• Tidak ada hasil yang ditemukan

Social-Democratic Welfare State atau Scandinavian (Nordic) system yang ditandai dengan:

B. Tinjauan Pustaka

3. Social-Democratic Welfare State atau Scandinavian (Nordic) system yang ditandai dengan:

Prinsip-prinsip universalisme dimana tidak ada dualisme antara negara dengan pasar, adanya kesetaraan sosial dilevel tinggi.

Layanan sosial pada masyarakat kelas rendah hingga strata atas, serta partisipasi penuh kelas pekerja untuk mencapai kesejahteraan individu dan keluarga.

Perlakuan yang relatif adil, baik dalam kompetisi pasar maupun dalam tatanan masyarakat sosial.

Melalui kebijakan sosial, keempat pilar ini mungkin saja dipenuhi oleh negara kesejahteraan sekaligus karena prinsip utama negara kesejahteraan tersebut merupakan hak-hak sosial warga yang tidak dapat dilanggar (unvoidable) dan

155 Ibid, hlm. 56

commit to user

128 diberikan atas dasar kewarganegaraan dan bukan strata sosial, kelas atau berdasarkan kerja. Dekomodifikasi pemberian kesejahteraan melalui perangkat kebijakan sosial oleh negara kesejahteraan melalui perangkat kebijakan sosial oleh negara kesejahteraan terhadap warganya bertujuan untuk melepaskan warganya dari ketergantungan mekanisme pasar. 156

Esping-Andersen menyatakan negara kesejahteraan bukanlah satu konsep dengan pendekatan baru. Negara kesejahteraan lebih sering ditengarai dari atribut-atribut kebijakan pelayanan dan transfer sosial yang disediakan oleh negara (c.q pemerintah) kepada warganya, seperti pelayanan pendidikan, transfer pendapatan, pengurangan kemiskinan, sehingga keduanya (negara kesejahteraan dan kebijakan sosial) sering diidentikkan. Hal itu tidaklah tepat karena kebijakan sosial tidak mempunyai hubungan biimplikasi dengan negara kesejahteraan. Kebijakan sosial bisa diterapkan tanpa keberadaan negara kesejahteraan, tetapi sebaliknya negara kesejahteraan selalu membutuhkan kebijakan sosial untuk mendukung keberadaannya”.157

Konsep-konsep welfare state atau negara kesejahteraan berupaya mengukur sejauh mana interrelasi antara perangkat negara (state), individu dan komunitas masyarakat (social), serta sektor usaha (market/corporation), dalam tata kelola suatu negara. Jorgen Goul Andersen mengutip Asa Briggs mengungkapkan :158

“A welfare state is a state in which organized power is deliberately used (through politics and administration) in an effort to modify the play of the market forces in at least three directions - first, by guaranteeing individuals and families a minimum income irrespective of the market value of their work or their property;

156 Darmawan Triwibowo dan Sugeng Bahagijo, Mimpi Negara Kesejahteraan, LP3ES, Jakarta, 2006, hlm. 9.

157 Ibid, hlm. 8.

158 Andersen, Jorgen Goul, “Welfare States and Welfare State Theory” , Centre for Comparative Welfare Studies, Working Paper,2012, hlm. 4.

commit to user

129 - second, by narrowing the extent of insecurity by enabling individuals and families to meet certain “social contingencies” (for example, sickness, old age and unemployment) which lead otherwise to individual and family crisis; and - third, by ensuring that all citizens without distinction of status or class are offered the best standards available in relation to a certain agreed range of social services.”(Negara kesejahteraan adalah negara di mana kekuasaan terorganisir sengaja digunakan (melalui politik dan administrasi) dalam upaya untuk mengubah permainan kekuatan pasar dalam setidaknya tiga arah - pertama, dengan menjamin individu dan keluarga memiliki pendapatan minimum terlepas dari pasar nilai pekerjaan mereka atau harta benda mereka; - kedua, dengan mempersempit tingkat ketidakamanan dengan memungkinkan individu dan keluarga untuk memenuhi "kontingensi sosial tertentu" (misalnya, penyakit, usia tua dan pengangguran) yang menyebabkan krisis individu dan keluarga; dan ketiga, dengan memastikan bahwa semua warga negara tanpa perbedaan status atau kelas ditawarkan standar terbaik yang tersedia sehubungan dengan beberapa jenis layanan sosial yang disepakati).

