• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.2 Kajian Teorotis

2.2.4 Standar Akuntansi Keuangan Hiperinflasi (PSAK 63 )

Pada tanggal 8 April 2011, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) mengesahkan PSAK 63 tentang Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi Hiperinflasi. Kemudian dilakukan penyesuaian terhadap PSAK tersebut dan disahkan kembali pada 27 Agustus 2014. PSAK ini hampir keseluruhan merupakan adopsi dari IAS: 29 Financial Reporting in Hyperinflationary Economies.

PSAK SAK ETAP SAK EMKM SAK SYARIAH

PSAK 63 diterapkan untuk laporan keuangan dari setiap entitas yang mata uang fungisionalnya mengalami kondisi hiperinflasi. Ekonomi suatu negara dapat dikatakan inflasi apabila terindikasi

1. Penduduknya lebih memilih untuk menyimpan kekayaan dalan aset non moneter atau dalam valuta asing yang relatif stabil

2. Penduduknya lebih memilih jumlah moneter dalam mata uang asing yang relatof stabil ketimbang mata uang lokal

3. Tingkat inflasi komulatif selama 3 tahun mendekati 100%

Pernyataan ini diterapkan sejak awal periode pelaporan ketika entitas mengidentifikasi terjadi hiperinflasi dan dianjurkan seluruh entitas menerapkan pada tanggal yang sama. Terdapat beberapa mekanisme penting dalam penyusunan laporan keuangan hiperinflasi yakni :

1. Penyusunan Kembali Laporan Keuangan

a) Entitas yang menyusun laporsn keuangan dengan dasar biaya historis melakukan perubahan nominal ke mata uang hiperinflasi tanpa mempertimbangan perubahan tingkat harga umum. Ataupun kenaikan harga dari aset atau liabilitas yang diakui. Pengecualian kepada aset dan liabilitas nyang diisyaratkan untuk diukur pada nilai wajar. Contoh: aset tetap yang direvaluasi.

b) Dalam ekonomi hiperinflasi, laporan keuangan yang disusun menggunakan pendekatan biaya historis maupun biaya kini hanya akan berguna jika dinyatakan dalam unit pengukuran yang berlaku pada akhir periode pelaporan. Selain itu entitas tidak diizinkan

menyajikan secara terpisah laporan yang tidak disajikan kembali walaupun melampirkan informasi ini.

c) Apabila terjadi keuntungan/kerugian yang terjadi atas pengukuran pada akhir periode pelaporan atas posisi moneter neto dimasukkan kedalam laba rugi dan diungkapkan secara terpisah.

d) Penyajian kembali laporan keuangan mensyaratkan adanya penerapan prosedur dan pertimbangan tersebut secara konsisten dari periode ke periode lebih penting daripada ketepatan presisi dalam menghasilkan jumlah yang dimasukan dalam laporan keuangan yang disajikan kembali.

e) Jumlah dalam laporan posisi keuangan yang belum dinyatakan dalam unit pengukuran kini pada akhr periode pelaporan, disajikan kembali dengan menerapkan indeks harga umum.

f) Dalam menerapkan indeks harga umum pos-pos moneter tidak disajikan kembali karena sudah dinyatakan dalam unit monetrer kini. Pos-pos moneter merupakan uang/item yang dimiliki, akan diterima, dan dibayarkan dalam bentuk uang.

g) Aset dan liabilitas melalui perjanjian yang terhubung dengan perubahan harga, disesuaikan dalam laporan keuangan yang disajikan kembali berdasarkan dengan perjanjian untuk memastikan besaran jumlah saldo pada akhir periode pelaporan.

h) Untuk pos-pos non moneter disajikan kembali dengan indeks harga umum kecuali nilai realisasi neto dan nilai wajar akibat terjadi

revaluasi.

i) Pos-pos moneter diperoleh dari biaya perolehan dikurangi penyusutan. Maka disajikan pada biaya kini menggunakan indeks dari tanggal akuisisi dikurangi penyusutan.

j) Untuk periode saat penyajian kembali banyak hal-hal yang mungkin tak tersedia. Seperti catatan rinci mengenai tanggal akuisisi dan indeks harga umum yang digunakan. Untuk catatan rinci dalam periode pertama kali menggunakan PSAK 63 dibutuhkan penilaian profesional independen sedangkan untuk indeks harga umum menggunakan estimasi berdasarkan pergerakan kurs mata uang fungisional dengan valuta asing yang relatif stabil

k) Untuk pos non moneter ketika jumlah yang disajikan kembali melebihi jumlah terpulihkan maka diturunkan nilainya sesuai PSAK terkait. Perlakuan persediaan juga sama, yakni diturunkan ke nilai realisasi neto

l) Investee yang dicatat dengan metode ekuitas dapat membuat laporan keuangan hiperinflasi khususnya laporan laba/rugi dan penghasilan komprehensif lain berdasarkan indeks harga umum untuk menghitung bagian investor atas aset neto dan laba/rugi. Ketikan laporan keuangan investee dinyatakan dalam valuta asing, maka laporan tersebut dijabarkan pada kurs penutupan.

m) Entitas yang memiliki aset dalam suatu perjanjian yang mengizinkan untuk menangguhkan pembayaran tanpa menimbulkan beban bunga

eksplisit. Apabila penentuan jumlah bunga implisit tidak praktis, maka aset tersebut disajikan kembali dari tanggal pembayaran dan bukan tanggal pembelian.

n) Pada saat periode pertama kali penerapan, komponen ekuitas kecuali saldo laba dan surplus revaluasi disajikan kembalui menggunakan indeks harga umum saat tanggal komponen ekuitas tersebut dikontribusikan atau saat muncul. Sedangkan untuk surplus revaluasi mengeliminasi revaluasi yang timbul pada periode sebelumnya, dan saldo laba yang disajikan ditentukan berdasarkan seluruh jumlah lain dalam laporan posisi keuangan yang disajikan kembali

o) Pernyataan ini mensyaratkan bahwa seluruh pos dalam laporan laba/rugi dan penghasilan komprehensif lain dinyatakan dalam unit pengukuran kini pada akhir periode pelaporan. Maka dari itu disajikan menggunakan indeks harga umum sejak penghasilan dan beban tersebut dicatat dalam laporan keuangan.

