• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab I. Pendahuluan

A. Keadilan Sosial dalam Tradisi Barat

4. St. Thomas Aquinas

Dalam teori keadilan, Aquinas mengatakan bahwa keadilan adalah prinsip persamaan yang diberlakukan pada tindakan manusia 69 City of God, XIX, 21-24.

luaran.71 Cakupan keadilan adalah “untuk mengatur manusia dalam relasi mereka dengan yang lain.” Maka, umumnya, “keadilan adalah kebiasan yang dengannya manusia memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya dengan keinginan yang konstan dan abadi.”72

Terdapat beberapa karakteristik tentang keadilan dalam pemikiran Aquinas:

1. Keadilan datang dari keutamaan moral dan spiritual. Sebagai kebajikan moral, keadilan itu datang dari niat yang dapat menjejaki selera sensitif dengan kontrol rasional dan melatih nafsu pada sikap spiritual bagi kepuasan penuh manusia.73

2. Keadilan adalah kebajikan yang berdiri di atas kebajikan lainnya, karena ia menitikberatkan pada kebaikan bersama, dan ia diarahkan menuju kebaikan orang.74

71 Aquinas, St. Thomas, The Summa Theologica [setelah ini Summa

Theologica saja], trans. by Fathers of the English Dominican Province, rev.

by Daniel J. Sullivan, London: Encyclopaedia Britannica, Inc., 1952, II-II, 57, 2, c.

72 Summa Theologica, II-II, 58, 5, c dan 1.

73 Summa Theologica, II-II, 58, 12 dan 4.

3. Untuk menegakkan keadilan membutuhkan hukum.75 Walaupun demikian, hak-hak individual harus diperhatikan oleh hukum.76

Untuk dijelaskan secara holistik, ilham keadilan itu datang dari hukum abadi (eternal law),77 melalui hukum alam (natural law)78

dan hukum Tuhan (divine law).79 Ia dapat didirikan sebagai hukum manusia.80

75 Prinsip aktivitas manusia luaran adalah hukum, yang definisinya adalah: “hukum itu tidak lain kecuali aturan akal untuk kebaikan bersama yang dibuat oleh otoritas yang mempunyai perhatian pada komunitas, dan dipublikasikan.” Summa Theologica, II-II, 57-81; Summa Theologica, II-II, q. 17, a. 4.

76 Summa Theologica, I-II, 96, 1.

77 Hukum Abadi adalah akal Tuhan yang menata dan mengatur seluruh ciptaan. Ia merupakan rencana abadi kebijakan Tuhan atau “rencana pemerintahan dalam Kepala Pemerintahan” di mana “seluruh rencana pemerintah dalam pemerintah yang lebih bawah harus ikut.” “Semua hukum, selama ia mengikuti akal yang benar, berasal dari hukum abadi.” Hukum ini disebut abadi karena “konsepsi akal Tuhan tentang segala sesuatu itu tidak tunduk pada waktu”. Summa Theologica, I-II, 96, 3.

78 Hukum Alam adalah bagian dari hukum abadi yang dapat dipahami oleh akal manusia. Summa Theologica, I-II, 94, 2.

79 Hukum Tuhan merupakan bagian dari hukum abadi yang diwahyukan oleh Tuhan bagi manusia melalui Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Summa Theologica, I-II, 91, 4.

80 Hukum Manusia atau Hukum Positif adalah aplikasi detail dari hukum alam ke dalam situasi tertentu. Summa Theologica, II, 91, 3; II, 95, 2; I-II, 95, 3.