Pada abad 20 pasca perang Dunia II terjadi perubahan fundamental di bidang sosial ekonomi yang disebabkan beberapa faktor antara lain munculnya berbagai kecaman terhadap ekses-ekses dalam sistem industrialisasi dan sistem kapitalis, tersebarnya paham sosialisme yang menginginkan pembagian kekayaan secara merata, kemenangan dari berbagai partai sosialis di eropa serta pengaruh aliran ekonomi yang dipelopori oleh ahli ekonomi inggris John Maynard Keynes.

Implikasinya negara harus bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat.

Konsekuensinya negara harus aktif mengatur kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatnya selain menegakkan demokrasi. Dalam konteks ini hukum dan roda pemerintahan harus mencakup dimensi ekonomi dan dimensi sosial yakni dengan membentuk sustu sistem yang menguasai kekuatan-kekuatan ekonomi, terutama perbedaan yang timbul akibat adanya distribusi kekayaan yang tidak merata.

commit to user

130 Model negara demikian disebut negara kesejahteraan (welfare state atau welvaarstaat) atau negara yang memberi pelayanan kepada masyarakat (social service state). Konsep negara kesejahteraan atau konsep negara hukum modern adalah negara yang mengutamakan kepentingan seluruh masyarakat. Negara diberi tugas membangun kesejahteraan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan demikian peran negara menjadi sangat besar dan luas dalam kehidupan masyarakat atau kepentingan umum. Hal ini terlihat misalnya peran pemerintah atau negara dalam hal meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pendidikan masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, memberi pekerjaan dan perumahan bagi masyarakat.159

Menurut Mustamin, negara kesejahteraan (welfare state) merupakan kombinasi dari negara hukum klasik dan negara hukum modern, yang merupakan campuran antara individualisme dengan kolektivisme atau campuran antara kapitalisme dan sosialisme. Ia cocok dengan pandangan hidup monodualistis yang memandang manusia hanya sebagai perseorangan (individu) sekaligus anggota dari suatu kolektivitas. Negara kesejahteraan modern merupakan suatu tipologi negara hukum yang pada tatanan implementasinya mengenal beberapa aspek pokok yaitu :160

1. Bahwa setiap manusia berhak atas kesejahteraan materiil, sekurang-kurangnya seperti makanan, pakaian dan perumahan layak.

2. Bahwa tingkat hidup yang menanjak adalah mungkin dengan pemanfaatan sumber-sumber alam yang ada dan pengetahuan ilmiah.

3. Bahwa negara mempunyai hak dan kewajiban untuk bertindak bilamana inisiatif swasta/perseorangan gagal.

159 Yopi Gunawan dan Kristian, Perkembangan Konsep Negara Hukum & Negara Hukum Pancasila, cet kesatu, Refika Aditama, bandung, 2015, hlm. 51-53.

160 Husni Thamrin, Hukum Pelayanan Publik di Indonesia, Aswaja Presindo, Yogyakarta, 2013, hlm. 23

commit to user

131 Dalam negara kesejahteraan, pemecahan masalah kesejahteraan sosial, seperti kemiskinan, pengangguran, ketimpangan dan ketelantaran tidak dilakukan melalui proyek-proyek sosial parsial yang berjangka pendek. Melainkan diatasi secara terpadu oleh program-program jaminan sosial (social security), seperti pelayanan sosial, rehabilitasi sosial, serta berbagai tunjangan pendidikan, kesehatan, hari tua, dan pengangguran.161

Berdasarkan asas-asas tersebut dapat diderivasi beberapa hal yang sekaligus merupakan karakter dari konsep negara kesejahteraan antara lain : 162

a. Terjaminnya hak-hak sosial dan ekonomi. Contohnya hak-hak sosial masyarakat antara lain hak mendapatkan pekerjaan dan tunjangan (dari kas publik) jika menganggur, hak upah minimum dan jam kerja yang maksimal, hak cuti, hak mengenyam pendidikan, hak mendapatkan pelayanan kesehatan dan lain-lain.

