C. Kamar Mandi
6. Kamar Mandi dan WC
2.6.2. Sistem Rangka - Block
2.6.2.1. Solusi Rumah Holcim oleh PT. Holcim Indonesia Tbk
Solusi Rumah Holcim merupakan salah satu program unggulan PT. Holcim Indonesia, Tbk dalam bidang sustainable construction yang merupakan jawaban untuk mewujudkan kesepakatan Agenda 21 for sustainable construction in developing countries. Analisa dan implementasi prinsip konstruksi berwawasan
50
lingkungan yang umumnya hanya diterapkan untuk proyek-proyek mahal, sebetulnya dapat diterapkan dalam semua proyek.
Solusi rumah Holcim memiliki beberapa keunggulan, yaitu : 1. Efektifitas pemakaian bahan bangunan
2. Pengurangan pemakaian bahan kayu 3. Masa konstruksi lebih cepat
4. Pengembangan modular 5. Limbah konstruksi sedikit.
6. Pemberdayaan UKM dan padat karya
Masa konstruksi satu rumah ini adalah 3 minggu – 1 bulan, tanpa finishing, untuk tipe 21 m2- 54 m2. Solusi Rumah menggunakan sistem franchise. PT. Holcim hanya memberikan pelatihan-pelatihan mengenai bahan, prosedur pembuatan material, standar kualitas, serta tata cara konstruksinya.
1. Spesifikasi
Sistem yang digunakan oleh Solusi Rumah adalah penggunaan elemen-elemen kecil precast yang terdiri dari :
1. Sistem Modul
Solusi Rumah menggunakan modul dasar 30 cm. 2. Sistem Struktur dan Konstruksi
Solusi Rumah menggunakan dua sistem struktur dan konstruksi, yaitu : a. Sistem rangka dan dinding pengisi
i. Untuk kolom menggunakan bataton kolom ukuran 290 x 290 x 140 mm
ii. Untuk dinding pengisi dan pengakunya digunakan bataton U ukuran 140 x 140 x 140 mm
iii. Kemudian diberi perkuatan besi tulangan dalam rongga, kemudian diisi dengan adukan
51
iv. Daya tahan sistem ini bergantung pada sambungan antara besi tulangan pada sudut-sudut rangka.
v. Dinding harus diangkur pada kolom
vi. Antar lapisan blok beton diberi lapisan mortar setebal 1 cm. Rasio semen-agregat adalah 1 : 5
Gambar 34. Bataton Kolom dan Bataton H ½ Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
Proses konstruksinya adalah :
i. Bataton kolom dapat dipotong untuk membuat sambungan tulangan horizontal dengan sloof dan dinding
Gambar 35. Proses Pemotongan Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
ii. Di atas pondasi yang telah dibuat, dipasang bataton kolom sebagai tiang kolom struktur rangka.
52
iii. Jangkarkan bataton kolom pada pondasi dengan besi tulangan berdiameter 12 mm
Gambar 36. Proses Pembuatan Sloof dan Kolom Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
iv. Pemasangan bataton U di atas pondasi sebagai cetakan sloof dan diberi tulangan 4 Ø 8 mm dan begel Ø 6 – 200 mm.
v. Pemberian adukan beton dalam bataton U (sloof) dan dipadatkan dengan cara ditusuk-tusuk dan memukul perlahan sisi-sisi bataton lalu diratakan permukaannya.
vi. Lapisi permukaan sloof dengan mortar setebal 1 cm
vii. Bataton kolom dan bataton U disusun ke atas secara bersamaan hingga mencapai ketinggian yang diinginkan.
viii. Ring balk menggunakan bataton U yang diberi tulangan 4 Ø 8 mm dan begel Ø 6 – 200 mm.
b. Sistem Dinding Penahan Beban
i. Menggunakan Bataton H ukuran 290x140x140 mm atau 140x140x140 mm untuk kolom praktis
ii. Bataton U ukuran 290x140x140 mm atau 140x140x140 mm digunakan sebagai cetakan sloof, balok lintel dan ring balk
53
Gambar 37. Bataton U dan Bataton H Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
iii. Balok Roster digunakan pada eksterior dan interior untuk menjaga sirkulasi udara.
Gambar 38. Bataton Roster Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
iv. Untuk perkuatan, besi-besi tulangan dimasukkan ke dalam rongga, kemudian diisi dengan adukan beton.
Proses konstruksi dinding adalah :
i. Pelapisan permukaan sloof dengan mortar setebal 1 cm
ii. Rongga pada bataton H diberi tulangan kolom praktis 4 Ø 8 mm -200 mm dan tulangan vertikal 1 Ø 8 mm
iii. Isi rongga kolom praktis dengan beton dan kemudian dipadatkan iv. Susun bataton sampai menjadi dinding sampai ke kolom pada ujung
54
v. Setiap lapisan ke empat diberi tulangan horizontal 2 Ø 6 mm dari ujung dinding ke ujung dinding lainnya.
