BAB III. AKUNTABILITAS KINERJA
3.2. Evaluasi dan Analisis Kinerja
3.2.1. Stakeholder Perspektif
3.2.1.1. Meningkatnya Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan Kesejahteraan masyarakat kelautan dan perikanan merupakan tolak ukur dampak dari berbagai keberhasilan program dan kegiatan yang dilakukan baik di tingkat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), unit kerja eselon I maupun Unit Pelaksana Teknis (UPT). Dalam rangka mendukung sasaran stretegis ini, BBP2HP menetapkan satu Indikator Kinerja Utama (IKU) yaitu pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) perikanan:
IKU 1. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Perikanan
PDB perikanan diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa perikanan yang diproduksi dalam jangka waktu tertentu (per tahun). Adapun angka persentase pertumbuhan PDB Perikanan diperoleh dengan membandingkan nilai PDB Perikanan (berdasarkan harga konstan) tahun 2014 dibandingkan dengan nilai PDB Perikanan tahun 2013.
Pada tahun 2014, pertumbuhan PDB perikanan ditargetkan mencapai 7,00 %. Perolehan nilai PDB perikanan pada BBP2HP mengadopsi secara
langsung dari Ditjen P2HP yang mengacu pada perhitungan BPS. Namun demikian, sampai dengan akhir tahun 2014 nilai PDB perikanan belum mencapai target yang telah ditetapkan. Data KKP menyebutkan, capaian PDB perikanan baru berkisar pada angka 6,97% (tabel 4) sedangkan rekapitulasi capaian IKU PDB selama tahun 2010 – 2014 dapat dilihat pada tabel 5.
LAKIP BBP2HP TAHUN 2014 19 Tabel 4. Target dan Realisasi IKU PDB, Tahun 2014
INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI %
Pertumbuhan PDB Perikanan (%) 7,00 6,97 99,57
Sumber : Ditjen P2HP, 2014
Tabel 5. Pencapaian IKU PDB, 2010-2014
Sumber: Badan Pusat Statistik
Uraian Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013* 2014**
1. PERTANIAN, PETERNAKAN, 304 777,1
315
036,8 328 279,7 339 560,8 350 722,2 KEHUTANAN DAN PERIKANAN
a. Tanaman Bahan Makanan 151 500,7
1. PERTANIAN, PETERNAKAN, 985 470,5
1 091
447,1 1 193 452,9
1 310
427,3 1 446 722,3 KEHUTANAN DAN PERIKANAN
a. Tanaman Bahan Makanan 482 377,1
1. PERTANIAN, PETERNAKAN, 3,01 3,37 4,20 3,44 3,29
KEHUTANAN DAN PERIKANAN
a. Tanaman Bahan Makanan 1,64 1,75 3,09 1,90 1,33
b. Tanaman Perkebunan 3,49 4,47 6,22 4,40 4,79
c. Peternakan dan Hasil-hasilnya 4,27 4,78 4,69 4,73 4,69
d. K e h u t a n a n 2,41 0,85 0,16 0,11 0,19
e. P e r i k a n a n 6,04 6,96 6,49 6,86 6,97
PRODUK DOMESTIK BRUTO 6,22 6,49 6,26 5,73 5,06
PRODUK DOMESTIK BRUTO TANPA MIGAS 6,60 6,98 6,85 6,20 5,44
Catatan:
* Angka Sementara
** Angka Sangat Sementara Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2000-2014
Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2000-2014
Laju Pertumbuhan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (persen), 2000-2014
LAKIP BBP2HP TAHUN 2014 20 Jika dilihat dari metode perhitungannya, BBP2HP turut serta dalam pemanfaatan belanja pemerintah melalui beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain pelaksanaan uji terap teknik pengolahan dan pemasaran hasil perikanan, pengujian dan sertifikasi produk, dan pelayanan pengembangan usaha. Selain itu, dukungan BBP2HP juga tercermin dari kegiatan yang bersifat penunjang operasional perkantoran termasuk kegiatan dalam rangka perencanaan dan pelaporan. Dukungan alokasi anggaran BBP2HP yang telah
dibelanjakan sampai dengan akhir tahun 2014 adalah sebesar Rp 37.727.892.420,- (Tiga Puluh Tujuh Milyar Tujuh Ratus Dua Puluh Tujuh Juta
Delapan Ratus Sembilan Puluh Dua Ribu Empat Ratus Dua Puluh Rupiah)
3.2.2. Customer Perspektif
3.2.2.1. Meningkatnya Ketersediaan Produk Kelautan Perikanan Yang Bernilai Tambah