b. Pemisahan pembagian kekuasaan bukan lagi merupakan hal yang prinsipil, sebab kecenderungan ke arah manajemen lebih dominan daripada ke arah politis. Kondisi ini oleh Karl Lowenstein dikatakan bahwa negara berubah sifatnya dari negara perundang-undangan menjadi negara administratif.

c. Hak milik tidak lagi, bahkan diformulasikan menjadi kewajiban sosial (social rights), hak milik dibatasi kebebasan penggunaannya, si pemilik harus tunduk dan terikat pada kepentingan umum, artinya penggunaan hak milik tersebut tidak boleh bertentangan dan/ atau merugikankepentingan umum.

d. Peranan negara tidak sebatas menjaga keamanan dan ketertiban, melainkan turut berperan serta aktif dalam pelayanan publik.

e. Peranan hukum publik (hukum administrasi negara) cenderung semakin menggeser peranan hukum privat. Hal ini disebabkan semakin luasnya peran administrasi negara (pemerintah) dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat.

161 Suharto, Edie,op cit.

162 Husni Thamrin, op cit,, hlm. 24

commit to user

132 Menurut Soerjono Soekanto, untuk menentukan apakah suatu negara menganut konsep negara hukum kesejahteraan, paling tidak harus mengandung ciri-ciri sebagai berikut : 163

a. Bahwa pemisahan kekuasaan berdasarkan atas pembagian kekuasaan (trias politica) dipandang sudah tidak prinsipil lagi. Pertimbangan-pertimbangan efisiensi kerja lebih penting daripada pertimbangan dari sudut politis, sehingga peran organ-organ eksekutif lebih penting daripada organ legislatif;

b. Peran negara tidak hanya terbatas pada menjaga keamanan dan ketertiban belaka, akan tetapi negara secara aktif berperan dalam penyelenggaraan kepentingan masyarakat di bidang sosial, ekonomi, budaya sehingga perencanaan merupakan sarana yang menduduki peran penting;

c. Negara kesejahteraan merupakan negara hukum materiil yang mementingkan keadilan sosial material dan bukan persamaan yang bersifat formal semata;

d. Sebagai konsekuensi dari hal-hal tersebut diatas, maka dalam suatu negara kesejahteraan, hak milik sudah tidak lagi dianggap sebagai hak mutlak, akan tetapi hak tersebut dipandang mempunyai fungsi sosial yang berarti adanya batas didalam kebebasan penggunaannya;

e. Adanya kecenderungan bahwa peran hukum publik semakin penting dan semakin mendesak dibandingkan dengan peran hukum perdata (hukum privat). Hal ini disebabkan semakin luasnya peran negara di dalam kehidupan ekonomi, sosial dan budaya.

Konsep welfare state (negara kesejahteraan) selanjutnya dikembangkan dalam International Commission of Jurist yang merupakan organisasi ahli hukum internasional. Dalam konferensinya tahun 1965 konsep rule of law versi Albert Venn Dicey diperluas dan menekankan the dynamic aspects of the rule of law in the modern age. Dalam pandangan International Commission of Jurist, selain hak-hak sipil dan

163 Ibid, hlm. 52

commit to user

133 politik, hak-hak sosial ekonomi juga harus diakui dan dilindungi.164 Dewasa ini doktrin A.V. Dicey dan International Commission of Jurist mengenai rule of law dianggap sudah tidak memadai. Konsep baru dimunculkan oleh Scheltema yang menguraikan unsur-unsur dan asas-asas negara hukum modern sebagai berikut :165

a. Adanya pengakuan, penghormatan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia (human rights) yang berakar pada penghormatan atas martabat manusia (human dignity);

b. Asas kepastian hukum dimana hukum bertujuan mewujudkan kepastian dalam hubungan antar manusia yaitu menjamin prediktabilitas dan juga bertujuan mencegah bahwa pihak yang terkuat yang berkuasa;

c. Asas similia similibus (asas persamaan). Dalam negara hukum pemerintah tidak boleh mengistimewakan orang tertentu (harus non diskriminatif);

d. Asas demokrasi. Asas ini menuntut setiap orang harus mempunyai kesempatan yang sama untuk mempengaruhi tindakan pemerintah;

e. Asas pemerintahan dan aparatnya mengemban fungsi pelayanan masyarakat untuk kepentingan seluruh rakyat.

