• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

B. Sosial Budaya Masyarakat Sumenep

Salah satu elemen sosial budaya masyarakat Sumenep pada khususnya dan Madura secara keseluruhan selain kehormatan atau harga diri15 adalah agama. Dalam kehidupan sehari-harinya, agama seringkali tercermin yang menunjukkan

15Kekerasan dan Keagamaan atau religiusitas adalah dua citra simbolik orang Madura. Keduanya berakar dari makna Maloh atau Todus yang bekerja pada kesadaran orang Madura. Religiusitas dalam hal ini Islam pada taraf yang lebih tinggi menyatu dengan identitas orang madura dan menjadi bagian dari harga diri orang Madura. (Lihat Abdur Rozaki, Social Origin dan Politik Kuasa Blater di Madura. Kyoto Review Of

Southeast Asia Issue, 11. Desember, 2009. Hal 1-2).

Tabel Persebaran Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Menurut Kecamatan di Kabupaten Sumenep

Kecamatan Pondok Pesantren Madrasah Diniyah

Pragaan 4 78 Bluto 15 53 Saroggi 6 34 Giligenting 3 24 Talango - 48 Kalianget 2 20 Kota Sumenep 14 40 Batuan 2 6 Lenteng 12 79 Ganding 24 45 Guluk-Guluk 23 71 Pasongsongan 8 57 Ambunten 1 29 Rubaru 17 54 Dasuk 8 30 Manding 10 23 Batuputih 11 49 Gapura 9 33 Batang-Batang 12 43 Dungkek 6 31 Nonggunong 3 28 Gayam 1 47 Raas 2 32 Sapeken 13 57 Arjasa 23 98 Kayangan 13 45 Masalembu 9 16 Jumlah Total 254 1.170

89

bagaimana posisi agama telah begitu mengakar dalam alam kesadaran orang-orang Sumenep. Berkaitan dengan Agama masyarakat Sumenep, maka Islam merupakan agama yang dianut mayoritas masyarakat dan sangat mendominasi. Karena itu, Agama bagi masyarakat Sumenep adalah persoalan sakral dan sensitif yang akan membuat masyarakat bersedia berkorban apabila pada saat tertentu Agama mereka dirusak atau terancam. Sedangkan bentuk kongkret Islam yang dianut masyarakat Sumenep pada khususnya dan Madura pada umumnya adalah madzhab ahlu al-sunnah wa al-jamaah. Sebagaimana yang ditegaskan oleh K Dardiri Zubairi Bahwa bicara Madura berarti Bicara Agama, Agama bagi orang Madura adalah Islam sebagaimana pernyataannya di bawah ini;16

ketika bicara madura, sebenarnya bicara agama, berbicara suatu wilayah yang dihuni pemeluk Aswaja, itu ngakar banget menurut saya. Ketika mendengar berita-berita yang dipahami mereka bisa mengganggu ideologi keagamaan ini, itu pasti melawan. Makanya meski relatif singkat dan ini saya kira bukan hanya kerjanya teman-teman,tapi banyak juga pihak lain yang bekerja yang nyambung dalam isu bahwa madura terancam, mau ada kepentingan asing masuk, dan itu dipahami mengganggu tidak saja alat produksinya orang madura dalam bentuk tanah lahan pertanian, tetapi juga nalampan kultur masyarakat madura dan pandangan keagamaannya. Itu yang turut membangunkan para kiai termasuk untuk merespon kasus ini. Pada tataran Organisasi masyarakat, masyarakat Madura mayoritas berafiliasi pada Nahdlatul Ulama (NU). Manifestasi dalam ungkapan-ungkapan semacam abantal syahadat, asapo’ iman, pajung Alloh, menunjukkan bagaimana kuatnya agama bagi orang Madura yang sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat madura berjiwa Islam. maka tidak heran jika agama seringkali dekat dengan konsep harga diri dalam adat orang Madura. Kondisi keberagamaan masyarakat Sumenep ini selaras dengan temuan-temuan penelitian sebelumnya seputar

90

Madura. Masdar Hilmy mengungkap bahwa belum ditemukan seorang muslim Madura yang berpindah keyakinan, kalaupun ada orang non-muslim di Madura, biasanya mereka pada dasarnya bukan keturunan orang Madura asli, tapi lebih karena aktifitas migrasi dan akhirnya menetap di Madura. Jadi, bagi masyarakat Madura persoalan Islam dan menjadi seorang yang memeluk Islam adalah persoalan identitas simbolik.17