Produk perikanan bernilai tambah merupakan kebutuhan utama dalam rangka meningkatkan daya saing produk perikanan baik produk konsumsi maupun non konsumsi. Peningkatan daya saing produk perikanan tidak bisa hanya diperoleh dari peningkatan volume saja melainkan diperlukan juga adanya jaminan keamanan pangan (food safety), promosi dan lain sebagainya. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan kelembagaan dan tatakelola yang kuat terhadap sumberdaya ikan sehingga mampu meningkatkan daya saing di pasar dalam dan luar negeri. Dalam rangka meningkatkan ketersediaan produk kelautan perikanan yang bernilai tambah, BBP2HP menetapkan 2 (Dua) Indikator Kinerja Utama (IKU) yaitu Jumlah produk olahan hasil perikanan dan nilai produk kelautan dan perikanan non konsumsi pada tingkat pedagang besar:
IKU 2 : Jumlah Produk Olahan Hasil Perikanan
Produksi sektor hulu kelautan dan perikanan memiliki peran sangat strategis dalam penyediaan bahan baku industri pengolahan hasil perikanan serta penyediaan bahan pangan yang sehat dan bergizi secara nasional. Dari sisi pengolahan dan pemasaran hasil perikanan produk perikanan bermutu tinggi dan
LAKIP BBP2HP TAHUN 2014 21 aman dikonsumsi telah menjadi kebutuhan tak terpisahkan dari sebuah produk.
Lebih dari itu, komponen lebih penting lagi adalah menciptakan sistem produksi perikanan yang efisien dan mampu menghasilkan produk berpenampilan baik dan murah.
Pada tahun 2014, target capaian IKU jumlah produk olahan hasil perikanan adalah sebesar 5,37 juta ton. IKU ini merupakan hasil cascading adopsi langsung dari Dirjen P2HP ke beberapa unit eselon II lingkup Ditjen P2HP termasuk BBP2HP. Namun demikian, berdasarkan data Direktorat Jenderal P2HP capaian IKU jumlah produk olahan hasil perikanan sampai dengan akhir tahun 2014 mencapai 5,37 juta ton atau sebesar 103,26 % dari target tahun 2014 (Tabel 6), Jika dibandingkan antara tahun 2010 hingga tahun 2014, jumlah produk olahan hasil perikanan menunjukkan trend pertumbuhan yang meningkat sebesar 1,17 juta ton dengan rata – rata 6,96% per tahun (Tabel 7).
Tabel 6. Target dan Realisasi Jumlah Produk Olahan, Tahun 2014
INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI % Jumlah produk olahan hasil perikanan (Juta Ton) 5,2 5,37 103,26 Sumber : Ditjen P2HP, 2014
Tabel 7. Target dan Realisasi Jumlah Produk Olahan Tahun 2010 - 2014 Indikator Kinerja
Utama
Tahun Pertumbuhan (%)
2010 2011 2012 2013 2014 2010-2014 2013-2014 Jumlah produk olahan
hasil perikanan (Juta Ton)
4,2 4,58 4,83 5,24 5,37 27,85 2,48 Sumber : Ditjen P2HP, 2014
Keterlibatan BBP2HP dalam rangka meningkatkan jumlah produk olahan hasil perikanan ini antara lain melakukan pelayanan pengembangan usaha, sertifikasi dan pengujian nutrisi dan mutu produk perikanan serta pengembangan teknologi pengolahan dan pemasaran hasil perikanan yang berdaya saing. Selain itu, BBP2HP juga memfasilitasi kegiatan di beberapa satker yaitu satker BBP2HP di Mataram, Palabuhan ratu, dan Ambon. Kegiatan yang mendukung antara lain asistensi dan fasilitasi pengembangan usaha P2HP dalam rangka industrialisasi hasil perikanan, bimbingan teknis pengolahan dan pemasaran hasil perikanan,
LAKIP BBP2HP TAHUN 2014 22 peningkatan layanan promosi dan fasilitasi pameran produk hasil perikanan, fasilitasi program branding bagi UMKM pengolahan hasil perikanan. Dukungan alokasi anggaran BBP2HP yang telah dibelanjakan sampai dengan akhir tahun 2014 adalah sebesar Rp 2.322.996.300,- (Dua Milyar Tiga Ratus Dua Puluh Dua Juta Sembilan Ratus Sembilan Puluh Enam Ribu Tiga Ratus Rupiah)
IKU 3 : Nilai Produk Kelautan dan Perikanan Non Konsumsi pada Tingkat Pedagang Besar
Komoditas kelautan dan perikanan non konsumsi Indonesia memiliki prospek bisnis dan ekonomi yang menjanjikan. Komoditas yang dimaksud antara lain ikan hias, mutiara, tanaman hias air, kerajinan, minyak ikan untuk keperluan kosmetik atau medis/farmasi, rumput laut untuk keperluas medis/farmasi atau kosmetik, dan tepung ikan untuk bahan baku pakan.
