BAB I PENDAHULUAN
G. Sistematika Penulisan
1. Standar Kompetensi Guru
Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial, dan spiritual yang secara kaffah membentuk kompetensi standar profesi guru, yang mencakup penguasaan materi, pemahaman terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan pribadi dan profesionalisme (Mulyasa, 2011: 26).
Pasal 28 ayat 3 Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan secara tegas dinyatakan bahwa ada empat
kompetensi yang harus dimiliki guru sebagai agen pembelajaran. Keempat kompetensi itu adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.
a. Kompetensi Pedagogik
Secara pedagogis, kompetensi guru-guru dalam mengelola pembelajaran perlu mendapat perhatian yang serius, karena pendidikan di Indonesia dinyatakan kurang berhasil oleh sebagian masyarakat dari aspek pedagogis. Menurut Mulyasa (2011:75) kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut.
1) Pemahaman wawasan atau landasan kependidikan 2) Pemahaman terhadap peserta didik
3) Pengembangan kurikulum/silabus 4) Perancangan pembelajaran
5) Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis 6) Pemanfaatan teknologi pembelajaran
7) Evaluasi hasil belajar (EHB)
8) Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Perancangan pembelajaran merupakan salah satu kompetensi pedagogis yang harus dimiliki guru, yang akan diterapkan pada pelaksanaan pembelajaran. Perancangan pembelajaran mencakup identifikasi kebutuhan, identifikasi kompetensi, dan penyusunan
program pembelajaran. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik.
b. Kompetensi Kepribadian
Pribadi guru sangat berperan dalam membentuk pribadi peserta didik, karena manusia merupakan makhluk yang suka mencontoh, termasuk peserta didik yang mencontoh pribadi gurunya. Dengan demikian setiap guru dituntut untuk memiliki kompetensi kepribadian yang memadai, bahkan kompetensi ini akan melandasi atau menjadi landasan bagi kompetensi-kompetensi lainnya. Dalam hal ini, guru tidak hanya dituntut untuk mampu memaknai pembelajaran, tetapi dan yang paling penting adalah bagaimana dia menjadikan pembelajaran sebagai ajang pembentukan kompetensi dan perbaikan kualitas pribadi peserta didik.
Sebagai teladan, tentu saja apa yang dilakukan guru akan mendapat sorotan peserta didik serta orang di sekitar lingkungannya yang menganggap atau mengakuinya sebagai guru. Sehubungan itu, menurut Mulyasa (2011:127) beberapa hal di bawah ini perlu mendapat perhatian para guru:
1) Sikap dasar: postur psikologis yang akan nampak dalam masalah- masalah penting, seperti keberhasilan, kegagalan, pembelajaran, kebenaran, hubungan antar manusia, agama, pekerjaan.
2) Bicara dan gaya bicara: penggunaan bahasa sebagai alat berpikir. 3) Kebiasaan bekerja: gaya yang dipakai oleh seseorang dalam bekerja
yang ikut mewarnai kehidupannya.
4) Sikap melalui pengalaman dan kesalahan: pengertian hubungan antara luasnya pengalaman dan nilai serta tidak mungkinnya mengelak dari kesalahan.
5) Pakaian: merupakan perlengkapan pribadi yang amat penting dan menampakkan ekspresi seluruh kepribadian.
6) Hubungan kemanusiaan: diwujudkan dalam semua pergaulan manusia, intelektual, moral, keindahan, terutama bagaimana berperilaku.
7) Proses berpikir: cara yang digunakan oleh pikiran dalam menghadapi dan memecahkan masalah.
8) Keputusan: keterampilan rasional yang dipergunakan untuk menilai setiap situasi.
9) Kesehatan: kualitas tubuh, pikiran, dan semangat yang merefleksikan kekuatan, perspektif, sikap tenang, antusias, dan semangat hidup.
