BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Karsinoma Nasofaring
2.3.6 Stadium Tumor
Tabel 2.1 Klasifikasi stadium karsinoma nasofaring menurut American Joint Comittee on Cancer (AJCC) tahun 201027T : Tumor primer Tx : Tumor primer tidak dapat dinilai
T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer Tis : Karsinoma in situ
T1 : Tumor terbatas di nasofaring atau tumor meluas ke orofaring dan/kavum nasi tanpa perluasan ke parafaring
T2 : Tumor dengan perluasan ke daerah parafaring
T3 : Tumor melibatkan struktur tulang dasar tengkorak dan/atau sinus paranasal T4 : Tumor dengan perluasan ke intrakranial dan/atau terlibatnya saraf kranialis,
hipofaring, orbita, atau dengan perluasan ke fossa infratemporal/ruang mastikator
N : Pembesaran kelenjar getah bening (KGB) regional Nx : KGB regional tidak dapat dinilai
N0 : Tidak ada metastasis ke KGB regional
N1 : Metastasis kelenjar getah bening leher unilateral dengan diameter terbesar 6 cm atau kurang, di atas fossa supraklavikular, dan/atau unilateral atau bilateral kelenjar getah bening retrofaring dengan diameter terbesar 6 cm atau kurang N2 : Metastasis kelenjar getah bening bilateral dengan diameter terbesar 6 cm atau kurang, di atas fossa supraklavikular
N3 : Metastasis pada kelenjar getah bening diatas 6 cm dan/atau pada fossa supraklavikular
N3a : Diameter terbesar 6 cm
N3b : Meluas ke fossa supraklavikular M : Metastasis jauh
M0 : Tidak ada metastasis jauh M1 : Terdapat metastasis jauh
Stadium IVB : Semua T – N3 – M0 Stadium IVC : Semua T – semua N – M1
2.3.7 Penatalaksanaan 2.3.7.1 Radioterapi
Radioterapi merupakan pengobatan utama pada KNF. Radioterapi juga efektif terhadap terapi paliatif pada kasus yang sudah metastasis jauh. Radioterapi pada penderita KNF tanpa metastasis merupakan terapi kuratif utama yang dapat diberikan dalam dua tipe yaitu radioterapi eksternal dan brakhiterapi.6
Radioterapi mematikan sel dengan cara merusak DNA dan mengakibatkan destruksi sel tumor. Disamping itu radioterapi memiliki kemampuan untuk mempercepat proses apoptosis sel tumor. Ionisasi yang ditimbulkan oleh radiasi dapat mematikan sel tumor. Radioterapi memiliki kemampuan mengurangi rasa sakit dengan mengecilkan ukuran tumor sehingga mengurangi pendesakan di area sekitarnya. Disamping itu juga berguna sebagai terapi paliatif untuk pasien dengan perdarahan dari massa tumor.6
Dosis radiasi yang dibutuhkan untuk eradikasi tumor tergantung dari besarnya tumor. Untuk KNF yang masih dini (T1 dan T2) diberikan radiasi dengan dosis sebesar 1,8-20 Gy per fraksi, 5 kali seminggu tanpa istirahat selama sekitar 6–
7,5 minggu sampai mencapai dosis total 60-70 Gy. Sedangkan untuk KNF dengan ukuran tumor yang lebih besar (T3 dan T4) diberikan dosis total radiasi pada tumor primer di nasofaring yang lebih tinggi yaitu 70–75 Gy. Bila tidak didapatkan
metastasis di KGB leher (N0) maka diberikan radiasi profilaktik dengan dosis sekitar 40-50 Gy dalam empat atau empat setengah minggu, sedangkan bila ada pembesaran KGB di leher (metastasis regional) diberikan radiasi yang dosisnya sama dengan tumor primernya. Bila masih didapatkan residu tumor, diberikan radiasi tambahan (booster) dengan area diperkecil hanya pada tumornya saja sebesar 10-15 Gy sehingga mencapai dosis total sebesar 75-80 Gy. Selain radiasi eksterna, radiasi tambahan dapat diberikan dengan cara radiasi interna (brakhitherapi).10,13
Brakhiterapi adalah pemberian ion radiasi dosis tinggi terhadap jaringan dengan volume kecil. Pemberian brakhiterapi terhadap tumor primer KNF dapat dibagi berdasarkan beberapa indikasi. Indikasi tersebut adalah tumor persisten lokal setelah 4 bulan pemberian radioterapi primer sebagai terapi tambahan setelah radioterapi eksternal dan untuk tumor persisten regional dimana brakhiterapi diberikan pada penderita yang akan menjalani diseksi leher.6
Brakhiterapi dilakukan dengan menggunakan endotracheal tube. Pada awalnya brakhiterapi hanya diberikan pada tumor primer T1 atau T2 yang rekuren setalah pemberian radioterapi eksternal. Biasanya diberikan pada tumor yang hanya melibatkan nasofaring, para-nasofaring, dan atau fosa posterior nasal. Diberikan dosis 45–50 Gy kemudian diikuti dengan tambahan dosis 20 Gy.6
2.3.7.2 Kemoterapi
Kemoterapi biasanya digunakan pada kasus KNF yang rekuren atau yang telah mengalami metastasis. Mekanisme kerja kemoterapi adalah sebagai antimetabolit, mengganggu struktur dan fungsi DNA serta inhibitor mitosis.
