STANDAR SPMI STISIP BINA PUTERA BANJAR 1. DEFINISI ISTILAH
N. STANDAR KESEJAHTERAAN Tabel 1. N Ikhtisar Standar
Definisi Standar Standar Kesejahteraan adalah keseluruhan tolok ukur pencapaian minimal pada suatu siklus penjaminan mutu tentang kesejahteraan dosen, nondosen dan pensiunan, serta lingkungan kerja yang kondusif, serta pengembangannya secara berkelanjutan.
Tujuan Standar Menjamin pemenuhan tingkat mutu kesejahteraan dosen, nondosen, dan pensiunan, serta peningkatan mutu tersebut secara utuh, menyeluruh, dan berkelanjutan.
Status Standar Standar ini tidak diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan, namun merupakan standar wajib yang dikembangkan oleh STISIP BINA PUTERA BANJAR.
Pengelola Standar Pengelola standar harus menetapkan, melaksanakan/ mene-rapkan, mengendalikan, dan mengembangkan standar, yang terdiri atas sejumlah standar turunan, sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing, berdasarkan struktur organisasi Sekolah Tinggi.
Sasaran Standar Para pihak yang menjadi sasaran standar harus memenuhi standar, yang terdiri atas sejumlah standar turunan, sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing, berdasarkan struktur organisasi Sekolah Tinggi.
Standar Turunan N.1 Standar Arah Peningkatan Kesejahteraan N.2 Standar Peta Peningkatan Kesejahteraan N.3 Standar Agenda Peningkatan Kesejahteraan N.4 Standar Remunerasi dan Jaminan Sosial N.5 Standar Lingkungan Kerja yang Kondusif Indikator Keberhasilan
Pengelolaan Standar
Seluruh standar turunan telah ditetapkan, dilaksanakan, diken-dalikan, dan dikembangkan.
Tabel 2. N Standar Turunan dalam Standar Kesejahteraan N.1 STANDAR ARAH PENINGKATAN KESEJAHTERAAN
adalah tolok ukur mengenai orientasi penetapan, pengelolaan, dan
166 peningkatan kesejahteraan dosen, dan nondosen sesuai visi, misi, tujuan dan sasaran Sekolah Tinggi.
Substansi/Inti Pada Setiap Tahap
Dokumen yang Dibutuhkan 1. Tahap Penetapan Standar
Pengelola standar harus mengambil inisiatif untuk menetapkan standar minimum yang sekurang-kurangnya memuat tentang: Penjabaran visi, misi, tujuan, dan sasaran Sekolah Tinggi dalam penetapan, pengelolaan, dan peningkatan kesejahteraan.
2. Tahap Pelaksanaan Standar
Inti dari pelaksanaan standar ini adalah setiap unit kerja di dalam lingkungan Sekolah Tinggi harus secara konsisten, sistematis, dan terstruktur berupaya untuk memenuhi/mencapai standar ini di dalam lingkungan kerja unitnya masing-masing. Hal terpenting adalah pimpinan unit harus secara sadar menjadikan standar ini sebagai tolok ukur/pedoman bagi unitnya dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing.
3. Tahap Pengendalian Standar
Inti dari pengendalian standar ini adalah setiap unit di dalam lingkungan Sekolah Tinggi harus mampu mengontrol dan mematau penerapan standar
secara konsisten dan optimal di lapangan atau pada kondisi faktual, dan kemudian mengambil tindakan korektif apabila ditemukan adanya penyim-pangan atau kesalahan. Hal terpenting adalah pimpinan unit harus selalu melakukan pengecekan untuk memastikan bahwa standar telah terpenuhi atau telah ditaati.
4. Tahap Pengembangan Standar
Tahap ini merupakan langkah akhir dari satu siklus penjaminan mutu secara utuh, dan sekaligus menjadi langkah awal dari siklus berikutnya.
Pada tahap ini pengelola standar harus mengevaluasi (i) pencapaian substansi standar, dan (ii) kemungkinan peningkatan substansi standar agar terjadi peningkatan mutu secara bertahap dan berkelanjutan.
N.2 STANDAR PETA PENINGKATAN KESEJAHTERAAN
adalah tolok ukur mengenai profil kesejahteraan dosen, dan nondosen, sebagai penjabaran arah kesejahteraan.
