BAB II STANDAR NASIONAL INDONESIA SEBAGAI SUATU
D. Standar Nasional Indonesia Sebagai Suatu Bentuk
Welfare State Theory mengatakan: “Negara wajib memberikan perlindungan bagi warga negaranya”. Dalam hal perlindungan kepada warga negaranya adalah dalam bentuk pemberlakuan Standar Nasional Indonesia. Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia diterapkan agar pelaku usaha yang ada di Indonesia menstandardisasikan produk-produknya sesuai dengan pengaturan Standardisasi Nasional yang diterapkan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional. Selanjutnya, menurut John Keynes: “Negara bertanggung jawab kepada kesejahteraan rakyatnya”. Oleh karena itu, gagasan bahwa pemerintah dilarang campur tangan dalam urusan warga negara baik di bidang sosial maupun ekonomi (staatsonthouding dan laissez faire) lambat laun berubah menjadi gagasan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat dan karenanya harus aktif mengatur kehidupan ekonomi dan sosial.58
Kepentingan hukum adalah mengurusi hak dan kepentingan manusia, sehingga hukum memiliki otoritas tertinggi untuk menentukan kepentingan manusia yang perlu diatur dan dilindungi.
Artinya pemberlakuan Standar Nasional Indonesia wajib terhadap produk-produk yang berkaitan dengan keselamatan, kesehatan dan keamanan masyarakat mempunyai tujuan demi melindungi masyarakat agar terciptanya kesejahteraan bagi masyarakat itu sendiri.Masyarakat dalam hal ini disebut konsumen.
59
58 John Maynard Keynes, dalam Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, (Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm. 115.
59
Satjipto Raharjo, Ilmu Hukum, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2000), hlm. 69.
tahapan yakni perlindungan hukum lahir dari suatu ketentuan hukum dan segala peraturan hukum yang diberikan oleh masyarakat yang pada dasarnya merupakan kesepakatan masyarakat tersebut untuk mengatur hubungan perilaku antara anggota-anggota masyarakat dan antara perseorangan dengan pemerintah yang dianggap mewakili kepentingan masyarakat.Dalam hal ini masyarakat yang memerlukan perlindungan hukum adalah masyarakat yang menggunakan suatu produk disebut konsumen.
Ketentuan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang melindungi konsumen dari penggunaan barang yang tidak sesuai dengan standar yang ditentukan, adalah Pasal 8 ayat (1) a, yang menentukan bahwa pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Produk yang masuk ke dalam suatu negara harus memenuhi ketentuan tentang standar kualitas yang diinginkan dalam suatu negara. Hal ini berarti produk impor yang dikonsumsi oleh konsumen akan memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh masing-masing negara, sehingga konsumen akan terlindungi baik dari segi kesehatan, maupun tentang jaminan diperolehnya produk yang baik sesuai dengan harga yang dibayarkan. Oleh karena itu, untuk mengawasi kualitas/mutu barang, diperlukan adanya standardisasi mutu barang.60
Menyadari peranan standardisasi yang penting dan strategis tersebut, pemerintah dengan Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 1984 yang kemudian
60
disempurnakan dengan Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 1989 membentuk Dewan Standardisasi Nasional. Di samping itu, telah dikeluarkan pula Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Keppres Nomor 12 Tahun 1991 tentang Penyusunan, Penerapan, dan Pengawasan SNI dalm Rangka Pembinaan dan Pengembangan Standardisasi Secara Nasional.61
Untuk lebih menjamin suatu produk, yang diperlukan bukan hanya sampai pada dipenuhinya spesifikasi dan pembubuhan tanda SNI, tapi masih perlu dilakukan pengawasan oleh Departemen Perdagangan terhadap produk yang telah memenuhi spesifikasi SNI yang beredar di pasaran dalam negeri, maupun yang akan diekspor.
Dengan telah dibentuknya Dewan Standardisasi Nasional dan diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia dan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 1991 tentang Penyusunan, Penerapan, dan Pengawasan SNI, yang kemudian diindaklanjuti dengan Surat Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 22/KP/II/95, maka mulai 1 Februari 1996 hanya ada satu standar mutu saja di Indonesia, yaitu SNI.
