• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pada hakikatnya, sebuah masyarakat heterogen yang sedang tumbuh, tentu sulit untuk mengembangkan saling pengertian yang mendalam antara beraneka ragam unsur-unsur etnis, budaya daerah, bahasa ibu, dan kebudayaannya.

kalaupun tidak terjadi salah pengertian mendasar antara unsur-unsur itu, paling tidak tentu saling pengertian yang tercapai barulah bersifat nominal belaka.

Telah menjadi nyata bagi kita bahwa masalah pokok dalam hal hubungan antarumat beragama adalah pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan berkelanjutan. Kita akan menjadi bangsa yang kukuh, kalau umat agama-agama yang berbeda dapat saling mengerti satu sama lain, bukan hanya sekedar saling menghormati. Yang diperlukan adalah rasa saling memiliki, bukannya hanya saling bertenggang rasa satu terhadap yang lain.61

Memang mayoritas bangsa kita yang Notabene beragama Islam, masih dicekam oleh kemiskinan dan kebodohan sehingga mudah dirayu untuk berpindah agama secara murahan. kondisi logis dari kenyataan itu sebenarnya adalah keharusan bagi gerakan Islam untuk memajukan umat mereka. ini berarti para pemimpin Islam di segenap tingkatan harus menutup mata terhadap semua ekses yang terjadi dalam kehidupan beragama di negeri ini. harus ada langkah-langkah untuk menangani dan mencegah terulangnya ekses-ekses itu, termasuk cara penyebaran agama terlalu agresif, yang dilakukan oleh sementara kelompok penganut agama dari golongan minoritas. Namun cara penanganan dan penangkalan haruslah dilakukan dengan bijaksana, tanpa harus melakukan generalisasi terhadap semua warga umat dari agama tersebut.

60 Wahid, Islamku, 145.

61 Abdurrahman Wahid, Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman (Jakarta: Kompas, 1999)

Kesimpulan

Pluralisme menurut Abdurrahaman merupakan hak kebebasan dalam semua aspek baik kebebasan beragama, budaya, ras, politik dan sebagainya. Pluralisme sangatlah penting bagi bangsa indonesia yang notabennya merupakan negara yang beraneka/beragam agama, suku, budaya, ras dan sebagainya.Wajah budaya Indonesia yang bhineka menuntut sikap toleran yang tinggi dari setiap anggota masyarakat.

Sikap toleransi tersebut harus dapat diwujudkan oleh semua anggota dan lapisan masyarakat sehingga terbentuklah suatu masyarakat yang kompak tapi beragam sehingga kaya akan ide-ide baru.

Pluralitas masyarakat Indonesia sendiri sekurang-kurangnya bisa dilihat sebagai fakta dalam dua sisi. Sisi pertama: pluralitas suku, agama, dan budaya serta berbagai turunannya. Sisi kedua: pluralitas di internal suku, agama, dan budaya itu sendiri.

Dalam Islam misalnya, terdapat berbagai aliran yang secara formal sering kali berseberangan. Demikian juga di dalam agama, budaya dan suku yang lain.

Toleransi yang diajarkan Gus Dur merupakan ajaran semua agama dan budaya, apalagi dalam masyarakat majemuk dan multikultur seperti Indonesia.

Namun, toleransi yang diajarkan dan dipraktekkan Gus Dur berbeda dari tokoh-tokoh agama lain. Gus Dur mengajarkan toleransi plus, yaitu kalau kebanyakan orang membudayakan toleransi sebatas pada hidup berdampingan secara damai, yaitu hidup bersama dalam suasana saling menghormati dan menghargai. Tidak demikian dengan Gus Dur. Dalam menyikapi pluralitas tersebut, Gus Dur menegaskan bahwa tegaknya pluralisme masyarakat bukan hanya terletak pada pola hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence), karena hal demikian masih sangat rentan terhadap munculnya kesalah-pahaman antar kelompok masyarakat yang pada saat tertentu bisa menimbulkan disintegrasi. Lebih dari itu penghargaan terhadap pluralisme berarti adanya kesadaran untuk saling mengenal dan berdialog secara tulus sehingga kelompok yang satu dengan yang lain bisa saling memberi dan menerima.

Referensi

Achmadi. 2005. Ideologi Pendidikan Islam, Paradigma Humanisme Teosentris. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Al Ash Shieddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 2000. Tafsir al-Qur’anul Majid an Nuur. Semarang: Pustaka Rizki Putra. Jilid II.

Arifin M. 1994. Ilmu Pendidikan Islam Suatu Tinjaun Teoritis dan Praksis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner.Jakarta: Bumi Aksara.

Aziz, Ahmad, Amir. 1999. Neo-Modernisme Islam di Indonesia Gagasan Sentral Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid. Jakarta: Rineka Cipta

Bakhtiar, A. Nur Alam. 2008. 99 Keistimewaan Gus Dur. Jakarta: Kultural Barton, Greg. 2000. Abdurrahman Wahid dan Toleransi Keberagamaan.

Chafsoh, Zannuba Arrifah. 2011. Perangi Ahmadiyah Dengan Dakwah., Semarang: Suara Merdeka

Dawam, Ainurrofiq. 2003. Emoh Sekolah; Menolak Komersialisasi Pendidikan dan Kanibalisme Intelektual, Menuju Pendidikan Multikultural, Yogyakarta: Inspeal Ahimsa Karya Press.

Departemen Agama RI. 2002. Mushaf Al-Qur’an Terjemah. Jakarta: Al Huda Kelompok Gema Insani.

