• Tidak ada hasil yang ditemukan

Spontanitas baik juga merupakan kriteria yang penting karena hal-hal yang tidak terduga dapat terjadi di sepanjang

Syair 3 : Puan Suasa Kaleuh lon Peusan, Jadeh Malamnya Neubi

C. Penciptaan Teks Syair Seudati Aceh Menurut Perspektif Hermeneutika

6. Spontanitas baik juga merupakan kriteria yang penting karena hal-hal yang tidak terduga dapat terjadi di sepanjang

pertunjukkan Seudati.172

Kriteria di atas memang tidak menjadi syarat mutlak yang tertulis, namun secara alami seorang Aneuk Syahi (anak penggiring) dengan sendirinya dituntut untuk memiliki kemampuan lebih agar dapat mengimbangi kemampuan seorang Syekh Dan Apeet (wakil)

172 Khairil Faza, Tradisi Tari Seudati,. 65.

yang memimpin tim Seudatinya. Kemampuan mereka teruji ketika mereka tampil dalam Seudati Tunang dan Seudati semalam suntuk.

Wawasan dan spontanitas mutlak diperlukan agar syahi tidak kehabisan ide dan kisah dalam mengiringi gerak seperti halnya spontanitas Syekh memunculkan ragam gerak baru sejauh nada dan ketukan dapat disesuaikan.173

Essi Hermaliza dalam bukunya Seudati Aceh, Menurut T.

Alamsyah yang sudah menjadi aneuk syahi sejak tahun 1957, ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang aneuk syahi, di antaranya memiliki kualitas suara, syair, nafas dan alunan suara yang baik. Alunan suara seorang aneuk syahi akan berbeda dengan seorang syekh dan kualitas nafas seorang aneuk syahi akan menentukan kecepatan tim tari dalam bermain. Semakin cepat tim dapat bermain, peniilaian pun akan semakin tinggi jika dalam kecepatan penuh tim mampu bermain rapi dan kompak. Kemampuan syair, dalam hal ini menciptakan syair secara spontan juga sangat dibutuhkan. Dalam Seudati Tunang, aneuk syahi harus mampu mengikuti syair yang telah dibawakan syekh pada babakan saman dan kisah.174

Adapun posisi dalam Aneuk Syahi dalam tarian Seudati sebagai berikut :

173 Khairil Faza, Tradisi Tari Seudati,. 66.

174 Essi Hermaliza, 2014. “Seudati Aceh., 44.

Gambar : gambar posisi berdiri para pemain Seudati.

Dalam sesi likok dipertunjukkan keseragaman gerak, kelincahan bermain dan ketangkasan yang sesuai dengan lantunan lagu yang dinyanyikan aneuk syahi . Lantunan likok tersebut diawali dengan:

Iiiiii lallah allah ya ilallah…. (dengan beat lambat dan cepat)

Seluruh penari utama akan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan dengan beat cepat atau lambat tergantung dari tempo lantunan yang dibawakan oleh aneuk syahi. Sasi selanjutanya adalah saman . Dalam sesi ini beragam syair dan pantun saling disampaikan dan terdengar bersahutan antara aneuk syahi dan syeikh yang diikuti oleh semua penari. Jika syeikh mengucapkan: walahuet ka sineut apet ee kataheeee….hai syam.Anek Syahi akan menjawab: lom kameuhijoe-hijoe naleung samboe leubehh lom hijo naleung beulanda.

Dalam seudati juga ada unsur humor atau lawak. Muatan syair dalam tari seudati mampu membangkitkan semangat. Oleh karenanya seudati sempat mendapat perhatian khusus pada masa Pemerintahan kolonial Belanda, karena dianggap dapat

„memprovokasi‟ untuk memberontak.Busana yang digunakan dalam

tari seudati terdiri dari celana panjang dan baju lengan panjang.

biasanya pakaian yang dikenakan berwarna hitam dan atau putih.