62
Berkaitan dengan itu, maka terhadap komoditas ekspor dan impor berlaku ketentuan:63
61 Agung Putra, Pengendalian dan Pengawasan Mutu Produk, Balai Pengujian dan
Sertifikasi Mutu Barang-Kanwil Departemen Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, 1995, hlm. 1.
62 Republik Indonesia, Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 1991 tentang Penyusunan,
Penerapan, dan Pengawasan Standar Nasional Indonesia, Bab VI, Pasal 16 angka 2 dan 3.
63
1. Standar komoditas ekspor tidak boleh lebih rendah daripada SNI, yang berarti standar komoditas ekspor mempergunakan SNI atau dengan spesifikasi tambahan non mandatory bila diperlukan;
2. Standar komoditas impor minimal harus memenuhi SNI dan standar nasional negara yang bersangkutan.
Pemberlakuan SNI ini merupakan suatu usaha peningkatan mutu, yang disamping menguntungkan produsen, jua menguntungkan konsumen, tidak hanya konsumen dalam negeri, akan tetapi juga konsumen di luar negeri, karena standar yang berlaku di Indonesia telah disesuaikan dengan standar mutu Internasional, yaitu dengan telah diadopsinya ISO 9000 oleh Dewan Standardisasi Nasional dengan Nomor Seri SNI 19-9000: 1992. Di mana ISO 9000 sendiri pada umumnya:
1. Mengatur semua kegiatan dari perusahaan dalam hal teknis, administrasi dan sumber daya manusia yang mempengaruhi mutu produk dan jasa yang dihasilkan;
2. Memberikan kepuasan kepada para pelanggan dan pemakai akhir;
3. Penerapan konsep penghematan biaya dengan cara pelaksanaan pekerjaan yang benar pada setiap saat;
4. Memberikan petunjuk tentang koordinasi antara manusia, mesin dan informasi untuk mencapai tujuan standar;
5. Mengembangkan dam melaksanakan sistem manajemen mutu untuk mencapai tujuan mutu dari perusahaan.
Sasaran dari ISO 9000 salah satunya adalah untuk kebutuhan dan harapan pelanggan, yaitu kepercayaan terhadap kemampuan perusahaan untuk menghasilkan mutu yang diinginkan dan pemeliharaannya secara konsisten. ISO 9000 akan menunjang program perbaikan mutu untuk mencapai mutu yang memenuhi keinginan konsumen di seluruh dunia.64
1. Penerapan standar mutu yang tinggi akan menaikkan ongkos produksi;
Dengan diadopsinya ISO 9000 ini diharapkan dapat mengubah pola pikir pengusaha di negara berkembang yang pada umumya berpendapat bahwa barang yang baik dan seragam tidak menguntungkan perusahannya, karena berbagai alasan seperti:
2. Penekanan atas mutu suatu produk akan mengurangi produktivitas; 3. Konsumen di dalam negeri tidak kritis dengan standar mutu.
Padahal jika dicermati, pemenuhan standar sangat diperlukan dalam transaksi perdagangan Internsional karena menjamin keseragaman tingkat kualitas barang yang diperdagangkan.Demikian pula pemenuhan standar juga dapat mengurangi sengketa tentang kualifikasi dan kualitas barang yang diekspor atau diimpor.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kaitan Standar Nasional Indonesia dengan hak-hak konsumen adalah bahwa Standar Nasional Indonesia mampu melindungi hak-hak konsumen.Standar Nasional Indonesia menjamin konsumen untuk mendapatkan barang-barang yang bagus di pasaran sesuai dengan standarnya.Artinya Standar Nasional Indonesia juga berpihak kepada
64 Ramlan Zoebir, Penerapan Ketentuan Standardisasi Produk Dalam Hubungannya
Dengan Sistem Jamiinan Mutu, Makalah, Disampaikan pada Diklat Analisa Perdagangan Internasional, Jakarta, 30 November 1996, hlm. 5.