Dhakiri, M. Hanif. 2010.41 Warisan Kebesaran Gus Dur.Yogyakarta: LkiS. 124

Dj, Fauzan. 2011. Kekalahan Negara atas Kekerasan Berlatar Agama. Suara Merdeka.

Semarang : Litera Antar Nusa

Faqih, Maman Imanulhaq. 2010. Fatwa dan Canda Gus Dur. Jakarta: Kompas.

Hadi, Syamsul. 2010.Gusdur Guru Bangsa, Bapak Pluralisme. Jombang: Zahra Book.

Hadjar, Ibnu. 1996. Dasar-Dasar Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Haikal, Muhammad Husain. 2008. Sejarah Hidup Muhammad, terj. Ali Audah Jakarta:

Litera Antar Nusa.

Hakim, Abdul Dubbun. 2006. Islam, Inklusivisme, Dan Kosmopolitanisme. dalam Abdul Dubbun Hakim, Menembus Batas Tradisi, Menuju Masa Depan yang Membebaskan, Refleksi atas Pemikiran Nurcholis Madjid Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Hanafi, Hassan. 2001. Agama, Kekerasan dan Islam Kontemporer. Yogyakarta: Jendela,.

Ichtijanto. 2005. Masyarakat Majemuk dan Kerukunan Hidup Beragama. dalam Prof.

Atho Mudzhar, Meretas Wawasan dan Praksis Kerukunan Umat Beragama di Indonesia dalam Bingkai Masyarakat Multikultural, Jakarta: Puslitbang Kehidupan Beragama.

Iskandar, A. Muhaimin. 2010. Melanjutkan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur.

Yogyakarta, LkiS.

Isre, M. Saleh. 1998. Tabayun Gusdur Pribumisasi Islam, Hak Minoritas. Yogyakarta:

LKiS

Kementerian Agama RI. 2005. Al Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Al Huda Kelompok Gema Insani.

Kementerian Agama RI. 2010. al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta: Lentera Abadi. Jilid II Komaruddin. 1984. Kamus Research. Bandung: Angkasa.

Ma’arif, Syamsul. 2008. The Beauty of Islam dalam Cinta dan Pendidikan Pluralisme.

Semarang: Nedd’s Press.

Marimba, Ahmad D. 1989. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: al Ma’arif.

Mudzhar, Atho, Pengembangan Masyarakat Multikultural Indonesia dan Tantangan ke Depan (Tinjauan dari Aspek Keagamaan) dalam Atho 125

Mudzhar. 2005. Meretas Wawasan dan Praksis Kerukunan Umat Beragama di Indonesia dalam Bingkai Masyarakat Multikultural. Jakarta: Puslitbang Kehidupan Beragama.

Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakkir. 2006. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana.

Mulkhan, Abdul Munir. 2001. Humanisasi Pendidikan Islam. dalam Hamami Zada, et.

Jurnal Tashwirul Afkar edisi no. 11.

Munawar, Ahmad. 2010. Ijtihad Politik Gus Dur Analisis Wacana Kritis. Yogyakarta:

LKiS

Naim, Ngainun dan Achmad Sauqi. 2010. Pendidikan Multicultural Konsep dan Aplikasi.

Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Partanto, Pius A. dan M. Dahlan al Barry. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya:

Arkola.

Qomar, Mujamil. 2004. Epistemologi Pendidikan Islam dari Metode Rasional hingga Metode Kritik. Jakarta: Erlangga.

Rachman, Budhi Munawwar. 2004. Islam Pluralis, Wacana Kesetaran Kaum Beriman, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Rahim, Husni. 2001. Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Logos.

Rahman, Fazlur. 2000. Islam. Bandung: Pustaka.

Ramage, Douglas E. 2010. Gus Dur, NU dan Masyarakat Sipil. Yogyakarta: LKiS.

Rasyidin dan Syamsul Nizar. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press, Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2009. Teori Sosiologi, Yogyakarta: Kreasi

Wacana.

Rumadi, “Dinamika Agama dalam Pemerintahan Gus Dur”, dalam Khamami Zada (ed) Neraca Gus Dur di Panggung Kekuasaan Jakarta: Lakpesdam

Shihab, Alwi. 1999. Islam Inklusif. Bandung: Mizan.

Shihab, M. Quraish. 2005. Tafsir al-Mishbāh, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati. Vol. 1

Shofan, Moh. 2008. Menegakkan Pluralisme; Fundamentalisme-Konservatif di Tubuh Muhammadiyah. Yogyakarta: LSAF.

Umiarso dan Makmur, Haris Fhatoni. 2010. Pendidikan Islam dan Krisis Moralisme Masyarakat Modern. Jogjakarta: IRCiSoD.

Wahid, Abdurrahman. 1998. Dialog Agama dan Masalah Pendangkalan Agama. dalam Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus (ed), Passing Over: Melintas Batas Agama. Jakarta: Paramadina.

_____________. 1999. Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman, Kumpulan Pemikiran K. H.

Abdurrahman Wahid Presiden ke-4 RI. Jakarta: Kompas.

_____________. 1999. Tuhan Tidak Perlu di Bela. Yogyakarta: LKiS

_____________. 2002. Islamku Islam Anda Islam Kita. Jakarta: The Wahid Institute.

_____________. 2007. Islam Kosmopolitan, Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan. Jakarta: The Wahid Institute

_____________. 2010. Prisma Pemikiran Gus Dur. Yogyakarta: LKiS.

Dokumen terkait