Mereka juga mengenakan kain (sarung) yang dililitkan di pinggang sebatas paha, memakai ikat kepala, dan biasanya membawa rencong serta sapu tangan. 175

Serambi mekah julukan untuk provinsi aceh tak datang begitu saja, sejak tahun 800 M Aceh lah yang menjadi pintu masuk penyebaran Islam pertama tepatnya di kawasan Peurelak. Dari aceh pula Islam sangat cepat menyebar kepenjuru negeri Muballigh Aceh menyebarkan Islam sampai ke tanah Jawa diantaranya adalah Maulana Malik Ibrahim satu dari sunan bergelar Wali Songo. Ulama pertama yang datang ke Aceh adalah Syeich Addiba‟I Bin Jakfar Assadiq abad ke dua Hijriah, anak dari Imam Jakfar Imam Syi‟ah yang ke VI. Awal aliran datang ke Aceh adalah aliran Syi‟ah, kemudian Syi‟ah di Aceh tidak berkembang sebagai ajaran dengan menguatnya Sunni di Aceh aliran Syi‟ah telah sirna, akan tetapi budayanya yang masih di praktekkan seperti : Kenduri Sepuluh Muharram, Bulan Hasan Husen.176

Menurut Syieh Dhan Jeumpa “Pada dasarnya Seudati berasal dari ulama sufi, sebelum berkembang Islam di Aceh para Ulama Sufi merangkul pemuda-pemuda Aceh untuk membuat suatu tarian, yang pertama Seudati duduk Melingkar kemudian menyebarnya Islam di bumi Aceh baru Seudati ditampilkan berdiri”.

175 Zaharah, Skripsi :Fungsi dan makna Syair Tari Seudati pada Masyarakat Aceh Tamieng, 34.

176 CNN Indonesia, “Sepanggal kisah tari Seudati-Inside Indonesia” ( Video Youtube di publish Tanggal 9 Agustus 2017)

Pada prosesnya penyebaran agama Islam di Aceh juga menggunakan Seudati, inilah tarian pembakar Semangat ketika Belanda bercokol di Aceh, tarian ini dilarang karena bisa memicu gairah untuk melawan pasukan Kolonial. Berasal dari bahasa Arab Syahadatain yang berarti pengakuan Seudati adalah media untuk penyampaian pesan.

Menurut Adli Abdullah “Seudati adalah media Dakwah kemudian perang Aceh tahun 1873, syair Seudati dimanfaatkan sebagai syair Prang Sabi untuk membangkit semangat rakyat melawan Belanda, tahun 1901 belanda menguasai Aceh, tarian Seudati dipakai untuk Menyampaikan pesan-pesan Belanda.”177

Para penari Seudati tidak hanya menciptakan Instrumen pengiring mereka menciptakan music lewat ketipan jari, hentakan kaki dan tepukan perut satu orang yang disebut Syeih menjadi pemimpin ditengah tujuh penari. Syair syair Seudati atau dikenal Aneuk Syahi menjadi satu satunya nada yang bisa dinikmati sebagaimana yang di ungkapkan oleh Abu Bakar Ar sebagai (Aneuk Syahie) “ peran Aneuk Syahie sangat penting dalam tarian Seudati, kalau Aneuk Syahie ini tidak kreatif dan tidak bisa melantunkan syair dengan benar maka Seudati ini tidak hidup Karena kunci Seudati ada di Aneuk Syahie, dan Aneuk Syahie harus bisa menciptkan Syair Syair Hikayat Aceh dan melantunkan kisah secara spontan sesuai dengan kondisi Seudati yang mau ditampilkan ”.178

177 Wawancara dengan Sejarawan asal Bireun dalam Video Youtube channel CNN Indonesia Y di publish Tanggal 9 Agustus 2017

178 CNN Indonesia, “Sepanggal kisah tari Seudati-Inside Indonesia”

Bagian penting dari seudati adalah syair, konon syair inilah yang menjadi andalan ulama terdahulu untuk menyebarkan akidah Islam. Butuh kejelian dan kreatifitas penyanyi untuk menyuguhkan kejenakaan yang berisi sindiran. Bagi mereka para penari seudati tidak ada satu ketipan jari pun tidak bertenaga, tidak ada satu syairpun yang tidak berwarna.

Tarian seudati dibagi kedalam empat jenis yaitu : 1. Seudati Tunang

Seudati Tunang adalah seudati yang diperlombakan, biasanya seudati tunang tampil beberapa grup seudati dalam satu pentas.