Antimetabolit bekerja dengan menghambat biosintesis purin atau pirimidin, sehingga dapat mengubah struktur DNA dan menahan replikasi sel.6, 13
Obat kemoterapi dapat bekerja menghambat pembelahan sel pada semua siklus sel (Cell Cycle non Specific) baik dalam siklus pertumbuhan sel maupun dalam keadaan istirahat, yaitu cisplatin, doxorubicin, dan bleomycin. Disamping itu ada juga obat kemoterapi yang hanya bekerja menghambat pembelahan sel pada siklus pertumbuhan tertentu (Cell Cycle phase specific), yaitu metrotrexate dan 5-fluorouracil (5-FU).6, 13
Kemoterapi dapat diberikan secara bersamaan dengan radioterapi (kemoradioterapi) yang dimaksudkan untuk mempertinggi manfaat radioterapi.
Kemoradioterapi dapat mengontrol tumor secara lokoregional dan meningkatkan survival pasien dengan cara mengatasi sel kanker secara sistemik lewat mikrosirkulasi. Kemoradioterapi juga dapat mengontrol metatasis jauh dan mengontrol mikrometastasis. Dengan cara ini diharapkan dapat membunuh sel kanker yang sensitif terhadap kemoterapi dan mengubah sel kanker yang radioresisten menjadi lebih sensitif terhadap radiasi.6,13,22
2.3.8 Deteksi Dini
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, KNF disebabkan oleh multifaktor yaitu infeksi virus EB, pengaruh faktor lingkungan, ras (genetik), dan sebagainya.
Pencegahan KNF harus ditujukan untuk menghindarkan, mengurangi atau menghilangkan faktor-faktor tersebut. Salah satu hambatan utama dalam pencegahan
adalah belum diketahuinya dengan pasti bagaimana, dalam keadaan apa dan sejauh mana faktor-faktor tersebut berpengaruh dalam patogenesis KNF.10
Di Indonesia, beberapa faktor yang dapat diidentifikasi terutama berhubungan dengan faktor kebiasaan dan lingkungan terutama pada penduduk golongan sosial ekonomi rendah. Faktor-faktor tersebut misalnya makan ikan asin, pemakaian kecap, pemakaian kayu bakar, lampu minyak, dan asap obat nyamuk.