Nilai perdagangan produk perikanan non konsumsi pada tingkat pedagang besar di Indonesia setiap tahun selalu meningkat. Data perdagangan komoditas kelautan dan perikanan non konsumsi pada tingkat pedagang besar di Indonesia sampai dengan akhir tahun 2014 tercatat mencapai Rp 2,92 trilyun dari total target sebesar Rp 2 triliun (Tabel 8). Jika dibandingkan capaian IKU ini pada tahun 2014 dengan tahun 2011, maka terlihat kenaikan Nilai Produk KP Non Konsumsi sebesar 407,01 % dari Rp 570 Milyar menjadi Rp 2,89 Trilyun (Tabel 9)
Tabel 8. Target dan Realisasi Nilai Produk Kelautan dan Perikanan Non Konsumsi pada Tingkat Pedagang Besar, Tahun 2014
INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI % Nilai Produk Kelautan dan Perikanan Non
Konsumsi pada Tingkat Pedagang Besar
2 2,92 146
Sumber : Ditjen P2HP, 2014
Tabel 9. Capaian Nilai Produk KP Non Konsumsi, 2011-2014 INDIKATOR KINERJA
UTAMA
Tahun Pertumbuhan (%)
2011 2012 2013 2014 2011-2014 2013-2014
Nilai Produk KP
NonKonsumsi (Rp Triliun)
0,57 1,4 1,79 2,92 412,28 63,12 Sumber : Ditjen P2HP, 2014 (Diolah)
LAKIP BBP2HP TAHUN 2014 23 Nilai produk KP nonkonsumsi tersebut di atas merupakan nilai dari 17 produk KP nonkonsumsi sebagaimana tertera pada Keputusan Direktur Jenderal P2HP Nomor 017/KEP-DJP2HP/2013 tentang Pedoman Umum Registrasi Unit Penanganan, Pengolahan Hasil Perikanan NonKonsumsi, diantaranya adalah ikan hias, mutiara, tanaman hias air, kerajinan, minyak ikan untuk keperluan kosmetik atau medis/farmasi, rumput laut untuk keperluas medis/farmasi atau kosmetik, tepung ikan untuk bahan baku pakan, garam untuk industri medis/farmasi, tulang ikan untuk keperluan medis/farmasi, khitin dan khitosan, kolagen, gelatin, silase untuk pakan, produk bioteknologi kelautan, artemia, bubuk kulit kerang mutiara untuk kosmetik, dan albumin.
Capaian nilai perdagangan produk nonkonsumsi tahun 2014 adalah Rp.
2,92 Triliyun dari target Rp 2 Triliyun. Capaian tersebut berasal dari perdagangan ikan hias sebesar 76,16%; Tepung Ikan 8,25% Mutiara 6,13% dan produk nonkonsumsi lain 9,45%. Dari data tersebut, ikan hias merupakan salah satu komoditas andalan baru, meskipun masih perlu upaya pengembangan yang lebih baik lagi.
