Analisis yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan ekonomi rumahtangga adalah dengan menggunakan model ekonometrika dalam bentuk persamaan simultan. Persamaan dalam model disajikan dalam bentuk persamaan struktural dan persamaan identitas yang saling terkait antara keputusan produksi, konsumsi, curahan kerja dan pendapatan. Spesifikasi model ekonomi rumahtangga diuraikan sebagai berikut:
36
1. Produksi Kerupuk
Produksi kerupuk yang dihasilkan rumahtangga tergantung dari besar kecilnya input yang digunakan. Input dalam konsep ekonomi dapat berupa input variabel dan input tetap. Input variabel yang digunakan dalam produksi kerupuk berupa jumlah tenaga kerja dan bahan baku sedangkan input tetap adalah nilai dari mesin atau alat-alat produksi (aset).
Tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi dapat berasal dari tenaga kerja rumahtangga maupun tenaga kerja luar rumahtangga. Jumlah tenaga kerja diukur berdasarkan lama waktu (curahan kerja) dalam memproduksi kerupuk. Semakin tinggi curahan kerja dalam usaha rumahtangga maka produksi kerupuk akan meningkat sehingga hubungan antara kedua variabel ini dalam persamaan diduga bernilai positif.
Input variabel lainnya adalah bahan baku. Secara umum bahan baku yang digunakan untuk memproduksi kerupuk adalah tepung tapioka, gandum, kedelai, pemanis, pewarna, penyedap rasa, bawang putih, garam dan ketumbar. Bahan baku selain tepung tapioka tidak dimasukkan ke dalam persamaan yang mempengaruhi produksi karena nilainya tidak signifikan terhadap biaya bahan baku yang digunakan. Dengan memisahkan tepung tapioka dengan biaya bahan baku lainnya dimaksudkan untuk mengetahui keputusan ekonomi rumahtangga kerupuk yang selama ini mengkawatirkan kenaikan harga tepung tapioka.
Mesin atau alat-alat produksi yang digunakan dalam proses produksi kerupuk umumnya masih sederhana. Dengan memasukkan variabel aset dalam fungsi produksi dimaksudkan untuk membuktikan bahwa rumahtangga yang memiliki produksi yang tinggi biasanya didukung oleh kepemilikan nilai aset
yang lebih tinggi (kuantitas maupun kualitas). Kuantitas ditunjukkan dengan jumlah mesin atau alat-alat produksi yang dimiliki sedangkan kualitas ditunjukkan dengan nilai aset tersebut (terkait tingkat teknologi dan aktifitas perawatan aset atau aktifitas rumahtangga untuk mengurangi penurunan depresiasi).
Hubungan antar peubah tersebut dinyatakan dalam persamaan struktural sebagai berikut : 1 3 2 1 0 + + + +ε =a aTEP a TCKD a AST Q ... (3.4) Parameter dugaan yang diharapkan:
a1, a2 , a3 > 0 dimana:
Q = produksi kerupuk (kg/tahun)
TEP = jumlah bahan baku tepung tapioka(kg/tahun) TCKD = total curahan kerja dalam usaha (rupiah/tahun) AST = nilai aset (rupiah)
2. Permintaan Bahan Baku
Jumlah atau permintaan bahan baku yang digunakan dalam produksi kerupuk diduga dipengaruhi oleh total pendapatan rumahtangga dan tingkat produksi. Rumahtangga akan mengalami peningkatan daya beli jika tingkat pendapatannya semakin tinggi. Kenaikan daya beli tersebut menyebabkan rumahtangga meningkatkan permintaan terhadap barang/jasa yang dijual di pasar, salah satunya adalah bahan baku untuk proses produksi. Jadi, total pendapatan rumahtangga berhubungan positif dengan permintaan bahan baku yang digunakan dalam proses produksi.
