BAB II LANDASAN TEORI
D. Standar Profesi dan Standar Prosedur
Dalam Pasal 51 Huruf a Undang-Undang Praktik Kedokteran jo
Pasal 53 Ayat (2) Undang-Undang Kesehatan, mewajibkan dokter untuk
mengikuti standar profesi dan standar prosedur operasional dalam
menjalankan profesinya.
10Salah satu cara untuk membuktikan apakah
suatu perbuatan dokter termasuk dalam kategori malapraktik dilihat dari
apakah tindakan-tindakan dokter tersebut tidak memenuhi standar profesi
dan standar proesedur operasional kedokteran.
Leenen dan van der Mijn ahli hukum kesehatan Belanda
berpendapat bahwa dalam melaksanakan profesinya, seorang tenaga
kesehatan perlu berpegang pada tiga ukuran umum, yaitu:
111. Kewenangan;
2. Kemampuan rata-rata; dan
10
Adami Chazawi, Malapraktik Kedokteran, (Malang: Bayumedia Publishing, 2007), h. 28 11 Wila Chandrawila Supriadi, Hukum Kedokteran, (Bandung: CV Mandar Maju, 2001), h. 52
3. Ketelitian yang umum.
Penjelasan Pasal 50 Undang-Undang Praktik Kedokteran
menerangkan bahwa standar profesi medis adalah batasan kemampuan
(knowledge, skill, and professional attitude) minimal yang harus dikuasai
oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya
pada masyarakat secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi.
Leenen menjelaskan tentang standar profesi kedokteran sebagai
berikut :
1. Berbuat secara telilit/seksama;
2. Sesuai ukuran ilmu medis;
3. Kemampuan rata-rata dibanding kategori keahian medis yang sama;
4. Situasi dan kondisi yang sama;
5. Sarana upaya yang sebanding dengan tujuan konkrit tindakan
perbuatan tersebut.
12Disamping standar profesi yang harus diturut dokter dalam
memberikan pelayanan kesehatan, Pasal 50 Undang-Undang Praktik
Kedokteran juga menyebutkan standar prosedur operasional. Pengertian
standar prosedur operasional adalah suatu perangkat
instruksi/langkah-langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin
tertentu. Standar prosedur operasional memberikan langkah yang benar
dan terbaik berdasarkan konsensus bersama untuk melaksanakan berbagai
kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan
12 Budiya to, “ta dar Profesi , Artikel diakses pada 4 Juli 6 dari https://budi399.wordpress.com/2010/11/22/standar-profesi/
kesehatan (hospital) berdasarkan standar profesi.
13E. Informed Consent
Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan
komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien, dan bertemunya
pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan
terhadap pasien.
14Informed consent sangatlah penting mengingat tidak ada
yang dapat menduga hasil akhir dari pelayanan kedokteran. Dalam
informed consent, dokter menjelaskan mengenai diagnosis penyakit
pasien, terapi yang akan di lakukan serta risiko-risikonya. Pasien secara
bebas dapat menolak atau menyetujui terapi tersebut.
Dengan persetujuan informed consent oleh pasien secara tidak
langsung telah memberikan persetujuan kepada dokter untuk dilakukan
terapi kedokteran dengan segala risikonya. Apabila dalam terapi
kedokteran tersebut menimbulkan kerugian kepada pasien seperti luka,
cacat dan meninggal maka dokter tidak dapat dituntut selama memenuhi
standar profesi dan standar prosedur karena termasuk dalam kategori risiko
medis.