Keterlibatan BBP2HP dalam meningkatkan nilai produk kelautan dan perikanan non konsumsi pada tingkat pedagang besar antara lain keikutsertaan pameran ikan hias dan produk non konsumsi lainnya, pemetaan potensi ikan hias, identifikasi potensi dan pelaku pemasaran ikan hias, bimtek standarisasi penanganan dan pemasaran ikan hias, bimtek pengembangan usaha dan pemasaran ikan hias. Selain itu, BBP2HP juga mengembangkan teknologi pengolahan hasil perikanan yang berdaya saing khusus untuk produk perikanan non konsumsi antara lain minyak ikan, tepung ikan, masker rumput laut, hiasan kekerangan. Dukungan alokasi anggaran BBP2HP yang telah dibelanjakan sampai dengan akhir tahun 2014 adalah sebesar Rp 1.565.263.433,- (Satu Milyar Lima Ratus Enam Puluh Lima Juta Dua Ratus Enam Puluh Tiga Ribu Empat Ratus Tiga Puluh Tiga Rupiah)
LAKIP BBP2HP TAHUN 2014 24 3.2.3. Internal Process Perspektif
3.2.3.1. Terlaksananya Kebutuhan Inovasi Teknologi Hasil Penelitian dan Pengembangan dan Rekayasa Untuk Modernisasi Sistem
Pengolahan
IKU 4 : Jumlah Inovasi Produk dan Teknologi P2HP hasil pengujian penerapan Hasil perikanan yang bernilai tambah dan berdaya saing.
Jumlah inovasi Produk dan Teknologi P2HP hasil pengujian penerapan hasil perikanan yang bernilai tambah dan berdaya saing merupakan hasil penelitian dan rekayasa tentang produk, alat dan mesin, desain kemasan, dan desain lay out UPI/Pasar yang akan dikembangkan oleh BBP2HP berdasarkan sumber acuan yang didapatkan dari berbagai hasil penelitian, pengembangan dan atau rekayasa yang dilakukan oleh instansi pemerintah, perguruan tinggi, swasta maupun masyarakat umum.
Indikator kinerja ini merupakan salah satu indikator baru yang ditetapkan oleh Ditjen P2HP yang di-cascading kepada BBP2HP. Target yang telah ditetapkan oleh Ditjen P2HP dan BBP2HP dalam melaksanakan IKU ini adalah sebanyak 35 ragam. Pemilihan jumlah inovasi produk dan teknologi ini didasari atas beberapa alasan, seperti hasil-hasil penelitian dari Balitbang KP dan universitas perlu untuk dilakukan pengembagan agar lebih mudah diterapkan dan diaplikasikan di masyarakat dengan teknologi yang sederhana dan tepat guna.
Selain itu juga berdasarkan dari hasil diskusi serta saran masukan dari para stakeholder dan masyarakat/pelaku usaha. Daftar Jumlah Inovasi Produk dan Teknologi P2HP hasil pengujian penerapan hasil perikanan yang bernilai tambah dan berdaya saing disajikan pada Lampiran 1.
Tabel 10. Target dan realisasi jumlah inovasi produk dan teknologi P2HP hasil pengujian penerapan Hasil perikanan yang bernilai tambah dan berdaya saing, Tahun 2014
INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI % Jumlah Inovasi Produk dan Teknologi P2HP hasil
pengujian penerapan Hasil perikanan yang bernilai tambah dan berdaya saing
35 35 100
Sumber : BBP2HP, 2014
LAKIP BBP2HP TAHUN 2014 25 Tabel 11. Pertumbuhan capaian IKU jumlah inovasi produk dan teknologi P2HP hasil pengujian penerapan hasil perikanan yang bernilai tambah dan berdaya saing, Tahun 2013 - 2014
IKU
Tahun Pertumbuhan
2013-2014 2013 2014 (%)
Target Realisasi % Jumlah Inovasi Produk dan
Teknologi P2HP hasil pengujian penerapan Hasil perikanan yang bernilai tambah dan berdaya saing
34 35 35 100 2,94
Sumber : BBP2HP, 2013 – 2014 (Diolah)
3.2.3.2. Tersedianya Kebijakan Bidang Penerapan Teknologi P2HP Sesuai Kebutuhan
IKU 5 : Jumlah Kebijakan Bidang Pengujian Penerapan Hasil Perikanan Jumlah kebijakan bidang penerapan teknologi pengolahan dan pemasaran merupakan norma, standar, prosedur, dan ketentuan (NSPK) yang berlaku. Pada tahun 2014, BBP2HP mentargetkan 1 (satu) kebijakan dan hingga akhir tahun 2014. Kebijakan yang dimaksud adalah berkaitan dengan revisi Peraturan
Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Nomor : 01/PER-DJP2HP/2013 Tentang Lembaga Sertifikasi Produk Hasil Perikanan
(LSPro-HP) per tanggal 23 Januari 2013. Sertifikasi produk merupakan salah satu kegiatan penilaian kesesuaian yang memberikan sertifikat kepada suatu produk atau pemenuhannya terhadap suatu kriteria tertentu yang berupa standar atau kriteria lain.
