• Tidak ada hasil yang ditemukan

Spriritualisasi Demokrasi dalam Konteks Modern

Spiritualisasi Demokrasi

B. Spriritualisasi Demokrasi dalam Konteks Modern

Dalam hal aplikasinya, demokrasi dan teodemokrasi merupa-kan dua buah sistem politik yang belum teruji secara seimbang. Oleh karena itu, kita tidak bisa memilih satu lebih baik dari yang lain. Bu-kankah sistem teodemokrasi itu, praktis hanya dijalankan oleh umat Islam di masa al-khulafâ` ar-Râsyidûn kurang dari setengah abad saja (sejak 1 H hingga berdirinya Bani Umayyah pada tahun 41 H) dan setelah itu –meminjam istilah Nur Cholish Madjid—sistem politik Is-lam dibajak oleh sistem kerajaan (monarchi)? Sedangkan demokrasi telah secara jatuh bangun diuji coba sejak abad ke-17 hingga sekarang abad ke-21. Oleh karena itu, wajar apabila demokrasi pada saat ini bisa tampil secara lebih canggih dan meyakinkan, karena proses-proses di-namisasi dan perbaikan selama tiga abad lebih yang telah dijalaninya. Seandainya, teodemokrasi dapat diujicoba sehingga menjalani proses sedemikian rupa, tentu dia bisa tampil paling tidak seimbang dengan sistem demokrasi sekarang.

Disamping itu, yang lebih pokok lagi adalah lemahnya kekuat-an riil politik umat Islam. Sudah menjadi pengetahukekuat-an umum bahwa kekuatan politik tidak bisa dipisahkan dari kekuatan ekonomi dan peradaban secara umum. Oleh karena itu, begitu peradaban Islam hancur dengan ditandai oleh jatuhnya Bagdad ke tangan tentara Mon-gol (1258), maka habislah sudah supremasi peradaban Islam. Dengan demikian tamat sudah riwayat kejayaan politik Islam, yang memang sudah sejak wafatnya Ali b. Abi Talib (41 H/ 661M) mengalami pem-bajakan yang serius.58 Begitu lemahnya kekuatan politik umat Islam saat ini amat menyulitkannya untuk membuatnya bangkit kembali. Se-mentara umat Islam bergerak untuk mengejar ketertinggalannya, pada saat yang sama peradaban Barat melaju dengan semakin cepat sambil di sana sini mengebiri kekuatan umat Islam. Bahkan jauh-jauh hari sebelum Islam bangkit, sudah ada warning dari Huntington bahwa

Is-58 Nur Cholis Madjid, “Islam dan Politik: Suatu Tinjauan atas Prinsip-prinsip Hu-kum dan Keadilan,” dalam Journal PARAMADINA, vol I, no. I, Juli-Desember 1998, 49

lamlah ancaman bagi Barat. Maka Barat semakin curiga pada umat Islam, dan umat Islam semakin minder dengan ketertinggalannya.

Oleh karena faktor-faktor ketidakmampuan itulah, maka umat Islam dengan sadar melepaskan keinginannya untuk mewujudkan sis-tem politik ideal dan cukup berpuas diri dengan demokrasi. Dan ke-betulan, demokrasi tidak bertentangan secara total dengan apa yang dikehendaki Islam. Prinsip-prinsip politik yang ditawarkan oleh Islam ternyata dapat diwujudkan oleh demokrasi. Itulah makanya, pada be-berapa negara, Islam dan muslim bisa bersahabat dengan demokrasi bahkan mendukung demokrasi liberal seperti dibuktikan oleh Robert A. Dowd.59