Pada negara yang menganut welfare state, alokasi dana untuk pelayanan sosial sangat besar, mencapai 28 % dari Gross Domestic Product (GDP) sebagaimana dikemukakan oleh Ruud De Mooij : 166

Overall, social expenditures account for a substantial share of the public budget. For instance, according to the Eurostat definition of social expenditures, around 28% of GDP in Europe is spent on the welfare state, which is more than half of the government budget. The Netherlands is an average European country in 2003, with a share of 28.1%. (Secara keseluruhan, pembelanjaan sosial merupakan sebagian besar anggaran

164 Miriam Budiarjo, Dasar-dasar Ilmu Politik, cet 22, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002, hlm. 59.

165 Yopi Gunawan dan Kristian, op. cit, hlm. 64-66.

166 Mooij, Ruud de, “Reinventing The Welfare State”, CPB Netherlands Bureau for Economic Policy Analysis, The Hague, Netherlands, 2006, hlm 41

commit to user

134 publik. Sebagai contoh, menurut definisi Eurostat tentang pengeluaran sosial, sekitar 28% PDB di Eropa dihabiskan di negara kesejahteraan, yang merupakan setengah dari anggaran pemerintah. Belanda adalah negara Eropa rata-rata pada tahun 2003, dengan pangsa 28,1%.)

Namun demikian, prinsip welfare state tidak statis. Pada masa datang, prinsip hukum yang diperlukan ada beberapa hal. Menurut Moh. Tavip, paham negara kesejahteraan Indonesia ke depan akan menemui beberapa hal. The legal principles required for the Indonesian welfare state in the future will concern with the following issues: 167

1) The duty of the government is not to earn incomes, but goodness. (Tugas pemerintah bukan untuk mendapatkan penghasilan, tapi kemanfaatan).

2) The government, private entities and communities are to be duly present and wise to employ their energies to cope with common problems. (Pemerintah, pihak swasta dan masyarakat harus hadir dengan bijaksana untuk menggunakan energinya untuk mengatasi masalah secaara bersama).

3) The internationalism adopted by Indonesia is the civilized one and it is not to drive problems to the world and its people. (Internasionalisme yang diadopsi Indonesia adalah negara yang beradab dan bukan untuk menimbulkan masalah bagi dunia dan masyarakatnya).

Dalam garis besar, negara kesejahteraan menunjuk pada sebuah model ideal pembangunan yang difokuskan pada peningkatan kesejahteraan melalui pemberian peran yang lebih penting kepada negara dalam memberikan pelayanan sosial secara universal dan komprehensif kepada warganya. Paul Spicker (1995:82), misalnya, menyatakan bahwa negara kesejahteraan “…stands for a developed ideal in which welfare is provided comprehensively by the state to the best possible standards.”

167 Mohammad Tavip, The Dynamic Concept of Welfare State in Indonesia Constitution, Brawijaya University, 2013, hlm 16.

commit to user

135 Di Inggris, konsep welfare state difahami sebagai alternatif terhadap the Poor Law yang kerap menimbulkan stigma, karena hanya ditujukan untuk memberi bantuan bagi orang-orang miskin (Suharto, 1997; Spicker, 2002). Berbeda dengan sistem dalam the Poor Law, negara kesejahteraan difokuskan pada penyelenggaraan sistem perlindungan sosial yang melembaga bagi setiap orang sebagai cerminan dari adanya hak kewarganegaraan (right of citizenship), di satu pihak, dan kewajiban negara (state obligation), di pihak lain. Negara kesejahteraan ditujukan untuk menyediakan pelayanan-pelayanan sosial bagi seluruh penduduk – orang tua dan anak-anak, pria dan wanita, kaya dan miskin, sebaik dan sedapat mungkin. Ia berupaya untuk mengintegrasikan sistem sumber dan menyelenggarakan jaringan pelayanan yang dapat memelihara dan meningkatkan kesejahteraan (well-being) warga negara secara adil dan berkelanjutan. Negara kesejahteraan sangat erat kaitannya dengan kebijakan sosial (social policy) yang di banyak negara mencakup strategi dan upaya-upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan warganya, terutama melalui perlindungan sosial (social protection) yang mencakup jaminan sosial (baik berbentuk bantuan sosial dan asuransi sosial), maupun jaring pengaman sosial (social safety nets).168

Konsep negara kesejahteraan tidak hanya mencakup deskripsi mengenai sebuah cara pengorganisasian kesejahteraan (welfare) atau pelayanan sosial (social services), melainkan juga sebuah konsep normatif atau sistem pendekatan ideal yang menekankan bahwa setiap orang harus memperoleh pelayanan sosial sebagai haknya.