Rumahtangga yang memiliki tingkat produksi yang relatif tinggi tentunya membutuhkan bahan baku yang lebih banyak. Antara tingkat produksi dan bahan
38
baku memiliki hubungan yang saling mempengaruhi. Hubungan antar peubah bahab baku, pendapatan dan produksi ditunjukkan dalam persamaan struktural sebagai berikut: 2 2 1 0 bTYRT b Q e b TEP= + + + ... (3.5) Parameter dugaan yang diharapkan :
b1, b2 > 0 dimana:
TYRT = total pendapatan rumahtangga (rupiah/tahun)
3. Curahan Kerja Rumahtangga Dalam Usaha
Curahan kerja anggota rumahtangga dalam usaha diduga dipengaruhi oleh rasio upah di dalam usaha dengan luar usaha, tingkat produksi, jumlah angkatan kerja rumahtangga dan pengalaman usaha. Hubungan antar peubah ditunjukkan dalam persamaan struktural sebagai berikut :
3 5 4 3 2 1 0 + + + + + +ε =c cUD c UL c Q c AKRT c PGLN CKRTD ... (3.6)
Parameter dugaan yang diharapkan: c1 , c3 , c4 , c5 > 0 dan c2 < 0 dimana:
CKRTD = curahan kerja rumahtangga dalam usaha (jam/tahun) UD = upah dalam usaha (rupiah/hari kerja)
UL = upah luar usaha (rupiah/hari kerja) AKRT = angkatan kerja rumahtangga (orang) PGLN = pengalaman usaha (tahun)
Rumahtangga akan mengalokasikan waktu yang tersedia untuk aktifitas kerja yang memberikan kompensasi yang lebih besar. Rumahtangga dihadapkan
pada suatu pilihan bagaimana mengalokasikan waktunya ke aktifitas kerja di dalam usaha atau luar usaha. Rumahtangga akan bekerja di dalam usaha lebih banyak jika upah yang diterima di dalam usaha meningkat dan sebaliknya. Jika upah luar usaha meningkat maka rumahtangga akan mengurangi curahan kerja dalam usaha dan mengalokasikannya ke luar usaha. Asumsi yang digunakan dalam perilaku rumahtangga yang fleksibel dalam penggunaan waktu kerja yaitu rumahtangga bekerja di sektor informal atau tidak ada ikatan (kontrak) kerja. Jenis pekerjaan yang dimaksud seperti buruh tani, buruh bangunan, kuli di pasar dan tukang ojek.
Sama seperti hubungan antara produksi dengan bahan baku, curahan kerja rumahtangga dalam usaha juga berhubungan dua arah dengan tingkat produksi. Rumahtangga yang memiliki tingkat produksi yang relatif lebih tinggi membutuhkan curahan kerja rumahtangga yang lebih tinggi pula.
Jumlah angkatan kerja yang dimiliki rumahtangga akan menentukan besarnya waktu rumahtangga yang tersedia. Jika waktu yang tersedia rumahtangga meningkat maka curahan kerja rumahtangga dalam usaha juga mengalami peningkatan. Sehingga setiap peningkatan jumlah angkatan kerja rumahtangga akan meningkatkan curahan kerja rumahtangga dari dalam usaha.
Pengalaman usaha terkait kenyamanan pengusaha atau rumahtangga terhadap usaha kerupuk yang dikelolanya. Semakin tinggi pengalaman usaha yang dimiliki rumahtangga maka keahlian usaha atau investasi barang-barang modal (kepemilikan aset) juga semakin tinggi. Akibatnya terjadi peningkatan biaya peluang (opportunity cost) jika rumahtangga meninggalkan aktifitas kerja di
40
dalam usaha. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pengalaman usaha maka curahan kerja rumahtangga dalam usaha akan meningkat.
4. Curahan Kerja Pekerja Luar Rumahtangga Dalam Usaha
Curahan kerja pekerja dari luar rumahtangga merupakan permintaan tenaga kerja dari luar rumahtangga yang dinyatakan dalam satuan waktu kerja. Curahan kerja pekerja dari luar rumahtangga diduga dipengaruhi oleh tingkat upah dalam usaha, curahan kerja rumahtangga dalam usaha dan tingkat produksi. Keterkaitan peubah yang mempengaruhi penggunaan tenaga kerja dari luar rumahtangga disajikan dalam bentuk persamaan struktural sebagai berikut:
4 3 2 1 0 + + + +ε =d dUD d CKRTD d Q CKLRTD ... (3.7) Parameter dugaan yang diharapkan:
d3 > 0 dan d1, d2 < 0 dimana:
CKLRTD = curahan kerja luar rumahtangga dalam usaha (jam/tahun) UD = upah dalam usaha (rupiah/hari kerja)
Permintaan tenaga kerja luar rumahtangga tergantung pada besarnya biaya tenaga kerja yang dinyatakan dalam tingkat upah. Jika tingkat upah meningkat maka rumahtangga akan mengurangi penggunaan tenaga kerja luar rumahtangga. Pengurangan curahan kerja rumahtangga akan mengakibatkan tingkat produksi turun. Untuk mengantisipasinya rumahtangga akan meningkatan curahan kerja rumahtangga sebagai subtitusi dari curahan kerja luar rumahtangga yang berkurang. Dapat disimpulkan, curahan kerja rumahtangga dalam usaha berhubungan negatif dengan curahan kerja luar rumahtangga dalam usaha.
