KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.2 Kerangka Teoritis
2.2.5 Sosial Ekonomi Keluarga
Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu merupakan hasil dari sebuah perkawinan yang sah yang dapat membentuk sebuah keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya untuk mencapai tahapan tertentu yang menghantarkan anak untuk siap dalam kehidupan bermasyarakat (Djafar, 2014). Status sosial sebagai tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya dan hak-hak serta kewajibannya (Soekanto, 2007).
Status Sosial ekonomi adalah konsep yang merangkum posisi kelas sosial seseorang di masyarakat (McGrath & Elgar, 2017). Setiaji (2015) menyatakan status sosial ekonomi sebagai pengelompokan orang-orang dengan pekerjaan, pendidikan dan karakter ekonomi yang serupa. Status sosial ekonomi sebagai pengelompokan orang-orang berdasarkan kesamaan karakteristik pekerjaan, pendidikan ekonomi. Status sosial ekonomi menunjukan ketidaksetaraan tertentu. Secara umum anggota masyarakat memiliki a) pekerjaan yang bervariasi prestisinya,beberapa individu memiliki akses yang lebih besar terhadap pekerjaan berstatus lebih tinggi dibanding oranglain; b) tingkat pendidikan yang berbeda, ada beberapa individu memiliki akses yang lebih besar terhadap pendidikan yang lebih baik dibanding orang lain;c) sumber daya ekonomi yang berbeda;d) tingkat kekuasaan untuk mempengaruhi institusi masyarakat. Perbedaan dalam kemampuan mengontrol sumber daya dan berpartisipasi dalam ganjaran masyarakat menghasilkan kesempatan yang tidak setara (Santrock,2007). Tingkat atau status sosial ekonomi didasarkan pada salah satu atau kombinasi yang mencakup tingkat pendapatan, pendidikan, prestise atau kekuasaan (Raf, 2012).
Status sosial ekonomi adalah suatu tingkatan yang dimiliki oleh seseorang yang didasarkan pada kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dari penghasilan atau pendapatan yang diperoleh sehingga mempunyai peranan pada status sosial seseorang dalam struktur masyarakat. Penghasilan atau pekerjaan tertentu juga dapat menentukan tinggi rendahnya status seseorang (Nasution dan Nur, 2006). Tingkat status sosial ekonomi
orang tua dapat dilihat dari pekerjaan orang tua. Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang tua siswa untuk mencari nafkah (Manginsihi, 2013).
Pekerjaan yang ditekuni oleh setiap orang berbeda-beda, perbedaan itu akan menyebabkan perbedaan tingkat penghasilan yang rendah sampai pada tingkat penghasilan yang tinggi, tergantung pada pekerjaan yang ditekuninya. Contoh pekerjaan berstatus sosial ekonomi rendah adalah pekerja pabrik, buruh manual, penerima dana kesejahteraan, dan pekerja pemeliharaan (Santrock, 2007).
Status sosial ekonomi adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat, status sosial ekonomi adalah gambaran tentang keadaan seseorang atau masyarakat yang ditinjau dari segi sosial ekonomi, gambaran itu seperti tingkat pendidikan, pendapatan dan sebagainya. Status ekonomi kemungkinan besar merupakan pembentuk gaya hidup keluarga. Pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak. Karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik primer maupun sekunder (Soetjiningsih, 2012).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas diperoleh gambaran bahwa tingkat sosial ekonomi orang tua adalah kedudukan orang tua dalam masyarakat berdasarkan pada pendidikan dan pekerjaan disertai dengan kemampuan orang tua dalam memenuhi segala kebutuhan keluarga sehari -hari, termasuk kemampuan orang tua dalam membiayai dan menyediakan
fasilitas belajar anak sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap anak -anaknya.
Keluarga dengan pendapatan cukup atau tinggi pada umumnya akan lebih mudah memenuhi segala kebutuhan sekolah dan keperluan lain. Berbeda dengan keluarga yang mempunyai penghasilan relatif rendah, pada umumnya mengalami kesulitan dalam pembiayaan sekolah, dan keperluan lainnya.
Menurut Hamalik (2012) keadaan sosial ekonomi yang baik dapat menghambat ataupun mendorong dalam belajar. Masalah biaya pendidikan juga merupakan sumber kekuatan dalam belajar karena kurangnya biaya pendidikan akan sangat mengganggu kelancaran belajar. Setyadharma,A (2018) menyatakan bahwa biaya pendidikan yang tinggi akan menyebabkan siswa putus sekolah dan menurut Santoso dan Latifah (2012) menyatakan bahwa kondisi ekonomi dan dukungan keluarga memungkinkan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Puspita,D.W.,(2015) menyatakan apabila seorang miskin maka tidak dapat melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi.