Faktor lingkungan yang buruk, baik di rumah maupun di tempat kerja dengan ventilasi yang kurang akan menambah besarnya faktor risiko.10
Untuk menghindari, mengurangi, atau menghilangkan faktor-faktor risiko tersebut perlu diadakan penyuluhan kepada masyarakat, baik oleh pemerintah maupun badan-badan swasta (LSM) yang bergerak dalam usaha penanggulangan kanker. Usaha yang tak kalah pentingnya yaitu upaya yang untuk meningkatkan status sosial ekonomi penduduk terutama penduduk pedesaan.10
Dengan ditemukan bukti-bukti yang kuat bahwa virus EB memegang peranan yang penting dalam patogenesis KNF maka saat ini telah mulai dilakukan berbagai penelitian untuk membuat vaksin terhadap virus EB. Apabila vaksin yang efektif telah ditemukan, maka vaksinasi dapat segera diberikan terutama pada golongan penduduk dengan risiko tinggi terkena KNF.10
Selain itu, mengingat letak nasofaring tidak mudah diperiksa, gejala dini sering tidak dikenali sehingga penderita kebanyakan datang pada stadium lanjut, perlu dilakukan skrining KNF untuk deteksi dini, sehingga dapat dilakukan penanganan lebih awal dan menurunkan tingkat mortalitas.17 Untuk mencapai tujuan ini perlu kerjasama dari berbagai sektor terkait seperti Dinas Kesehatan, Pemda,
LSM, Institusi Pendidikan Dokter/Perawat, IDI dan profesi (Perhati-KL, IAPI).
Selain itu dokter atau tenaga kesehatan pada lini pertama perlu meningkatkan pengetahuan mengenai KNF.10,11
Gambar 2.3 Algoritma Skrining Karsinoma Nasofaring23
BAB III
KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Gambar 3.1 Skema variabel dependen dan variabel independen
Keterangan:
= Variabel Dependen
= Variabel Independen Karsinoma
Nasofaring
Umur
Jenis Kelamin
Keluhan Utama
Faktor Resiko
Stadium
Klasifikasi Histopatologi
Terapi
3.2 Definisi Operasional Variabel 1. Umur
Definisi : Lamanya penderita hidup, sejak dilahirkan sampai sekarang yang dinyatakan dalam satuan tahun. Umur dalam penelitian ini adalah umur berdasarkan Depkes RI 2009 yang tercatat dalam rekam medis pasien.
Alat Ukur : Rekam medis
Cara Ukur : Pencatatan status pasien melalui rekam medis pasien.
Hasil Ukur : Berupa data kategorik yaitu:
1. 0 - 5 tahun 6. 36 – 45 tahun
2. 6 - 11 tahun 7. 46 – 55 tahun
3. 12 - 16 tahun 8. 56 – 65 tahun
4. 17 - 25 tahun 9. ≥ 65 tahun
5. 26 – 35 tahun 2. Jenis kelamin
Definisi : Perbedaan jenis kelamin dari pasien sesuai dengan yang tercatat dalam rekam medis.
Alat Ukur : Rekam medis
Cara Ukur : Pencatatan status pasien melalui rekam medis pasien.
Hasil Ukur : Berupa data kategorik yaitu:
1. Laki-laki
2. Perempuan
3. Keluhan Utama
Definisi : Keluhan yang dirasakan pasien, sehingga menjadi alasan pasien datang ke rumah sakit. Keluhan utama dalam penelitian ini adalah keluhan utama sesuai dengan yang tertera pada rekam medis.
Alat Ukur : Rekam medis
Cara Ukur : Pencatatan status pasien melalui rekam medis pasien.
Hasil Ukur : Berupa data kategorik yaitu:
1. Massa terlihat pada nasofaring 2. Limfadenopati leher
3. Gejala khas di hidung 4. Gejala khas di pendengaran
5. Sakit kepala unilateral atau bilateral 6. Gangguan neurologic saraf otak 7. Eksoftalmus
8. Dan lain lain 4. Faktor Risiko
Definisi : Faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan terjadinya suatu penyakit. Faktor risiko dalam penelitian ini
adalah faktor risiko yang sesuai dengan yang tertera pada rekam medis.
Alat Ukur : Rekam medis
Cara Ukur : Pencatatan status pasien melalui rekam medis pasien.
Hasil Ukur : Berupa data kategorik yaitu:
1. Jenis kelamin pria 2. Umur 30 – 50 tahun 3. Makanan yang diawetkan 4. Infeksi virus Epstein-Barr 5. Riwayat keluarga
6. Faktor gen HLA (Human Leokcyte Antigen) dan genetic 7. Merokok
8. Minum alkohol 9. Dan lain lain 5. Stadium
Definisi : Tingkatan tentang progresifitas sel-sel kanker pada tubuh dan lokasinya. Stadium dalam penelitian ini adalah stadium berdasarkan AJCC 2010 ketika pertama kali terdiagnosis menderita karsinoma nasofaring.
