• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 GAMBARAN UMUM

4.1 TEMBAGA

4.1.3 Smelter Tembaga dan Tantangan Pengembangannya

Menurut Kementerian ESDM, jumlah sumber daya tembaga Indonesia mencapai 4,9 milyar ton, sedangkan cadangannya mencapai 4,1 milyar ton. Produksi konsentrat tembaga Indonesia pada tahun 2010 mencapai 3,4 juta ton. Saat ini satu-satunya perusahaan smelter tembaga di Indonesia adalah PT. Smelting Gresik dengan kapasitas konsentrat tembaga yang diolah sebesar satu juta ton. Konsentrat tembaga tersebut akan diolah menjadi tembaga katoda dengan produksi per tahun berkisar antara 270 ribu ton sampai 300 ribu ton. Konsentrat tembaga yang diolah di PT. Smelting Gresik tersebut sebagian besar berasal dari PT.Freeport Indonesia dan sebagian kecil berasal dari PT.Newmont Nusa Tenggara. Dari hasil pengolahan konsentrat tembaga menjadi tembaga katoda, sekitar 60% dijual di dalam negeri, sedangkan 40% sisanya diekspor ke pasar Asia Tenggara.

Gambar 4.7

Sumber daya, Cadangan, Produksi, Smelter, dan Rencana Pembangunan Smelter Tembaga di Indonesia

Sumber: Kementerian ESDM, 2012

Sesuai dengan amanat UU No.4 tahun 2009 untuk mengolah bijih tembaga menjadi tembaga katoda, maka dalam beberapa tahun ke depan akan ada rencana pembangunan smelter yaitu Nusantara Smelting pada tahun 2014 dengan kapasitas pengolahan konsentrat tembaga sebesar 800 ribu ton, Global Investindo pada tahun 2015 dengan kapasitas pengolahan konsentrat tembaga sebesar 1,2 juta ton, dan Indosmelt tahun 2014 dengan rencana kapasitas pengolahan sebesar 400 ribu ton.

Gambar 4.8

Apabila dilihat dari sisi regional, terlihat bahwa negara di kawasan Asia berhasil meningkatkan produksi smelter tembaga sehingga hampir mencapai 9 juta metrik ton. Produksi kawasan lainnya seperti Eropa dan Amerika stagnan dalam 10 tahun terakhir sedangkan produksi kawasan Oceania dan Afrika hampir tidak mengalami perkembangan dalam 30 tahun terakhir dengan kapasitas masih di bawah 1 Juta metrik ton. China menjadi motor di kawasan Asia dalam hal peningkatan jumlah kapasitas smelter tembaga dalam beberapa tahun terakhir.

Gambar 4.9

Produksi Smelter Tembaga di 20 Negara Terbesar, 2011 (Ribu Metrik Ton)

Sumber: ICSG, World Copper Factbook 2012

Didorong oleh kesungguhan pemerintah China dalam mengembangkan smelter di dalam negeri seperti yang telah disebutkan di atas dalam beberapa tahun terakhir, China telah menjadi negara dengan jumlah pembelian konsentrat tembaga terbanyak, mengalahkan Jepang dan Jerman. India juga mengalami kenaikan dalam mengolah konsentrat tembaga, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Jepang mengalami penurunan dalam pengolahan konsentrat tembaga seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi dan biaya produksi domestik di dalam negeri yang makin mahal. Motivasi pemerintah China dalam mengembangkan industri smelter nya dilandasi oleh semangat untuk mengamankan pasokan rantai industrinya. Belajar dari China, dengan memberikan berbagai dukungan dalam mengembangkan industri hilir, diharapkan Indonesia dapat menambah jumlah smelter yang bernilai sangat strategis dalam mendukung industrialisasi di Indonesia.