Salah satu fakta yang mempengaruhi tingkat pendidikan anak adalah pendapatan keluarga. Tingkat sosial ekonomi keluarga mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap prestasi belajar siswa di sekolah, sebab segala kebutuhan anak yang berkenaan dengan pendidikan akan membutuhkan sosial ekonomi orang tua.
Perbedaan status sosial ekonomi juga mempengaruhi orientasi intelektual anak. Sedangkan menurut McLoyd, anak-anak dengan latar belakang status sosial ekonomi rendah berresiko tinggi mengalami masalah
kesehatan mental. Masalah seperti depresi, kepercayaan diri rendah, konflik sebaya, dan kenakalan remaja lebih banyak terjadi di antara anak -anak yang hidup di keluarga yang status sosioekonomi rendah dibandingkan dengan anak-anak yang lebih beruntung secara ekonomi (Santrock, 2007).
Orang tua dengan penghasilan yang tinggi akan mampu memenuhi berbagai macam sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan belajar anak. Semakin tinggi pendidikan orang tua, semakin berkualitas perhatian yang diberikan kepada anaknya, semakin sibuk orang tua dalam pekerjaan, sem akin sedikit perhatian yang diberikan kepada anaknya”. Semakin banyak penghasilan orang tua, semakin mudah memenuhi kebutuhan prasarana dan sarana belajar anaknya. Sementara anak yang berlatar belakang ekonomi rendah, kurang mendapat bimbingan dan pengarahan yang cukup dari orang tua mereka, karena orang tua lebih memusatkan perhatian pada bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari (Hartinah, 2008).
Kondisi sosial ekonomi keluarga banyak menentukan kehidupan pendidikan dan karir anak. Kondisi sosial yang menggambarkan status orang tua yang merupakan faktor yang akan ‘dilihat’ oleh anak untuk menentukan pilihan sekolah dan pekerjaan. Secara tidak langsung keberhasilan orang tuanya merupakan ‘beban’ bagi anak, sehingga dalam menentukan pilihan pendidikan tersirat untuk ikut mempertahankan kedudukan orang tuanya (Sunarto, 2012).
Menurut Soekanto (2007), status sosial ekonomi seseorang dapat diukur dari :
a. Ukuran kekayaan
Ukuran kekayaan adalah harta benda atau materi yang dimiliki seseorang. Barangsiapa memiliki kekayaan paling banyak, termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan tersebut dapat dilihat pada bentuk rumah, mobil pribadi, cara berpakaian serta bahan pakaian yang dipakai, kebiasaan berbelanja barang-barang mahal dan seterusnya. b. Ukuran kekuasaan
Ukuran kekuasaan adalah kewenangan seseorang yang dimiliki karena kedudukannya dalam masyarakat, lembaga atau perusahaan yang dipimpin. Siapa memiliki kekuasaan atau wewenang terbesar menempati lapisan atas.
c. Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan adalah kewibawaan yang dimiliki oleh seseorang karena pembawaan atau kedudukan atau hal lain yang dianggap oleh orang lain sesuatu yang terpandang.
d. Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan adalah tingkat pendidikan seseorang, baik pendidikan formal maupun informal.
1. Bentuk Status Sosial Ekonomi
Kondisi ekonomi orang tua cenderung menuntut orang tua untuk memfokuskan perhatiannya pada pemenuhan kebutuhan ekonomi daripada kebutuhan pendidikan. Keluarga yang keadaan ekonominya tinggi tidak akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak, berbeda
dengan kondisi ekonomi dari keluarga yang kondisi ekonominya rendah. Kecukupan ekonomi cenderung memberikan banyak pilihan kepada orang tua dalam mengarahkan anak untuk dapat menikmati pendidikan daripada pemenuhan kebutuhan sehari-hari, sehingga anak lebih terdorong dan bersemangat dalam proses pendidikan mereka. Semakin tinggi tingkat ekonomi orang tua, semakin tinggi pula motivasi anak sehingga hasil yang dicapai lebih maksimal.
Soekanto (2007), menyatakan beberapa bentuk status sosial ekonomi sebagai berikut :
a. Ascribed Status, yaitu kedudukan seseorang dalam masyarakat tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan. Kedudukan tersebut diperoleh karena kelahiran, misalnya kedudukan anak seorang bangsawan adalah bangsawan.
b. Achieved Status, adalah kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha-usaha yang disengaja. Kedudukan ini bersifat terbuka bagi siapa saja, tergantung dari kemampuan dalam mengajar serta mencapai tujuan - tujuannya.
c. Assigned Status, yang merupakan kedudukan yang diberikan. Kedudukan yang diberikan oleh suatu kelompok atau golongan kepada seseorang yang berjasa.