Pada umumnya, demikian Aquinas, keadilan adalah kebajikan dengan memberikan setiap orang haknya dan membuat keseimbangan antara hak dan kewajiban. Keadilan terbagi kepada dua kategori: keadilan umum dan keadilan khusus. Keadilan umum atau keadilan legal itu dialamatkan pada Negara untuk mengatur kebaikan bersama (common

good) dari masyarakat secara keseluruhan dan keadilan khusus

itu dialamatkan pada individu untuk melindungi individu atau asosiasi dari hak-hak individual.81

Keadilan khusus itu dibagi ke dalam dua: keadilan komutatif dan keadilan distributif. Keadilan komutatif (justitia

commutativa) merupakan kegiatan pertukaran memberi dan

menerima dalam situasi yang fair antara orang-orang. Keadilan distributif (justitia distributiva) merupakan pembagian yang fair tentang apa yang dapat dibagi dari milik masyarakat. Kedua jenis keadilan melayani kepentingan individu dan didapat dari niatan individu pula.82

Berikut adalah perbedaan antara keadilan komutatif dan distributif dalam pemikiran Aquinas:

No Perihal Keadilan Keadilan Sumber

81 Summa Theologica, II-II, 58, 5-7, ad. 2; I-II, 55, 4, ad 4.

. Komutatif Distributif

1. Hubungan Egalitarian Aristokratik ST, II-II, 61,

2, 3

2. Standard Legal Jasa (Merit) ST, II-II, 61,

2, 3

3. Sifat Fixed Flexible ST, II-II, 63,

1, 3, 4, ad 1

Sekarang, mari kita lihat pendapat Aquinas tentang keadilan sosial. Selain pada keadilan umum, yaitu dalam bentuk kesejahteraan umum, keadilan sosial dapat juga diambil dari keadilan khusus, yaitu keadilan distributf. Keadilan distributif dialamatkan pada orang-orang, sebagai warganegara pribadi dalam mengurus kelompok mereka atau sebagai pegawai negeri dalam membagi keuntungan yang datang dari masyarakat. Yang menjadi subjek dalam keadilan sosial adalah niatan pribadi (personal will), objeknya adalah hak pribadi (personal right), dan bukan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, yang merupakan objek keadilan umum.83

Berbicara tentang keadilan sosial membawa kita pada pembicaraan tentang hak-hak asasi manusia. Menurut Aquinas, terdapat hak-hak manusia dalam keadilan sosial:

1. Hak-hak dasar manusia. Walaupun keadilan sejati akan dibalas ganjaran oleh Tuhan, terdapat hak-hak duniawi yang bersifat 83 Summa Theologica, II-II, 58, 7.

individual yang harus dihormati, dan bahwa Negara jangan melanggarnya, karena validitas hak itu datang dari martabat karena menjadi manusia. Hak-hak itu adalah: (a) hak untuk menjaga kehidupannya, (b) hak untuk menikah dan membesarkan anak, (c) hak untuk mengembangkan inteleknya, (d) hak untuk diperintah, (e) hak pada kebenaran, (f) hak untuk hidup di masyarakat.84

2. Hak untuk memilih pemimpin.85 Namun, jika Sang Daulat menyalahgunakan kuasanya untuk kepentingan dirinya sendiri, ia menjadi tiran yang secara sah dapat dimakzulkan, terutama oleh orang-orang yang mempunyai hak untuk memilih raja.86

84 Summa Theologica, I-II, 96, 1; II-II, 58, 2; I-II, 94, 2.

85 Menurut Aquinas, sejauh penguasa menggunakan kuasanya dalam cahaya akal, maka ia akan jadi kebaikan bagi rakyat secara keseluruhan.

Summa Theologica, I, 25, 3-5.

86 Aquinas, St. Thomas, On Princely Government [setelah ini On Princely

Government saja], (Book One), in D’Entrèves, A. P. (ed.), Aquinas: Selected Political Writings, trans. J. G. Dawson, Oxford: Basil Blackwell,

1974, VI, 49-52. Dalam memandang hak ini, dan kewajiban penguasa untuk mewakili rakyatnya, adalah tampak bahwa Aquinas mengadopsi teori kedaulatan rakyat (popular sovereignty), yaitu, bahwa kekuasaan itu diberikan oleh Tuhan pada rakyat secara keseluruhan, yang, pada gilirannya, mendelegasikannya pada raja. Namun, Aquinas juga menegaskan bahwa hak untuk memilih pemimpin dapat dicabut dari rakyat, jika mereka mengotorinya dengan tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab.