Substansi/Inti Pada Setiap Tahap
Dokumen yang Dibutuhkan 1. Tahap Penetapan Standar
Pengelola standar harus mengambil inisiatif untuk menetapkan standar minimum yang sekurang-kurangnya memuat tentang:
a. Jenis kesejahteraan, misalnya jenis kesejahteraan yang berwujud
167 dan yang tidak berwujud;
b. Tingkat kesejahteraan, misalnya penyesuaian kesejahteraan dengan memperhatikan tingkat inflasi;
c. Pola kesejahteraan, misalnya pemberian perhatian lebih bagi golo-ngan yang lebih rendah;
d. Skala prioritas jenis, tingkat, dan/atau pola kesejahteraan berdasar-kan arah kesejahteraan yang telah ditetapberdasar-kan.
2. Tahap Pelaksanaan Standar
Inti dari pelaksanaan standar ini adalah setiap unit kerja di dalam ling-kungan Sekolah Tinggi harus secara konsisten, sistematis, dan terstruktur
berupaya untuk memenuhi/mencapai standar ini di dalam lingkungan kerja unitnya masing-masing. Hal terpenting adalah pimpinan unit harus secara sadar menjadikan standar ini sebagai tolok ukur/pedoman bagi unitnya dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing.
3. Tahap Pengendalian Standar
Inti dari pengendalian standar ini adalah setiap unit di dalam lingkungan Sekolah Tinggi harus mampu mengontrol dan mematau penerapan standar
secara konsisten dan optimal di lapangan atau pada kondisi faktual, dan kemudian mengambil tindakan korektif apabila ditemukan adanya penyimpangan atau kesalahan. Hal terpenting adalah pimpinan unit harus selalu melakukan pengecekan untuk memastikan bahwa standar telah terpenuhi atau telah ditaati.
4. Tahap Pengembangan Standar
Tahap ini merupakan langkah akhir dari satu siklus penjaminan mutu secara utuh, dan sekaligus menjadi langkah awal dari siklus berikutnya.
Pada tahap ini pengelola standar harus mengevaluasi (i) pencapaian substansi standar, dan (ii) kemungkinan peningkatan substansi standar agar terjadi peningkatan mutu secara bertahap dan berkelanjutan.
Secara prosedural. langkah-langkah dalam tahap ini identik dengan langkah-langkah dalam tahap penetapan standar. Lihat Bab II Langkah Operasional SPM-STISIP BINA PUTERA BANJARmanual ini.
N.3 STANDAR ARAH PENINGKATAN KESEJAHTERAAN
adalah tolok ukur mengenai rencana penetapan, pengelolaan, dan peningkatan kesejahteraan dosen, dan nondosen jangka panjang, menengah, dan pendek sebagai penjabaran dari peta kesejahteraan.
Substansi/Inti Pada Setiap Tahap
Dokumen yang Dibutuhkan 1. Tahap Penetapan Standar
Pengelola standar harus mengambil inisiatif untuk menetapkan standar minimum yang sekurang-kurang nya memuat tentang periodisasi seluruh rencana penetapan, pengelolaan, dan peningkatan kesejahteraan dosen,
168 nondosen, dan pensiunan yang telah ditetapkan dalam peta kesejah-teraan ke dalam kerangka waktu jangka panjang, menengah, atau pendek.
2. Tahap Pelaksanaan Standar
Inti dari pelaksanaan standar ini adalah setiap unit kerja di dalam ling-kungan Sekolah Tinggi harus secara konsisten, sistematis, dan terstruktur berupaya untuk memenuhi/mencapai standar ini di dalam lingkungan kerja unitnya masing-masing. Hal terpenting adalah pimpinan unit harus secara sadar menjadikan standar ini sebagai tolok ukur/pedoman bagi unitnya dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing.
3. Tahap Pengendalian Standar
Inti dari pengendalian standar ini adalah setiap unit di dalam lingkungan Sekolah Tinggi harus mampu mengontrol dan mematau penerapan standar
secara konsisten dan optimal di lapangan atau pada kondisi faktual, dan kemudian mengambil tindakan korektif apabila ditemukan adanya penyim-pangan atau kesalahan. Hal terpenting adalah pimpinan unit harus selalu melakukan pengecekan untuk memastikan bahwa standar telah terpenuhi atau telah ditaati.
4. Tahap Pengembangan Standar
Tahap ini merupakan langkah akhir dari satu siklus penjaminan mutu secara utuh, dan sekaligus menjadi langkah awal dari siklus berikutnya.
Pada tahap ini pengelola standar harus mengevaluasi (i) pencapaian substansi standar, dan (ii) kemungkinan peningkatan substansi standar agar terjadi peningkatan mutu secara bertahap dan berkelanjutan.