Informasi dan penjelasan dalam informed consent dianggap cukup,
apabila telah mencakup beberapa hal dibawah ini, yaitu :
151. Tujuan dan prospek keberhasilan tindakan medis yang akan dilakukan;
13
Adami Chazawi, Malapraktik Kedokteran, (Malang: Bayumedia Publishing, 2007), h. 35 14
Budi Sampurna, dkk, Bioetik dan Hukum Kedokteran, (Jakarta: Pustaka Dwipar, 2007), h. 79
15
2. Tata cara tindakan medis yang akan dilakukan;
3. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi;
4. Alternatif tindakan medis lain yang tersedia serta risikonya
masing-masing;
5. Prognosis penyakit apabila tindakan medis tersebut dilakukan;
6. Diagnosis.
Undang-Undang Praktik Kedokteran menentukan persetujuan
pasien dapat diberikan secara tertulis atau lisan, namun dalam praktik
informed consent dapat dilakukan secara diam, sikap pasrah.
16Persetujuan
tertulis menjadi mutlak terhadap praktik kedokteran yang memiliki risiko
tinggi. Namun, dalam kondisi tertentu seperti keadaan darurat, pasien tidak
sadarkan diri dan dibawah pengampuan maka persetujuannya dapat
ditunda sampai pasien sadar atau meminta persetujuan kepada keluarga
pasien.
F. Transaksi Terapeutik
Menurut seorang pakar hukum H.H. Koeswadji, transaksi
terapeutik adalah perjanjian (verbintenis) untuk mencari atau menentukan
terapi yang paling tepat bagi pasien oleh dokter dan tenaga kesehatan.
Sedangkan menurut Veronica Komalawati, transaksi terapeutik adalah
hubungan hukum antara dokter dan pasien dalam pelayanan medis secara
profesional didasarkan kompetensi yang sesuai dengan keahlian dan
16 Veronika Komalawati, Peranan Informed Consent dalam Transaksi Terapeutik, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 2002), h.110
keterampilan tertentu dibidang kedokteran.
17Didasarkan mukadimah Kode Etik Kedokteran Indonesia yang
dilampirkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 434/MEN.KES/X/1983 Tentang Berlakunya Kode Etik
Kedokteran Indonesia Bagi Para Dokter di Indonesia, maka yang di
maksud dengan transaksi terapeutik adalah hubungan antara dokter dan
penderita yang dilakukan dalam suasana percaya, serta senantiasa diliputi
oleh segala emosi, harapan dan kekhawatiran makhluk insani.
18Hubungan
yang didasarkan kepercayaan jarang diwujudkan dalam bentuk kontrak
tertulis.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) Pasal 1313
menyebutkan, suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dimana satu orang
atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih. Pengikatan
diri antara pasien dengan dokter diawal dengan persetujuan pasien
terhadap pengobatan atau terapi yang ditawarkan dokter dalam rangka
penyembuhan (informed consent).
Perikatan hukum dokter dengan pasien termasuk suatu jenis
perikatan hukum yang disebut inspanningverbintenis
19atau perikatan
usaha.
20Artinya, suatu bentuk perikatan yang isi prestasinya adalah salah
17
Cecep Triwibowo, Etika Hukum Kesehatan, (Yogyakarta: Nuha Medika, 2014), h.62 18 Cecep Triwibowo, Etika Hukum Kesehatan, (Yogyakarta: Nuha Medika, 2014), h.62 19
Oemar Seno Adji, Etika Profesional dan Hukum Pertanggungjawaaban Pidana Dokter, (Jakarta: Erlangga, 1991), h.109
20 Marjanne Termorhuizen, Kamus Hukum Belanda-Indonesia, (Jakarta: Jambatan, 1999), h.181
satu pihak (dokter) maka harus berbuat sesuatu secara maksimal dengan
sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya kepada pihak lain (pasien).
Kewajiban pokok seorang dokter terhadap pasiennya adalah inspanning,
yakni suatu usaha keras dari dokter tersebut yang harus dijalankan dan
yang diperlukan untuk menyembuhkan kesehatan dari pasien.
21Transaksi terapeutik antara dokter dan pasien bukan termasuk
perjanjian resultaats karena objek perjanjian bukan hasil pelayanan medis
oleh dokter, tetapi tingkah laku atau perlakuan pelayanan medis yang di
lakukan dokter. Dokter tidak mampu menjamin hasil akhir.
22G. Risiko Medis
Perlu dibedakan antara malapraktik medis dengan risiko medis
pada tindakan/pelayanan medis. Risiko medis merupakan suatu cedera
yang terjadi dalam suatu tindakan medis, yang tidak dapat
dibayangkan/diperkirakan sebelumnhya dan bukan sebagai akibat dari
kekurangcakapan di pihak dokter melainkan sebuah takdir, dan dokter
tidak betanggungjawab secara hukum.
23Suatu perbuatan dokter yang dikategorikan risiko medis adalah
apabila dokter telah melakukan tugasnya sesuai dengan standar
profesi atau standar prosedur dan/atau standar pelayanan medis yang
baik namun tetap terjadi cedera pada pasien yang di luar dugaan.
21
Oemar Seno Adji, Etika Profesional dan Hukum Pertanggungjawaaban Pidana Dokter, (Jakarta: Erlangga, 1991), h.109
22 Bahar Azwar, Sang Dokter, (Jakarta: Kesaint Blanc, 2002), h.50 23
Keadaan semacam ini seharusnya disebut dengan risiko medis, dan
risiko ini terkadang dimaknai oleh pihak-pihak diluar profesi
kedokteran sebagai medical malpractice. Untuk katagori risiko medis
ini, dokter tidak bisa langsung disalahkan karena apa yang
dilakukan sudah sesuai dengan standar profesi. Sedangkan untuk
medical malpractice itu sendiri adalah kesalahan dalam
menjalankan profesi medis yang tidak sesuai dengan standar
profesi medis dan etika kedokteran dalam menjalankan
profesinya. Untuk ini dokter dapat diminta pertanggungjawabannya
baik secara pidana, perdata, perlindungan konsumen, maupun kode
etik.
28
A. Pertanggungjawaban Dokter terhadap Malapraktik Medis Ditinjau
dari Hukum Perdata
Dari sudut hukum perdata, hubungan hukum dokter – pasien berada
dalam suatu perikatan hukum (verbintenis).
1Perikatan artinya hal yang
mengikat subjek hukum yang satu terhadap subjek hukum yang lain.
2Perikatan tadi melahirkan hak dan kewajiban kepada dokter dan pasien
yang harus dipatuhi oleh kedua belah pihak. Disamping melahirkan hak
dan kewajiban para pihak, hubungan hukum dokter-pasien juga
membentuk petanggungjawaban hukum masing-masing. Bagi pihak
dokter, prestasi berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam hal ini (in
casu) tidak berbuat salah atau keliru dalam perlakuan medis yang semata
ditujukan bagi kepentingan kesehatan pasien adalah kewajiban hukum
yang sangat mendasar dalam perjanjian dokter-pasien (perjanjian
terapeutik) yang dalam Pasal 39 Undang-Undang Praktik Kedokteran
disebut sebagai kesepakatan antara dokter atau dokter gigi dengan pasien.
3Dilihat dari sumber lahirnya perikatan, ada dua kelompok
perikatan hukum, kelompok pertama ialah perikatan yang lahir oleh suatu
1
Adami Chazawi, Malapraktik Kedokteran, (Malang: Bayumedia Publishing, 2007), h. 41 2 Abdulkadir Muhamad, Hukum Perikatan, (Bandung: Penerbit Alumni, 1982),h. 5 3
kesepakatan dan kedua ialah perikatan yang lahir oleh undang-undang.
Hubungan hukum dokter-pasien berada dalam kedua jenis perikatan
hukum tersebut. Bentuk perlindungan hukum terhadap korban malapraktik
oleh dokter yang diatur dalam KUH Perdata, yaitu berupa pengaturan
pertanggungjawaban dokter yang melakukan malapraktik untuk
memberikan ganti rugi kepada korban malpraktek atas kerugian yang
timbul karena : a. Tidak ditepatinya perjanjian terapeutik yang telah
disepakati oleh dokter atau wanprestasi (cidera janji), yaitu
berdasarkan Pasal 1243 KUH Perdata. b. Perbuatan melawan hukum,
yaitu berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata. c. Kelalaian atau
ketidakhati-hatian dalam berbuat atau bertindak, yaitu berdasarkan Pasal
1366 KUH Perdata. d. Melalaikan kewajiban berdasarkan Pasal 1367
Ayat (3) KUH Perdata. Pelanggaran kewajiban hukum dokter dalam
perikatan hukum karena kesepakatan (perjanjian terapeutik) membawa
suatu keadaan wanprestasi. Pelanggaran suatu kewajiban hukum atas
kewajiban hukum dokter karena undang-undang membawa suatu keadaan
perbuatan melawan hukum (onrechmatige daad).
4Penjelasan mengenai
malapraktik kedokteran karena wanprestasi dan perbuatan melawan
hukum dari segi perdata adalah sebagai berikut:
1. Wanprestasi dalam Malapraktik Kedokteran
Hubungan dokter dengan pasien selalu diawali dengan
transaksi terapeutik, yaitu dokter berjanji untuk melakukan upaya
4
yang maksimal dengan ukuran tidak menyimpang dari standar profesi
medis dan standar prosedur operasional dalam menyembuhkan pasien.
Wanprestasi (wanprestatie) dalam arti harfiah adalah prestasi
yang buruk
5yang pada dasarnya melanggar isi/kesepakatan dalam
suatu perjanjian/kontrak oleh salah satu pihak. Bentuk nyata
pelanggaran perjanjian ada 4 macam yakni sebagai berikut:
6a. Tidak memberikan prestasi sama sekali sebagaimana yang
diperjanjikan;
b. Memberikan prestasi tidak sebagaimana mestinya tidak sesuai
kualitas atau kuantitas dengan yang diperjanjikan;
c. Memberikan prestasi tetapi sudah terlambat tidak tepat waktu
sebagaimana yang diperjanjikan;
d. Memberikan prestasi yang lain dari yang diperjanjikan semula.
Wanprestasi dokter yang paling dekat pada bentuk
pelanggaran kewajiban pada poin b dan d. Dokter telah memberikan
prestasi berupa pelayanan medis pada pasien tetapi tidak sebagaimana
mestinya, yakni melanggar standar profesi medis atau standar
prosedur termasuk dalam wanprestasi poin b. Dokter yang
memberikan prestasi tidak sesuai dengan kebutuhan medis pasien
adalah wanspretasi poin d.
7Selain melanggar isi perjanjian, dalam wanprestasi juga harus
5
Subekti, HukumPerjanjian, (Jakarta: PT Intermasa, 1985), h. 45 6 Subekti, HukumPerjanjian, (Jakarta: PT Intermasa, 1985), h. 45 7
terkandung unsur kerugian yang diakibatkan dari malapraktik
kedokteran secara causal verband (akibat langsung). Setelah terbukti
adanya kerugian, baru pada bagaimana wujud perlakuan medis yang
dilakukan oleh dokter, baik pada saat pemeriksaan untuk mendapatkan
fakta-fakta medis untuk menarik diagnosis dan menjalankan terapi
sampai pada perlakuan-perlakuan setelah terapi dijalankan.
Dokter yang terbukti melakukan wanprestasi dalam
malapraktik medis dapat diminta pertanggungjawabannya lewat
gugatan wanprestasi. Pertanggungjawaban tersebut diatur dalam pasal
1243 KUH Perdata yakni dokter harus memberikan penggantian biaya
dan kerugian. Biaya adalah segala bentuk pengeluaran pasien seperti
biaya berobat, biaya perjalanan dan biaya perawatan. Kerugian
merupakan pengurangan fungsi atau kehilangan sesuatu seperti tangan
pasien yang cacat sehingga tidak bisa bekerja.
Tuntutan atas dasar wanprestasi dan perbuatan melanggar
hukum tidak begitu saja dapat ditukar-tukar. Wanprestasi
menuntut adanya suatu perjanjian antara pasien dan dokter.
Sebaliknya pada perbuatan melanggar hukum, biasanya
penggugat dan tergugat baru pertama kali bertemu ini tidak berarti
bahwa apabila kedua belah pihak telah mengadakan perjanjian dan
kemudian timbul kecelakaan lalu mereka hanya dapat menuntut
atas dasar wanprestasi saja. Karena dapat terjadi, dalam
kejadian tidak terpenuhinya suatu kewajiban kontrak medis
juga menimbulkan suatu perbuatan melanggar hukum atau dengan
kata lain wanprestasi mungkin terjadi pada waktu yang sama
menimbulkan juga suatu perbuatan melanggar hukum.
Secara teori malapraktik medis dapat dituntut melalui gugatan
wanprestasi. Namun, pada praktiknya tuntutan malapraktik medis
diajukan dengan gugatan perbuatan melawan hukum. Hal ini
dikarenakan objek yang diperjanjikan di dalam perjanjian terapeutik
merupakan usaha dokter yang sebaik-baiknya dalam menyembuhkan
pasien dengan tolak ukur standar profesi dan standar prosedur.
Berbeda apabila dokter memberikan janji atas perbaikan kondisi atau
kesembuhan pasien. Standar profesi sendiri merupakan bentuk
perikatan yang lahir dari undang-undang yang pelanggarannya
dianggap perbuatan melawan hukum. Karena tolak ukur dari
perjanjian terapeutik umumnya merupakan undang-undang maka pada
tataran praktik malapraktik medis digugat dengan dasar perbuatan
melawan hukum dan bukan dengan wanprestasi.
2. Perbuatan Melawan Hukum dalam Malapraktik Kedokteran
Dalam Pasal 1353 KUH Perdata disebutkan perikatan yang
lahir dari undang-undang sebagai akibat perbuatan orang, muncul dan
suatu perbuatan yang sah atau dan perbuatan melawan hukum.
Maksud dari pasal tersebut adalah perikatan yang berdasarkan
undang-undang timbul dari perbuatan seseorang yang sesuai maupun
bertentangan dengan undang-undang.
Syarat bagi seseorang untuk dapat dikatakann telah
melakukan perbuatan melawan hukum adalah :
8a. Adanya perbuatan (daad) yang termasuk klasifikasi perbuatan
melawan hukum;
b. Adanya kesalahan si pembuat;
c. Adaya akibat kerugian (schade);
d. Adanya hubungan perbuatan dengan akibat kerugian (oorzakelijk
verband atau causal verband) orang lain.
Di dalam Pasal 51 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004
Tentang Praktik Kedokteran jo Pasal 58 Ayat (1) Undang-Undang
Nomor 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan diatur mengenai
kewajiban dokter mengatur tentang kewajiban dokter untuk
memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar profesi,
standar prosedur, etika perofesi, dan kebutuhan medis pasien. Apabila
seorang dokter melakukan pelanggaran terhadap pasal-pasal tersebut
maka dikatakan telah melanggar perikatan yang lahir dari
undang-undang dan melakukan perbuatan melawan hukum.
Dalam Pasal 1366 KUH Perdata dijelaskan bahwa seorang
dokter juga harus bertanggung jawab tidak terbatas hanya pada
perbuatannya saja melainkan juga kerugian yang disebabkan akibat
kelalaiannya atau kesalahannya.
Seorang dokter yang terbukti melakukan malapraktik medis
8
dapat dimintakan pertanggungjawabannya melalui gugatan perbuatan
melawan hukum. Pertanggungjawaban dokter medis yang melakukan
malapraktik medis dari segi perbuatan melawan hukum dijelaskan
dalam Pasal 1365, 1370, 1371 KUH Perdata yaitu mewajibkan dokter
yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk mengganti
biaya pengobatan dan melakukan penggantian kerugian tersebut.
9Kerugian atau damages dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
10a. Kerugian immaterial (general damages, non pecuniary loses);
b. Kerugian materil (special damages, pecuniary loses) :
(1) Kerugian akibat kehilangan kesempatan;
(2) Kerugian nyata :
(a) Biaya yang telah dikeluarkan hingga saat penggugatan;
(b) Biaya yang akan dikeluarkan sesudah saat penggugatan.