Semakin tinggi tingkat produksi akan membutuhkan waktu kerja yang lebih tinggi. Kebutuhan akan waktu kerja dapat terpenuhi dengan mencurahkan waktu kerja luar rumahtangga lebih banyak. Peningkatan produksi akan meningkatkan curahan kerja luar rumahtangga dalam usaha.
5. Total Penggunaan Waktu Kerja Dalam Usaha
Total penggunaan tenaga kerja dalam usaha terdiri dari curahan kerja rumahtangga dalam usaha dan curahan kerja luar rumahtangga dalam usaha yang dinyatakan dalam persamaan identitas sebagai berikut:
CKLRTD CKRTD
TCKD= + ... (3.8) dimana:
TCKD = total penggunaan tenaga kerja dalam usaha (jam/tahun)
6. Curahan Kerja Rumahtangga Luar Usaha
Curahan kerja rumahtangga ke luar usaha merupakan penawaran tenaga kerja rumahtangga untuk bekerja di luar usaha yang dinyatakan dalam satuan waktu kerja. Curahan kerja rumahtangga luar usaha diduga dipengaruhi oleh tingkat upah di luar usaha, curahan kerja rumahtangga dalam usaha, jumlah angkatan kerja rumahtangga dan tingkat pengalaman usaha. Hubungan antar peubah yang mempengaruhi curahan kerja rumahtangga luar usaha dinyatakan dalam bentuk persamaan struktural sebagai berikut:
5 4 3 2 1 0 + + + + +ε =e eUL e CKRTD e AKRT e PGLN CKRTL ... (3.9)
Parameter dugaan yang diharapkan: e1 , e3 , > 0 dan e2, e4 < 0
42
CKRTL = curahan kerja rumahtangga luar usaha (jam/tahun) UL = upah luar usaha (rupiah/hari kerja)
AKRT = angkatan kerja rumahtangga (orang) PGLN = pengalaman usaha (tahun)
Keputusan rumahtangga dalam menawarkan waktu kerja rumahtangga yang tersedia untuk bekerja di luar usaha tergantung dari kompensasi yang akan diterima yaitu dinyatakan dalam tingkat upah. Jika tingkat upah luar usaha meningkat maka rumahtangga terdorong untuk lebih banyak mengalokasikan waktu kerja rumahtangga, sehingga curahan kerja rumahtangga luar usaha akan meningkat.
Rumahtangga memiliki waktu kerja yang tersedia yang terbatas. Waktu kerja tersebut dialokasikan untuk bekerja di dalam usaha dan luar usaha. Jika curahan kerja rumahtangga dalam usaha meningkat maka curahan kerja rumahtangga yang bekerja di luar usaha akan turun. Asumsi yang digunakan adalah rumahtangga bekerja di sektor informal yang tidak terikat dengan kontrak (perjanjian) kerja.
Jumlah angkatan kerja menentukan besar kecilnya waktu kerja yang tersedia yang dimiliki rumahtangga. Jika angkatan kerja rumahtangga meningkat maka curahan kerja tambahan ini mengakibatkan peningkatan pada curahan kerja rumahtangga yang bekerja di luar usaha.
Pengalaman usaha terkait dengan kenyamanan (menghindari resiko) rumahtangga terhadap usaha yang dikelolanya. Adanya peningkatan opportunity cost yang ditanggung rumahtangga jika rumahtangga mencurahkan waktu kerjanya di usaha. Hal ini dikarenakan rumahtangga telah menanamkan
investasinya (aset produksi) di dalam usaha dan faktor keahlian yang telah dimiliki rumahtangga secara turun-temurun. Akibatnya, peningkatan pengalaman usaha diduga akan menurunkan curahan kerja rumahtangga di luar usaha.
