BAB IV. HASIL DAN ANALISIS PENELITIAN
4.3. Temuan Data Di lapangan
4.4.2. Sosial Ekonomi Masyarakat
Berdasarkan indikator yang ada, untuk menilai bagaimana dampak pembangunan prasarana jalan terhadap sosial ekonomi masyarakat Dusun Tanggiring, Desa Pegagan Julu VIII, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi berdasrkan hasil penelitian terlihat bahwa pembangunan prasarana jalan mengakibatkan berbagai dampak terhadap masyarakat khusunya pada segi sosial dan ekonomi.
Pembangunan jalan yang dilaksanakan di Dusun Tanggiring, Desa Pegagan Julu VIII, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi adalah suatu hal yang mengandung fungsi di dalamnya. Pembangunan jalan ditujukan untuk meningkatkan produktifitas masyarakat desa sehingga mampu memberikan hasil yang jauh lebih baik terhadap baik terhadap segi sosial maupun segi ekonomi. Namun, di sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan jalan yang telah dilaksanakaan di dusun tersebut juga
akan membawa berbagai dampak baik dampak yang positif maupun dampak yang negatif terhadap masyarakat. Pada dasarnya pembangunan jalan di Desa Pegagan Julu VIII bertujuan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat desa.
Apabila ditinjau dari segi sosial masyarakat akan sangat terbantu dalam melaksanakan berbagai kegiatan dan interaksi sosialnya baik antar sesama penduduk dalam satu desa maupun penduduk yang berada di wilayah lain, sehingga setiap kegiatan yang menyangkut aktifitas sosial lainnya seperti kegiatan pesta, acara adat dan sebagainya dapat dilaksanakan masyarakat secara lebih efisien dan tepat waktu. Sedangkan jika dilihat dari segi ekonomi, setiap aktifitas seperti : penjualan hasil panen dan hasil pertanian tentu akan dapat dilakukan dengan lebih cepat, efisien dan efektif. Tentu hal ini sangat bermanfaat terhadap masyarakat mengingat aktifitas perekonomian sangat penting untuk menunjang kehidupan masyarakat.
Dalam penelitian ini Teori Fungsionalisme Struktural oleh Robert. K. Merton digunakan untuk menjawab perumusan masalah yaitu : bagaimana dampak pembangunan prasarana jalan terhadap sosial ekonomi masyarakat Dusun Tanggiring, Desa Pegagan Julu VIII, Kecamatan Sumbul , Kabupaten Dairi.
Adapun inti dari teori ini adalah :
1. Fungsi adalah akibat – akibat yang dapat diamati yang menuju adaptasi atau penyesuaian dalam suatu sistem.
2. Disfungsi adalah akibat – akibat negatif yang muncul dalam penyesuaian suatu sistem.
3. Fungsi manifest adalah fungsi yang diharapkan. 4. Fungsi laten adalah fungsi yang tidak diharapkan
Jika ditinjau dari segi fungsi, maka pembangunan prasarana jalan tentu harus dapat memberikan dampak yang positif terhadap sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam Teori Robert K. Merton hal seperti itu termasuk ke dalam fungsi manifest (yang diharapkan) dari dilaksanakannya pembangunan prasarana jalan. Tetapi ada kalanya dalam pembangunan yang dilaksanakan timbul dampak – dampak yang tidak diharapkan (fungsi laten). Keduanya ini merupakan suatu konsekuensi yang kuat dan tidak dapat dipisahkan.
Dengan adanya prasarana jalan desa yang telah memadai seperti saat ini, masyarakat khusunya pada dusun Tanggiring pada saat ini menjadi lebih mudah dalam melakukan aktivitas / pergerakan, penjualan dan pemasaran hasil produksi pertaniannya. Tidak ada lagi batasan masyarakat dalam berbagai aktivitasnya mengingat bahwa pada saat ini sarana transportasi seperti mobil pengangkutan umum juga telah banyak tersedia dan selalu beroperasi tanpa ada batasan waktu. Selain itu masyarakat juga kebanyakan telah mempunyai kendaraan pribadi seperti : mobil dan sepeda motor sehingga untuk melaksanakan berbagai aktivitas tidak terlalu mengalami kesulitan lagi. Dalam berbagai aktifitas sosial seperti acara adat baik antar sesama penduduk maupun di luar wilayahnya, masyarakat tidak terlalu sulit lagi karena akses untuk menghadiri acara – acara tersebut sudah tersedia. Cukup dengan menaiki mobil penumpang umum maupun dengan mengendarai kendaraan pribadi mereka telah dapat sampai ke tempat yang hendak dituju.