Selama setahun misalnya, kehidupan orang Madura banyak diwarnai dengan ritual-ritual keagamaan. Sebut saja ritual untuk mengenang keluarga yang telah meninggal dunia atau hol-holan. Kenduri atau ritual bulanan yang dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu dalam kalender hijriyah, seperti Tajin

sora yang dilaksanakan pada bulan Sora / Muharrom (bulan pertama Islam),

bulan berikutnya ada Tajin Safar,bulan Rabi’ul awal ada ritual mulodhen (Maulid Nabi) untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad dengan mengadakan pengajian dan sholawatan, dimana pada puncak atau akhir bula tersebut masyarakat berbondong-bondong mendatangi pengajian dan sholawatan yang dilaksanakan di desa.18 Pada bulan Rabi’ul akhir ada ritual rasolan. Pada tanggal 27 Rajab ada selametan untuk Isra’ Mi’raj Nabi. Saat orang Madura memberikan sedekah telasan agung, merayakan akhir puasa. Pada hari ke delapan bulan Syawal ada telasan ketopa’. Ada juga istilah nyabel. kemudian dalam bulan Dzulhijjah, dilaksanakan perayaan pesta haji dan disebut sedekah telasan haji.19

17Masdar Hilmy, Al-Jami’ah; Journal Of Islamic Studies, “The Political Economy Of Sunni-Shi’ah

Conflict In Sampang Madura“, Vol. 51, No 01, 2015, 30.

18K Dardiri Zubairi, Wawancara, Sumenep,15 Januari, 2017

91

Begitu kentalnya masyarakat Sumenep dengan nuansa keislaman juga tercermin dalam popularitas kelompok-kelompok kompolan dan pengajian. Dalam setiap dusun biasanya ada kelompok kompolan, sehinnga sebuah Desa di Sumenep bisa mempunyai lebih dari satu kelompok kompolan. Kompolan adalah sebutan untuk kelompok perkumpulan lokal yang komposisinya terdiri dari belasan hingga puluhan jemaah (anggota) dan dipimpin oleh seorang tokoh agama tertentu atau Kiai. Setiap tokoh agama yang memimpin kompolan bisa memiliki lebih dari satu kelompok kompolan. Biasanya tokoh agama yang memiliki lebih dari satu kompolan tersebut karena ia juga menjadi pemimpin atau pemandu

kompolan di lintas desa.20

Dalam prakteknya Kompolan diadakan biasanya sekali dalam seminggu, tapi ada pula yang dilaksanakan satu kali dalam sebulan, keberagman jadwal pelaksanaan tersebut lebih dikarenakan keinginan dan kesepakatan dengan anggota kelompok. Seperti yang dinyatakan oleh salah satu Kiai;

Engghy, setiap malam rebbu, jumat, sabtu. Manabi malem rebbu kaintoh sekitar 20 an, manabi malam jum’at kaintoh satu tempat bede se 25 an oreng, terus tempat yang lain bede 70 an, malam jum’at kaintoh bede due’, settong e desa Banyuajuh Timur, terus pulangnya saya singgah di Longos, cuma agak malam. Biasanya sholawatan, tahlilan ghellu kaangghuy keselamatan jemaah bhuru tanya-jawab, musyawarah ponapah se ekabhutoh. Tergantung jemaah, kadeng sampe setengah jhemm sajhem. Pelaksanaan kompolan biasanya pada malam hari setelah masyarakat selesai dari rutinitas pekerjaannya yang mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh.,

kompolan semacam ini berisi tentang kajian atau perbincangan seputar Islam yang

tidak begitu formal seperti pada pengajian-pengajian yang membutuhkan moderator atau MC. Kajian atau perbincangan yang berlangsung dalam kelompok

92 kompolan beragam sesuai tempat, kondisi dan keinginan anggota kompolan. Ia

bisa berupa acara mambaca sebuah surat al-Qur’an dilanjutkan dengan kajian fikih keseharian, atau juga berupa sholawatan dilanjutkan dengan tanya-jawab, isi kajian juga bisa berupa kajian tasawwuf, tafsir, kajiann fikih produk mazhab.21

Islam yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas ke-Madura-an juga dapat dijumpai pada sektor pendidikan. Data sebelumnya menunjukkan bagaimana Madrasah Diniyah dan Pondok Pesantren tersebar ke seluruh pelosok daerah Sumenep. Eksisnya Pondok Pesantren paling tidak menggambarkan apa yang dicita-citakan masyarakat Sumenep tentang generasi penerusnya serta kecenderungan minat mereka. Dalam sebuah wawancara seorang tokoh agama menyampaikan perihal perilaku masyarakat yang masih menjadikan pendidikan pondok pesantren sebagai tujuan pendidikan anak-anaknya. Bagi masyarakat Sumenep, mamondhuk anak (mengirim anak ke pondok) sudah menjadi sebuah tradisi yang lazim.22