7. Biaya Produksi Kerupuk
Biaya produksi kerupuk meliputi biaya bahan baku, biaya upah, biaya bahan bakar, biaya pemotongan kerupuk, dan biaya lain-lain. Bahan baku produk kerupuk terdiri dari tepung tapioka, gandum, kedelai, pemanis, pewarna, penyedap rasa, bawang putih, garam dan ketumbar. Pemisahan peubah biaya bahan baku tepung tapioka dengan biaya bahan baku lainnya dilakukan dengan tujuan untuk melihat dampak dari perubahan harga tepung tapioka terhadap keputusan ekonomi rumahtangga. Selama ini pengusaha kerupuk sering mengeluhkan kenaikan harga tepung tapioka di pasar. Setiap kenaikan harga tepung tapioka akan menurunkan penerimaan rumahtangga.
Keterkaitan antar peubah tersebut dinyatakan dalam persamaan identitas sebagai berikut: BLL BBM BUP HTEP TEP BPR=( × )+ + + ... (3.10) dimana:
BPR = biaya produksi (rupiah/tahun)
HTEP = harga bahan baku tepung tapioka (rupiah/kg) BUP = biaya upah (rupiah/tahun)
BBM = biaya bahan bakar (rupiah/tahun)
BLL = biaya bahan baku selain tepung tapioka (gandum, kedelai, pemanis, pewarna, penyedap rasa, bawang putih, dan ketumbar) dan biaya tenaga kerja rumahtangga (makan) (rupiah/tahun)
44
8. Pendapatan Rumahtangga Dalam Usaha
Pendapatan rumahtangga dari dalam usaha merupakan selisih antara penerimaan produksi dengan biaya produksi. Hubungan tersebut dapat dinyatakan dalam persamaan identitas sebagai berikut:
( )
YRTD= HQ Q∗ −BPR... (3.11) dimana:
YRTD = pendapatan dari dalam usaha (rupiah/tahun)
9. Pendapatan Rumahtangga Luar Usaha
Pendapatan rumahtangga dari luar usaha merupakan perkalian antara curahan kerja rumahtangga di luar usaha dengan tingkat upah luar usaha. Hubungan antar peubah tersebut ditunjukkan dalam persamaan identitas sebagai berikut:
UL CKRTL
YRTL= ∗ ... (3.12) dimana:
YRTL = pendapatan rumahtangga dari luar usaha (rupiah/tahun) EDRT = pendidikan rata-rata rumahtangga (tahun)
10. Total Pendapatan Rumahtangga
Pendapatan total rumahtangga merupakan penjumlahan dari pendapatan dari dalam usaha, pendapatan dari luar usaha dan pendapatan non upah (kerja). Hubungan tersebut dapat dinyatakan dalam persamaan identitas sebagai berikut:
TYRT =YRTD YRTL YNON+ + ... (3.13) dimana:
YNON = pendapatan rumahtangga non upah (rupiah/tahun)
11. Konsumsi Pangan Rumahtangga
Konsumsi pangan rumahtangga diduga dipengaruhi oleh total pendapatan rumahtangga dan total anggota rumahtangga. Dengan mengasumsikan bahwa rumahtangga usaha kerupuk merupakan rumahtangga dengan penghasilan yang masih relatif rendah maka semakin tinggi total pendapatan rumahtangga menyebabkan konsumsi untuk pangan akan meningkat. Besar kecilnya konsumsi pangan juga dipengaruhi oleh jumlah anggota rumahtangga. Semakin besar anggota rumahtangga maka semakin besar pula kebutuhan akan pangan. Hubungan antar peubah tersebut dinyatakan dalam persamaan struktural sebagai berikut: 6 2 1 0 + + +ε = f fTYRT f TANG KPRT ... (3.14) Parameter dugaan yang diharapkan:
f1, f2 > 0 dimana:
KPRT = konsumsi pangan rumahtangga (rupiah/tahun) TANG = total anggota rumahtangga (orang)
12. Konsumsi Non-pangan Rumahtangga
Konsumsi non-pangan rumahtangga diduga dipengaruhi oleh total pendapatan rumahtangga, investasi pendidikan dan total anggota rumahtangga. Hubungan antar peubah tersebut dinyatakan dalam persamaan struktural sebagai berikut: 7 3 2 1 0 + + + +ε
= g gTYRT g IED g TANG
KNPRT ... (3.15) Parameter dugaan yang diharapkan:
46
g1, g3 > 0 dan g2 < 0 dimana:
KNPRT = konsumsi non-pangan rumahtangga (rupiah/tahun) IED = investasi pendidikan (rupiah/tahun)
Investasi pendidikan mempengaruhi konsumsi non-pangan rumahtangga karena rumahtangga menganggap pendidikan anak adalah penting. Ketika pengeluaran untuk pendidikan (investasi pendidikan) meningkat maka rumahtangga cenderung untuk mengurangi konsumsi non-pangan, seperti pengeluaran untuk sandang dan alat-alat rumahtangga.