Alat Ukur : Rekam medis
Cara Ukur : Pencatatan status pasien melalui rekam medis pasien.
Hasil Ukur : Berupa data kategorik yaitu:
1. Stadium I 2. Stadium II 3. Stadium III 4. Stadium IV
4.1 Stadium IV A 4.2 Stadium IV B 4.3 Stadium IV C 6. Klasifikasi Histopatologi
Definisi : Klasifikasi karsinoma nasofaring berdasarkan histopaologi (ilmu yang mempelajari kondisi dan fungsi jaringan dalam hubungannya dengan penyakit). Jenis histopatologi pada penelitian ini berdasarkan pada WHO 2005 ketika pertama kali dilakukan pemeriksaan biopsi.
Alat Ukur : Rekam medis
Cara Ukur : Pencatatan status pasien melalui rekam medis pasien.
Hasil Ukur : Berupa data kategorik yaitu:
1. Squamous cell carcinoma 2. Nonkeratinizing carcinoma
2.1 Differentiated nonkeratinizing carcinoma 2.2 Undifferentiated carcinoma
3. Basaloid squamous carcinoma
7. Terapi
Definisi : Terapi yang diberikan kepada pasien untuk mengatasi atau mencegah komplikasi dari karsinoma nasofaring. Terapi dalam penelitian ini sesuai dengan yang tertera pada rekam medis.
Alat Ukur : Rekam medis
Cara Ukur : Pencatatan status pasien melalui rekam medis pasien.
Hasil Ukur : Berupa data kategorik yaitu:
1. Radioterapi 2. Kemoterapi 3. Kemoradiasi
BAB IV
METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan cara studi deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif dari rekam medis atau data sekunder penderita karsinoma nasofaring yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi, yaitu:
Kriteria inklusi : 1. Semua pasien yang datang dan terdiagnosis menderita karsinoma nasofaring dan menjalani rawat inap di Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin periode tahun 2012 – 2016.
2. Semua pasien yang data rekam medisnya lengkap sesuai variabel yang ingin diteliti.
Kriteria ekslusi : Semua pasien yang telah terdiagnosis menderita karsinoma nasofaring dan hanya menjalani rawat jalan.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, Kota Makassar.
4.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September hingga Oktober 2017.
4.3 Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1 Populasi Penelitian
Populasi pada penelitian ini adalah semua data pasien karsinoma nasofaring yang menjalani rawat inap periode tahun 2012 – 2016.
4.3.2 Sampel Penelitian
Sampel pada penelitian ini adalah semua data pasien karsinoma nasofaring yang menjalani rawat inap periode tahun 2012 – 2016.
4.4 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari pencatatan pada rekam medis pasien Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, Kota Makassar.
Rekam medis pasien dengan karsinoma nasofaring yang dipilih sebagai sampel, dikumpul dan dilakukan pencatatan tabulasi sesuai dengan variabel yang akan diteliti.
4.5 Pengolahan dan Penyajian Data 4.5.1 Pengolahan Data
Data yang dikumpulkan diolah dengan menggunakan komputer dan dianalisa secara statistik deskriptif dengan menggunakan Microsoft Excel.
4.5.2 Penyajian Data
Data yang telah diolah disajikan dalam bentuk tabel distribusi proporsi, diagram pie dan diagram batang yang disertai dengan penjelasan yang disusun dan dikelompokkan sesuai dengan tujuan penelitian.
4.6 Etika Penelitian
1. Menyertakan surat pengantar yang ditujukan kepada pihak Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin sebagai permohonan izin untuk melakukan penelitian.
2. Menjaga kerahasiaan identitas pribadi pasien yang terdapat pada data rekam medis, sehingga diharapkan tidak ada pihak yang merasa dirugikan atas penelitian yang dilakukan.
3. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak yang terkait sesuai dengan manfaat penelitian yang telah disebutkan sebelumnya.
BAB V
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di dua rumah sakit, yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, pada bulan September - Oktober 2017. Data yang didapatkan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo adalah sebanyak 67 kasus, sedangkan data yang didapatkan di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin adalah sebanyak 72 kasus. Data diperoleh dari data sekunder melalui rekam medik pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2016 dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin pada tahun 2014 – 2016 untuk mengetahui karakteristiknya berdasarkan variabel umur, jenis kelamin, keluhan utama, faktor risiko, stadium, klasifikasi histopatologi, dan terapi.