Dalam hal yang melakukan tindakan medis adalah seorang
perawat/suster, dokter tetap harus bertanggungjawab atas segala
kerugian yang timbul apabila perawat/suster melakukan tindakan
medis berdasarkan perintah dokter tersebut. Hal ini berdasarkan Pasal
1367 KUH Perdata yaitu seseorang tidak hanya bertanggungjawab
atas kerugian yang disebabkan perbuatannya sendiri, melainkan juga
atas kerugian yang disebabkan perbuatan-perbuatan orang-orang yang
menjadi tanggunggannya.
9
Subekti dan Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1996), h.346
10 Budi Sampurna, dkk, Bioetik dan Hukum Kedokteran, (Jakarta: Pustaka Dwipar, 2007), h. 101
B. Pertanggungjawaban Dokter terhadap Malapraktik Medis Ditinjau
dari Hukum Perlindungan Konsumen
Hubungan antara dokter dan pasien juga termasuk dalam
hukum perlindungan konsumen. Konsumen adalah pemakai, pengguna
atau pemanfaat barang dan atau jasa, baik untuk diri sendiri maupun
keluarga dan makhluk lain.
11Barang dan jasa adalah setiap benda
berwujud atau tidak, bergerak atau tetap, untuk diperdagangkan, dipakai,
digunakan atau dimanfaatkan.
12Pelaku usaha adalah setiap orang
perseorangan atau badan usaha, baik sendiri maupun bersama-sama
melakukan kegiatan usaha.
13Dari tiga pengertian di atas dapat
disimpulkan bahwa pasien dalam hal ini merupakan konsumen, pelaku
usaha adalah dokter dan jasa merupakan usaha untuk menyembuhkan
pasien.
Selain itu, Keputusan Menteri Kesehatan RINo.756/MEN.KES/SK/VI/2004 tentang Persiapan Liberalisasi Perdagangan dan Jasa di Bidang Kesehatan, menyatakan bahwa jasa layanan kesehatan termasuk bisnis. Bahkan, World Trade Organisation (WTO) memasukkan rumah sakit, dokter, bidan maupun perawat sebagai pelaku usaha.14
Paradigma jasa kesehatan saat ini sudah mulai bergeser kearah konsumeristik. Sifat konsumeristik ini terlihat dari pelayanan dari semula
11
AZ. Nasution, dkk, Liku-Liku Perjalanan Undang-Undang Perlindungan Kosumen, (Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, 2011), h. 1
12
AZ. Nasution, dkk, Liku-Liku Perjalanan Undang-Undang Perlindungan Kosumen, (Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, 2011), h. 1
13
Ahmadi Miru, Prinsip-Prinsip Perlindungan Hukum Bagi Konsumen Di Indonesia, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2011), h. 23
14 Artikel di akses pada 2 Agustus 2016 dari http://sorot.vivanew.com/news/read/34856-tabib-pengantar-maut
bersifat sosial menjadi bersifat komersial dimana masyarakat harus membayar biaya yang cukup tinggi untuk upaya kesehatannya. 15 Pergeseran ini mengakibatkan para dokter hanya mencari keuntungan semata sehingga dalam melakukan praktik kedokteran seringkali melupakan hak-hak pasien, standar prosedur dan standar operasional dan kewajiban-kewajiban dokter yang harusnya di junjung tinggi. Masyarakat harus sadar akan hak-hak mereka yang dilanggar karena negara telah melakukan upaya preventif dengan membuat undang-undang untuk melindungi hak konsumen.