Perubahan nomenklatur Balai Besar Pengembangan dan Pengendalian Hasil Perikanan (BBP2HP) menjadi Balai Besar Pengujian Penerapan Hasil Perikanan (BBP2HP) berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor: 28/PERMEN-KP/2013 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Pengujian Penerapan Hasil Perikanan Per Tanggal 31 Oktober 2013, menyebabkan diperlukannya revisi pada Peraturan Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Nomor : 01/PER-DJP2HP/2013 Tentang Lembaga Sertifikasi Produk Hasil Perikanan (LSPro-HP) per tanggal
LAKIP BBP2HP TAHUN 2014 26 23 Januari 2013 dimana BBP2HP sebagai pelaksana Lembaga Sertifikasi Produk Hasil Perikanan (LSPro-HP).
Output dari IKU ini adalah telah diterbitkannya Peraturan Dirjen P2HP nomor : 05/PER-DJP2HP/2014 Tentang Lembaga Sertifikasi Produk Hasil Perikanan pada tanggal 18 November 2014. Pada peraturan Dirjen tersebut menjelaskan bahwa LSPro-HP merupakan lembaga nonstruktural yang bersifat mandiri dan berada dibawah serta bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pada Peraturan Dirjen tersebut juga menunjuk BBP2HP sebagai pelaksana LSPro-HP.
Selain itu, pada tahun 2014 BBP2HP juga telah menyusun Draft Keputusan Dirjen P2HP tentang uraian tugas pejabat struktural di lingkungan Balai Besar Pengujian Penerapan Hasil Perikanan. Draf tersebut telah disahkan pada tanggal 27 Maret 2014 menjadi keputusan Dirjen P2HP Nomor 40/KEP-DJP2HP/2014.
Target dan realisasi capaian IKU Jumlah Kebijakan Bidang Pengujian Penerapan Hasil Perikanan dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Jumlah Kebijakan Bidang Pengujian Penerapan Hasil Perikanan, Tahun 2014
INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI % Jumlah Kebijakan Bidang Pengujian Penerapan
Hasil Perikanan
1 2 200
Sumber : BBP2HP, 2014
IKU 6 : Jumlah draft peraturan perundang-undangan bidang pengujian penerapan hasil perikanan
IKU Jumlah draft peraturan perundang-undangan bidang pengujian penerapan hasil perikanan merupakan tindak lanjut dari IKU Jumlah Kebijakan Bidang Pengujian Penerapan Hasil Perikanan. BBP2HP sebagai LSPro-HP telah
diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional dengan nomor akreditasi LSPr-040-IDN. Saat ini, LSPro-HP telah memiliki payung hukum berupa
Peraturan Dirjen P2HP nomor 05/PER-DJP2HP/2014. Dalam rangka memperkuat
LAKIP BBP2HP TAHUN 2014 27 keberadaan LSPro-HP dan kebijakan pemberlakuan SNI bagi pelaku usaha hasil perikanan secara nasional, maka BBP2HP mengusulkan Draft Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Tentang Lembaga Sertifikasi Produk Hasil Perikanan.
Sampai akhir tahun 2014, draft Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut telah kami sampaikan kepada Sekretariat Direktorat Jenderal P2HP pada tanggal 29 Desember 2014. Sehubungan dengan pembahasan draft yang belum selesai maka pembahasan draft usulan akan dilanjutkan pada tahun 2015.
3.2.3.3. Terselenggaranya Modernisasi Sistem Produksi Kelautan dan Perikanan, Pengolahan, Dan Pemasaran Produk Kelautan dan Perikanan yang Optimal dan Bermutu
IKU 7 : Teknologi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Bernilai Tambah dan Berdaya Saing yang Diterapkan
Sesuai dengan visi Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan yaitu mewujudkan produk perikanan prima yang berdaya saing tinggi di pasar domestik dan pasar luar negeri sudah seharusnya produk perikanan dari hasil budidaya maupun penangkapan dapat diolah menjadi produk-produk yang bernilai tambah sehingga memliki daya saing yang lebih tinggi. Daya saing yang dimaksud mencakup mutu, jaminan keamanan dan harga. BBP2HP sebagai unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal P2HP mempunyai salah satu fungsi yaitu mengembangkan inovasi produk, alat dan mesin serta desain kemasan yang profitabel selain itu juga mendesain layout UPI.