Negara kesejahteraan juga merupakan anak kandung pergumulan ideologi dan teori,

168 Edi Suharto, “Negara Kesejahteraan dan Reinventing Depsos”, makalah dalam Seminar yang “Mengkaji Ulang Relevansi Welfare State dan Terobosan melalui Desentralisasi-Otonomi di Indonesia” dilaksanakan di Wisma MM UGM, Yogyakarta, 25 Juli 2006, hlm. 7.

commit to user

136 khususnya yang bermatra sayap kiri (left wing view), seperti Marxisme, Sosialisme, dan Sosial Demokratik (Spicker, 1995). Namun demikian, dan ini yang menarik, konsep negara kesejahteraan justru tumbuh subur di negara-negara demokratis dan kapitalis, bukan di negara-negara sosialis.169

Di Indonesia, semua Founding fathers dan Framers of the Constitution (UUD 1945) dalam sidang-sidang BPUPKI dan PPKI (1945) sepakat, Indonesia merdeka bertujuan mewujudkan kesejahteraan umum, sebesar-besarnya kemakmuran rakyat atas dasar keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Untuk mewujudkan tujuan itu disepakati tata kehidupan politik, ekonomi, sosial dan lain-lain tidak disusun atas dasar liberalisme – individualisme, melainkan atas dasar negara kekeluargaan (Sukarno - Supomo) atau kolektivisme (Hatta). Salah satu perwujudan dasar kekeluargaan atau kolektivisme yaitu mengenai paham demokrasi yang sekaligus mencakup demokrasi dalam makna politik dan ekonomi. Sukarno mengutarakan sebutan Politieke - economische democratie yaitu demokrasi yang disertai sociale rechtsvaardigheid (politik yang disertai keadilan / kesejahteraan sosial) atau demokrasi yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial.170

Dengan adanya doktrin demokrasi politik dan demokrasi ekonomi itu, sistem sosial di Indonesia dapat dikembangkan menurut prinsip-prinsip demokrasi yang seimbang sehingga menumbuhkan kultur demokrasi sosial yang kokoh menjadi basis sosial bagi kemajuan bangsa dan negara di masa depan. Dalam paham demokrasi sosial (social democracy) itu, negara berfungsi sebagai alat kesejahteraan (welfare state). Meskipun gelombang liberalisme dan kapitalisme terus berkembang dan

169 Ibid, hlm. 8.

170 Bagir Manan, op.cit., hlm. 2.

commit to user

137 hampir mempengaruhi seluruh segi kehidupan, ternyata aspirasi ke arah sosialisme baru di seluruh dunia juga berkembang sebagai penyeimbang. Sebagai akibatnya, paham kapitalisme juga mengadopsi elemen-elemen konstruktif dari sosialisme dan demikian pula sebaliknya dalam hubungan yang bersifat konvergen. Tekad the founding fathers untuk mengadopsi kedua paham tersebut dalam rumusan UUD 1945 dalam BAB XIV KESEJAHTERAAN SOSIAL tetap harus dipertahankan dengan mencantumkan gagasan demokrasi ekonomi dan paham ekonomi pasar sosial.171

Konsep negara kesejahteraan dapat dilihat dari tujuan negara pada alinea ke-4 pembukaan UUD 1945 yang menyatakan negara memberikan perlindungan sekaligus memberi kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya. Konsep ini bukan saja menunjukkan Indonesia sebagai negara hukum, namun lebih jauh merujuk pada konsep negara hukum modern atau negara kesejahteraan (welfare state). Pasal 34 UUD 1945 tentang kesejahteraan sosial setelah amandemen berbunyi :

(1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

(2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.

(3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang -undang.