13. Investasi Pendidikan
Investasi pendidikan rumahtangga diduga dipengaruhi oleh total pendapatan rumahtangga, total anggota rumahtangga yang masih sekolah, pendidikan rata-rata rumahtangga dan umur pengusaha. Hubungan antar peubah tersebut dinyatakan dalam persamaan struktural sebagai berikut:
8 4 3 2 1 0 + + + + +ε
=h hTYRT h TEDK h EDRT hUMP
IED ... (3.16)
Parameter dugaan yang diharapkan: h1, h2, h3, h4 > 0
dimana:
IED = investasi pendidikan (rupiah/tahun)
TEDK = total anggota rumahtangga yang masih sekolah (orang) EDRT = pendidikan rata-rata rumahtangga (tahun)
UMP = umur pengusaha (tahun)
Semakin tinggi tingkat pendapatan rumahtangga maupun jumlah anak yang bersekolah akan meningkatkan investasi pendidikan. Rumahtangga menginginkan kualitas pendidikan anggota rumahtangga sehingga kebutuhan yang
mendukung pendidikan seperti kursus privat, buku pelajaran, baju seragam dan sebagainya akan mengalami peningkatan jika pendapatan rumahtangga meningkat. Tingkat pendidikan rata-rata rumahtangga menujukkan kesadaran rumahtangga akan pentingnya pendidikan. Umur pengusaha terkait dengan anak yang sudah mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi yang membutuhkan biaya yang lebih tinggi pula. Semakin tinggi pendidikan rata-rata rumahtangga maupun umur pengusaha akan meningkatkan investasi pendidikan rumahtangga.
14. Penyusutan
Pengeluaran penyusutan rumahtangga terdiri dari pembelian dan perawatan mesin serta alat-alat produksi selama setahun dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas. Pengeluaran penyusutan diduga dipengaruhi oleh total pendapatan rumahtangga, umur alat produksi, pengalaman usaha dan tabungan rumahtangga. Jika rumahtangga memiliki pendapatan dan pengalaman usaha yang besar maka ada keinginan untuk membeli atau melakukan perawatan mesin dan peralatan yang lebih baik dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas.
Semakin tua mesin dan alat produksi yang digunakan maka nilai atau biaya penyusutannya semakin besar. Bertambahnya umur mesin dan alat produksi mengakibatkan rumahtangga cenderung mengeluarkan biaya yang lebih tinggi untuk perawatan dan pembelian yang baru. Semakin tinggi jumlah pendapatan yang ditabung oleh rumahtangga maka semakin rendah pengeluaran penyusutan yang dilakukannnya. Hubungan antar peubah tersebut dinyatakan dalam persamaan struktural sebagai berikut:
9 4 3 2 1 0 + + + + +ε
=i iTYRT iUMPROD i PGLN i TAB
48
Parameter dugaan yang diharapkan: i1, i2, i3 > 0 dan i4 < 0
dimana:
DEP = pengeluaran penyusutan (rupiah/tahun) UMPROD = umur produksi (tahun)
PGLN = pengalaman usaha (tahun) TAB = tabungan (rupiah/tahun)
15. Total Pengeluaran
Pengeluaran total rumahtangga terdiri dari konsumsi pangan dan non- pangan, investasi pendidikan dan penyusutan. Hubungan antar peubah tersebut dinyatakan dalam persamaan identitas sebagai berikut:
DEP IED KNPRT KPRT TEXP= + + + ... (3.18) dimana:
TEXP = total pengeluaran rumahtangga (rupiah/tahun)
16. Tabungan
Pengeluaran yang dilakukan rumahtanga dibiayai oleh total pendapatan rumahtangga, baik dari dalam dan luar usaha kecil kerupuk maupun dari pendapatan non upah (sewa, warisan dan hadiah). Kondisi ini menunjukkan bahwa harus terjadi keseimbangan antara total pendapatan rumahtangga dengan pengeluaran rumahtangga. Selisih antara total pendapatan rumahtangga dengan pengeluaran rumahtangga disebut tabungan. Jika tabungan bernilai negatif maka rumahtangga akan melakukan pinjaman. Hubungan antar peubah tersebut dinyatakan dalam persamaan identitas sebagai berikut:
dimana:
TAB = tabungan rumahtangga (rupiah/tahun)
Berdasarkan uraian atau analisis mengenai peubah-peubah yang mempengaruhi ekonomi rumahtangga kerupuk di atas, dapat disusun diagram keterkaitan peubah dalam model rumahtangga kerupuk yang ditunjukkan pada Gambar 3.
3.5. Identifikasi Model
Model yang sudah dirumuskan pada pembahasan sebelumnya perlu dilakukan identifikasi untuk mengetahui metode estimasi yang akan dipakai. Menurut Koutsoyiannis (1977), identifikasi model dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu order condition dan rank condition. Persamaan perilaku dalam penelitian ini hanya diidentifikasi berdasarkan order condition. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
) 1 ( ) (K−M ≥ G− ... (3.20) dimana:
K = jumlah total peubah dalam model (endogen dan predetermined). M = jumlah peubah endogen dan eksogen dalam setiap persamaan yang
diidentifikasi.
G = total jumlah persamaan (total jumlah peubah endogen).
Jika sebuah persamaan (atau sebuah model) adalah underidentified, maka tidak mungkin untuk mengestimasi semua parameternya dengan teknik ekonometrika. Jika sistem persamaan adalah exactly identified, maka metode yang digunakan adalah indirect least squares (ILS), sedangkan apabila sistem persamaannya adalah overidentified, maka dapat menggunakan metode two-stage least squares (2SLS) atau maximum likelihood.
50 Q CKLRTD CKRTD TEP CKRTL IED KPRT YRTL TCKD DEP BPR TEXP YRTD TAB TYRT KNPRT YNON HQ HTEP BTK BBM BLL AST AKRT PGLN UL EDRT TANG TEDK UMP UMPROD UD
: Peubah Endogen : Peubah Eksogen
Gambar 3. Diagram Keterkaitan Peubah dalam Model Ekonomi Rumahtangga Usaha Kecil Kerupuk
Kriteria yang digunakan untuk identifikasi model sesuai dengan rumus
order condition di atas adalah :
1. Jika (K – M) = (G – 1) maka persamaan dalam model dikatakan exactly identified.
2. Jika (K – M) > (G – 1) maka persamaan dalam model dikatakan overidentified. 3. Jika (K – M) < (G – 1) maka persamaan dalam model dikatakan
underidentified.
Model ekonomi rumahtangga usaha kecil kerupuk dalam penelitian ini terdiri dari 16 persamaan, yang terdiri dari 9 persamaan struktural dan 7 persamaan identitas. Jumlah peubah endogen (G) adalah 16 buah dan peubah
predetermined adalah 16 buah, sehingga total peubah dalam model (K) adalah 32 buah. Model tersebut tersusun dengan jumlah peubah endogen dan eksogen (M) untuk setiap persamaan berkisar antara 3 – 5 peubah. Berdasarkan kriteria order condition, setiap persamaan dalam model ekonomi rumahtangga usaha kerupuk ini dinyatakan overidentified.
Identifikasi terhadap semua persamaan perilaku yang menunjukkan
overidentified maka estimasi model dalam penelitian ini menggunakan metode
two-stage least squares (2SLS), dengan pertimbangan ketersediaan data contoh yang tidak terlalu besar dan kemungkinan adanya spesifikasi model secara berulang untuk mencari parameter yang konsisten dengan teori dan fenomena agar diperoleh pilihan kebijakan yang mendekati kenyataan. Estimasi model dilakukan secara simultan dengan menggunakan program aplikasi komputer SAS (Statistical Analysis System) versi 9.0.
52
3.6. Evaluasi Koefisien Estimasi Model
Model yang telah diestimasi atau didapat solusinya kemudian dievaluasi untuk menentukan apakah model tersebut secara teoritis bermakna dan secara kuantitatif memuaskan (Sinaga, 1997). Evaluasi hasil estimasi model persamaan umumnya dibagi dalam tiga bagian, yaitu: kriteria ekonomi, kriteria statistika dan kriteria ekonometrika.
1. Economic ‘A Priori’ Criteria, yaitu dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang sesuai dengan kriteria ekonomi, yang mengacu pada arah dan besaran (sign dan magnitude).
2. Statistical Criteria, yaitu evaluasi dilakukan berdasarkan teori statistik. Kriteria statistik yang paling sering digunakan adalah correlation coefficient
dan standard deviation atau standard error. Kriteria statistik merupakan kriteria pertama setelah kriteria a priori ekonomi. Sedangkan dalam penelitian ilmiah mahasiswa sering digunakan koefisien determinasi (R2) dan nilai uji F untuk menguji secara statistik.
3. Econometric Criteria, yaitu ditentukan oleh ilmu ekonometrika yang membantu mengevaluasi apakah asumsi dari metode ekonometrika terpenuhi atau tidak pada kasus-kasus tertentu. Kriteria ekonometrika membantu dalam menetapkan apakah estimasi yang diinginkan memiliki persyaratan
unbiasedness, consistency dan efficiency. Di samping itu pula, dilakukan pengujian asumsi OLS antara lain multicollinearity, autocorrelation dan
heteroscedastisity.
Jika evaluasi model berdasarkan ketiga kriteria di atas dianggap sudah cukup baik maka dapat dilakukan analisis hasil pendugaan model berdasarkan :
1. Nilai statistik uji-t dengan taraf nyata α = 1 persen, α = 5 persen, α = 10 persen dan α = 25 persen, untuk mengetahui pengaruh masing-masing peubah penjelas terhadap peubah endogen.
2. Nilai elastisitas untuk mengetahui persentase perubahan peubah endogen jika terjadi perubahan dalam peubah eksogen sebesar satu persen.
3.7. Konsep dan Definisi Operasional
1. Rumahtangga adalah unit ekonomi yang mempunyai sejumlah tujuan sama yang ingin dipenuhi dengan memanfaatkan sejumlah sumberdaya yang tersedia. Rumahtangga secara umum berarti seseorang atau sekelompok orang yang mendiami seluruh atau sebagian bangunan fisik dan biasanya makan bersama dari satu dapur.
2. Industri Kecil Kerupuk adalah industri yang menggunakan tenaga kerja 1 – 9 orang termasuk pengusaha yang mengolah bahan baku berupa tepung tapioka (singkong) dan bahan baku pendukung lainnya menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi yang dinamakan kerupuk.
3. Pengusaha adalah kepala rumahtangga atau orang yang memiliki usaha kerupuk dan memperkerjakan tenaga kerja untuk menjalankan usahanya. Dalam usaha kecil kerupuk sebagian besar pengusaha terlibat dalam aktifitas produksi.
4. Pekerja adalah orang yang bekerja pada usaha kecil kerupuk dan mendapatkan upah (upah borongan).
5. Angkatan kerja rumahtangga adalah jumlah anggota rumahtangga yang termasuk dalam usia kerja di atas 15 tahun dalam satuan orang.
54
6. Curahan kerja adalah jumlah jam kerja riil yang dicurahkan untuk kegiatan mencari nafkah oleh anggota rumahtangga yang termasuk dalam angkatan kerja, baik yang bekerja dalam usaha maupun di luar usaha dalam satuan jam per tahun.
7. Penggunaan tenaga kerja luar rumahtangga di dalam usaha adalah jumlah tenaga kerja luar rumahtangga yang dicurahkan di dalam usaha usaha kecil kerupuk yang dihitung menurut curahan kerja riil yang dialokasikan dalam satuan jam per tahun.
8. Produksi adalah keseluruhan produksi kerupuk yang dihasilkan oleh rumahtangga selama setahun.
9. Biaya produksi adalah total biaya yang dikeluarkan oleh rumahtangga untuk menghasilkan kerupuk, yang meliputi biaya bahan baku, biaya upah, biaya bahan bakar produksi dan biaya lain-lain dalam satuan rupiah per tahun.
10. Bahan baku meliputi penggunaan tepung tapioka, gandum, kedelai, ketumbar, garam, pemanis, pewarna, bawang putih dan penyedap rasa yang digunakan