Antusias masyarakat pada pertunjukan Seudati adalah ketika satu grup Seudati saling melemparkan sindiran-sindiran yang berbaur humor terhadap grup yang lainnya. Keadaan ini biasanya hanya ditemukan pada pertunjukkan Seudati tunang. Seudati tunang sejatinya adalah sebenar-benarnya pertunjukkan Seudati karena durasi penampilan jauh lebih panjang ketimbang Seudati festival sehingga penari bebas mengekpresikan kemampuan seninya. Memberi salam dan menjawab salam juga hanya ada di Seudati tunang sedangkan pada Seudati festival hanya salam saja. Keadaan saling memberi dan menerima ini merupakan hal yang menarik pada sebuah pertunjukkan Seudati.

Bila pementasan bersifat pertandingan, maka setelah kelompok pertama ini menyelesaikan babak pertama, akan dilanjutkan oleh kelompok kedua dengan teknik yang berbeda. Syairnya yang dibacakan dalam tarian Seudati juga berbeda, dalam penyampaian syair kisah

biasanya seudati tunang lebih menceritakan tentang keunggulan yang ada pada daerahnya masing masing dan menceritakan kelebihan - kelebihan dari grup seudatinya masing- masing. Sering kali Seudati dipertandingkan antara dua rombongan, untuk pada akhirnya oleh para juri memberi penilaian mana yang dianggap sebagai pemenang. Setelah di tinjau darisegi keindahan, kelincahan serta keahlian rombongan masing-masing, baik mengenai bentuk tarian (likok), melodi (saman), kisah (nyanyi), irama tari (lenggak-lenggok), lompatan indah, gerakan lincah) dan lain sebagainya.

Sebuah pertunjukkan Seudati tunang biasanya diadakan selama 3 malam berturut-turut dan mempertemukan tiga grup Seudati dengan sistem saling jumpa dan masyarakat senantiasa menunggu laga ketiga tim meskipun pelaksanaannya bisa berlangsung selama tigamalam.

Keberadaan pertunjukkan Seudati tunang berlangsung antara tahun 1967-1972, kemudian hilang secara perlahan. Abu Bakar mengatakan bahwa meredupnya Seudati tunang disebabkan adanya pembatasan waktu pertunjukan tari Seudati tersebut. Bila dulu sebuah pertunjukan menghabiskan waktu selama tiga malam, kini hanya tersedia waktu satu malam saja sehingga pertunjukan terkesan dipotong-potong dan ini membuat kurangnya antusias penonton.179

Alasan lain yang menjadi kenapa Seudati kurang peminat adalah sempat dilarangnya penyelenggaraan tarian Seudati pada malam hari. “Pertunjukan Seudati pada malam hari dianggap bertentangan

179 Hasil wawancara penenliti dengan Bapak. Abu Bakar AR (Aneuk Syahi / ketua MAA) , pada tanggal 30 Desember 2018

dengan hukum syariat yang berlaku di Aceh. Karena di Aceh waktu malam bukan untuk menonton pentas kesenian melainkan waktu untuk belajar ilmu agama Islam” Hal ini seperti yang disampaikan Tgk.

Zulkifli Daiyan

“Akan tetapi kemudian oleh karena kesenian tersebut sangat digemari oleh rakyat, maka diadakan juga pada waktu-waktu yang lain, bahkan dikampung-kampung. Akhirnya fungsi berubah menjadi hiburan rakyat dan dipertandingkan dengan pemungutan bayaran.

Mula-mula tidak semalam suntuk, akan tetapi waktu pertandingan terjadi berbalas kisah, karena masing-masing tidak mau kalah, maka akhirnya sampai pagi hari, mataharilah yang memisahkan kedua belah pihak, akibatnya semua orang yang menikmati hiburan tersebut terpaksa tidak tidur semalam suntuk dan tidak sempat mencari rizki untuk belanja rumah tangga. Di samping itu juga, lama-kelamaan timbul efek samping lainnya, yaitu terjadi perzinaan dan pencurian dikampung-kampung yang bersangkutan dan yang berdekatan, oleh karena itulah ulama Aceh membencinya, malah ada sebagian mengharamkannya, namun haramnya itu bukan haram zaty, artinya bukan haram seudati atau keseniannya, melainkan haram karena akibat sampingan yang merusak masyarakat, kalau hal ini dapat dihindarkan tidak masalah.”180

180 Wawancara peneliti dengan tokoh Agama Tgk Zulkifli Daiyan pada tanggal 03 Januari 2019.