Pada tahun 2014, target capaian IKU ini adalah sebanyak 35 (tiga puluh lima) ragam yang dilaksanakan melalui 9 (sembilan) kegiatan. Pelaksanaan kegiatan untuk ragam produk konsumsi dan nonkonsumsi meliputi identifikasi dan verifikasi, uji coba, uji lanjutan, preferensi konsumen, evaluasi dan penyusunan laporan. Pelaksanaan kegiatan rancang bangun alat, ragam kemasan, rancang bangun desain layout UPI dan desain layout Pasar, yang secara garis besar meliputi persiapan, pembuatan desain alat/label dan kemasan/layout, pembuatan ragam produk final, evaluasi dan pelaporan. Untuk kegiatan rancang bangun alat
LAKIP BBP2HP TAHUN 2014 28 dilakukan uji coba operasional alat dan untuk kegiatan rancang bangun desain layout juga dilakukan pembuatan ilustrasi digital dan pembuatan animasi.
Sampai akhir 2014, IKU ini telah tercapai 100%. Namun demikian, secara umum pencapaian IKU ini terkendala adanya berbagai proses perekayasaan yang harus dilakukan berulang, keterbatasan SDM fungsional khususnya perekayasa dan fasilitas pendukung yang terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut, pada tahun yang akan datang target ragam inovasi akan disesuaikan dengan ketersediaan jumlah tenaga fungsional perekayasa dan meningkatkan sarana pendukung workshop pengolahan.
Tabel 13. Target dan Realisasi inovasi ragam Produk Olahan, Tahun 2014 INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI % Teknologi Pengolahan dan Pemasaran Hasil
Perikanan Bernilai Tambah dan Berdaya Saing yang Diterapkan
35 35 100
Sumber : BBP2HP, 2014
Dalam mencapai IKU tersebut, BBP2HP mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2.515.821.000 (Dua Milyar Lima Ratus Lima Belas Juta Delapan Ratus Dua Puluh Satu Ribu rupiah) Rp. 5.885.045.000,- (Lima Milyar Delapan Ratus Delapan Puluh Lima Juta Empat Puluh Lima Ribu Rupiah). Sampai akhir 2014, realisasi anggaran dalam mencapai IKU tersebut adalah sebesar Rp 5.473.270.150 (Lima Milyar Empat Ratus Tujuh Puluh Tiga Juta Dua Ratus Tujuh Puluh Ribu Seratus Lima Puluh Rupiah) atau 93% dari total alokasi anggaran.
Jika dibandingkan dengan target jangka panjang (2010 – 2014), hingga saat ini jumlah ragam hasil inovasi yang telah dihasilkan oleh BBP2HP adalah sebanyak 129 ragam inovasi dari target yang harus dicapai sebanyak 124 ragam (Tabel 14).
Tabel 14.Capaian ragam Teknologi Hasil Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan
Indikator Kinerja Utama Tahun 2010 -2014
2010 2011 2012 2013 2014 Target Realisasi % Ragam Teknologi Hasil
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan
14 13 29 38 35 124 129 104
Sumber : BBP2HP, 2014
LAKIP BBP2HP TAHUN 2014 29 IKU 8 : Jumlah Bahan RSNI pengujian penerapan hasil perikanan
Standar minimal mutu dan keamanan bahan pangan selalu berkembang mengikuti tuntutan konsumen. Perkembangan tersebut berkaitan erat dengan masalah gizi dan manfaat bahan pangan bagi kesehatan manusia. Bahan pangan dengan kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan manusia akan sangat diminati oleh konsumen. Keamanan pangan sangat tergantung pada pelaku industri dalam mengolah bahan pangan serta peran (kebijakan) pemerintah yang dapat memberi jaminan keamanan produk pangan. Salah satu peranan pemerintah yang dapat memberi jaminan keamanan produk pangan adalah dengan standardisasi.