konsumen. Dengan kata lain Standar Nasional Indonesia adalah kepastian hukum sekaligus bentuk perlindungan terhadap konsumen.65
65Roni Harni Yance S. Garingging, dalam Jurnal “Aspek Hukum Perlindungan
Konsumen dalam Kebijakan Standar Nasional Indonesia (SNI) terhadap Industri Elektronik Rumah Tangga di Sumatera Utara (Studi Pada PT. Neo National Medan)”, 2014, hlm. 82.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada masa era globalisasi ini, Indonesia telah melakukan perkembangan yang cukup signifikan di berbagai bidang, khususnya bidang perdagangan barang. Tidak sedikit yang menginginkan produksi barang dari Indonesia, terutama yang “khas” dari Indonesia atau dengan kata lain yang tidak dapat ditemukan di negara manapun. Hal ini merupakan kesempatan yang besar bagi negara kita untuk meningkatkan daya saing dan meningkatkan perekonomian negara dengan pengadaan barang yang berkualitas. Terlebih dengan bergabungnya Indonesia dalam MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), dimana kesempatan para investor luar negeri untuk berinvestasi dan membuka usaha di Indonesia semakin terbuka lebar, maka diharapkan produk dalam negeri mampu bersaing dengan produk luar negeri. Akan tetapi, ada dampak negatif dalam era perdagangan bebas ini yang memungkinkan arus barang dan/atau jasa dapat masuk ke semua negara dengan bebas, sehingga berbagai macam jenis produk akan banyak beredar di pasaran.1
Semakin beragamnya produk barang yang dihasilkan oleh Pelaku Usaha/Produsen tentunya diperlukan suatu sarana informasi yang tepat dan benar agar hal ini tidak merugikan pihak Konsumen.Salah satu bentuk informasi adalah jaminan mengenai mutu atas produk yang dikonsumsinya.
1 Elly Hernawati, “Standardisasi Produk, Lindungi Kepentingan Konsumen”. Lihat
http://www.surabayapagi.com/index.php?3b1ca0a43b79bdfd9f9305b8129829624bc57f3a2987957 50e68058a43b5fd09 (diakses pada tanggal 19 April 2016).
Diterapkannya pasar bebas pada dasarnya dibutuhkan adanya kesiapan bagi para Pelaku Usaha/Produsen di dalam menghasilkan dan memasarkan produknya apakah sudah memenuhi kualitas mutu yang dikehendaki oleh pasar tersebut.Syarat minimal adalah adanya standardisasi dan sertifikasi pada produk yang dihasilkan dan dipasarkannya.2Apa itu standardisasi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), standardisasi ialah penyesuaian bentuk (ukuran, kualitas, dan sebagainya) dengan pedoman (standar) yang ditetapkan; pembakuan.3 Standardisasi ialah proses merencanakan, merumuskan, menetapkan, menerapkan, memberlakukan, memelihara, dan mengawasi Standar yang dilaksanakan secara tertib dan bekerja sama dengan semua Pemangku Kepentingan.4
Setiap Pelaku Usaha/Produsen harus memahami terlebih dahulu pengertian Standar. Standar adalah persyaratan teknis atau sesuatu yang
Mengingat pentingnya standardisasi ini, maka hal tersebut seharusnya dapat mendorong Pelaku Usaha/Produsen untuk meningkatkan mutu dan daya saing produksinya, baik dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun memenuhi kebutuhan luar negeri serta mampu menciptakan persaingan usaha yang sehat diantara para Pelaku Usaha/Produsen, khususnya untuk produksi barang yang sama atau sejenis.
2
Lihat : Bagian Menimbang huruf a. Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional, yang menyatakan bahwa : “Dalam rangka mendukung peningkatan produktivitas, daya guna produksi, mutu barang, jasa, proses, sistem dan atau personel, yang dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing, perlindungan konsumen, pelaku usaha, tenaga kerja dan masyarakat khususnya di bidang keselamatan, keamanan, kesehatan, dan lingkungan hidup maka efektivitas pengaturan di bidang standardisasi perlu lebih ditingkatkan”.
3 http://kbbi.web.id/standardisasi (diakses pada tanggal 19 April 2016).
4 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan
dibakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak/Pemerintah/keputusan internasional yang terkait dengan memperhatikan syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman, serta perkembangan masa kini dan masa depan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya.5
Barang yang tidak memenuhi syarat mutu dapat menimbulkan kerugian pada Konsumen, terlebih bila produk tersebut berupa makanan atau minuman yang dapat membahayakan kesehatan pada Konsumen. Oleh karena itu, dalam rangka untuk memasuki pasar bebas dibutuhkan adanya kesiapan terhadap produk-produk domestik, dan salah satu cara untuk melindungi produk domestik agar dapat bersaing dari serbuan produk-produk luar negeri adalah memperketat berlakunya standardisasi produk atau adanya penetapan standardisasi produk Indonesia.