2. Klasifikasi Status Sosial Ekonomi
Klasifikasi status sosial ekonomi menurut Coleman dan Cressey dalam Sumardi (2004) adalah:
a. Status sosial ekonomi atas
Status sosial ekonomi atas merupakan kelas sosial yang berada paling atas dari tingkatan sosial yang terdiri dari orang-orang yang sangat kaya seperti kalangan konglomerat dan mereka yang menempati posisi teratas dari kekuasaan. Status sosial ekonomi atas yaitu status atau kedudukan seseorang di masyarakat yang diperoleh berdasarkan penggolongan menurut harta kekayaan, dimana harta kekayaan yang dimiliki di atas rata-rata masyarakat pada umumnya. Masyarakat dengan status sosial atas yaitu sekelompok keluarga dalam masyarakat yang jumlahnya relatif sedikit dan tinggal di kawasan elit perkotaan.
b. Status sosial ekonomi bawah
Status sosial ekonomi bawah merupakan kedudukan seseorang di masyarakat yang diperoleh berdasarkan penggolongan menurut kekayaan, dimana harta kekayaan yang dimiliki termasuk kurang jika dibandingkan dengan rata-rata masyarakat pada umumnya serta tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-haru. Masyarakat dengan status sosial ekonomi bawah adalah masyarakat dalam jumlah keluarga yang cukup besar dan juga pada umumnya cenderung selalu konflik dengan aparat hukum.
Secara garis besar perbedaan yang ada dalam masyarakat berdasarkan materi yang dimiliki seseorang yang disebut sebagai kelas sosial (social
class). Sunarto (2012) membagi kelas sosial dalam tiga golongan, yaitu:
a. Kelas atas (upper class)
Upper class berasal dari golongan kaya raya seperti golongan
kebutuhan hidup dapat terpenuhi dengan mudah, sehingga pendidikan anak memperoleh prioritas utama, karena anak yang hidup pada kelas ini memiliki sarana dan prasarana yang memadai dalam belajarnya dan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan tambahan sangat besar.
b. Kelas menengah (middle class)
Kelas menengah biasanya diidentikkan oleh kaum profesional dan para pemilik toko dan bisnis yang lebih kecil. Biasanya ditempati oleh orang-orang yang kebanyakan berada pada tingkat yang sedang-sedang saja. Kedudukan orang tua dalam masyarakat terpandang, perhatian mereka terhadap pendidikan anak-anak terpenuhi dan mereka tidak merasa khawatir akan kekurangan pada kelas ini, walaupun penghasilan yang mereka peroleh tidak berlebihan tetapi mereka mempunyai sarana belajar yang cukup.
c. Kelas bawah (lower class)
Kelas bawah adalah golongan yang memperoleh pendapatan atau penerimaan sebagai imbalan terhadap kerja mereka yang jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kebutuhan pokoknya. Mereka yang termasuk dalam kategori ini adalah sebagai orang miskin yang kehilangan amunisi dalam merengkuh keberhasilan yang lebih tinggi. Golongan ini antara lain pembantu rumah tangga, pengangkut sampah dan lain-lain. Penghargaan mereka terhadap kehidupan dan pendidikan anak sangat kecil dan sering diabaikan, karena sangat membebani mereka. Perhatian terhadap keluarga tidak ada, karena tidak mempunyai waktu luang untuk berkumpul dan berhubungan.
Kondisi sosial ekonomi masing-masing keluarga berbeda satu dengan dengan lainnya. Tidak ada lapisan masyarakat yang homogen atau serba sama. Dalam masyarakat terdapat lapisan-lapisan masyarakat yang dapat membedakan satu dengan yang lain. Annete dalam (Okioga, 2013) meneliti tentang status sosial ekonomi yang dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu tinggi, sedang dan rendah, yang dideskripsikan ke dalam tiga area keluarga yaitu pendidikan, pendapatan dan pekerjaan.
Indikator yang dapat menentukan tinggi rendahnya status sosial ekonomi orang tua di masyarakat, antara lain tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan pendapatan (Soekanto, 2007).
a. Tingkat Pendidikan Orang Tua
Soekanto (2007) mendefinisikan pendidikan merupakan suatu alat yang akan membina dan mendorong seseorang untuk berfikir secara rasional maupun logis, dapat meningkatkan kesadaran untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya dengan menyerap banyak pengalaman mengenai keahlian dan keterampilan sehingga menjadi cepat tanggap terhadap gejala-gejala sosial yang terjadi.
Pendidikan diselenggarakan melalui jalur pendidikan sekolah (pendidikan formal) dan jalur pendidikan luar sekolah (pendidikan non formal). Jenjang pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendidikan yang dimiliki oleh ayah dan ibu yang diperoleh dari pendidikan formal yang ditempuh yaitu SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.
b. Jenis Pekerjaan Orang Tua
Pekerjaan akan menentukan status sosial ekonomi orang tua karena dari bekerja segala kebutuhan dapat terpenuhi. suatu keharusan bagi setiap individu sebab dalam bekerja dapat memenuhi kepuasan jasmani dan terpenuhi kebutuhan hidup. Soekanto (2007), menyatakan bahwa pekerjaan adalah kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa bagi diri sendiri atau orang lain, baik orang melakukan dengan dibayar atau tidak. Menurut Sumardi (2004), dengan bekerja orang akan memperoleh pendapatan.
