• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sosialisasi dan pendekatan masyarakat

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.10 Sosialisasi dan pendekatan masyarakat

Tujuan dari sosialisasi dan pendekatan masyarakat adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dusun Nitiprayan akan pentingnya pengelolaan sampah. Disamping terciptanya lingkungan yang bersih, juga akan mendatangkan nilai ekonomis bagi warga dusun Nitiprayan dengan melaksanakan pengelolaan sampah secara terpadu.

Karena kampung Nitiprayan terkenal dengan sebutan kampung seni, maka pendekatannya melalui kesenian, misalnya :

1. Mengadakan lomba lukis tong sampah yang nantinya akan digunakan sebagai pewadahan sampah.

2. Kampanye masalah sampah melalui kesenian yang ada di Kampung Nitiprayan.

Selain lewat kesenian, pendekatan juga dapat dilakukan lewat organisasi – organisasi yang ada di kampung Nitiprayan, seperti karang taruna, rembug desa, PKK.

Langkah–langkah dalam proses sosialisasi untuk menerapkan pengelolaan sampah secara terpadu di kampung Nitiprayan adalah sebagai berikut :

1. Menyampaikan gagasan sistem pengelolaan sampah secara mandiri dan produktif kepada tokoh masyarakat Nitiprayan, antara lain Kepala Dusun, Wakil Badan Perwakilan Desa (BPD), Ketua RW, ketua-ketua RT, Dasa Wisma,

2. Pembentukan Tim Pengelola Sampah Kampung. Tim ini sangat penting peranannya dalam mengawal keberlangsungan sistem pengelolaan sampah yang akan dijalankan oleh masyarakat. Mereka yang duduk dalam tim sebaiknya dipilih mereka yang mempunyai sikap peduli terhadap lingkungan, berdedikasi tinggi, bertanggung jawab dan mampu bekerjasama dengan masyarakat. Bersama tokoh-tokoh masyarakat yang ada, tim ini bertugas melakukan sosialisasi, edukasi, evaluasi dan motivasi secara terus menerus kepada masyarakat agar mau dan mampu melaksanakan pengelolaan sampah swakelola. Tim Pengelola Sampah menjadi bagian dari struktur organisasi kampung.

3. Sosialisasi, edukasi dan motivasi ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat (anak-anak hingga orang tua) dengan metode demonstrasi, tanya jawab, permainan, membuat mural dan perlombaan-perlombaan. Lomba-lomba yang diadakan meliputi lomba memisahkan sampah antar anak, lomba kebersihan lingkungan antar kelompok dasawisma, lomba membuat mural, lomba membuat kompos dan lomba kreasi daur ulang. Pemuda diberi peran besar dalam sosialisasi ini antara lain menjadi organizer sosialisasi kepada pemuda/i dan anak-anak.

4. Untuk meningkatkan ketrampilan masyarakat dalam pengelolaan sampah dilakukan beberapa latihan, misalnya latihan memisahkan sampah sesuai jenisnya, latihan membuat kompos, latihan membuat kerajinan daur ulang dari sampah dll

5. Menyiapkan sarana pendukung pengelolaan sampah. Sarana pendukung yang diperlukan dalam pengelolaan sampah misalnya gantungan sampah, tong/drum sampah, gentong kompos, gerobak sampah, bak kompos, alat daur ulang dan TPS kampung. Pengadaan dan pengerjaan semua sarana sebaiknya dilakukan oleh masyarakat sendiri secara gotong royong. Tujuannya agar masyarakat mempunyai rasa memiliki sarana tersebut sehingga nantinya juga akan memeliharanya dan menggunakannya.

6. Menyiapkan petugas dan atau menjalin kerjasama dengan pihak lain yang mau menjadi pengambil dan pembeli sampah. Sebelum ditawarkan ke pihak lain,

sebaiknya ditawarkan kepada masyarakat dalam kampung sendiri dulu misalnya pemuda atau penduduk. Dalam tahap ini perlu disepakati mekanisme dan tanggung jawab antara pihak kampung dengan pihak lain tersebut. Pengepul sampah (lapak) yang berada di sekitar daerahnya dapat dijadikan sebagai pihak rekanan (swasta) yang menerima dan membeli sampah-sampah yang telah dipisahkan oleh masyarakat.

