BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Teknik Spektroskopi
2.6.3 Spektroskopi Resonansi Magnetik Inti Proton
Setelah spektroskopi inframerah, spektroskopi resonansi magnetik inti (NMR) adalah yang metode yang paling penting digunakan dalam kimia organik.
Dalam spektroskopi inframerah mengandung infromasi mengenai adanya gugus fungsi pada molekul, sedangkan spektroskopi NMR memberikan informasi mengenai jumlah dari masing-masing hidrogen.
Fenomena 1H-NMR terjadi jika inti yang searah dengan medan magnet eksternal dibuat mengabsorpsi energi (berupa radiasi elektromagnetik) sehingga orientasi spinnya berubah. Dalam suatu molekul, tiap proton berada dalam lingkungan kimia yang sedikit berbeda. Akibatnya, proton-proton itu mempunyai perisai elektronik yang tingkatnya atau jumlahnya sedikit berdeda. Dengan demikian, proton-proton tersebut akan beresonansi pada frekuensi yang sedikit berbeda. Harga freakuensi absolut masing-masing proton yang berbeda sangat sulit diukur hingga presisi yang sedemikian kecil. Dalam 1H-NMR, yang diukur adalah perbedaan antara frekuensi resonansi suatu jenis proton dan frekuensi resonansi proton senyawa pembanding.(Harmita, 2009)
Inti atom-atom tertentu akan mempunyai spin, yang berputar dan menghasilkan momen magnetik sepanjang aksis spin. Jika inti yang berputar ini diletakkan didalam medan magnet, maka sesuai dengan kalkulasi kuantum mekanik, momen magnetiknya akan searah (paralel; mempunyai energi yang rendah) atau berlawanan arah (antiparalel, mempunyai energi yang tinggi) dengan arah medan magnet yang diberikan.
Spektrometer resonansi magnet inti proton pada umumnya digunakan untuk:
1. Mentukan jumlah proton yang memiliki lingkungan kimia yang sama pada suatu senyawa organik.
2. Mengetahui informasi mengenai struktur suatu senyawa organik (Dachriyanus, 2004).
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Sampel yang digunakan diperoleh dari sekitar taman Biro Rektor Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Bahan Alam dan Laboratorium Pasca sarjana kimia, FMIPA, Universitas Sumatera Utara (USU).
Analisis Spektrofotometer Inframerah (FT-IR) dilakukan di Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM. Spektrometer Resonansi Magnetik Inti Proton (1H-NMR), dan Analisis Spektrofotometer UV-Visible dilakukan di Laboratoriun Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM Jl. Kaliurang Km. 4 Sekip Utara Yogyakarta. Proses pengerjaan dilakukan dari bulan Januari hingga bulan Juli 2018.
3.2 Prosedur Penelitian 3.2.1 Penyedian Sampel
Sampel Daun Tumbuhan Mundu dikeringkan diudara terbuka, lalu dihaluskan sampai diperoleh serbuk daun tumbuhan Mundu sebanyak 1800 g.
3.2.2 Uji Skrining Fitokimia Terhadap Ekstrak Daun Tumbuhan Mundu Serbuk kering halus daun tumbuhan Mundu diidentifikasi dengan menggunakan cara Skrining Fitokimia dilakukan uji pendahuluan secara kualitatif dengan reaksi warna sebagai berikut: Dimasukkan 10 gram serbuk daun tumbuhan Mundu yang telah dikeringkan ke dalam gelas erlenmeyer. Kemudian ditambahkan 100 mL etil asetat ke dalam gelas erlenmeyer dan didiamkan selama 1 malam. Lalu didekantasi dan dibagi masing-masing ekstrak sampel sebanyak 2 mL ke dalam 3 tabung reaksi lalu ditambahkan masing-masing pereaksi ke
a. Tabung I : dengan FeCl3 5% sebanyak 3 tetes menghasilkan larutan berwarna hitam
b. Tabung II : dengan serbuk Mg sebanyak 0,1 mg, dan HCl(p) sebanyak 3 tetes menghasilkan larutan merah muda
c. Tabung III : dengan H2SO4(p) sebanyak 3 tetes menghasilkan larutan orange kekuningan
3.2.3 Ekstraksi Daun Tumbuhan Mundu
Serbuk daun tumbuhan Mundu ditimbang sebanyak 1800 g, kemudian dimaserasi dengan metanol teknis sebanyak 13 L sampai sampel terendam seluruhnya dan dibiarkan selama 24 jam. Perendaman dilakukan sampai sampel negatif terhadap FeCl3 5%. Maserat ditampung dan dipekatkan dengan menggunakan alat rotarievaporator merk Bűchi R-114 sehingga diperoleh ekstrak pekat metanol dan diuji dengan FeCl3 5%. Kemudian diuapkan dengan penangas air hingga semua pelarut metanol menguap. Lalu dilakukan pemisahan tanin dengan cara melarutkan ekstrak pekat metanol dengan aquadest lalu dipartisi berulang-ulang dengan etil asetat, hingga negatif flavonoida diuji dengan FeCl3 5%. Filtrat kemudian dirotarievaporator lalu diuapkan dengan penangas air hingga semua pelarut etil asetat menguap. Lalu ekstrak pekat etil asetat diuji dengan FeCl3 5%. Ekstrak pekat etil asetat dilarutkan dengan metanol dan diekstraksi partisi berulang-ulang dengan heksan sampai lapisan heksan bening. Lapisan metanol dipisahkan dari lapisan n-heksan, lalu diuji dengan FeCl3 5% dan dipekatkan kembali dengan rotarievaporator dan diuapkan kembali sehingga diperoleh ekstrak pekat lapisan metanol sebanyak 6,90 g.
3.2.4 Analisa Kromatografi Lapis Tipis
Analisa Kromatografi Lapis Tipis dilakukan terhadap ekstrak metanol dengan menggunakan fase diam silika gel 60 F254 E.Merck.Art 554. Fase gerak yang digunakan adalah campuran pelarut kloroform : metanol dengan perbandingan 90:10;
80:20; 70:30; 60:40 (v/v).
Dimasukkan 10 ml campuran larutan fase gerak kloroform : metanol 90:10 (v/v) kedalam bejana kromatografi, kemudian dijenuhkan. Ditotolkan ekstrak pekat metanol pada plat KLT yang telah diaktifkan. Dimasukkan plat kedalam bejana yang telah berisi campuran pelarut yang telah dijenuhkan, lalu ditutup dan dielusi hingga pelarut mencapai batas yang telah ditentukan. Plat yang telah dielusi, dikeluarkan dari bejana, lalu dikeringkan. Diamati noda yang terbentuk dibawah sinar UV, kemudian difiksasi dengan pereaksi FeCl3 5%. Diamati warna bercak yang timbul
dan dihitung harga Rf yang diperoleh. Perlakuan yang sama dilakukan untuk perbandingan pelarut kloroform : metanol dengan perbandingan 80:20; 70:30; 60:40 (v/v).
3.2.5 Pemisahan Senyawa Flavonoida dengan Kromatografi Kolom
Pemisahan senyawa flavonoida dilakukan dengan kromatografi kolom terhadap ekstrak pekat metanol. Fase diam yang digunakan adalah silika gel 40 (70-230 mesh) ASTM E.Merck KgA dan fase gerak yaitu kloroform 100%, campuran pelarut kloroform:metanol dengan perbandingan 90:10, 80:20, 70:30, 60:40 (v/v).
Terlebih dahulu dirangkai alat kromatografi kolom. Kemudian dibuburkan silika gel 40 (70-230 mesh) ASTM dengan menggunakan kloroform, diaduk-aduk hingga homogen lalu dimasukkan kedalam kromatografi kolom. Kemudian dielusi dengan menggunakan kloroform 100% hingga silika gel padat dan homogen.
Dibuburkan 6 g ekstrak pekat metanol ditambahkan dengan silika gel kemudian dilarutkan dengan pelarut metanol, lalu dikeringkan sampai berbentuk bubur.
Kemudian dimasukkan kedalam kromatografi kolom yang telah berisi bubur silika gel, lalu ditambahkan fase gerak kloroform:metanol 90:10 (v/v) secara perlahan-lahan dan diatur sehingga aliran fase yang keluar dari kolom sama banyaknya dengan penambahan fase gerak dari atas. Ditingkatkan kepolaran dengan menambahkan fase gerak kloroform:metanol dengan perbandingan 80:20 (v/v), 70:30 (v/v), 60:40 (v/v).
Hasil yang diperoleh ditampung dalam botol vial setiap 10 mL, lalu di KLT dan diuji dengan FeCl3 5%. Kemudian digabung fraksi dengan harga Rf yang sama sehingga diperoleh, pertama fraksi 5-6 dengan jumlah noda 0 dengan harga Rf 0, kedua fraksi 7-75 dengan jumlah noda 1 dengan harga Rf 0,51, ketiga fraksi 76-181 dengan jumlah noda 3 dengan harga Rf 0,13 ; 0,28 ; 0,44, keempat fraksi 186-238 dengan jumlah noda 1 dengan harga Rf 0,06 (lampiran 5) dan di KLT lalu diuji dengan FeCl3 5%, kemudian diuapkan sampai terbentuk padatan.
3.2.6 Pemurnian Senyawa Hasil Isolasi
Padatan yang diperoleh dari pemisahan dengan kromatografi kolom dengan fraksi yang paling baik yaitu 7-75 dilarutkan dengan metanol lalu dianalisis KLT menggunakan beberapa pelarut dengan perbandingan tertentu. Kloroform:etil asetat
40:60 (v/v) adalah fase gerak yang menunjukkan pemisahan yang paling baik untuk selanjutnya digunakan untuk menjenuhkan bejana KLT preparatif. Kemudian padatan yang telah dilarutkan, ditotolkan secara perlahan-lahan dan sama rata disepanjang tepi bawah plat KLT preparatif. Plat diamasukkan kedalam bejana yang berisi campuran pelarut yang telah dijenuhkan, kemudian ditutup. Setelah dielusi, plat dikeluarkan dari bejana, dikeringkan, dan hasilnya diperiksa dibawah sinar UV.
Tiap zona diberi tanda dan dikeruk lalu dielusi dengan kloroform:etil asetat (1:1).
Hasil elusi diuapkan hingga diperoleh padatan amorf berwarna kuning. Hasil isolasi dimurnikan dengan menggunakan pelarut aseton dan n-heksan hingga diperoleh senyawa murni yang dibuktikan dengan noda yang tunggal pada plat KLT.
3.2.7 Identifikasi Senyawa Hasil Isolasi
Penentuan struktur senyawa hasil isolasi dianalisis dengan tiga jenis spektrofotometer yaitu Spektofotometer UV-Visible, Spektrofotometer Infra Merah (FT-IR), dan Spektrofotometer Resonansi Magnet Inti Proton (1HNMR).
3.2.7.1 Identifikasi dengan Spektrofotometer Ultraviolet Visible (UV-Vis)
Analisa dengan alat Spektrofotometer UV-Visible diperoleh dari Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM dengan menggunakan pelarut metanol.
Type Alat : UV – 1800 Shimadzu
Spesifikasi Alat : - Rentang panjang gelombang : 190 – 1100 nm - Detektor : Silicon photodiode
- Absorbansi : -4 – 4 Abs - Transmitansi : 0% - 400%
Waktu Pengerjaan : 02 Agustus 2018 10:37:44 AM Teknisi Penanggung Jawab : Nida Nur Fatturohmah
3.2.7.2 Identifikasi dengan Spektrofotometer Infra Merah (FT-IR)
Analisa dengan alat Sprektrofotometer FT-IR diperoleh dari Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM dengan menggunakan pelet KBR.
Type Alat : Mb3000
Spesifikasi Alat : - Rentang spectra : 485 – 8500 cm-1
- Resolusi : 0,7 cm-1 - Short-term stability : 0,09%
- Frequency repeatability (@1918 cm-1) 0,001 cm-1 - Frequency accuracy (@1918 cm-1) 0,06 cm-1 Waktu Pengerjaan : 17 Juli 2018
Teknisi Penanggung Jawab : Mey Catur
3.2.7.3 Identifikasi dengan Spektrofotometer Resonansi Magnetik Inti Proton (1H-NMR)
Analisa dengan alat Spektrofotometer 1H-NMR diperoleh dari Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM dengan menggunakan pelarut metanol.
Nama Alat : Spektrofotometer NMR (JNM-ECZ500R, 500 Mhz Super Conductive Magnets
Spesifikasi Alat : - Superconducting Magnet (SCM) 11,74 Tesla - Auto-tuning 5 mm Royal Probe
- Pengatur VT (Variable Temperature) sampai 180oC - Pengaturan Automatic non-Deuterium NMR
Waktu Pengerjaan : 23 Juli 2018 Waktu Revisi : 27 Agustus 2018
Teknisi Penanggung Jawab : Adita Yuniati Puspitasari, S.Si
3.3 Bagan Penelitian
3.3.1 Bagan Uji Skrining Fitokimia
Disaring
Dimasukkan masing-masing 2 mL kedalam 3 tabung reaksi
Diekstraksi maserasi dengan etil asetat 10 gram serbuk kering halus daun tumbuhan mundu
(Garcinia dulcis (Roxb.) Kurz)
3.3.2 Bagan Pemisahan Senyawa Flavonoida Dari Daun Tanaman Mundu
1800 gram Serbuk Daun Tumbuhan Mundu (Garcinia dulcis (Roxb.) Kurz) diuapkan hingga pelarut etil asetat menguap dilarutkan dengan metanol
diuji klt dengan eluen kloroform:metanol (90:10;80:20;70:30;60:40)v/v
dikolom kromatografi dengan fase diam silica gel dan fase gerak kloroform:metanol (90:10;80:20;70:30;60:40;)v/v ditampung tiap fraksi sebanyak 10 ml kedalam botol vial
diuji klt untuk mengetahui harga Rf yang sama digabungkan fraksi dengan harga Rf yang sama
fraksi 5 - 6 fraksi 7 - 75 fraksi 76 - 181 fraksi 186 - 238
dianalisa kromatografi lapis tipis
dengan eluen kloroform: etil asetat (80:20)(v/v) dipreparatif dengan fase diam silika gel dan fase gerak kloroform: etil asetat (40:60)(v/v) dikeringkan
dilarutkan dengan campuran metanol:etil asetat 1:1 disaring
diuapkan
dianalisa kromatografi lapis tipis
residu
negatif flavonoida positif flavonoida positif flavonoida positif flavonoida Rf= 0,51 Rf= 0,13 ; 0,28 ; 0,44 Rf= 0,06
dimurnikan
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Uji Skrining Fitokimia Terhadap Ekstrak Daun Tumbuuhan Mundu Berdasarkan hasil skrining fitokimia terhadap ekstrak etil asetat dari daun tumbuhan mundu menggunakan pereaksi FeCl3 5% menghasilkan larutan berwarna hitam yang menunjukkan bahwa sampel positif mengandung senyawa flavonoida, menggunakan pereaksi H2SO4(P) menghasilkan larutan berwarna orange kekuningan yang menunjukkan bahwa sampel positif mengandung senyawa flavonoida, dan menggunakan serbuk Mg dan HCl(p) menghasilkan larutan berwarna merah muda yang menunjukkan bahwa sampel positif mengandung senyawa flavonoida,
4.2 Pemisahan dan Pemurnian Senyawa Flavonoida
Dari hasil isolasi senyawa flavonoida dari daun tumbuhan Mundu mulai dari proses ekstraksi maserasi diperoleh ekstrak pekat metanol sebanyak 203,35 g kemudian dilarutkan dengan menggunakan pelarut aquadest untuk pemisahan senyawa-senyawa yang bersifat non polar lalu dipartisi dengan menggunakan pelarut etil asetat untuk pemisahan senyawa-senyawa yang diduga merupakan tanin dan diperoleh ekstrak pekat etil asetat sebanyak 10 g. Ekstrak pekat etil asetat yang diperoleh diambil sebanyak 7 g lalu dipartisi kembali dengan n-heksan hingga diperoleh 6,90 g. Dari hasil analisa kromatografi lapis tipis sebelum kromatografi kolom didapat bahwa perbandingan pelarut yang baik untuk mengisolasi senyawa flavonoida dari daun tumbuhan mundu adalah kloroform : metanol (80:20) v/v yang menunjukan pemisahan yang lebih baik dari noda yang dihasilkan. Hal ini dibuktikan dengan analisa KLT yang menunjukkan adanya tiga noda dengan Rf masing-masing adalah 0,37 , 0,62 , 0,66 (lampiran 4). Setelah pemisahan dengan kromatografi kolom kemudian dilakukan analisis KLT untuk penggabungan fraksi dengan menggunakan eluen kloroform : etil asetat (80:20) v/v dan didapatkan 4 fraksi (Lampiran 5), dimana noda yang dihasilkan pada plat kromatografi lapis tipis untuk fraksi 7-75 dengan pereaksi FeCl3 5% menghasilkan pemisahan noda yang paling baik dengan jarak Rf antar noda adalah 0,51 dengan berat 9700 mg, lalu dianalisis KLT kembali dengan kloroform : etil asetat (40:60) v/v (lampiran 6), yang
selanjutnya dikromatografi Lapis Tipis Preparatif dengan sistem pelarut yang sesuai adalah kloroform : etil asetat (40:60) v/v, diamati dengan lampu UV, lalu diambil noda ke dua dari batas atas, kemudian silika gel dikerok dan dielusi dengan perbadingan pelarut metanol : etil asetat (1:1) v/v, didalam kolom kecil. Senyawa yang diperoleh dilakukan kembali pemurnian dengan menggunakan pelarut aseton dan n-heksan, kemudian diuji kemurniannya dengan KLT menggunakan eluen kloroform : etil asetat (40:60) v/v (lampiran 7) yang menunjukkan hanya satu noda pada senyawa yang dihasilkan dengan harga Rf sebesar 0,35 ditunjukkan pada gambar 4.1
Gambar 4.1 Padatan Amorf Hasil Isolasi
4.3 Analisa Senyawa Hasil Isolasi Dengan Spektrofotometer UV-Visible, Spektrofotometer FT-IR, Spektrofotometer 1H-NMR
Hasil analisa Spektrofotometer Ultraviolet-Visible (UV-Vis) pada senyawa hasil isolasi dengan menggunakan pelarut Metanol ditunjukkan pada gambar 4.2.
I=339.500 nm II=288.500
Gambar 4.2 Spektrum UV-VIS Senyawa Hasil Isolasi
Dari hasil analisa menggunakan Spektrofotometer Ultraviolet-Visible (UV-Vis) dengan pelarut metanol menunjukkan adanya dua serapan panjang gelombang maksimum (λ maks) yaitu pada pita I menunjukkan panjang gelombang 339.500 nm dan pada pita II menunjukkan panjang gelombang 288.500 nm yang sesuai dengan panjang gelombang pembanding (Markham, 1988) yaitu ditunjukkan pada tabel 4.1, hal ini menunjukkan bahwa senyawa hasil isolasi sesuai dengan spektrum UV-Visible dari senyawa pembanding flavonoida yaitu Flavon (Lampiran 3).
Tabel 4.1 Panjang Gelombang UV-Visible Senyawa Hasil Isolasi Panjang Gelombang (nm)
Senyawa Hasil Isolasi Pembanding Flavon Absorbansi
339.500 Pita I 310 – 350 0,758
288.500 Pita II 250 – 280 0,865
Hasil analisa Spektrofotometer Inframerah (FT-IR) dari padatan amorf hasil isolasi memberikan serapan-serapan pada daerah bilangan gelombang (cm-1) pada gambar 4.3 sebagai berikut :
O-H
Gambar 4.3 Spektrum Infra Merah (FT-IR) Senyawa Hasil Isolasi
Dari hasil analisa Spektrofotometer Inframerah (FT-IR) pada senyawa hasil isolasi menghasilkan serapan-serapan pada daerah bilangan gelombang (cm-1) pada tabel 4.2 sebagai berikut :
Tabel 4.2 Hasil Analisa Spektrum FT-IR Senyawa Hasil Isolasi Bilangan
Gelombang (cm-1)
Intensitas Gugus Fungsi Bilangan Gelombang (cm-1)(Pavia,2001) 3379,29 Lebar Vibrasi Ulur O-H
Vibrasi Ulur C-H Aromatis
3200-3650
2854.65-2924.09 Sedang Vibrasi Ulur C-H Alifatis
2850-3000 1635.64 Tajam Vibrasi Ulur C=O
Keton
1630-1750 1458.18-1512.19 Sedang Vibrasi Ulur C=C
Aromatis
1450-1600 1365.60 Tajam Vibrasi tekuk
-CH3 dari C-H alifatis
1365-1450
1165.00 Tajam Vibrasi Ulur C-O 1000-1300
1087.85 Sedang Vibrasi Ulur C-O-C Eter
1070-1150
Dari hasil analisa Spektrum Inframerah (FT-IR) (Gambar 4.3) diperoleh bilangan gelombang 3379,29 cm-1 dengan puncak lebar menunjukkan adanya vibrasi ulur dari O-H yang didukung oleh bilangan gelombang 1165,00 cm-1 puncaktajam menunjukkan adanya vibrasi ulur C-O. Pada bilangan gelombang 3379,29 cm-1 vibrasi ulur O-H mengalami tumpang tindih pada vibrasi ulur C-H aromatis.
Bilangan gelombang 2854,65 – 2924,09 cm-1 dengan puncak sedang menunjukkan adanya vibrasi ulur C-H alifatis yang didukung oleh vibrasi tekuk –CH3 pada bilangan gelombang 1365,60 cm-1 dengan puncak tajam, pada bilangan gelombang 1635,64 cm-1 dengan puncak tajam menunjukkan adanya vibrasi ulur C=O keton, pada bilangan gelombang 1458,18 - 1512,19 cm-1 dengan puncak sedang menunjukkan adanya vibrasi ulur C=C aromatis, pada bilangan gelombang 1087,85 cm-1 dengan puncak sedang menunjukkan adanya vibrasi ulur C-O-C gugus eter sesuai dengan data Spektrum Inframerah (FT-IR).
Hasil analisa Spektrofotometer Resonansi Magnetik Inti Proton (1H-NMR) terhadap senyawa hasil isolasi dengan menggunakan pelarut Metanol-d4 dan TMS pergeseran kimia pada daerah (ppm) sebagai standart seperti gambar 4.4 dan gambar 4.5 sebagai berikut :
Gambar 4.4 Spektrum 1H-NMR Senyawa Hasil Isolasi δ = 0 – 8,0 ppm
Gambar 4.5 Spektrum 1H-NMR Senyawa Hasil Isolasi δ = 5,5 – 7,4 ppm Tabel 4.3 Pergeseran kimia dan jenis peak 1H-NMRsenyawa hasil isolasi
6,634 ppm H-13 Puncak Doublet 6,636 ppm Puncak Doublet 6,917 ppm
Dari hasil analisa Spektrum 1H-NMR dengan menggunakan pelarut metanol (Gambar 4.4 dan Gambar 4.5) diperoleh pergeseran kimia pada daerah δ= 5,958 ppm dan δ= 5,975 ppm puncak doublet menunjukkan proton dari H-6 dan H-8 yang sesuai dengan puncak spektrum standar pembanding pada (lampiran 8). Sedangkan pada pergeseran kimia pada daerah δ = 2,153 ppm puncak singlet menunjukkan proton dari –CH3, pada pergeseran kimia pada daerah δ = 6,246 ppm puncak singlet menunjukkan proton dari H-22 dan pada pergeseran kimia pada daerah δ = 6,427 ppm puncak singlet menunjukkan proton dari H-19, pergeseran kimia pada daerah δ
= 6,557 ppm puncak doublet menunjukkan proton dari H-15, pada pergeseran kimia pada daerah δ = 6,634 ppm puncak doublet menunjukkan proton dari H-13, pada pergeseran kimia pada daerah δ = 6,917 ppm puncak doublet menunjukkan proton dari H-31, pada pergeseran kimia pada daerah δ = 7,071 ppm dan δ = 7,111 ppm puncak doublet menunjukkan proton dari H-12 dan H-16, pada pergeseran kimia pada daerah δ = 7,300 ppm puncak doublet menunjukkan proton dari H-32, pada pergeseran kimia pada daerah δ = 7,349 ppm puncak singlet menunjukkan proton dari H-28 pada senyawa biflavonoid yang sesuai dengan puncak spektrum standar pembanding pada (lampiran 9 dan lampiran 10). Substituen X diduga terletak pada C-5, C-7, C-14, C-21, C-23, C-29, dan C-30 yang dimana X menunjukkan OH atau CH3.
Berdasarkan analisia data yang dilakukan pada spektrum UV-Visible, Spektrum Inframerah (FT-IR), Spektrum 1H-NMR disimpulkan bahwa kemungkinan senyawa hasil isolasi dari tumbuhan daun mundu adalah senyawa flavonoida jenis biflavonoid dengan struktur seperti pada gambar 4.6 berikut:
O
Gambar 4.6 Senyawa Flavonoida Jenis Biflavonoid
Ket : X= OH atau CH3
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Senyawa flavonoida diisolasi dari 1800 g Daun Tumbuhan Mundu (Garcinia dulcis (Roxb.) Kurz) melalui tahapan ekstraksi maserasi dan ekstraksi partisi dengan pemisahan dengan cara kromatografi kolom dengan eluen kloroform : metanol 90:10(v/v), 80:20(v/v), 70:30(v/v), 60:40(v/v). Senyawa yang diperoleh dimurnikan dengan kromatografi lapis tipis preparatif menghasilkan padatan amorf berwarna kuning, sebanyak 8,4 mg, Rf = 0,35 dengan eluen kloroform : etil asetat (40:60) v/v).
2. Hasil analisa dengan Spektrofotometer UV-Visible, Spektrofotometer FT-IR dan Spektrofotometer 1H-NMR menunjukkan bahwa senyawa hasil isolasi diduga adalah senyawa flavonoid dengan jenis biflavonoid dengan struktur :
O
Untuk lebih mendukung struktur senyawa flavonoida hasil isolasi, maka sebaiknya perlu dilakukan analisa Spektrofotometer Karbon (13C-NMR) dan Spektrofotometer 2D-NMR dan Spektrofotometer Massa (MS).
DAFTAR PUSTAKA
Andersen M, Markham KR, 2006. Flavanoids. Taylor & Francis Group. New York.
Bhat S, Nagasampagi BS, Sivakumar, 2005. Chemistry of Natural Product. Narosa Publishing. New Dehli.
Connolly J, 1986. Dictionary of Natural Products. Volume Seven. Chapman & Hall.
London.
Crozier A, Clifford MN, Ashihara H. 2006. Plant Secondary Metabolites. Blackwell Publishing. Oxford.
Dachriyanus, 2004. Analisis Struktur Senyawa Organik. Andalas University Press.
Padang.
Deachathai S, Mahabusarakam W, Phongpaichit S, Taylor WC, 2005. Phenolic compounds from the fruit of Garcinia dulcis, Phytochemistry 66, pp. 2368–
2375.
Harbone JB, 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan. Terbitan Kedua. Terjemahan Aloysius Pudjaatmaka. Erlangga.
Jakarta.
Harmita, 2009. Analisis fisikokimia. Volume 1 dan 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Heinrich M, Barnes J, Gibbons S, Williamson EM, 2010. Farmakognosi dan Fitoterapi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Heyne K, 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid III. Terjemahan Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta Pusat
Kosela S, Hu LH, Yipa SC, Rachmatia T, Hanafi M, and Sim KY, 2000.
Dulxanthones F-H, Three New Pyranoxanthones from Garcinia dulcis, J. Nat.
Prod, 63, pp. 406-407
Maheswari JK, 1964. Taxonomic Studies on Indian Guttiferae III. The Genus Garcinia Linn. S.1. Bulletin Botanical Survey. India. 6 (24): 107-135.
Markham KR, 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoida. Terjemahan Kosasi Padmawinata. ITB Press. Bandung.
Muharni, Elfita, Amanda. 2011. Biflavonoid Compound From The Stem Bark Of Gamboge (Garcinia Xanthocymus). Universitas Sriwijaya
Muldja MH, 1995. Analisis Instrumental. Cetakan Pertama. Universitas Airlangga Press. Surabaya.
Nasution AR, 2010. Isolasi Senyawa Triterpenoid atau Streoid. Universitas Sumatra Utara: Sumatra Utara.
Nessa F, 2003. Free Radical-Scavenging Activity of Organic Extracts and Pure Flavonoids of Blumea balsamifera DC Leaves. Food Chemistry.
Pavia DL, 2001. Introduction To Spectroscopy. Third Edition. Thomson Learning.
Australia.
Rohman A, 2007. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Jakarta.
Rohman A, 2009. Kromatografi Untuk Analisis Obat. Graha Ilmu. Yogyakarta Roy J, Gritter, James M, Bobbit, Arthur ES, 1991. Pengantar Kromatografi. Penerbit
ITB. Bandung.
Santosa D, 2015. Antioxidant activity determination Garcinia Dulcis (Roxb.) Kurz, Blumeamollis (D.Don) Merr., Siegesbeckia Orientalis L. and Salvia riparia H.B.K which collected from taman nasional gunung merapi using DPPH (2,2-diphenyl-1-pikril hidrazil) and thin layer chromatography. Perdana Priya Haresmita. Yogyakarta.
Sarker S, 2006. Natural Product Isolation. Second Edition. Humana Press Inc. New Jersey.
Sastrohamidjojo H, 2004. Teknik Pemisahan Kromatografi . UGM Press.
Yogyakarta.
Sirait M, 2007. Penuntun Fitokimia Dalam Farmasi. Penerbit ITB. Bandung.
Tyas AN, 2011. Uji Aktivitas Penangkap Radikal Bebas Fraksi Semipolar Ekstrak Etanol Daun Benalu Mangga (Dendrophthoe pentandra (L.) Miq.) dengan Metode DPPH. [Skripsi]. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.
Vickery ML, Vickery B, 1981. Secondary Plant Metabolism. University of Warwick.London.
Widodo GP, Rahayu MP, 2010. Aktivitas antimalaria ekstrak etil asetat kulit batang mundu (Garcinia dulcis Kurz). Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi, Surakarta, Indonesia
21(4), 238 – 242
Wiryowidagdo S, 2007. Kimia dan Farmakologi Bahan Alam. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Gambar Daun Tumbuhan Mundu (Garcinia dulcis (Roxb.) Kurz)
Lampiran 2. Hasil Determinasi Daun Tumbuhan Mundu (Garcinia dulcis (Roxb.) Kurz)
Lampiran 3. Spektrum Ultraviolet-Visible Beberapa Senyawa Flavonoida (Markham,1988)
Lampiran 4. Kromatogram Lapis Tipis Ekstrak Pekat Metanol Daun Tumbuhan Mundu sebelum Kromatografi Kolom
Keterangan :
Fase diam : Kieselgel 60 F254
No Fase Gerak Jumlah Noda Rf
I
II
Kloroform : Metanol 80 : 20 (v/v)
Kloroform : Metanol 90 : 10 (v/v)
3
2
0,37 0,62 0,66 0,22 0,37
Lampiran 5. Kromatogram Lapis Tipis Ekstrak Daun Tumbuhan Mundu sesudah penggabungan fraksi
Keterangan :
Eluen : Kloroform : Etil Asetat 80:20 (v/v) Fase diam : Kieselgel 60 F254
No Fraksi Jumlah Noda Rf
I 5 – 6 0
II 7 – 75 1 0,51
III 76 – 181 3 0,13
0,28 0,44
IV 186 – 238 1 0,06
Lampiran 6. Kromatogram Lapis Tipis Ekstrak Daun Tumbuhan Mundu fraksi II sebelum KLT preparatif
Keterangan:
Fase diam : Kieselgel 60 F254
No Fase Gerak Jumlah Noda Rf
II Kloroform : Etil Asetat 40 : 60 (v/v) 2 0,17 0,46
Lampiran 7. Kromatogram Lapis Tipis Senyawa Hasil Isolasi
Keterangan :
Fase diam : Kieselgel 60 F254
No Fase Gerak Jumlah
Noda
Rf I Kloroform : Etil Asetat 40:60 (v/v) 1 0,35
Lampiran 8. Spektrum 1H-NMR Senyawa Hasil Isolasi pada δ = 6,8 – 7,4 ppm
Lampiran 9. Spektrum 1H-NMR Senyawa Pembanding pada δ = 6,0 – 6,6 ppm
Lampiran 10. Spektrum 1H-NMR Senyawa Pembanding pada δ = 6,9 – 7,3 ppm