Begitu juga dalam pelaksanaan bebagai acara seperti: acara adat, acara selamatan maupun acara pernikahan, masyarakat pada saat ini sudah mulai meninggalkan cara – cara lama. Pada saat ini masyarakat cenderung menyewa band
keyboard dari luar wilayah desa sebagai media hiburan pada pelaksanaan acara – acara mereka. Masyarakat tidak menggunakan lagi media – media lokal yang berasal dari mereka sendiri seperti dulu. Masyarakat juga cenderung menyewa tenda – tenda dari kota untuk melaksanakan kegiatan – kegiatan seperti acara adat dan sebagainya. Padahal dulunya setiap ada acara adat masyarakat selalu bergotong royong untuk membuat tenda plastik dan ditopang oleh kayu bambu.
Kenyataan pada saat ini masyarakat lebih memilih menyewa tenda dari besi dan terpal karena dirasa lebih efisien dan tidak merepotkan. Kesemuanya itu merupakan bentuk perubahan dan dampak dari pembangunan prasarana jalan di Dusun Tanggiring. Kerena mudahnya akses menuju Desa Pegagan Julu VIII dan ke Dusun Tanggiring khusunya membuat masyarakat semakin mudah melakukan aktivitas – aktivitas tersebut. Terlebih untuk acara – acara adat, akan sangat mudah mendatangkan media hiburan seperti keyboard dari luar kota mengingat jalan yang tersedia sudah baik dan dapat ditempuh dalam waktu yang singkat.
Selain itu, interaksi desa dan kota mempunyai arti penting dalam pembangunan pedesaan. Dengan adanya prasarana jalan yang memadai seperti saat ini membuat masyarakat desa menjadi lebih mudah untuk melakukan interaksi ke wilayah kota. Masyarakat tidak kesulitan lagi mengunjungi sanak keluarga dan melaksanakan semua urusannya di wilayah kota. Selain itu, untuk menjual hasi panennya masyarakat Dusun Tanggiring khususnya pada saat ini sangat terbantu dengan tersedianya prasarana jalan yang memadai. Dengan menjual langsung hasil panen ke kota mereke dapat memperoleh untung yang lebih dibanding jika mereka melibatkan makelar untuk menjual hasil panennya. Tersedianya mobil pengangkutan
umum, mobil truk, pick up dan sepeda motor turut membantu masyarakat untuk mempermudah menjual hasil panennya. Jalan yang baik memudahkan kesemua jenis kendaraan itu dapat melalui Dusun Tanggiring.
Anak – anak di Dusun Tanggiring khusunya pada saat ini juga sangat terbantu dimana mereka tidak bermasalah lagi untuk pergi bersekolah di luar wilayah dusun. Tersedianya mobil pengangkutan umum memudahkan mereka untuk berangkat menuju sekolahnya masing – masing. Hal ini sangat membantu dalam peningkatan mutu pendidikan masyarakat Dusun Tanggiring secara khusus. Di sisi lain banyak pemuda dan pemudi di Dusun Tanggiring yang memilih mencari pekerjaan di luar wilayah Desa Pegagan julu VIII mengingat kondisi jalan saat ini telah memadai. Banyaknya mobil – mobil pengangkutan umum yang melintasi wilayah Desa dan Dusun Tanggiring khusunya membuat pemuda dan pemudi mudah bergerak ke luar untuk mencari pekerjaan maupun bersekolah. Dengan adanya interaksi yang intensif antara desa dan kota dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat. Pada saat ini hal tersebut ini telah didukung dengan adanya prasarana jalan dan transportasi antara desa kota yang telah memadai.
Pembangunan prasarana jalan di Desa Tanggiring, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi juga tanpa disadari telah membawa beberapa dampak yang tidak diharapkan. Tersedianya prasarana jalan yang memadai dan mudahnya akses menuju desa khusunya ke Dusun Tanggiring telah menyebabkan masuknya berbagai pengaruh luar ke dalam kehidupan masyarakat desa. Tentu pengaruh–pengaruh tersebut telah menimbulkan berbagai perubahan pada masyarakat desa. Pada saat ini
masyarakat Dusu Tanggiring cenderung lebih konsumtif akan barang–barang yang tergolong dalam jenis barang mewah seperti televisi, pemutar CD / DVD, maupun radio tape.