2. Keuntungan atau Kerugian Posisi Moneter Neto

a) Dalam suatu periode inflasi, jika entitas memiliki aset moneter melebihi liabilitas moneter, maka daya beli entitas menurun dan sebaliknya. Sepanjang aset dan liabilitas tersebut tidak terkait dengan suatu tingkat harga.

b) Keuntungan/kerugian posisi moneter neto tersebut dapat ditentukan dari selisih yang timbul atas penyajian kembali aset nonmoneter, ekuitas, dan pos-pos dalam laporan laba rugi berserta penghasilan

komprehensif lain serta penyesuaian aset dan liabilitas yang terkait dengan indeks. Keuntungan/kerugian tersebut dapat diestimasi daengan menerapkan perubahan indeks harga umum terhadap rata-rata tertimbang selama periode dari selisih antara aset moneter dan liabilitas moneter

c) Keuntungan/kerugian posisi moneter neto dimasukan ke dalam laporan laba rugi. Penyesuaian terhadap aset dan liabilitas yang terkait dengan perubahan harga (sesuai dengan paragraf sebelumnya) disalinghapuskan dengan keuntungan/kerugian pososo moneter neto. d) Keuntungan/kergian posisi moneter neto dimasukan ke dalam laba

rugi dan penghasilan komprehensif lain. Selisih yang ditimbulkan juga mempengaruhi jumlah pajaknya. Maka dicatat sesuai dengan

PSAK 46 : Pajak Penghasilan

e) Laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain yang menggunakan biaya kini, sebelum penyajian kembali, melaporkan biaya kini pada waktu terjadinya transaksi/peristiwa yang mendasari. Beban pokok penjualan dan penyusutan dicatat pada biaya kini pada waktu pemakaian. Sedangkan penjualan dan beban lain dicatat pada jumlah uang ketika terjadinya. Oleh karena itu seluruh jumlah tersebut perlu disajikan kembali dalam unit pengukuran kini pada akhir periode pelaporan dengan menggunakan indeks harga umum 3. Laporan Arus Kas

pengukuran kini pada akhir periode pelaporan. \ 4. Laporan Keuangan Konslidasian

a) Entitas induk yang membuat laporan keuangan dalam mata uang hiperinflasi dapat memiliki entitas anak yang juga membuat laporan kuangan dalam mata uang hiperinflasi. Laporan keuangan entitas anak perlu disajikan kembali dengan indeks harga umum dari negara yang mata uangnya dilaporkan sebelum dimasukan dalam laporan konsolidasian yang diterbitkan entitas induk. Jika entitas anak merupakan entitas asing maka laporan keuangan dijabarkan pada kurs penutupan sesuai PSAK 10: Pengaruh Perubahan Kurs Valuta

Asing

b) Jika laporan keuangan dengan akhir periode pelaporan yang berbeda dikonsolidasikan , maka seluruh pos moneter dan nonmoneter perlu disajikan kembali dalam unit pengukuran kini pada tanggal laporan keuangan kosolidasian

5. Pemilihan dan Penggunaan Indeks Harga Umum

a) Penyajian kembali laporan keuangan sesuai dengan pernyataan ini mensyaratkan penggunaan indeks harga umum yang mencerminkan perubahan daya beli umum. Dianjurkan seluruh entitas yang menerapkan PSAK ini menerapkan indeks harga yang sama

6. Ekonomi Hiperinflasi Berakhir

a) Jika ekonomi hiperinflasi berakhir dan entitas menghentikan penyusunan dan penyajian laporan keuangan sesuai dengan

pernyataan ini maka entitas memperlakukan jumlah yang dinyatakan dalam unit pengukuran kini pada akhir periode pelaporan sebelumnya sebagai dasar jumlah tercatat dalam laporan keuangan selanjutnya

7. Pengungkapan

a) Entitas membuat pengungkapan sebagai berikut

1) Fakta bahwa laporan keuangan dan angka yang terkait dalam periode sebelumnya telah disajikan kembali untuk perubahan dalam daya beli umum dari mata uang fungisional, dan sebagai akibatnya disajikan kembali dalam unit pengukuran kini pada akhir periode pelaporan

2) Laporan keuangan berdasarkan pada pendekatan biaya historis atau pendekatan biaya kini

3) Nama dan tingkat indeks harga pada akhir periode pelaporan dan pergerakan dalam indeks tersebut selama periode pelaporan kini dan sebelumnya

b) Pengungkapan yang diisyaratkan oleh pernyataan ini diperlukan untuk menjelaskan dasar atas perlakuan pengaruh inflasi dalam laporan keuangan. Pengungkapan tersebut juga dimaksudkan untuk memberikan informasi lain yang diperlukan untuk memahami dasar yang digunakan dari jumlah yang dihasilkan. (PSAK 63, 2019)

Dokumen terkait