Gambar 39. Proses Konstruksi Dinding Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
Proses pemasangan bataton roster adalah :
i. Lapisi permukaan dinding yang akan dipasang bataton roster dengan mortar setebal 1 cm
ii. Susun bataton roster sesuai besaran lubang ventilasi yang diinginkan iii. Apabila bataton roster yang akan dipasang lebih dari selapis, maka
antar lapisan diberi mortar setebal 1 cm
iv. Di atas bataton roster diberi balok beton bertulang yang terbuat dari bataton U dengan tulangan 4 Ø 8 mm dan begel Ø 6 mm – 200 mm.
55
Gambar 40. Proses Pembuatan Roster Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
Proses pembuatan ring balk adalah :
i. Bataton U digunakan sebagai cetakan ring balk
ii. Kemudian diberi tulangan U dengan tulangan 4 Ø 8 mm dan begel Ø 6 mm – 200 mm
iii. Beri adukan beton ke dalam bataton U kemudian dipadatkan dan diratakan
Gambar 41. Pembuatan Ring Balk Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008 2. Sistem Pelat
Sistem ini digunakan untuk membuat plat atap, kanopi, awning, dan plat lantai. Sistem pelat bangunan terdiri dari dua elemen yaitu :
56
i. Balok beton pracetak bertulang sebagai balok penyangga
ii. Ubin beton lengkung pracetak yang ditempatkan pada balok beton
iii. Lapisan beton dituangkan di atas ubin dan balok untuk menyatukan kedua elemen sehingga menghasilkan pelat lantai yang rapi.
iv. Ukuran umum balok beton adalah 10x6x300 cm
Gambar 42. Balok dan Ubin beton lengkung Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
v. Ukuran ubin yang diproduksi adalah 20 x 53 x 2 cm
vi. Balok dan ubin beton terbuat dari campuran semen, agregat dan air. vii. Panjang bentangan maksimum 3 m dan terbatas sesuai cetakan yang ada. Proses pemasangan plat adalah :
i. Tempatkan balok-balok beton sebagai penyangga lantai di atas ring balk dengan jarak tiap 600 mm
ii. Tempatkan ubin-ubin lengkung di atas balok penyangga sehingga menutupi lantai. Jangan menginjak ubin lengkung tersebut.
57
Gambar 43. Proses Pemasangan Plat Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
iii. Pasang cetakan untuk menutupi rongga-rongga antara ubin lengkung. Kemudian tuangkan adukan beton dalam bentuk jalur-jalur beton selebar 20 cm di atas balok penyangga lantai.
iv. Setelah beton mengeras lanjutkan proses penuangan beton hingga seluruh plat lantai tertutup
v. Bentangkan lerlebih dahulu tulangan susut Ø 8 mm- 200 mm ke arah memanjang dan melintang lantai di atasnya.
vi. Tuangkan dan ratakan beton sesuai dengan ketinggian cetakan dan biarkan mengeras
vii. Keringkan rembesan air adukan 2 kali sehari
viii. Tutup beton dengan lembaran plastik selama 7 hari
ix. Dua hari setelah penuangan beton, cetakan dapat dibongkar. Kolom sementara penyangga balok dapat dibongkar setelah 28 hari.
58
Gambar 44. Potongan Plat Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
x. Untuk mengecor plat lantai beton ukuran 3x3 m dibutuhkan sekitar beton sebanyak 0.4 m3, untuk rumah ukuran 6x9 dibutuhkan beton sekitar 2.5 m3.
3. Sistem Kusen Pintu dan Jendela
Sistem kusen pintu dan jendela terdiri dari dua elemen yaitu :
i. Kusen beton pracetak untuk pintu dan jendela dengan engsel dan kunci yang terpadu
ii. Daun pintu atau jendela yang terbuat dari bahan kayu atau pvc
Gambar 45. Sistem Kusen Pintu dan Jendela Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
59
Proses pemasangan kusen pintu dan jendela adalah :
i. Persiapkan lubang-lubang tempat dudukan kusen di dinding ii. Pasang kusen beton pracetak pada lubang yang telah dipersiapkan
iii. Pasang baut/dynabolt untuk memperkuat hubungan antara kusen dan tembok
iv. Pasang daun pintu dan jendela dengan menggunakan engsel dan kunci-kunci yang telah dipersiapkan.
Gambar 46. Pemasangan Kusen Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
4. Sistem Atap MCR
i. Sistem untuk atap terdiri atas genteng MCR dan struktur rangka atap ii. Rangka atap dapat menggunakan kayu ataupun besi
iii. MCR (Micro Concrete Roofing) adalah campuran semen dan agregat
Gambar 47. Penutup Atap MCR Sumber : PT. Holcim Indonesia, 2008
60
iv. MCR digunakan dengan kemiringan atap minimal 22o. Untuk daerah dengan curah hujan tinggi disarankan kemiringan yang digunakan adalah 30°.
v. Setelah terpasang, atap tidak dapat digunakan untuk tempat memasang antena TV dll.