• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Spektrofotometri Serapan Atom

Metode spektrofotometri serapan atom berprinsip pada absorpsi cahaya

oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang

tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Cahaya pada panjang gelombang ini

mempunyai cukup energi untuk mengubah tingkat elektronik suatu atom. Transisi

elektronik suatu unsur bersifat spesifik. Dengan absorpsi energi, berarti

memperoleh lebih banyak energi, suatu atom pada keadaan dasar dinaikkan

tingkat energinya ke tingkat eksitasi. Tingkat-tingkat eksitasinya pun

bermacam-macam (Khopkar, 1985).

Teknik spektrofotometri serapan atom menjadi alat yang canggih dalam

analisis. Ini disebabkan diantaranya oleh kecepatan analisisnya, ketelitiannya

sampai tingkat runut, tidak memerlukan pemisahan pendahuluan. Kelebihan

kedua adalah kemungkinannya untuk menentukan konsentrasi semua unsur pada

konsentrasi runut. Ketiga, sebelum pengukuran tidak selalu perlu memisahkan

kehadiran unsur lain dapat dilakukan asalkan katoda berongga yang diperlukan

tersedia (Khopkar, 1985). Teknik ini digunakan untuk menetapkan kadar ion

logam tertentu dengan jalan mengukur intensitas emisi atau serapan cahaya pada

panjang gelombang tertentu oleh uap atom unsur yang ditimbulkan dari bahan,

misalnya dengan mengalirkan larutan zat ke dalam nyala api (Ditjem POM,

1995). Alat yang digunakan pada spektrofotometer serapan atom mempunyai

beberapa kemampuan khusus. Untuk tiap elemen yang ditetapkan sumber yang

spesifik mengemisikan garis spektra untuk diserap harus dipilih. Sumber biasanya

adalah lampu hollow katoda yang dirancang untuk mengemisikan radiasi yang

dikehendaki pada kondisi tereksitasi. Saat radiasi diserap oleh elemen contoh uji,

biasanya pada panjang gelombang yang sama dengan garis emisinya, elemen pada

lampu hollow katoda sama dengan elemen yang ditetapkan. Alat dilengkapi

dengan aspirator untuk membawa contoh uji ke dalam nyala. Detektor digunakan

untuk membaca sinyal dari bejana uji. Sistem deteksi, hanya membaca perubahan

sinyal dari sumber hollow katoda, yang berbanding langsung dengan jumlah atom

yang ditetapkan dari contoh uji (Ditjen POM, 2014).

Ketika suatu atom dalam keadaan bebas dikenai suhu tinggi atau disinari

dengan sumber sinar di daerah ultraviolet-sinar tampak, maka kemungkinan salah

satu elektronnya dipromosikan dari keadaan dasar ke keadaan tereksitasi adanya

sangat besar. Perpindahan elektron ini berhubungan dengan serapan energinya.

Hal inilah yang disebut dengan serapan atom. Sebaliknya, ketika atom kembali

secara spontan ke keadaan dasarnya maka atom dapat mengemisikan kembali

kelebihan energinya dalam bentuk satu atau beberapa foton (spektroskopi emisi

Ada perbedaan antara puncak-puncak serapan sinar oleh molekul-molekul

senyawa dengan puncak-puncak serapan oleh atom. Penyerapan sinar oleh

senyawa menghasilkan pita-pita panjang gelombang yang lebar karena di dalam

suatu molekul, disamping tingkat energi elektronik terdapat juga

tingkat-tingkat energi vibrasi dan rotasi. Sebaliknya, dalam atom netral suatu unsur hanya

terdapat tingkat-tingkat energi elektronik saja dan tidak terdapat tingkat energi

vibrasi dan rotasi. Akibatnya puncak-puncak serapan atom berupa garis-garis

yang tajam (Gandjar dan Rohman, 2012).

Menurut Jeffery, dkk. (1989), prosedur dimana atom bebas dihasilkan di

dalam nyala dapat dijelaskan dalam beberapa tahapan berikut. Ketika suatu

larutan yang akan diperiksa komponen logamnya, diaspirasikan ke dalam nyala,

terjadi beberapa tahapan berikut dengan cepat yaitu:

1. Penguapan pelarut yang meninggalkan residu solid.

2. Penguapan zat padat (solid) dengan disosiasi menjadi konstituen atom, yang

mula-mula masih berada di keadaan dasar (ground state).

3. Beberapa atom akan tereksitasi oleh energi panas dari nyala ke tingkatan energi

yang lebih tinggi, dan mencapai kondisi dimana atom-atom tersebut akan

meradiasikan energi.

Keberhasilan analisis dengan metode spektrofotometri serapan atom ini

tergantung pada proses eksitasi dan cara memperoleh garis resonansi yang tepat.

Hal ini dapat diterangkan dari persamaan Boltzmann sebagai berikut.

Nj No=

Pj

Poexp(- Ej KT )

dimana Nj dan No masing-masing merupakan jumlah atom yang tereksitasi dan

(1,38 x 10-16 erg/K), T adalah temperatur absolut (K), Ej adalah perbedaan energi

tingkat eksitasi dan tingkat dasar. Pj dan Po adalah faktor statistik yang ditentukan

oleh banyaknya tingkat yang mempunyai energi setara pada masing-masing

tingkat kuantum. Pada umumnya fraksi atom tereksitasi yang berada pada gas

yang menyala, kecil sekali (Khopkar, 1985). Dapat dilihat dari persamaan di atas

bahwa rasio Nj/No dipengaruhi oleh energi eksitasi (Ej) dan temperatur (T).