Berdasarkan ketentuan Pasal 19 Ayat (1)
Undang-Undang Perlindungan Konsumen, kerugian yang diderita korban
malapraktik sebagai konsumen jasa akibat tindakan medis yang
dilakukan oleh dokter sebagi pelaku usaha jasa dapat dituntut dengan
sejumlah ganti rugi. Ganti kerugian yang dapat dimintakan oleh
korban malapraktik menurut Pasal 19 Ayat (2) Undang-Undang
Perlindungan Konsumen dapat berupa pengembalian uang
penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara
nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan
yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Dapat disimpulkan bahwa bentuk perlindungan hukum
terhadap korban malapraktik yang diatur dalam Undang-Undang
No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yaitu berupa
pengaturan pertanggungjawaban dokter untuk memberikan ganti rugi
15 Safitri Hariyani, Sengketa Medik: Alternatif Penyelesaian Perselisihan Antara Dokter Dengan Pasien, (Jakarta: Diadit Media, 2005), h. 50
kepada korban malapraktik selaku konsumen, sebagai akibat adanya
kesalahan atau kelalaian dalam pelayanan kesehatannya atau
malapraktik yang di lakukan oleh dokter selaku pelaku usaha.
Pasal 23 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang
Perlindungan Konsumen menyebutkan bahwa pelaku usaha yang menolak
dan/atau tidak memberi tanggapan dan/atau tidak memenuhi ganti rugi atas
tuntutan konsumen, pertanggungjawabannya dapat digugat melalui Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen atau mengajukan ke badan peradilan di
tempat kedudukan konsumen.
16C. Pertanggungjawaban Dokter terhadap Malapraktik Medis Ditinjau
dari Hukum Praktik Kedokteran
Pasal 29 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang
Kesehatan mengatakan, bahwa dalam hal tenaga kesehatan diduga
melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya, kelalaian tersebut
harus diselesaikan terlebih dahulu melalui mediasi. Dalam penjelasannya
tidak disebutkan dengan jelas ke badan apa mediasi itu akan diselesaikan,
namun Undang-Undang Praktik Kedokteran mengamanatkan terbentuknya
lembaga penyelesaian disiplin dokter yang kemudian dikenal dengan
Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI).
17MKDKI
bukan lembaga mediasi, dalam konteks mediasi penyelesaian sengketa,
namun MKDKI adalah lembaga Negara yang berwenang untuk
16
Janus Sidabalok, Hukum Perlindungan KonsumenDi Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2014), h.146
17 Michael Daniel Mangkey, Perlindungan Hukum Terhadap Dokter Dalam Memberikan Pelayanan Medis, (Manado: Sam Ratulangi University, 2014), h. 18-19
menentukan ada atau tidaknya kesalahan yang dilakukan dokter atau
dokter gigi dalam penerapan disiplin ilmu kedokteran atau kedokteran gigi
dan menetapkan sanksi bagi dokter atau dokter gigi yang dinyatakan
bersalah.
18Jika sidang pemeriksaan disiplin dokter atau dokter gigi selesai
maka majelis pemeriksa disiplin (MPD) akan menetapkan keputusan
terhadap teradu. Keputusan tersebut dapat berupa
19:
1. Dinyatakan tidak melakukan pelanggaran disiplin dokter atau dokter
gigi;
2. Pemberian sanksi disiplin, berupa :
a.
Peringatan tertulis;
b.
Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan, yang dapat
dilakukan dalam bentuk :
1) Reedukasi formal di institusi pendidikan kedokteran atau
kedokteran gigi yang terakreditasi;
2) Reedukasi nonformal yang dilakukan dibawah supervise dokter
atau dokter gigi tertentu di institusi pendidikan kedokteran atau
kedokteran gigi yang terakreditasi, fasilitas pelayanan kesehatan
dan jejaringnya, atau fasilitas pelayanan kesehatan lain yang
ditunjuk, sekurang-kurangnya 2 (dua) bulan dan paling lama 1
(satu) tahun.
18
Eka Julianta J Wahjoepramono, Konsekuensi Hukum Dalam Profesi Medik, (Bandung: Karya Putra Darwati, 2012), 301
19 Eka Julianta J Wahjoepramono, Konsekuensi Hukum Dalam Profesi Medik, (Bandung: Karya Putra Darwati, 2012), 301
c.