Ketentuan Pasal 34 ayat (1) meletakkan kewajiban kepada negara untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar. Memelihara harus diartikan dalam arti luas, yaitu menjamin kesejahteraan mereka tidak saja bertalian dengan pangan,

171 Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, cet kedua, Konstitusi Press, Jakarta, 2002, hlm. 80

commit to user

138 sandang maupun kesehatan, tetapi juga pendidikan agar mereka mempunyai masa depan yang cerah. Pengertian dipelihara oleh negara tidak hanya berarti negara secara fisik mengurus mereka, seperti penyediaan rumah, memberi makan atau pakaian, namun negara juga harus menyediakan pekerjaan, memberi jaminan sosial, fasilitas kesehatan, pendidikan dan lain-lain untuk memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Ayat ini memuat dua kaidah :

1. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial.

2. Negara memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu.

Jaminan sosial (social security) disediakan bagi mereka yang karena keadaan tertentu memerlukan bantuan negara, seperti fakir miskin, anak yatim, anak terlantar, tidak mempunyai pekerjaan atau pekerjaan dengan penghasilan tidak mencukupi.

Sebetulnya sistem jaminan sosial adalah salah satu bentuk pemeliharaan negara terhadap rakyat. Bagi yang bukan fakir miskin ditekankan pada penyediaan kemudahan, aturan-aturan dan arahan-arahan untuk mewujudkan kesejahteraan umum. 172

Apakah makna kesejahteraan umum ? sambutan Engels saat penguburan Karl Marx menyatakan peri kehidupan manusia (dimanapun) dimulai dengan ketersediaan pangan, minuman, perumahan dan sandang sebelum dapat memberikan perhatian (berlimpah) dalam politik, ilmu, seni dan agama. Jawaharlal Nehru mengutarakan ungkapan yang lebih komprehensif dari Engels : 173

“Obviously, everybody will agree, almost everybody, that we have to provide a good life to all our citizens... a good life means certain basic material things that

172 Ibid, hlm. 9.

173 Bagir Manan, op.cit, hlm. 19.

commit to user

139 everybody should have, like enough food and clothing, a house to live in, education, health services and work...” ("Jelasnya semua orang akan setuju, hampir semua orang, bahwa kita harus memberikan kehidupan yang baik untuk semua warga negara kita ... kehidupan yang baik berarti mencakup beberapa hal pokok yang harus dimiliki setiap orang, seperti makanan dan pakaian yang cukup, rumah tinggal, pendidikan, pelayanan kesehatan dan pekerjaan ... ")

Begitu pula ungkapan “salus populi suprema lex”, yang berarti kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi. Untuk menggambarkan masyarakat Indonesia sejahtera, Bung Karno acapkali menggunakan ungkapan bahasa jawa “ masyarakat loh jinawi, tata tentrem kerta raharja” dalam ungkapan UUD 1945, masyarakat sejahtera adalah tiap - tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (Pasal 27 UUD 1945).174

Pasal 33 tentang sistem perekonomian dan 34 tentang kepedulian Negara pada kelompok lemah menempatkan Negara sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Selain Pasal 33 dan Pasal 34, dalam UUD 1945 juga didapati ketentuan-ketentuan lain yang jika diperhatikan mengatur tentang kesejahteraan sosial, sebesar-besarnya kemakmuran dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat seperti Pasal 27 ayat (2) tentang pekerjaan dan penghidupan yang layak, Pasal 28 ayat (2) setiap orang berhak bekerja dan mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak, Pasal 28 H ayat (1) setiap orang berhak hidup sejahtera lahir batin, lingkungan hidup yang baik, memperoleh pelayanan kesehatan, Pasal 28 ayat (3) tentang jaminan sosial.

Pengertian kesejahteraan yang terdapat dalam Pasal 33, 34, 27 dan 28 UUD 1945 menunjukkan bahwa kesejahteraan sosial adalah suatu tindakan yang mengarah

174 Ibid, hlm. 20.

commit to user

140 kepada kondisi sosial masyarakat yang menjamin kehidupan masyarakat dalam lingkungan untuk hidup dengan rasa nyaman, aman, dan tentram untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial pada Pasal 2 ayat (1) memberikan definisi :

kesejahteraan sosial sebagai suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, material maupun spritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan dan ketentraman lahir dan batin, yang memungkinkan bagi setiap warga untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan- kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak atau kewajiban manusia sesuai dengan Pancasila.

Sementara itu Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial Pada Pasal 1 angka 1 menyatakan :

Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri,

Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri,