BAB II PENGELOLAAN
A. Tata Kelola SMP Satu Atap
4. Standar Pembiayaan
Standar pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya personal, dan biaya operasional. Biaya investasi satuan pendidikan sebagaimana yang dimaksud meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap. Sedangkan biaya personal sebagaimana dimaksud meliputi biaya
51
pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.
Biaya operasional satuan pendidikan sebagaimana dimaksud di atas meliputi:
a. Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji;
b. Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai; dan
c. Biaya operasional pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya.
Pada prinsipnya, pengelolaan pembiayaan berdasar pada Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Sekolah diberikan fleksibilitas terhadap penggunaan sumber daya (dana, informasi, dan pengetahuan) untuk berinovasi dan berkreativitas secara mandiri dengan memperhatikan prinsip-prinsip efisiensi, efektifitas, akuntabilitas, dan transparansi.
Pengelolaan pembiayaan pendidikan pada tingkat Sekolah Menengah Pertama mengacu pada standar biaya nonpersonalia yang tertuang pada Permendiknas Nomor 69 tahun 2009 serta dapat ditunjang oleh Permendikbud yang berkenaan tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Sekolah Reguler yang berlaku sebagai instrumen pembantu pembiayaan operasional sekolah.
Dalam pemenuhan mutu standar pembiayaan, sekolah perlu memperhatikan beberapa aspek, diantaranya adalah layanan subsidi silang, beban operasional sekolah, dan pengelolaan dana. Ketiga aspek tersebut merupakan indikator mutu standar pembiayaan yang digunakan oleh Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan dalam mengukur pemenuhan standar pembiayaan di sekolah.
a. Layanan Subsidi Silang
Aspek layanan subsidi silang yang dimaksud dalam pemenuhan mutu standar pembiayaan meliputi pembebasan biaya bagi peserta didik tidak mampu, tersedianya daftar peserta didik dengan latar belakang ekonomi yang jelas, dan
52
membantu peserta didik kurang mampu. Pembebasan biaya bagi peserta didik tidak mampu dapat berupa pengurangan dan pembebasan biaya Pendidikan (seperti dana BOS, BOSDA, BOP, dll), pemberian beasiswa (PIP dan beasiswa lainnya), serta bentuk lainnya yang memberikan fasilitas bagi peserta didik tidak mampu untuk mengakses pendidikan secara cuma-cuma. Bentuk lainnya dapat pula berupa peniadaan pungutan biaya operasional lainnya (biaya yang dikeluarkan oleh peserta didik selain uang sekolah yang relevan) kepada peserta didik tidak mampu seperti biaya ujian, praktikum, perpisahan, study tour, dan lain-lain. Bentuk layanan subsidi ini pun dapat berupa penetapan pendidikan gratis bagi seluruh peserta didik sesuai dengan peraturan resmi pemerintah maupun Pemerintah Daerah.
Maksud dari indikator tersedianya daftar peserta didik dengan latar belakang ekonomi yang jelas adalah sekolah secara terbuka dan transparan mengelola data latar belakang ekonomi peserta didik untuk dapat diakses sesuai dengan peruntukannya. Data latar belakang ekonomi peserta didik yang dimaksud diantaranya adalah data peserta didik tidak mampu, data peserta didik penerima beasiswa, maupun data riil pemasukan pembayaran dari orang tua peserta didik yang ada pada buku kas/laporan keuangan jika ada.
Indikator melaksanakan subsidi silang untuk membantu peserta didik kurang mampu pada prinsipnya menggambarkan bagaimana sekolah memberikan pelayanan bagi peserta didik kurang mampu untuk memperoleh bantuan dalam memenuhi biaya pendidikannya. Bentuk pelaksanaan subsidi silang ini dapat berupa pertimbangan kemampuan ekonomi orang tua peserta didik dalam penetapan uang sekolah (jika ada). Subsidi silang kepada peserta didik kurang mampu secara ekonomi dapat pula dalam bentuk pengurangan dan pembebasan biaya Pendidikan, pemberian beasiswa, maupun bantuan pemerintah dan lembaga lainnya yang dapat dikategorikan sebagai bantuan sehingga peserta didik yang kurang mampu dapat mengikuti Pendidikan secara teratur dan berkelanjutan.
53
b. Beban Operasional Sekolah
Dalam proses pemenuhan mutu pendidikan pada aspek pembiayaan, sekolah harus memiliki perhitungan beban operasional sekolah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Secara prinsip, beban operasional sekolah ini merupakan biaya operasional nonpersonalia. Biaya operasional nonpersonalia adalah standar biaya yang diperlukan untuk membiayai kegiatan operasional nonpersonalia selama 1 (satu) tahun untuk SMP sebagai bagian dari keseluruhan dana Pendidikan agar satuan Pendidikan dapat melakukan kegiatan Pendidikan secara teratur dan berkelanjutan sesuai Standar Nasional Pendidikan.
Untuk memenuhi standar mutu pembiayaan pendidikan, sekolah perlu menetapkan dan memiliki standar biaya yang diperlukan untuk membiayai kegiatan operasional nonpersonalia selama 1 (satu) tahun per sekolah, per rombongan belajar, dan per peserta didik, serta besaran persentase minimum biaya alat tulis sekolah (ATS) maupun bahan dan alat habis pakai (BAHP). Pengambilan keputusan dalam penetapan besaran dana yang dihimpun dari masyarakat sebagai biaya operasional dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak tekait, seperti kepala sekolah, komite sekolah, perwakilan guru, perwakilan tenaga kependidikan, serta perwakilan peserta didik.
c. Pengelolaan Dana
Proses pengelolaan dana sebagai bagian dari pemenuhan standar mutu pembiayaan Pendidikan yang dimaksud meliputi pengaturan alokasi dana yang berasal dari APBD, APBN, serta sumber lainnya, dan pelaporan pengelolaan dana. Tidak dapat dipungkiri, pengelolaan dana Pendidikan di sekolah merupakan bagian krusial pendukung proses pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah. Oleh sebab itu, pengetahuan dan pemahaman bagaimana mengelola dana ini dengan baik merupakan suatu keharusan bagi semua pemangku kepentingan dalam menciptakan layanan pendidikan yang bermutu.
Indikator pertama dalam upaya memenuhi standar pembiayaan Pendidikan yang bermutu ialah terdapatnya pengaturan alokasi dana yang berasal dari APBN, APBD,
54
maupun sumber lainnya yang diperoleh sekolah dalam mengelola proses layanan pendidikan dengan baik, terstruktur, komprehensif, serta transparan. Hal tersebut dapat dideskripsikan dengan bagaimana sekolah menyusun pedoman pengelolaan biaya investasi dan operasional yang mencakup sumber pemasukan, pengeluaran, jumlah dana yang dikelola, penyusunan dan pencairan anggaran, penggalangan dana di luar investasi dan operasional, kewenangan dan tanggung jawab kepala sekolah dalam membelanjakan anggaran pendidikan sesuai dengan peruntukannya, serta pembukuan semua penerimaan, pengeluaran, dan penggunaan anggaran. Dalam penyusunannya, sekolah harus memiliki juga pedoman pengelolaan keuangan terkait sumbangan pendidikan atau dana dari masyarakat.
Pelaporan pengelolaan dana merupakan indikator kedua dari upaya pemenuhan standar pembiayaan Pendidikan yang bermutu pada aspek pengelolaan dana. Beberapa hal yang berkaitan dengan pelaporan pengelolaan dana ini diantaranya adalah setidaknya memiliki pembukuan biaya operasional berupa buku kas umum yang didukung oleh catatan dari buku pembantu yang rapi, terstruktur, dan komunikatif. Bentuk pelaporan tersebut harus dapat diakses oleh para pemangku kepentingan sesuai dengan peruntukannya. Pelaporan ini pun seyogiyanya dapat diakses oleh pemangku kepentimhan melalui berbagai media baik media pertemuan, cetak, digital, maupun internet.