Peningkatan temperatur dan penurunan energi (Ej) akan menghasilkan nilai rasio

Nj/No yang lebih tinggi (Jeffery, dkk., 1989).

2.3.1 Instrumentasi Spektrofotometer Serapan Atom 1. Sumber Sinar

Sumber sinar yang dipakai adalah lampu katoda berongga (hollow cathode

la mp). Lampu ini terdiri atas tabung kaca tertutup yang mengandung katoda dan

anoda. Katoda sendiri berbentuk silinder berongga yang terbuat dari logam atau

dilapisi dengan logam tertentu yang akan dianalisis (Gandjar dan Rohman, 2012).

2. Tempat Sampel (Atomizer)

Dalam tempat sampel inilah proses atomisasi terjadi. Dalam analisis secara

spektrofotometri serapan atom, sampel yang akan dianalisis harus diuraikan

menjadi atom-atom netral yang masih dalam keadaan asas. Ada berbagai macam

alat yang dapat digunakan untuk mengubah suatu sampel menjadi uap atom-atom

yaitu:

a. Dengan nyala (flame)

Nyala digunakan untuk mengubah sampel yang berupa padatan atau cairan

menjadi bentuk uap atomnya, dan juga berfungsi untuk atomisasi. Suhu yang

gas asetilen-udara: 2200 oC. Pada sumber nyala ini, asetilen sebagai bahan

pembakar dan udara sebagai agen pengoksidasi (Gandjar dan Rohman, 2012).

Beberapa temperatur nyala yang lain dapat dilihat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1 Temperatur Nyala

Bahan Bakar Oksidan Udara Oksidan Oksigen N2O

Hidrogen 2100 2780 -

Asetilen 2200 3050 2955

Propana 1950 2800 -

Sumber: Khopkar (1985).

b. Tanpa nyala (Flameless)

Pengatoman dilakukan dalam tungku dari grafit. Tungku merupakan

teknik atomisasi tanpa nyala. Teknik atomisasi dengan nyala dinilai kurang peka

karena: atom gagal mencapai nyala, tetesan sampel yang masuk ke dalam nyala

terlalu besar, dan proses atomisasi kurang sempurna. Oleh karena itu, muncullah

suatu teknik atomisasi yang baru yaitu atomisasi tanpa nyala. Sejumlah sampel

diambil sedikit (untuk sampel cair, diambil hanya beberapa µ L, sementara sampel

padat diambil beberapa mg), lalu diletakkan dalam tabung grafit, kemudian

tabung tersebut dipanaskan dengan sistem elektris dengan cara melewatkan arus

listrik pada grafit. Akibat pemanasan ini, maka zat yang akan dianalisis berubah

menjadi atom-atom netral dan pada fraksi atom ini dilewatkan suatu sinar yang

berasal dari lampu katoda berongga sehingga terjadilah proses penyerapan energi

sinar yang memenuhi kaidah analisis kuantitatif (Gandjar dan Rohman, 2012).

3. Monokromator

Monokromator merupakan alat untuk memisahkan dan memilih spektrum

banyak spektrum yang dihasilkan lampu katoda berongga (Gandjar dan Rohman,

2012).

4. Detektor

Detektor digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang melalui

tempat pengatoman (Gandjar dan Rohman, 2012).

5. Readout

Rea dout merupakan suatu alat penunjuk atau dapat juga diartikan sebagai

sistem pencatat hasil. Pencatatan hasil dilakukan dengan suatu alat yang telah

terkalibrasi untuk pembacaan transmisi atau absorpsi. Hasil pembacaan dapat

berupa angka atau berupa kurva yang menggambarkan absorbansi atau intensitas

emisi (Gandjar dan Rohman, 2012).

Sistem peralatan spektrofotometer serapan atom dapat dilihat pada

Gambar 2.1 berikut ini.

Gambar 2.1 Sistem Peralatan Spektrofotometer Serapan Atom (Sumber: Harris, D.C. (2007).

2.3.2 Gangguan –Gangguan pada Spektrotofometer Serapan Atom

Menurut Gandjar dan Rohman (2012), yang dimaksud dengan

peristiwa-peristiwa yang menyebabkan pembacaan absorbansi unsur yang dianalisis

menjadi lebih kecil atau lebih besar dari nilai yang sesuai dengan konsentrasinya

dalam sampel. Gangguan-gangguan yang dapat terjadi dalam spektrofotometri

serapan atom adalah sebagai berikut:

1. Gangguan yang berasal dari matriks sampel yang mana dapat mempengaruhi

banyaknya sampel yang mencapai nyala

2. Gangguan kimia yang dapat mempengaruhi jumlah/banyaknya atom yang

terjadi di dalam nyala.

3. Gangguan oleh absorbansi yang disebabkan bukan oleh absorbansi atom yang

dianalisis; yakni absorbansi oleh molekul-molekul yang tidak terdisosiasi di

dalam nyala. Adanya gangguan-gangguan di atas dapat diatasi dengan

menggunakan cara- cara sebagai berikut:

a. Penggunaan nyala/suhu atomisasi yang lebih tinggi

b. Penambahan senyawa penyangga

c. Pengekstraksian unsur yang akan dianalisis

d. Pengekstraksian ion atau gugus pengganggu

4. Gangguan oleh penyerapan non-atomik

Dokumen terkait