Standardisasi produk barang sangat penting dalam perdagangan global. Kebijakan untuk memperketat standar itu perlu dilakukan karena banyak diketemukan produk-produk barang dengan tingkat keamanan yang rendah, misalnya pada produk makanan, minuman, obat-obatan, kosmetik, ataupun produk barang yang lain.
Pada dasarnya, standardisasi itu berfungsi untuk membantu menjembatani antara kepentingan Konsumen dengan kepentingan Pelaku Usaha/Produsen. Karena dengan cara menetapkan standar produk yang tepat, hal ini dapat memenuhi kepentingan dan mencerminkan apresiasi dari kedua belah pihak.
5 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan
Badan atau lembaga yang bertanggung jawab untuk membina, mengembangkan, serta mengkoordinasikan kegiatan di bidang standardisasi secara nasional adalah Badan Standardisasi Nasional yang dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 1997 yang disempurnakan dengan Keputusan Presiden Nomor 166 Tahun 2000 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah dan yang terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001.6Badan Standardisasi Nasional merupakan lembaga pemerintah non-kementerian Indonesia dengan tugas pokok mengembangkan dan membina kegiatan standardisasi di negara Indonesia.Badan ini menggantikan fungsi dari Dewan Standardisasi Nasional (DSN).7
Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah sistem standar nasional yang telah lama dan menjadi acuan Negara Indonesia dibawah Badan Standardisasi Nasional. Badan Standardisasi Nasional menerapkan standardisasi produk yang diproduksi di Indonesia maupun produk yang masuk dari negara lain. Sejalan dengan perkembangan kemampuan nasional di bidang standardisasi dan dalam Dalam melaksanakan tugasnya, Badan Standardisasi Nasional berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 102 tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional.Badan ini menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang digunakan sebagai standar teknis di Indonesia.
6Adi Purna Wijaya, “Proses Sertifikasi SNI Untuk Impor Produk Peralatan Makan Dan
Minum Melamin Pada PT. Famous Pacific Shipment Indonesia (FPS) Branch Yogyakarta” (Skripsi, Bisnis Internasional, Fakultas Ekonomi, Universitas Sebelas Maret, 2012).
7“Badan Standardisasi Nasional”.Lihat:
https://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Standardisasi_Nasional (diakses pada tanggal 19 April 2016).
mengantisipasi era globalisasi perdagangan dunia, kegiatan standardisasi yang meliputi standar dan penilaian kesesuaian secara terpadu perlu dikembangkan secara berkelanjutan khususnya dalam memantapkan dan meningkatkan daya saing produk nasional, memperlancar arus perdagangan, dan melindungi kepentingan umum.8
Mengenai sertifikasi, sebagaimana pasal 1 angka 11 Peraturan Pemerintah RI Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional adalah rangkaian kegiatan penerbitan sertifikat terhadap barang dan/atau jasa. Sedangkan pengertian sertifikat adalah jaminan tertulis yang diberikan oleh lembaga/laboratorium yang telah diakreditasi untuk menyatakan bahwa barang, jasa, proses, sistem atau personel telah memenuhi standar yang dipersyaratkan.9Bukti dari rangkaian kegiatan tersebut adalah berupa tanda Standar Nasional Indonesia (SNI) yang merupakan tanda sertifikasi yang ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk menyatakan telah terpenuhinya persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI).10
Terkait dengan pengertian-pengertian tersebut diatas, maka setiap produk yang dihasilkan Pelaku Usaha/Produsen seharusnya memberikan jaminan atas mutu dan kualitas kepada Konsumen, sehingga diperlukan adanya Sertifikasi Produk, yakni pemberian jaminan tertulis dari pihak ketiga independen bahwa
8Adi Purna Wijaya, “Proses Sertifikasi SNI Untuk Impor Produk Peralatan Makan Dan
Minum Melamin Pada PT. Famous Pacific Shipment Indonesia (FPS) Branch Yogyakarta” (Skripsi, Bisnis Internasional, Fakultas Ekonomi, Universitas Sebelas Maret, 2012).
9 Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang
Standardisasi Nasional, Bab I, Pasal 1 angka 12.
10 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan
suatu produk beserta proses yang mendukungnya telah memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan, keselamatan dan lingkungan.