N.4 STANDAR RENUMERASI DAN JAMINAN SOSIAL
adalah tolok ukur mengenai sistem penggajian dan pemberian imbalan finansial lain bagi dosen, dan nondosen.
Substansi/Inti Pada Setiap Tahap
Dokumen yang Dibutuhkan 1. Tahap Penetapan Standar
Pengelola standar harus mengambil inisiatif untuk menetapkan standar minimum yang sekurang-kurangnya memuat tentang:
a) Sistem remunerasi (gaji, tunjangan, dan imbalan lain) yang dida-sarkan pada jenis pekerjaan, kompetensi, kinerja, dan masa kerja;
b) Sistem jaminan pemeliharaan kesehatan;
c) Sistem pensiun;
2. Tahap Pelaksanaan Standar
Inti dari pelaksanaan standar ini adalah setiap unit kerja di dalam ling-kungan Sekolah Tinggi harus secara konsisten, sistematis, dan terstruktur
berupaya untuk memenuhi/mencapai standar ini di dalam lingkungan kerja unitnya masing-masing. Hal terpenting adalah pimpinan unit harus
169 secara sadar menjadikan standar ini sebagai tolok ukur/pedoman bagi unitnya dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing.
3. Tahap Pengendalian Standar
Inti dari pengendalian standar ini adalah setiap unit di dalam lingkungan Sekolah Tinggi harus mampu mengontrol dan mematau penerapan standar
secara konsisten dan optimal di lapangan atau pada kondisi faktual, dan kemudian mengambil tindakan korektif apabila ditemukan adanya penyim-pangan atau kesalahan. Hal terpenting adalah pimpinan unit harus selalu melakukan pengecekan untuk memastikan bahwa standar telah terpenuhi atau telah ditaati. .
4. Tahap Pengembangan Standar
Tahap ini merupakan langkah akhir dari satu siklus penjaminan mutu secara utuh, dan sekaligus menjadi langkah awal dari siklus berikutnya.
Pada tahap ini pengelola standar harus mengevaluasi (i) pencapaian substansi standar, dan (ii) kemungkinan peningkatan substansi standar agar terjadi peningkatan mutu secara bertahap dan berkelanjutan.
N.5 STANDAR LINGKUNGAN KERJA YANG KONDUSIF
adalah tolok ukur mengenai suasana lingkungan kerja di kantor yang memungkinkan dosen dan nondosen mampu berkinerja tinggi.
Substansi/Inti Pada Setiap Tahap
Dokumen yang Dibutuhkan 1. Tahap Penetapan Standar
Pengelola standar harus mengambil inisiatif untuk menetapkan standar minimum yang sekurang-kurang nya memuat tentang:
a. Sistem pemberian penghargaan nonfinansial, misalnya: promosi, pemberian piagam;
b. Sistem penjatuhan sanksi, misalnya: demosi;
c. Sistem rotasi penugasan nondosen;
d. Pembinaan semangat kekeluargaan.
2. Tahap Pelaksanaan Standar
Inti dari pelaksanaan standar ini adalah setiap unit kerja di dalam ling-kungan Sekolah Tinggi harus secara konsisten, sistematis, dan terstruktur
berupaya untuk memenuhi/mencapai standar ini di dalam lingkungan kerja unitnya masing-masing. Hal terpenting adalah pimpinan unit harus secara sadar menjadikan standar ini sebagai tolok ukur/pedoman bagi unitnya dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing.
3. Tahap Pengendalian Standar
Inti dari pengendalian standar ini adalah setiap unit di dalam lingkungan Sekolah Tinggi harus mampu mengontrol dan mematau penerapan standar
secara konsisten dan optimal di lapangan atau pada kondisi faktual, dan kemudian mengambil tindakan korektif apabila ditemukan adanya
170 penyimpangan atau kesalahan. Hal terpenting adalah pimpinan unit harus selalu melakukan pengecekan untuk memastikan bahwa standar telah terpenuhi atau telah ditaati.
4. Tahap Pengembangan Standar
Tahap ini merupakan langkah akhir dari satu siklus penjaminan mutu secara utuh, dan sekaligus menjadi langkah awal dari siklus berikutnya.
Pada tahap ini pengelola standar harus mengevaluasi (i) pencapaian substansi standar, dan (ii) kemungkinan peningkatan substansi standar agar terjadi peningkatan mutu secara bertahap dan berkelanjutan.
O. STANDAR KERJASAMA