain flavonoid, ekstrak air kasumba turate pada studi ini juga mengandung alkaloid. Komponen ini bekerja dengan cara bereaksi Bersama komponen peptidoglikan pada sel bakteri sehingga pembentukan lapisan dinding sel bakteri menjadi terhambat. Akibatnya, kematian sel secara utuh terjadi (Darsana et al., 2012) (Hendra et al., 2011). Alkaloid juga dapat bertindak sebagai inhibitor enzim topoisomerase sel bakteri dan pengkelat DNA (Karou et al., 2005).
Ekstrak air kasumba turate pada studi ini juga mengandung tanin.
Komponen tanin dapat berperan dalam mengendapkan protein bakteri.
Tanin juga dapat mengakibatkan dinding sel menjadi kurang sempurna
49 pembentukannya karena zat itu bereaksi dengan polipeptida sehingga sel bakteri menjadi hancur (Sari dan Sari, 2011).
Beberapa penelitian menggunakan ekstrak metanol, ekstrak flavonoid, dan ekstrak pelarut nonpolar kasumba turate dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Karimkhani et al., (2016) telah menyelidiki aktivitas antibakteri ekstrak metanol empat varietas kasumba turate, yaitu IL111, Padide, Isfahan-28, dan Mahali. Isfahan-28 memiliki aktivitas antibakteri terbaik di antara empat ekstrak tersebut. Konsentrasi hambat minimumnya terhadap S. aureus dan S. enterica serovar Typhi masing-masing adalah 30 dan 60 mg/mL. Sementara ekstrak minyak dan ekstrak flavonoid kasumba turate pada konsentrasi 1000 µg mL-1 dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan E. coli. Ekstrak ini menunjukkan aktivitas yang lebih baik terhadap Gram positif daripada bakteri Gram negatif (Sabah dan Saleh, 2015). Hasil yang diperoleh tersebut mendukung pengamatan bahwa bakteri Gram negatif lebih tahan terhadap ekstrak tersebut karena mungkin lapisan murein bakteri yang tebal membuat inhibitor sulit menembusnya. Ketebalan tersebut juga karena membran sel bakteri Gram negatif terdiri dari banyak lapisan lipid dibandingkan dengan membran sel Gram positif (Radovanovic et al., 2009). Telah dilaporkan bahwa flavon dengan jumlah gugus –OH yang lebih banyak menghambat bakteri Gram positif dan Gram negatif sehingga menunjukkan antibakteri spektrum luas (Sabah dan Saleh, 2015). Menurut Abdel et al. (2018), ekstrak metanol dan ekstrak air kasumba turate memiliki potensi tinggi dalam menghambat pertumbuhan bakteri S.
aureus, E. coli, P. aeruginosa, dan K. pneumonia. Tayebeh et al. (2021) melaporkan bahwa ekstrak kasumba turate memiliki kepekaan yang lebih tinggi terhadap P. aeruginosa dan K. pneumonia dibandingkan bakteri uji lainnya. Efek penghambatan tertinggi yang konsisten diamati pada K.
pneumonia.
Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, ekstrak metanol, ekstrak etanol, dan ekstrak pelarut nonpolar kasumba turate dapat bertindak dengan baik sebagai agen antibakteri. Namun, studi ini melaporkan bahwa ekstrak air kasumba turate memiliki aktivitas antibakteri yang kurang baik, meskipun ekstrak air tersebut mengandung komponen flavonoid, alkaloid, dan tanin yang ketiga senyawa tersebut memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri.
Setidaknya ada dua kemungkinan yang menjadi pertimbangan mengapa ekstrak air kasumba turate pada studi ini memiliki daya hambat yang kurang baik terhadap bakteri uji. Pertama, daya hambat ekstrak kasumba turate juga bervariasi, bergantung pada jenis bakterinya (Abdel et al.,
50 2018). Kedua, kuantitas komponen-komponen tersebut kurang cukup kuat untuk dapat menghambat. Pelarut metanol, etanol, dan pelarut polar lainnya dapat mengekstrak senyawa-senyawa tersebut dengan lebih banyak dibandingkan dengan pelarut air. Qazi et al. (2013) menyelidiki bakteri yang diisolasi dari sampel klinis (E. Coli, B. subtilis, S. agalactiae) dan menunjukkan bahwa ekstrak bunga etanol Kasumba turate memiliki efek antibakteri yang lebih rendah pada konsentrasi rendah dan efek antibakterinya juga bergantung pada jenis bakteri. Dalam studi lain, Salami et al. (2016) melaporkan efek antibakteri moderat ekstrak daun fenugreek genotipe (Foeniculum vulgare) pada bakteri S. aureus, E. Coli, dan P. aeruginosa. Aktivitas antibakteri ekstrak tumbuhan lebih terkait dengan adanya senyawa polifenol. Senyawa ini menghambat pertumbuhan bakteri melalui berbagai mekanisme seperti penghancuran dinding sel, penghancuran membran sel, dan penghancuran matriks bakteri intraseluler. Jenis bakteri, struktur dinding sel, dan kandungan kuantitatif dan kualitatif senyawa ekstrak merupakan salah satu penentu potensi antibakteri ekstrak (Mazzei et al., 2020).
4.4 Aktivitas Antioksidan Ekstrak Air Kasumba Turate
Aktivitas peredaman radikal bebas DPPH oleh ekstrak air kasumba turate dideteksi oleh spektrofotometer (Singh dan Nimbkar, 2007).
Absorbansi diukur dengan instrumen tersebut pada 517 nm. Hasilnya dihitung dan disajikan sebagai konsentrasi inhibisi (%) dengan rentang linier 1000-5000 ppm. Konsentrasi inhibisi ekstrak air kasumba turate terhadap DPPH sebagai senyawa radikal disajikan pada Tabel 6.
Tabel 7. Hubungan konsentrasi, absorbansi, dan konsentrasi inhibisi ekstrak air kasumba turate
Konsentrasi
ekstrak kasumba turate Absorbansi Konsentrasi inhibisi (%) Tabel 7 menunjukkan bahwa konsentrasi yang tinggi menyebabkan nilai absorbansi yang rendah. Semakin rendah nilai absorbansi, semakin tinggi nilai konsentrasi inhibisi ekstrak air kasumba turate. Apabila
51 ekstrak bereaksi dengan DPPH maka kuantitas cahaya yang diserap larutan tersebut berkurang. Semakin besar konsentrasi ekstrak air kasumba turate,
51 ekstrak bereaksi dengan DPPH maka kuantitas cahaya yang diserap larutan tersebut berkurang. Semakin besar konsentrasi ekstrak air kasumba turate,