Namun, dapatlah dikatakan bahwa antara demokrasi dan sistem politik yang dikehendaki oleh Islam sesungguhnya tidak bisa dianggap relevan secara total. Ada unsur-unsur dasar yang tidak bisa didamai-kan, yakni; Pertama, demokrasi menjadikan rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, sedangkan Islam menjadikan wahyu Tuhan seba-gai pemegang kekuasaan tertinggi. Rakyat harus tunduk pada keten-tuan wahyu. Kedua, demokrasi mendasarkan jalannya kekuasaan pada hukum ciptaan manusia, sedangkan Islam mendasarkan pada hukum wahyu. Akal manusia hanya boleh menciptakan hukum dengan ber-pijak pada wahyu dan tidak boleh menentangnya. Ketiga, demokrasi selalu menjadikan suara mayoritas sebagai pemutus dalam musyawa-rah, teodemokrasi menjadikan wahyu sebagai pemutus. Keempat, de-mokrasi selalu menjunjung tinggi kebebasan setiap warga negara, se-dangkan teodemokrasi menjunjung tinggi kebebasan tetapi kebebasan yang tidak melanggar wahyu. Kelima, demokrasi memberikan tugas kepada pemimpin terpilih untuk memakmurkan rakyatnya selama di dunia dan tidak ada urusan dengan akherat. Sedangkan teodemokrasi memberikan tugas kepada penguasa untuk memakmurkan rakyatnya baik di dunia maupun di akherat. Keenam, demokrasi mewajibkan pe-nguasa untuk bertanggung jawab pada rakyat, sedangkan teodemo-krasi mewajibkan penguasa untuk bertanggung jawab pada Tuhan,

59 Robert A. Dowd, Christianity, Islam, and Liberal Democracy (New York: Oxford University Pres, 2015), 1-19.

meskipun secara teknis ketika di dunia ia harus bertanggung jawab pada rakyat juga.

Disamping terdapat unsur-unsur yang berbeda, antara demo-krasi dan sistem politik yang dikehendaki oleh Islam, terdapat un-sur-unsur yang relevan. Unun-sur-unsur itu diantaranya: dijunjungting-ginya hukum walaupun standar hukumnya berbeda, adanya pemilu yang bebas walaupun kebebasan dalam teodemokrasi (sistem politik Islam) adalah kebebasan dalam batasan wahyu, prinsip transparansi diiringi partisipasi-kontrol yang maksimal dari rakyat, dan adanya ja-minan untuk dilindunginya HAM.

Walaupun demokrasi bukan bentuk pemerintahan yang ideal menurut Islam, namun terdapat jiwa ajaran Islam yang telah diadopsi oleh demokrasi seperti prinsip syura, penegakan hukum, dan ketaatan pada etika. Ketiganya merupakan jiwa syariat yang statis, sementara demokrasi merupakan bentuk kontemporer dari jiwa yang statis itu. Bentuk itu sudah semestinya dinamis sesuai dengan kebutuhan za-man. Dengan demikian, hubungan Islam dan demokrasi merupakan hubungan yang unik. Hubungan itu ibarat hubungan antara jiwa dan bentuk badan. Jiwa haruslah statis, sementara bentuk badan boleh di-namis.

Mengaplikasikan teodemokrasi dalam konteks modern ma-sih menjadi problem yang rumit. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, teodemokrasi merupakan sebuah konsep politik yang digali secara deduktif dari al-Qur’an. Aplikasi di lapangan atas konsep itu belum teruji secara cukup sehingga belum dijumpai pola yang baku. Dengan demikian, teodemokrasi itu lebih tepat dianggap sebagai konsep etis dalam politik daripada konsep praktis dalam po-litik. Konsekuensinya adalah umat Islam bisa memilih konsep praktis politik bentuk apapun asal dilandasi oleh etika teodemokrasi. Kedua, ilmu politik berbeda dengan filsafat politik. Ilmu politik berbicara ten-tang apa yang terjadi sementara filsafat politik berbicara tenten-tang apa yang seharusnya. Ilmu politik dibangun dari riset-riset induktif yang empiris. Sementara filsafat politik dibangun dari riset deduktif yang idealistik. Berangkat dari perbedaan ini, maka menjadikan konsep

teodemokratis sebagai konsep ilmu politik tidaklah cukup. Bila kon-sep itu merujuk pada praktik politik al-khulafâ’ ar râsyidûn juga tidak cukup. Mengapa? Munawir Syadzali menjelaskan:

“Kajian tentang kehidupan bernegara umat Islam semasa

al-khu-lafâ’ al-râsyidûn, telah memperlihatkan beberapa realitas seperti

beri-kut: Dalam periode tersebut tidak terdapat satu pola baku dan seragam tentang cara pengangkatan khalifah atau kepala negara….Sementara itu, prosedur atau cara melakukan koreksi terhadap khalifah atau ke-pala negara secara damai belum terlembagakan. Tiga dari mereka mati terbunuh. …Gambaran indah tentang kehidupan politik pada masa

al-khulafâ’ ar-râsyidîn yang dilukiskan oleh sementara pemikir Islam,

ternyata tidak ditopang oleh fakfakta sejarah, terutama sejak ta-hun-tahun terakhir Khalifah Usman…Dengan realitas tersebut di atas kiranya tidak banyak hal yang dapat kita teladani dari periode itu….”60

“…perkembangan peradaban sudah sedemikian jauh sehingga umat Islam sekarang ini mampu mengatur kehidupan kenegaraannya dengan cara yang lebih sempurna daripada cara yang ditempuh oleh para pendahulu kita hampir empat belas abad yang lalu.”61

Atas dasar nalar yang menempatkan konsep teo-demokrasi se-bagai konsep etis dalam ranah filsafat politik bukan ilmu politik, maka pelaksanaan prinsip teo-demokrasi dalam dunia riil politik akan lebih mudah. Pelaksanaan prinsip teodemokrasi dalam dunia politik mo-dern yang riil merupakan bentuk dari spiritualisasi demokrasi. Prin-sip-prinsip teodemokrasi bisa dimasukkan dalam sistem politik apa-pun termasuk monarki dan demokrasi. Seorang, raja, presiden, per-dana menteri, harus dianggap menjalankan teo-demokrasi jika dalam dirinya terdapat nilai-nilai spiritual yang dijunjung tinggi. Nilai-nilai tersebut merupakan kristalisasi dari prinsip teodemokrasi yang dia-daptasikan dengan dunia politik yang riil. Terdapat tujuh buah nilai yang penting dalam teodemokrasi. Nilai-nilai tersebut adalah:

1. Keyakinan bahwa kekuasaan berasal dari Tuhan dan Tuhan akan memberikannya pada orang yang beriman dan beramal salih.

60 Munawir Sjadzali, Islam dan Tatanegara…, 233-4.

2. Keyakinan bahwa kekuasaan dari Tuhan itu belum memiliki ke-kuatan formal kecuali bila sudah mendapatkan dukungan dari rakyat dalam bentuk bai`at.

3. Pemahaman bahwa kekuasaan yang sudah mendapatkan keku-atan formal harus dijalankan dengan berpedoman pada hukum Allah (al-Qur`an dan Hadis).

4. Keyakinan bahwa berdasarkan hukum Allah, penguasa bertugas memakmurkan rakyatnya baik di dunia ini maupun di akherat ke-lak.

5. Keyakinan bahwa cara mencapai dua macam kemakmuran itu adalah dengan menjalankan kekuasaannya berdasarkan hu-kum-hukum Allah (al-Qur`an dan Hadis) secara arif dan bijaksa-na.

6. Keyakinan bahwa secara garis besar hukum-hukum Allah itu mengharuskan para pemegang kekuasaan untuk menjunjung tinggi asas amanah, asas keadilan (keselarasan), asas musyawarah dengan referensi al-Qur`an dan Sunnah.

7. Keyakinan bahwa para rakyat diwajibkan mentaati penguasanya selama penguasa memegang prinsip-prinsip tersebut.

Pelaksanaan tujuh buah prinsip itu dalam konteks negara mo-dern merupakan bentuk pelaksanaan spiritualisasi demokrasi. Mela-lui Pancasila, Indonesia telah menjalankan spiritualisasi demokrasi. Tujuh buah prinsip itu secara substansial tidak bertentangan dengan Pancasila. Penyesuaian-penyesuaian teknis masih perlu dibutuhkan agar teodemokrasi bisa berjalan dalam koridor demokrasi Pancasila.