7. Masyarakat diminta untuk segera menerapkan sistim pengelolaan sampah secara terpadu sesuai dengan mekanisme yang disepakati, dimulai dari kegiatan pemilahan sampah sesuai jenisnya di rumah tangga masing-masing sampai memasukkan kedalam tong sampah terdekat. Pengurus kampung dapat membuat surat himbauan kepada warganya agar mengikuti program pengelolaan sampah mandiri dan produktif, dilengkapi dengan leaflet dan gambar-gambar petunjuk atau prosedur yang harus dilakukan oleh masyarakat. Surat himbauan dibuat secara resmi dan ditandatangani oleh perangkat kampung/pemerintahan yang berkompeten

8. Kegiatan pengelolaan sampah perlu dipantau (monitoring) dan dievaluasi oleh suatu tim pengelola sampah kampung secara terus menerus. Hasilnya dibahas dalam rapat tim untuk menentukan upaya tindak lanjut dan menyusun strategi yang dapat dilakukan.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 KESIMPULAN

1.

Berdasarkan hasil penelitian, volume sampah organik kampung Nitiprayan adalah 1,273 L/orang/hari, volume sampah an organik 1,552 L/orang/hari, volume sampah non 3R 0,020 L/orang/hari. Sedangkan berat sampah organik 0,163 kg/orang/hari, berat sampah an organik 0,054 kg/orang/hari, dan berat sampah non 3R 0,002 kg/orang/hari. Berat jenis sampah organik 146,38 kg/m3, an organik 42,10 kg/m3, dan sampah non 3R 3,9 kg/m3. timbulan sampah yang dihasilkan 0,2192 kg/org/hari.

2. Persentase timbulan sampah di kampung Nitiprayan adalah 73.05 % sampah organik, sampah an organik 25,92 % dan 1,03 % sampah non 3R.

3. Perencanaan pengelolaan sampah secara terpadu di kampung Nitiprayan adalah ;

a. Pemilahan sampah harus dilakukan mulai dari masing–masing rumah penduduk dengan memilahkan antara sampah organik, an organik, dan sampah non 3R.

b. Pewadahan dilakukan dengan 3 jenis :

1) Pewadahan sampah organik, an organik, dan non 3R di dalam rumah, dengan menggunakan kantong plastik. Untuk sampah organik dengan volume 20 liter, sampah an organik volume 15 liter, dan sampah non 3R 1 liter.

2) Pewadahan sampah organik untuk proses pengomposan, pengomposan dilakukan dengan drum plastik yang dapat menampung sampah organik yang dihasilkan dari keluarga dengan anggota 5 orang selama 3 bulan.

3) Pewadahan sampah di luar rumah sebelum dibawa ke TPS kampung. Pewadahan sampah dengan menggunakan bin plastik yang dibagi menjadi 4 macam, yaitu untuk sampah plastik, kertas, logam, dan non 3R.

c. Pengumpulan sampah dilakukan setiap 2 hari sekali, diangkut dengan menggunakan gerobak dengan kapasitas 1 m3 diperlukan 7 gerobak untuk beroperasi.

d. Tempat Penampungan Sementara, digunakan untuk melakukan penyortiran lebih khusus lagi. Untuk sampah yang masih bisa digunakan atau masih bisa dimanfaatkan kembali dilakukan pengepakan untuk selanjutnya dijual pada pengepul sampah. Hasil dari penjualan sampah tersebut digunakan untuk biaya operasional petugas dan sisanya masuk ke kas kampung untuk dana pengembangan dan pembangunan.TPS yang diperlukan berjumlah 2, kapasitas pelayanan 1 TPS 320,4 Ha.

4. Penelitian dilakukan pada 10 titik sampel rumah dan didapatkan berat sampah organik 0,1631 kg/orang/hari, Dengan memperkirakan lama waktu pengomposan selama 30 hari maka desain reaktor dibuat dengan kapasitas 190 liter untuk kapasitas 1 rumah.

5. Dilihat dari parameter karakteristik kompos standar SNI yang terdiri dari pH, suhu, C/N, N, P, K dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas kompos yang dihasilkan pada penelitian ini cukup baik dengan kandungan pH sebesar 6,7, nitrogen 0,854 % phospor 1.25 %, kalium 2.43 %, dan C/N 41,16 %. hanya saja kandungan C/N terlalu tinggi, karena dalam komposisi kompos kebanyakan dari daun-daunan segar dan kering. dan untuk menurunkan dapat digunakan aktivator dekomposisi kompos.

6 Pendekatan masyarakat dilakukan melalui kesenian, karena dusun Nitiprayan terkenal dengan sebutan kampung seni, selain melalui kesenian pendekatan juga dilakukan melalui organisasi atau kelembagaan yang ada. Mengadakan lomba lukis tong sampah yang

nantinya akan digunakan sebagai pewadahan sampah, Kampanye masalah sampah melalui kesenian yang ada di dusun Nitiprayan. 7. Dari perhitungan statistik kuisioner di dapatkan bahwa tidak ada

hubungan antara tingkat pendidikan dengan kesadaran masyarakat dalam pemilahan sampah. Dan tingkat penghasilan juga tidak berpengaruh terhadap jumlah timbulan sampah yang dihasilkan.

Dokumen terkait