3. Hak untuk membuat tatanan (hukum).87 Di sini, pemerintah “tidak mempunyai kuasa untuk mengkerangkakan hukum kecuali sebagai yang mewakili rakyat.”88

4. Persamaan di depan hukum, termasuk raja.89

Keadilan sosial adalah kebajikan yang dialamatkan terutama untuk menangani ketimpangan. Menurut Aquinas, pada awalnya kita harus percaya pada takdir Tuhan90 bahwa ketimpangan alamiah seperti perbedaan dalam struktur tubuh, kecantikan, dan nasib itu selalu ada. Bahkan untuk hal-hal yang diraih oleh upaya manusia seperti kapasitas spiritual untuk keadilan, pengetahuan, dalam tindakan-tindakan dan niatan-niatan terdapat juga perbedaan-perbedaan.91

87 Menurut Aquinas, “Untuk menata apa saja untuk kebaikan bersama (yang merupakan fungsi sejati dari otoritas politik) dimiliki oleh

keseluruhan rakyat, atau orang yang mewakili rakyat keseluruhan.” Summa

Theologica, I-II, 90, 5.

88 Summa Theologica, I-II, 97, 3.

89 Summa Theologica, I-II, 96, 5.

90 Aquinas, St. Thomas, Summa Contra Gentiles [setelah ini Contra

Gentiles saja], in Anton C. Pegis (ed.), Basic Writings of Saint Thomas Aquinas, New York: Random House, 1945, III, 93.

91 Aquinas menegaskan bahwa “betapapun, ini tidak akan membentuk kecacatan atau kelemahan pada orang-orang yang kurang beruntung, baik dalam tubuh dan jiwanya.” Summa Theologica, I, 96, 3.

Ketimpangan dalam pemilikan, di sisi lain, berasal dari persetujuan manusia. Karena alasan bahwa benda-benda material itu diciptakan untuk kebutuhan manusia, ketimpangan harus diselesaikan dengan karitas dari yang kaya kepada yang miskin. Dan jika ia tidak didistribusikan, orang miskin dapat mengambilnya untuk kelangsungan hidup mereka tanpa dianggap sebagai dosa. Di sinilah, kemudian, prinsipnya adalah bahwa kebangsawanan (nobility) seseorang itu tergantung pada manfaatnya pada orang lain.92

Selain karitas, hal yang harus dilakukan oleh masyarakat dalam masalah distribusi adalah keperluan penguasa untuk mendistribusikan ekonomi ketuhanan (divine

economics). Di sini, demikian Aquinas, harus ada delegasi

ketuhanan, yaitu, komando yang padanya para penguasa mengaplikasikan fungsi-fungsi yang perlu untuk menempatkan anggota-anggota individu dalam posisi-posisi yang sepatutnya dalam ekonomi ketuhanan.93 Raja-raja dunia, menurut Aquinas, itu dilembagakan oleh Tuhan, bukan untuk kepentingan mereka, tetapi untuk melayani kebaikan bersama.94 Di sini,

92 Summa Theologica, II-II, 66, 2, 1, dan 7; I, 96,.4.

93 Summa Theologica, I-II, 93, 3.

kemudian, Aquinas menyebut raja sebagai “penjaga apa yang adil” (custos justi) atau “personifikasi apa yang adil” (justum

animatum).95

Aquinas betul-betul tidak dibebani oleh masalah kelas sosial. Kelas, baginya, ada berdasarkan bakat alamiah. Adalah fakta bahwa sebagian orang itu lahir dengan kemampuan memimpin, sebagian lain mempunyai bakat untuk mengaplikasikan berbagai fungsi di bawah atasan yang mengawasi, dan sebagian hanya mempunyai kapasitas untuk mengikuti mereka.96

Perbedaan-perbedaan level, bagi Aquinas, merupakan refleksi dari kesempurnaan alam.97 Di sini, kemudian, keadilan menuntut orang yang di bawah untuk mentaati yang di atas. Walaupun demikian, berbagai kelas atau kemampuan harus diarahkan kepada kebaikan masyarakat.98

Dokumen terkait