Dalam masyarakat ada kecenderungan bahwa orang yang bekerja akan merasa lebih terhormat, lebih dihargai secara sosial dan ekonomi. Masyarakat dapat memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki. Untuk menentukan status sosial ekonomi yang dilihat dari pekerjaan, maka jenis pekerjaan dapat diberi batasan sebagai berikut:
1) Pekerjaan yang berstatus tinggi, yaitu tenaga ahli teknik, pemimpin ketatalaksanaan dalam suatu instansi baik pemerintah maupun swasta, tenaga administrasi tata usaha.
2) Pekerjaan yang berstatus sedang, yaitu pekerjaan yang terdapat pada bidang penjualan dan jasa.
3) Pekerjaan yang berstatus rendah, yaitu petani, buruh dan operator alat angkut/bengkel (Hamalik, 2012).
c. Pendapatan Orang Tua
Pendapatan digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga sehari-hari termasuk kebutuhan akan pendidikan anak. Pendapatan akan mempengaruhi
status sosial seseorang, terutama akan ditemui dalam masyarakat yang matrealis dan tradisional yang menghargai status sosial ekonomi yang tinggi terhadap kekayaan. Sumardi (2004) mendefinisikan pendapatan berdasarkan kamus ekonomi adalah uang yang diterima seseorang dalam bentuk gaji, upah, sewa, bunga, laba dan sebagainya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan merupakan semua penghasilan riil yang diterima oleh orang tua berupa material (barang) maupun uang yang diperoleh dari penggunaan kekayaan ataudari jasa manusia dimana penghasilannya tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, berarti pendapatan dalam penelitian ini adalah hasil diperoleh orang tua (Ayah dan Ibu), dimana penghasilan tersebut digunakan guna memenuhi kebutuhan pokok (sandang, pangan, dan papan).
Abdulsyani (2012) menyatakan bahwa ada beberapa indikator yang sering digunakan untuk mengukur status sosial ekonomi adalah 1) tingkat pendidikan, 2) tingkat pendapatan, dan 3) tingkat pekerjaan. Nurwati (2008) dalam penelitiannya menggunakan indikator pendapatan orang tua, mata pencaharian orang tua, kecukupan pendapatan bagi kehidupan keluarga dan beban tanggungan keluarga. Rahayu (2011) dalam mengukur kodisi sosial ekonomi keluarga menggunakan indikator tingkat pendidikan orang tua, pendapatan orang tua dan jumlah tanggungan keluarga. Hendaryati,N. (2015) menggunakan indikator sumber pendapatan, jumlah penghasilan, jumlah anggota keluarga, jumlah pengeluaran keluarga untuk mengukur kondisi ekonomi keluarga.
Dari beberapa indikator yang merujuk pada tinggi rendahnya status sosial ekonomi keluarga, maka penulis mengambil tiga indikator yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. Pendidikan orang tua 2. Pendapatan orang tua
3. Jumlah tanggungan keluarga 4. Peranan Status Sosial Ekonomi
Singh dan Vyast (2014) menyatakan bahwa lingkungan keluarga mempunyai peran yang penting dalam pendidikan. Pentingnya kondisi keluarga mempunyai peranan penting dalam penentuan prestasi akademik dan perilaku sosial anak, yaitu tingkat pendapatan orang tua, tingkat pendidikan dan status kesehatan juga standar kehidupan keluarga. Al-Matalka (2014) mengemukakan bahwa bagaimanapun juga status sosial ekonomi menjadi faktor berpengaruh terhadap pendidikan anak-anak. Dengan status sosial ekonomi yang tinggi orang tua akan dapat membiayai pendidikan anak-anaknya sehingga mereka tidak putus sekolah.
Meskipun tingkat pendidikan orang tua juga berpengaruh lebih besar terhadap strategi keterlibatan orangtua dibandingkan dengan pekerjaan dan pendapatan mereka. Gerungan (2009) mengatakan bahwa keluarga yang berada dalam status sosial ekonomi serba kecukupan, maka orang tua mencurahkan perhatiannya lebih mendalam kepada pendidikan anak-anaknya karena tidak disulitkan perkara-perkara kebutuhan primer. Status sosial ekonomi bukan merupakan faktor mutlak yang memepengaruhi perkembangan
anak-anaknya, namun status sosial ekonomi tetap dikatakan sebagai suatu faktor penting.