Sertifikasi bertujuan mendukung penerapan standar keselamatan suatu produk. Hal ini sejalan dengan tujuan dari Standardisasi Nasional, yaitu:11
1. Meningkatkan perlindungan kepada konsumen, pelaku usaha, tenaga kerja, dan masyarakat lainnya baik untuk keselamatan, keamanan, kesehatan maupun pelestarian fungsi lingkungan hidup;
2. Membantu kelancaran perdagangan;
3. Mewujudkan persaingan usaha yang sehat dalam perdagangan.
Perlindungan kepada konsumen sebagaimana tertulis dalam poin pertama diatas makin terasa sangat penting, mengingat makin lajunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan motor penggerak bagi produktivitas dan efisiensi produsen atas barang atau jasa yang dihasilkan dalam rangka mencapai sasaran usaha. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua hal tersebut, akhirnya baik langsung maupun tidak langsung maka konsumenlah yang pada umumnya akan merasakan dampaknya. Dengan demikian, upaya-upaya untuk memberikan perlindungan yang memadai terhadap kepentingan konsumen merupakan suatu hal yang penting dan mendesak untuk segera dicari solusinya, terutama di Indonesia, mengingat sedemikian kompleksnya permasalahan yang meyangkut perlindungan konsumen, lebih-lebih dalam menghadapi era perdagangan bebas sekarang ini.12
11 Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang
Standardisasi Nasional, Bab I, Pasal 3.
12 Husni Syawali dan Neni Sri Imaniyati, Hukum Perlindungan Konsumen (Bandung :
Suatu produk yang sudah memenuhi standar akan diberikan Sertifikasi Produk dan biasanya hal itu ditempatkan/dimuncukan pada produknya ataupun pada kemasannya. Suatu produk yang sudah memiliki Sertifikasi Produk memberikan jaminan terhadap produk yang dihasilkan oleh Pelaku Usaha/Produsen tersebut.Karena sertifikasi atas suatu produk itu baru diberikan setelah melalui pengujian dan memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan berdasarkan aturan tentang penstandardan. Dengan kata lain, kepercayaan Konsumen atas produk yang akan dikonsumsinya terletak pada ada atau tidaknya bukti sertifikasi pada produk tersebut, salah satu bentuk suatu produk telah memenuhi penstandardan adalah berlabel SNI.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian permasalahan di atas, permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana bentuk perlindungan terhadap konsumen jika dikaitkan dengan standar nasional Indonesia?
2. Bagaimana prosedur penerbitan sertifikat produk penggunaan tanda standar nasional Indonesia?
3. Bagaimana tanggung jawab lembaga sertifikasi produk terhadap penerbitan sertifikat produk penggunaan tanda standar nasional Indonesia dalam rangka perlindungan konsumen?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
1. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, tujuan penelitian skripsi ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk memahami bentuk perlindungan terhadap konsumen yang berkaitan erat dengan Standar Nasional Indonesia.
b. Untuk mengetahui prosedur penerbitan sertifikat produk penggunaan tanda Standar Nasional Indonesia.
c. Untuk mengetahui tanggung jawab lembaga sertifikasi produk terhadap penerbitan sertifikat produk penggunaan tanda Standar Nasional Indonesia dalam rangka perlindungan konsumen.
2. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan ini adalah sebagai berikut: 1. Secara teoritis
Pembahasan terhadap masalah dalam tulisan ini akan memberikan pemahaman mengenai bentuk perlindungan terhadap konsumen yang erat kaitannya dengan Standar Nasional Indonesia, prosedur penerbitan sertifikat produk penggunaan tanda Standar Nasional Indonesia, dan tanggung jawab lembaga sertifikasi produk terhadap penerbitan sertifikat produk penggunaan tanda Standar Nasional Indonesia dalam rangka perlindungan konsumen, mengingat bahwa buku dan tulisan yang membahas masalah yang berkenaan dengan tema tulisan ini masih minim maka penulisan ini didukung oleh pendapat sarjana, untuk itu penulis
mengharapkan tulisan ini dapat menambah wawasan pemikiran terhadap Standar Nasional Indonesia dan lembaga sertifkasi produk penggunaan tanda Standar Nasional Indonesia.