Islam memposisikan guru atau pendidik pada kedudukan yang mulia serta harus berakhalk mulia. Berkaitan dengan kompetensi kepribadian guru, dalam buku terjemahan Menggapai Cahaya Hidayah Al- Imam al-Ghazali (2013:170-171) menjelaskan adab-adab seorang guru yakni:
(1) Senantiasa bersabar (menerima keluhan dan masalah dari para murid), (2) senantiasa tenang (saat berhadapan dengan berbagai hal),
(3) duduk dengan tenang dan berwibawa serta menundukkan kepala, (4) tidak bersikap sombong terhadap siapapun kecuali kepada orang- orang yang berbuat zalim dengan tujuan mengingatkan mereka atas kezaliman yang mereka lakukan. (5) mengutamakan sikap tawadhu’ (rendah hati) dalam berbagai acara dan majelis, (6) meninggalkan sikap berkelakar dan bergurau, (7) berlemah-lembut kepada para murid, (8) bersikap halus dalam menghadapi murid yang nakal, (9) memperbaiki murud yang bodoh dengan memberikan petunjuk yang baik kepadanya dan tidak memarahinya, (10) tidak sungkan/gengsi untuk berkata: “aku tidak tahu”, (11) mencurahkan perhatian kepada seorang yang bertanya dan berusaha memahami pertanyaannya, (12) menerima hujjah/dalil (yang benar sekalipun dari murid, orang lain, bahkan lawan), (13) tunduk kepada kebenaran dengan kembali kepadanya jika melakukan kesalahan. (14) mencegah murid dari setiap ilmu yang membawa mudharat, (15) melarang murid mencari ilmu yang bermanfaat namun niatnya tidak mencari keridhaan Allah, (16) menghalangi murid dari menyibukkan diri dengan hal-hal yang fardhu ‘ain; dan yang fardhu ‘ain baginya adalah memperbaiki zhahir dan batinnya dengan ketaqwaan kepada Allah, (17) hendaklah orang yang alim terlebih dahulu mengatur dirinya dengan taqwa agar murid-muridnya dapat meneladani tingkah lakunya terlebih dahulu sebelum mengikuti tutur sapanya.
Kompetensi kepribadian guru yang dilandasi akhlak mulia tentu saja tidak tumbuh dengan sendirinya begitu saja, tetapi memerlukan ijtihad yang mujahadah, yakni usaha sungguh-sungguh, kerja keras, tanpa mengenal lelah, dengan niat ibadah.
c. Kompetensi Profesional
Dari berbagai sumber yang membahas tentang kompetensi guru, secara umum dapat diidentifikasikan dan disarikan tentang ruang lingkup kompetensi profesional guru sebagai berikut:
1) Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan.
2) Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf perkembangan peserta didik.
3) Mampu menangani dan mengembangkan bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya.
4) Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi.
5) Mampu mengembangkan dan menggunakan berbagai alat, media, dan sumber belajar yang relevan. Terkait dengan sumber belajar, buku tulis merupakan sumber belajar yang sangat penting bagi siswa MI. Menurut Suwardi (2017: 215) buku tulis memiliki pengaruh terhadap proses dan hasil belajar, terutama bagi siswa sekolah dasar.
6) Mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program
pembelajaran.
7) Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik.
8) Mampu menumbuhkan kepribadian peserta didik (Mulyasa, 2011: 136).
d. Kompetensi Sosial
Guru dalam menjalani kehidupannya seringkali menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kompetensi sosial yang memadai, terutama dalam kaitannya dengan pendidikan, yang tidak terbatas pada pembelajaran di sekolah tetapi juga pada pendidikan yang terjadi dan berlangsung di masyarakat. Maka guru harus memiliki kompetensi sebagai berikut:
a. Mampu berkomunikasi dengan masyarakat
b. Mampu bergaul dan melayani masyarakat dengan baik c. Mampu mendorong dan menunjang kreativitas masyarakat d. Menjaga emosi dan perilaku yang kurang baik
Dalam berinteraksi dengan peserta didik maupun masyarakat, guru sebagaimana diungkapkan bahwa “guru bisa digugu dan ditiru”. Maksudnya yaitu pesan-pesan yang disampaikan guru bisa dipercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya dapat ditiru atau diteladani. Maka guru harus memperhatikan lisan dengan berkomunikasi dan menyampaikan pesan-pesan yang baik dan memperhatikan pola hidupnya karena sebagai panutan orang lain, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S an-Nahl ayat 125:
َّنِإ ُنَسْحَأ َيِه يِتَّلاِب ْمُهْلِداَجَو ِةَنَسَحْلا ِةَظِعْوَمْلاَو ِةَمْكِحْلاِب َكِّبَر ِليِبَس ىَلِإ ُعْدا
ُمَلْعَأ َوُهَو ِهِليِبَس ْنَع َّلَض ْنَمِب ُمَلْعَأ َوُه َكَّبَر
َنيِدَتْهُمْلاِب
Artinya:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlahlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S an-Nahl ayat 125, Al Qur’an Terjemahan, 2007: 281)
Ayat diatas mengarahkan manusia agar dapat memberikan pesan- pesan dan pengajaran yang baik kepada orang lain. Sebagai seorang pendidik, guru harus mampu menyampaikan pesan-pesan baik kepada peserta didik, dan mampu berkomunikasi dengan baik sebagai contoh teladan bagi peserta didik maupun masyarakat di sekitarnya.