Standardisasi memiliki peran yang strategis dalam peningkatan daya saing suatu produk. Umumnya standar dimanfaatkan konsumen sebagai acuan dalam memilih produk, sedangkan bagi produsen standar berfungsi sebagai patokan dalam memproduksi produk yang berkualitas dan dapat diterima pasar nasional maupun internasional. Masyarakat secara umum menghendaki bahwa seluruh produk perikanan yang beredar di pasar merupakan barang yang aman dan tidak membahayakan kesehatan.
Standar Nasional Indonesia dirumuskan oleh Panitia Teknis. Panitia Teknis melaksanakan kaji ulang minimal 1 kali dalam lima tahun setelah ditetapkan untuk menjaga kesesuaian SNI terhadap kebutuhan pasar dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka memelihara dan menilai kelayakan dan kekinia SNI. Hasil kaji ulang dapat ditindaklanjuti dengan menerbitkan ralat, amandemen, revisi, abolisi atau tetap tanpa perubahan terhadap SNI.
Balai Besar Pengujian Penerapan Hasil Perikanan (BBP2HP) sebagai Unit Pelaksana Teknis Lingkup Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan bertugas melakukan penyiapan bahan Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) untuk dibahas dalam rapat teknis dan rapat konsensus bersama dengan Panitia Teknis 65-05 Produk Perikanan.
Berdasarkan kaji ulang yang dilakukan oleh Ditjen P2HP dan Panitia Teknis, maka BBP2HP ditetapkan untuk melakukan penyusunan 8 (Delapan) RSNI yang terdiri dari 5 (Lima) RSNI produk konsumsi yaitu RSNI ATSC (Alkali Treated Seaweed Chips) dan melakukan revisi terhadap RSNI Rumput Laut
LAKIP BBP2HP TAHUN 2014 30 Kering, RSNI Tuna Loin Beku, RSNI Paha Kodok Beku, RSNI Udang Kupas Rebus Beku dan 3 (tiga) RSNI metode uji yaitu RSNI cara uji mikrobiologi – bagian 9 : penentuan Sthaphylococcus aureus pada produk perikanan, RSNI Penentuan Kapang dan Kamir pada Produk Perikanan dan RSNI Uji Sensori Pada Produk Perikanan. Selain itu, BBP2HP juga dilibatkan dalam kelompok kerja penyusunan RSNI untuk produk non konsumsi yaitu RSNI Tepung Kepala udang.
Pada pelaksanaan kegiatan tahun 2014 IKU ini telah tercapai 100% dari 8 RSNI yang ditargetkan (Tabel 15) yaitu 5 konsep RSNI produk perikanan : Tuna Loin Beku, Rumput laut kering, Alkali Treated Seaweed Chip ( ATSC), Udang kupas rebus beku, Paha kodok beku, dan 3 RSNI Metode Uji : Cara Uji Mikrobiologi – Penentuan Stapylococcus aureus, pada produk perikanan, Penentuan Kapang dan Kamir Pada Produk Perikanan, dan uji sensori produk perikanan.
Kendala yang dihadapi dalam pencapaian IKU ini adalah adanya kerbatasan waktu dalam penggumpulan data yang disebabkan oleh pengusulan komoditas RSNI pada tahun berjalan. Untuk mengantisipasi permasalahan serupa terulang kembali pada tahun berikutnya maka pembahasan usulan RSNI yang akan dibahas dengan pantek agar dilaksanakan pada tahun sebelumnya dan mengantisipasi musim dari komoditas tersebut.
Tabel 15. Target dan Realisasi penyusunan RSNI, Tahun 2014
INDIKATOR KINERJA UTAMA TARGET REALISASI % Jumlah Bahan RSNI pengujian penerapan hasil
perikanan
8 8 100
Sumber : BBP2HP, 2014
Jika dibandingkan dengan target jangka panjang (2010 – 2014), hingga saat ini jumlah bahan RSNI yang telah dihasilkan oleh BBP2HP dan disampaikan kepada panitia teknis adalah sebanyak 22 bahan RSNI dari target yang harus
Jika dibandingkan dengan target jangka panjang (2010 – 2014), hingga saat ini jumlah bahan RSNI yang telah dihasilkan oleh BBP2HP dan disampaikan kepada panitia teknis adalah sebanyak 22 bahan RSNI dari target yang harus