Adapun hasil penelitian, disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
5.1 Distribusi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Umur
Berdasarkan hasil penelitian tentang karakteristik pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2016 dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin pada tahun 2014 – 2016, diperoleh distribusi proporsi berdasarkan umur sebagai berikut:
Tabel 5.1 Distribusi Proporsi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Umur yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo (2016) dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (2014 – 2016)
Berdasarkan tabel 5.1, dapat diketahui bahwa dari 67 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo, proporsi tertinggi berdasarkan umur ada pada kelompok usia 36 – 45 tahun yaitu sebanyak 18 orang atau sebesar 26,87% dan proporsi terendah ada pada kelompok usia 0 – 5 tahun dan 12 – 16 tahun yaitu tidak ada kasus atau sebanyak
0,00%. Penderita karsinoma nasofaring termuda adalah umur 9 tahun dan yang tertua adalah umur 79 tahun.
Sedangkan dari 72 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, proporsi tertinggi berdasarkan umur ada pada kelompok usia 46 - 55 tahun yaitu sebanyak 20 orang atau sebesar 27, 78% dan proporsi terendah ada pada kelompok usia 0 – 5 tahun dan 6 – 11 tahun yaitu tidak ada kasus atau sebanyak 0,00%. Penderita karsinoma nasofaring termuda adalah umur 14 tahun dan yang tertua adalah umur 85 tahun.
5.2 Distribusi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil penelitian tentang karakteristik pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2016 dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin pada tahun 2014 – 2016, diperoleh distribusi proporsi berdasarkan jenis kelamin sebagai berikut:
Tabel 5.2 Distribusi Proporsi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Jenis Kelamin yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Wahidin Sudirohusodo (2016) dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (2014 – 2016)
Berdasarkan tabel 5.2, dapat diketahui bahwa dari 67 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo, proporsi tertinggi berdasarkan jenis kelamin adalah pasien laki - laki yaitu sebanyak 43 orang atau sebesar 64,18% sedangkan pasien perempuan sebanyak 24 orang atau sebesar 35,82%.
Sedangkan dari 72 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, proporsi tertinggi berdasarkan jenis kelamin adalah pasien laki - laki yaitu sebanyak 40 orang atau sebesar 55,56% sedangkan pasien perempuan sebanyak 32 orang atau sebesar 44,44%.
5.3 Distribusi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Keluhan Utama
Berdasarkan hasil penelitian tentang karakteristik pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2016 dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin pada tahun 2014 – 2016, diperoleh distribusi proporsi berdasarkan keluhan utama sebagai berikut:
Tabel 5.3 Distribusi Proporsi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Keluhan Utama yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Wahidin Sudirohusodo (2016) dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (2014 – 2016)
pada nasofaring 3 4,48 13 18,06
Limfadenopati
Berdasarkan tabel 5.3, dapat diketahui bahwa dari 67 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo, proporsi tertinggi berdasarkan keluhan utama adalah pasien dengan keluhan limfadenopati leher yaitu sebanyak 32 orang atau sebesar 47,76% dan proporsi terendah adalah pasien dengan keluhan eksoftalmus yaitu tidak ada kasus atau sebesar 0,00%.
Sedangkan dari 72 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, proporsi tertinggi berdasarkan keluhan utama adalah pasien dengan keluhan limfadenopati leher yaitu sebanyak 36 orang atau sebesar 50,00% dan proporsi terendah adalah pasien dengan keluhan gejala khas di pendengaran dan eksoftalmus yaitu tidak ada kasus atau sebesar 0,00%.
5.4 Distribusi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Faktor Risiko
Berdasarkan hasil penelitian tentang karakteristik pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2016 dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin pada tahun 2014 – 2016, diperoleh distribusi proporsi berdasarkan jumlah faktor risiko sebagai berikut:
Tabel 5.4 Distribusi Proporsi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan
Berdasarkan tabel 5.4, dapat diketahui bahwa dari 67 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo, proporsi tertinggi berdasarkan jumlah faktor risiko adalah pasien dengan lebih dari satu faktor risiko yaitu sebanyak 50 orang atau sebesar 74,63% dan proporsi terendah adalah pasien dengan satu faktor risiko yaitu sebanyak 17 orang atau sebesar 25,37%.
