BAB III REKONSTRUKSI HUKUM KORUPSI SECARA
B. Solusi Strategi Repressif Korupsi Menurut Perspektif
Adapun “solusi strategi repressif” korupsi melalui pendekatan teologis pada “aspek peraturan perundang-undangan yang bersifat monopolistik”
adalah dilakukan dengan cara mereformasi atau memperbaiki perundang-undangan yang bersifat monopolistik tersebut yang telah menjadi akar sebab permasalahan korupsi76, yaitu melalui reformasi/perbaikan pada empat strategi pendekatan teologis berikut ini: 1. Penguatan lembaga pengawasan (lembaga al-H{isbah), 2. Penguatan hukum yuridis dan dunia peradilan. 3.
Penguatan masyarakat. 4. Penguatan aspek religiusitas.
1. Penguatan Lembaga Pengawasan (al-H{isbah)
Cheril W. Gray dan Daniel Kauffman menyimpulkan pandangan-nya terkait langkah-langkah penanggulangan korupsi (tacling corruption):
“Tekanan/perhatian utama yang harus dilakukan dalam pencegahan korupsi adalah dengan melakukan reformasi/perbaikan aturan-aturan, lembaga-lembaga, dan dorongan-dorongan (perangsang). Usaha-usaha untuk meningkatkan penguatan undang-undang anti korupsi dengan menggunakan kebijakan, etika-etika kantor, atau dengan penguatan agen-agen “lembaga pemantau” khusus.77
75 Abu al-H{asan Ali> al-Hasani> an-Nadwi>, Ma>z|a> Khasira ‘A>lamu Binhit{at{ al-Muslimi>n, hal. 126-127.
76 Sebagaimana penjelasan Srinita (2016), ia menyimpulkan bahwa faktor-faktor penyebab korupsi adalah: aspek perilaku individu, organisasi, masyarakat, dan peraturan perundang-undangan yang bersifat monopolistik. Lihat: Srinita, “Strategi Menihilkan Korupsi di Sektor Pendidikan dan Kesehatan”, dalam Jurnal Kajian Politik Dan Masalah Pembangunan, Universitas Syiah Kuala Daarussalam, Banda Aceh, Vol. 12 No. 02, Tahun 2016, hal. 1898.
77 Cheril W. Gray & Daniel Kauffman, “Corruption and Development”, dalam jurnal Finance & Development, March, Tahun 1998, hal. 10.
Reformasi dengan melakukan perbaikan dan penguatan terhadap lembaga pengawasan yang menjadi salah satu pilar/bagian dari solusi integratif teologis memiliki kedudukan yang signifikan dan vital di dalam usaha penanggulangan korupsi. Lembaga pengawasan adalah ibarat payung hukum yang bersifat, legal yuridis, formal dan konstitusional baik secara hukum positif, hukum syari‟at, dan secara teologis di dalam melakukan proses pengawasan secara integral, dan melekat terhadap berbagai bentuk penyimpangan, permusuhan, dan tindakan kejahatan. Oleh karenanya mereformasi dengan melakukan perbaikan dan penguatan yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan terhadap lembaga Pengawasan yang monopolistik adalah bagian dari tugas utama seorang pemimpin suatu pemerintahan politik atau negara. Karena melakukan dakwah kepada kebaikan dengan media amar ma‟ruf dan nahi munkar pada hakikatnya adalah kewajiban paling asasi dan paling utama bagi setiap seorang pemimpin, dan hal itu adalah sifat yang melekat secara otomatis di dalam kepribadiannya di saat ia diangkat sebagai pemimpin.
a. Hukum Berdirinya Lembaga Pengawasan: Fardu Kifayah Hukum berdirinya lembaga pengawasan yang bertugas melakukan pencegahan terhadap berbagai perbuatan penyimpangan hukum, kejahatan, pencurian, penggelapan, penyuapan, dan perbuatan korupsi adalah fardlu kifayah, yakni wajib hukumnya dalam sebuah komunitas masyarakat muslim berdirinya sekelompok orang yang menggeluti bidang ini dengan kelembagaannya tersendiri yang independen. Di mana jika tugas ini ditinggalkan sama sekali, maka seluruh masyarakat tersebut akan menanggung dosanya akibat mengabaikannya.
Hal ini dipertegas oleh pandangan para ulama, baik ahli tafsir, ahli ushuluddin (para ahli teologi Islam), maupun ahli hukum Islam. Ibn Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya terkait Q.S A>li Imra>n/3: 104,
َِحُِل
78 Ibnu Kas|i>r, Tafsi>r Ibn Kas|i>r, jilid 1, hal. 368.
Yaitu Allah swt berfirman: “dan hendaknya dari kalian itu ada sekelompok umat yang menegakkan tugas perintah Allah di dalam berdakwah kepada kebaikan dan kepada amar ma‟ruf dan nahi munkar, dan mereka adalah orang-orang yang beruntung”. ad-Dahhak mengatakan: “mereka adalah sekelompok orang, yakni khusus sahabat rasulullah saw, dan sekelompok khusus orang para periwayat hadits, yakni para mujahidin (pejuang) dan para ulama… maksud dari ayat ini adalah: “menjadi keharusan adanya sekelompok dari umat ini orang-orang yang memperjuangkan/menegakkan urusan berdakwah kepada kebaikan, dan kepada amar ma‟ruf dan nahi munkar, sekalipun hal itu menjadi kewajiban atas setiap pribadi dari umat ini sebatas kemampuannya.