Berkaitan dengan rencana hilirisasi mineral di Indonesia yang diatur dalam UU No. 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara (Minerba) serta Permen ESDM No. 11 Tahun 2012 mendapatkan berbagai tantangan yang harus dapat dipecahkan. Sebagian pihak menilai pemberlakuan Permen ESDM ini merupakan jalan bagi industrialisasi dan hilirisasi, namun tidak sedikit yang menentang regulasi ini. Beberapa pendapat yang menolak mengatakan bahwa saat ini Indonesia belum layak untuk melaksanakan pembangunan smelter. Alasan yang mendukung pendapat tersebut antara lain; pemerintah harus melihat pasar dan permintaan atas semua jenis mineral, baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, persoalan teknis seperti tersedianya pasokan listrik dan kondisi sosial ekonomi di daerah menjadi persoalan tersendiri dalam pembangunan smelter di Indonesia. Contoh kondisi sosial ekonomi yaitu pembebasan lahan, tuntutan masyarakat terhadap CSR serta tuntutan pemerintah lokal yang berlebihan. Infrastruktur yang kurang memadai di daerah juga mengakibatkan kendala transportasi. Sebagai contoh, pembangunan pabrik peleburan dan pemurnian tembaga dikatakan tidak layak di Indonesia mengingat pasar konsentrat tembaga internasional sangat sulit untuk pabrik peleburan tembaga. Kapasitas peleburan yang terpasang bahkan melebihi pasokan konsentrat tembaga dari hulu. Selain itu, permintaan katoda tembaga di dalam negeri lebih sedikit dari kapasitas produksi. Pembangunan smelter tembaga juga memerlukan investasi yang tinggi dan return on investment yang tinggi sehingga dinilai tidak layak secara finansial.

Tantangan lainnya dalam penerapan hilirisasi mineral adalah minimnya inovasi dan teknologi di dalam negeri. Peranan teknologi dipakai untuk menurunkan biaya produksi dan teknologi dapat meningkatkan nilai atas cadangan mineral yang dimiliki perusahaan. Pemerintah dapat memberi ruang dalam pengembangan teknologi di dalam APBN untuk memajukan teknologi pertambangan di Indonesia.

Dari kalangan pengusaha pertambangan tembaga, tantangan untuk mengembangkan smelter tembaga di Indonesia dipengaruhi oleh biaya, kandungan asam sulfat residu proses, dan TC/RC (Treatment Cost/Refining Cost). Selain working capital yang besar, biaya operasi dan biaya modal untuk smelter tembaga terus mengalami kenaikan sedangkan capital cost sangat tinggi. Kandungan asam sulfat menyebabkan biaya karena perlu biaya untuk membuangnya sedangkan pasar masih belum pasti. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari para produsen smelting tembaga diketahui bahwa TC/RC smelter tembaga yang rendah dan sangat kompetitif mengakibatkan tidak menariknya investasi di bidang ini, terutama secara finansial. Dengan demikian, kondisi saat ini menunjukkan bahwa pembangunan smelter tembaga tidak menguntungkan dalam jangka panjang dan akan membutuhkan subsidi yang besar.

Belajar dari pengalaman China dalam mengembangkan industri smelter nya, maka ada beberapa hal yang dapat dijadikan pembelajaran untuk Pemerintah Indonesia, sehingga industri hilir dapat berkembang dengan baik. Pemerintah China telah menunjukkan komitmen yang sangat tinggi dalam membangun dan mengembangkan industri smelter di negara tersebut. Pemerintah memberikan kemudahan izin dalam pembangunan smelter, memperbaiki upah tenaga kerja sektor industri ini, dan peningkatan kualitas lingkungan. Seiring dengan kemajuan pembangunan smelter, kualitas lingkungan juga ditingkatkan contohnya melalui beberapa smelter yang sudah berusia tua ditutup dan digantikan dengan smelter baru yang lebih efisien.

Dengan kondisi tersebut, China mempunyai keunggulan dalam mengembangkan smelter seperti tenaga kerja yang murah baik tenaga kerja terdidik maupun yang tidak terdidik, biaya teknologi yang sederhana dan murah, biaya lingkungan yang relatif masih murah, kemudahan kredit, dan subsidi yang sangat besar, diskon pajak PPN untuk konsentrat impor, perbedaan harga pada harga tembaga di pasar Shanghai dan LME, harga asam (acid) yang tinggi oleh karena adanya permintaan domestik yang tinggi, dan harga domestik tembaga yang lebih mahal.

Dokumen terkait