Sebagai akibatnya, pada saat ini banyak masyarakat lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk menonton televisi maupun film DVD. Padahal sebelum jalan di Dusun dibangun dan segala akses masuk belum sebebas seperti sekarang ini, masyarakat lebih mengutamakan untuk bekerja di sawah maupun di ladang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tentu hal itu berbanding terbalik dengan kondisi masyarakat desa sekarang yang lebih cenderung santai dan tidak terlalu perduli dengan pekerjaannya di ladang maupun di sawah. Masyarakat juga semakin lebih gemar untuk memenuhi barang – barang di luar kebutuhan pokok mengingat tersedianya prasarana jalan yang memadai sehingga memudahkan mereka berbelanja ke luar wilayah dusun. Banyaknya pedagang luar yang datang ke dusun dan menawarkan berbagai barang mewah turut membuat masyarakat menjadi lebih konsumtif. Jalan yang ada saat ini menyebabkan semakin mudah dan bebasnya pengaruh luar untuk masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Hal inilah yang merupakan fungsi laten (yang tidak diharapkan) dari pembangunan prasarana jalan yang telah dilaksanakan di dusun tersebut.
Sementara itu, paradigma pembangunan pedesaan terpadu juga dikembangkan oleh Asian Center for Develompent Administion (ACDA). Mereka memandang keseluruhan upaya pembangunan pedesaan sebagai sebuah proses yang mengarah pada peningkatan terus-menerus kapasitas nasyarakat desa untuk mengendalikan lingkungan mereka, disertai perluasan distribusi keuntungan yang dihasilkan dari
kegiatan pengendalian tersebut. Pertama, hal ini menyiratkan bahwa pembangunan pedesaan harus dipandang sebagai sebutah proses peningkatan kapasitas masyarakat desa untuk mengendalikan lingkungan mereka, di mana ini lebih dari sekedar pembangunan ekonomi maupun pertanian di desa. Konsepsi semacam ini mendorong pembangunan simultan atau serempak di semua aspek kehidupan desa: sosial, ekonomi, politik, dan budaya.
Kedua, proses pembangunan pedesaan haruslah terus-menerus mengupayakan peningkatan kapasitas masyarakat untuk mampu mempengaruhi, mengelola, mengendalikan seluruh lingkungan sekitar. Mendorong mereka menjadi inisiator dan pengawas perubahan lingkungan, ketimbang sebagai obyek pasif atas berbagai manipulasi dan pengendalian eksternal. Ketiga, konsep ini mencerminkan semakin besarnya penekanan pada pemerataan pembagian keuntungan hasil kemajuan teknologi, dan semakin pentingnya mendorong partisipasi kelompok miskin dan lemah dalam proses pembangunan desa. (Ali, 2007 : 90-91).
Namun berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, masyarakat dusun Tanggiring secara umum merasakan manfaat sosial dan ekonomi yang drastis berubah dari keadaan yang sebelumnya. Secara sosial masyarakat semakin menjadi lebih mudah berinteraksi dan beraktivitas dan secara ekonomi masyarakat lebih banyak meraskan dampak pembangunan jalan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah Dairi. Penghasilan masyarakat yang dulunya tidak menentu, sekarang ini rata – rata telah mulai mengalami peningkatan. Pada saat ini masyarakat rata – rata berpenghasilan Rp.300.000 – Rp. 500.000,-. Hal ini menunjukkan bahwa rata – rata masyarakat telah mempunyai sumber pendapatan tetap.
Adapun masyarakat yang mayoritas bertani telah mampu untuk mengusahakan dan menjual hasil pertaniannya ke luar wilayah dusun sehingga mampu untuk memperoleh uang yang selanjutnya disebut dengan penghasilan. Di samping itu juga, tingkat kebutuhan masyarakat juga tentunya semakin tinggi sehingga penghasilan yang diperoleh tidak hanya dipergunakan untuk kebutuhan pokok (Sandang dan Pangan) semata melainkan untuk kebutuhan lain seperti : kebutuhan akan media hiburan (Televisi, Parabola, Tape, DVD, dan lain sebagainya ) ,sarana transportasi (sepeda motor, mobil). Biaya pengeluaran masyarakat pun pada umumnya mengalami peningkatan dan berdasarkan penelitian ini rata –rata biaya pengeluaran masyarakat antara Rp.30.000 – Rp.50.000,-
Berdasarkan itu semua pembangunan prasarana jalan di Desa Pegagan Julu VIII khusunya di Dusun Tanggiring mengakibatkan banyak dampak terhadap segi kehidupan masyaraktnya khusunya pada segi sosial dan ekonomi. Setiap proses pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah harus mampu memberikan dampak yang positif dan bermanfaat terhadap masyarakat tanpa terkecuali dan pada akhirnya tujuan dari pembangunan yang sebenarnya dapat tercapai.
4.5. Dampak Pembangunan Prasarana Jalan terhadap Sosial Ekonomi