2. Secara praktis
Tulisan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi para pembaca, baik kalangan akademis yang belum mengetahui bagaimana tanggung jawab lembaga sertifikasi produk terhadap penerbitan sertifikat produk penggunaan tanda Standar Nasional Indonesia dan bagi para konsumen agar mengetahui bahwa sebelum menggunakan suatu produk dalam negeri hendaknya memperhatikan mutu dan kualitas produk tersebut, salah satunya ialah dengan cara melihat apakah produk tersebut sudah mendapat sertifikasi dan standardisasi melalui label SNI.
D. Keaslian Penulisan
Berdasarkan hasil penelusuran dan pemeriksaan di perpustakaan Pusat Universitas Sumatera Utara dan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara skripsi dengan judul “Tanggung Jawab Lembaga Sertifikasi Produk Terhadap Penerbitan Sertifikat Produk Penggunaan Tanda Standar Nasional Indonesia Dalam Rangka Perlindungan Konsumen” ini belum pernah ditulis sebelumnya.Dengan demikian, dilihat dari permasalahan serta tujuan yang hendak dicapai melalui penulisan skripsi ini, maka dapat dikatakan bahwa skripsi ini merupakan karya sendiri yang asli dan disusun melalui referensi buku-buku dan informasi dari media cetak maupun media elektronik sehingga
hasil penulisan ini dapat dipertanggungjawabkan terutama secara ilmiah atau secara akademik.
E. Tinjauan Kepustakaan
1. Standar Nasional Indonesia (SNI)
Standar Nasional Indonesia (SNI) memang adalah satu-satunya standar yang berlaku secara nasional di Indonesia.Standar Nasional Indonesia (SNI) dirumuskan oleh Panitia Teknis dan ditetapkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN).
Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah dokumen berisi ketentuan teknis (merupakan konsolidasi IPTEK dan pengalaman) (aturan, pedoman atau karakteristik) dari suatu kegiatan atau hasilnya yang dirumuskan secara konsensus (untuk menjamin agar suatu standar merupakan kesepakatan pihak yang berkepentingan) dan ditetapkan (berlaku di seluruh wilayah nasional) oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) untuk dipergunakan oleh pemangku kepentingan dengan tujuan mencapai keteraturan yang optimum ditinjau dari konteks keperluan tertentu.13
Agar Standar Nasional Indonesia (SNI) memperoleh keberterimaan yang luas antara para stakeholder, maka Standar Nasional Indonesia (SNI) dirumuskan dengan memenuhi WTO Code of good practice, yaitu:14
13
Indah Aritonang, “SNI ( Standar Nasional Indonesia), Standardisasi Tingkat Nasional”. http://indaharitonang-fakultaspertanianunpad.blogspot.co.id/2013/10/sni-standar-nasional-
indonesia.html (diposting Minggu, 6 Oktober 2013).
14“Standar Nasional Indonesia”.
a. Openness (keterbukaan): Terbuka bagi agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat berpartisipasi dalam pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI);
b. Transparency (transparansi): Transparan agar semua stakeholder yang berkepentingan dapat mengikuti perkembangan Standar Nasional Indonesia (SNI) mulai dari tahap pemrograman dan perumusan sampai ke tahap penetapannya. Dan dapat dengan mudah memperoleh semua informasi yang berkaitan dengan pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI);
c. Consensus and impartiality (konsensus dan tidak memihak): Tidak memihak dan konsensus agar semua stakeholder dapat menyalurkan kepentingannya dan diperlakukan secara adil;
d. Effectiveness and relevance: Efektif dan relevan agar dapat memfasilitasi perdagangan karena memperhatikan kebutuhan pasar dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
e. Coherence: Koheren dengan pengembangan standar Internasional agar perkembangan pasar negara kita tidak terisolasi dari perkembangan pasar global dan memperlancar perdagangan Internasional;
f. Development dimension (berdimensi pembangunan): Berdimensi pembangunan agar memperhatikan kepentingan publik dan kepentingan nasional dalam meningkatkan daya saing perekonomian nasional.
Indonesia dalam rangka meningkatkan mutu dan dan daya saing produk untuk memasuki pasar nasional, regional, maupun Internasional, serta memberikan perlindungan pada konsumen, setiap produk yang akan diekspor maupun yang beredar di pasar dalam negeri perlu diawasi dan dikendalikan