Sedangkan dari 72 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, proporsi tertinggi berdasarkan jumlah faktor risiko adalah pasien dengan lebih dari satu faktor risiko yaitu sebanyak 50 orang atau sebesar 69,44% dan proporsi terendah adalah pasien dengan satu faktor risiko yaitu sebanyak 22 orang atau sebesar 30,56%. Adapun distribusi proporsi berdasarkan faktor risiko dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 5.5 Distribusi Proporsi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Faktor Risiko yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo (2016) dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (2014 – 2016)
Faktor gen HLA dan genetic
9 13,43 7 9,72
Merokok 17 25,37 15 20,83
Minum Alkohol 9 13,43 5 6,94
Lain – lain 19 28,36 24 33,33
Total 67 100 72 100
Berdasarkan tabel 5.5, dapat diketahui bahwa dari 67 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo, proporsi tertinggi berdasarkan faktor risiko adalah pasien dengan jenis kelamin pria yaitu sebanyak 43 orang atau sebesar 64,18% dan proporsi terendah adalah pasien dengan infeksi virus epstein – barr yaitu tidak ada kasus atau sebesar 0,00%.
Sedangkan dari 72 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, proporsi tertinggi berdasarkan faktor risiko adalah pasien dengan jenis kelamin pria yaitu sebanyak 40 orang atau sebesar 55,56%
dan proporsi terendah adalah pasien dengan infeksi virus epstein – barr yaitu tidak ada kasus atau sebesar 0,00%.
5.5 Distribusi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Stadium
Berdasarkan hasil penelitian tentang karakteristik pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2016 dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin pada tahun 2014 – 2016, diperoleh distribusi proporsi berdasarkan stadium diagnosis awal sebagai berikut:
Tabel 5.6 Distribusi Proporsi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Stadium yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr.
Wahidin Sudirohusodo (2016) dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (2014 – 2016)
Berdasarkan tabel 5.6, dapat diketahui bahwa dari 67 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo, proporsi tertinggi berdasarkan stadium diagnosis awal adalah pasien
dengan stadium III yaitu sebanyak 22 orang atau sebesar 32,84% dan proporsi terendah adalah pasien dengan stadium I yaitu sebanyak 3 orang atau sebesar 4,48%.
Sedangkan dari 72 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, proporsi tertinggi berdasarkan stadium diagnosis awal adalah pasien dengan stadium III yaitu sebanyak 22 orang atau sebesar 30,56% dan proporsi terendah adalah pasien dengan stadium I yaitu sebanyak 2 orang atau sebesar 2,78%.
5.6 Distribusi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Klasifikasi Histopatologi
Berdasarkan hasil penelitian tentang karakteristik pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo pada tahun 2016 dan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin pada tahun 2014 – 2016, diperoleh distribusi proporsi berdasarkan klasifikasi histopatologi sebagai berikut:
Tabel 5.7 Distribusi Proporsi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Klasifikasi Histopatologi yang Dirawat Inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo (2016) dan Rumah Sakit
Differentiated
Berdasarkan tabel 5.7, dapat diketahui bahwa dari 67 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Wahidin Sudirohusodo, proporsi tertinggi berdasarkan klasifikasi histopatologi adalah pasien dengan tipe undifferentiated nonkeratinizing carcinoma yaitu sebanyak 40 orang atau sebesar 59,70% dan proporsi terendah adalah pasien dengan tipe squamous cell carcinoma dan basaloid squamous carcinoma yaitu tidak ada kasus atau sebesar 0,00%.
Sedangkan dari 72 pasien penderita karsinoma nasofaring yang dirawat inap di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, proporsi tertinggi berdasarkan klasifikasi histopatologi adalah pasien dengan tipe undifferentiated nonkeratinizing carcinoma yaitu sebanyak 41 orang atau sebesar 56,94% dan proporsi terendah adalah pasien
dengan tipe squamous cell carcinoma dan basaloid squamous carcinoma yaitu tidak ada kasus atau sebesar 0,00%.
5.7 Distribusi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Terapi
5.7 Distribusi Pasien Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Terapi