Tentang hukum berdirinya lembaga pengawasan al-Qadi al-Baidlawi (w.685 H) juga menjelaskan di dalam tafsirnya:
Amar ma‟ruf dan nahi munkar adalah dari fardu-fardu kifayah, dikarenakan tidaklah setiap orang itu layak untuk tugas ini, sebab bagi pelaku tugas ini harus memiliki syarat-syarat, di mana semua umat tidak disyaratkan mengerjakannya, yaitu seperti memiliki ilmu tentang hukum-hukum, tentang tingkatan-tingkatan melakukan pengawasan, dan cara-cara melaksanakannya, dan kecakapan di dalam menjalankannya. Pada ayat ini Alah swt membebankan kepada seluruh kaum muslimin, dan Ia menuntut pekerjaan ini (amar ma‟ruf dan nahi munkar) dari sebagian mereka saja, untuk menunjukkan bahwa hal itu hukumnya adalah wajib atas keseluruhan masyarakat. Sehingga jika seluruhnya meninggalkannya sama sekali, maka seluruhnya telah berdosa, namun kewajiban ini menjadi gugur dengan berdirinya sebagian kelompok dari mereka.79
b. Pelaku Lembaga Pengawasan (al-Hisbah) Adalah Manusia Terbaik Dan Ia Adalah Tugas Utama Pemimpin
Abu Abdillah al-Qurtubi, seorang mufassir yang ahli fiqih Islam, di dalam tafsirnya menjelaskan:
Ayat ini (Q.S. A>li Imra>n/2: 21)80 menunjukkan bahwa amar ma‟ruf dan nahi munkar adalah sebuah kewajiban pada umat-umat terdahulu, ia merupakan faidah/intisari dari risalah dan khilafah (suksesi) kenabian. Imam Hasan mengatakan, Rasulullah saw bersabda: “barang siapa yang melakukan amar ma‟ruf dan nahi munkar, maka dia adalah sebagai khalifah/pemimpin Allah di bumi-Nya, khalifah Rasul-Nya, dan khalifah kitab-Nya”. Dari Durrah binti Abi Lahab, ia mengatakan: “seorang laki-laki datang menghampiri Rasulullah saw, dan beliau sedang berdiri di atas mimbar, dan berkata: “wahai Rasulullah siapakah manusia terbaik ?, beliau menjawab,
ُِمآ
79 al-Qad{i> al-Baid{a>wi>, Tafsi>r al-Baid{a>wi> (Anwa>ru at-Tanzi>l wa Asraru at-Ta’wi>l), Juz II, hal. 32.
80 Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka kabarlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih.
ِ ََيِلّاِ نِإ
Manusia terbaik adalah yang paling (aktif) memerintahkan kepada kebaikan, dan mencegah dari kemungkaran, dan paling bertakwa kepada Nya, dan paling (aktif) menyambungkan silaturahimnya.
Allah swt telah menjadikan aktifitas amar ma‟ruf dan nahi munkar sebagai pembeda antara orang-orang beriman dengan orang-orang munafik, dan karakter/sifat paling khusus bagi orang beriman adalah aktifitas amar ma‟ruf dan nahi munkar, dan induknya adalah berdakwah kepada Islam dan melakukan perjuangan di dalamnya.81
c. Pengertian, Prinsip, dan Tujuan Lembaga Pengawasan (al-H{isbah)
Dalam terminlogi syari‟at Islam yang dimaksudkan dengan pengertian istilah lembaga pengawasan adalah sebuah kewenangan religius yang dilaksanakan oleh seorang pemimpin politik, atau hakim dengan segala konsekwensinya/muatan maknanya, dengan cara menentukan person-person yang berwenang dan berkompeten di dalam mengemban tugas amar ma‟ruf di saat nampak banyak orang-orang yang mengabaikannya, dan di dalam tugas nahi munkar, di saat nampak banyak orang yang melakukan kemungkaran tersebut. Lembaga pengawasan (al-h{isbah), yaitu amar ma‟ruf dan nahi munkar ini dilakukan dengan beberapa tujuan pokok, yaitu pertama:
untuk membentengi masyarakat dari penyimpangan, kedua: untuk melestarikan (aturan-aturan) agama dari pengabaian dan kepunahan, ketiga:
untuk merealisasikan kemaslahatan manusia, baik kemaslahatan agama dan kemasalahatan dunia agar sejalan dengan syari‟at-Nya.82
Berdasarkan penjelasan di atas maka menurut hemat penulis seluruh badan-badan/lembaga-lembaga/dewan-dewan pengawasan yang terdapat di Indonesia, yakni lembaga/badan pengawasan pemerintahan, baik pada level eksekutif, yudikatif, dan legislative dapat dinamakan dengan istilah lembaga al-h{isbah, yakni lembaga al-h{isbah sebagaimana yang difahami dalam pengertian/perspektif syari‟ah, dan hal itu tentunya dengan beberapa syarat, yakni selama baik aspek pengertian, prinsip, dan tujuan pada lembaga/badan dewan pengawas tersebut sejalan dan senyawa, atau memiliki spirit dan muatan yang sama baik dalam aspek pengertian, prinsip, dan tujuan lembaga al-h{isbah yang selama ini difahami dalam perspektif syari‟at Islam itu sendiri.
d. Hubungan Antara Lembaga Pengawasan (al-H{isbah), Dengan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
Perintah melakukan amar ma‟ruf dan nahi munkar adalah kewajiban setiap muslim yang bersifat individual antara dia dengan Allah swt, sebagai
81 Abu> Abdilla>h al-Qurt{ubi>, Tafsi>r al-Ja>mi’ Li ahka>mi al-Qur’a>n, jilid II, Juz IV, hal.
31, dan: M. Darwis Hude, Logika al-Qur‟an, hal. 196.
82 Abdurahma>n Ibn Mu’alla> al-Luwaihiq, “Mafhu>m al-Hisbah fi> al-Isla>m‛, dalam www.alukah.net. Diakses pada 14 November 2018.