Pemilik sarana kesehatan yang menyelenggarakan Pelayanan Medik Dasar bertanggung iawab terhadap tersedianya sarana, prasarana, sumber daya manusia (SDM) dan peralatan sedemikan rupa sehingga visi dan misi Puskesmas dapat tercapai. Pengclolaan sumber daya Puskesmas 1. Setiap sumber daya Puskesmas harus dikelola dan dicatat dengan
benar serta disimpan sesuai dengan ketentuan yang berlaku 2. Pelaksanaan pengelolaan harus dievaluasi secara berkala
3. Ada upaya pengendalian efisiensi terhadap sumber daya yang ada di Puskesmas Puskesmas memiliki sumber daya yang diperlukan untuk penyelenggaraan kegiatan pelayanan kesehatan, meliputi:
2.2.1 Bangunan dan ruang 2.2.2 Sumber daya manusia 2.2.3 Peralatan
2.2.4 Obat-obatan dan perbekalan kesehatan. 2.2.1 Bangunan dan Ruang
I. Bangunan
1. Lingkungan bangunan harus mempunyai batas yang jelas dilengkapi dengan pagar untuk menjaga agar orang atau binatang peliharaan tidak keluar masuk dengan bebas
2. Lingkungan Puskesmas harus merupakan kawasan bebas asap rokok
3. Lokasi Puskesmas hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Pencapaian/aksesibilitas yang mudah
b. Bebas dari pencemaran, banjir dan tidak berdekatan dengan rel kereta api, tempat bongkar muat barang, tempat bermain anak dan limbah pabrik
4. Lahan
a. Luas lahan untuk bangunan tidak bertingkat minimal 1,5 kali luas bangunan. Luas lahan untuk bangunan bertingkat minimal 2 kali luas bangunan lantai dasar b. Kontur lahan dalam kondisi datar, tidak ada kemiringan
yang ekstrim 5. Area pelayanan
a. Pelayanan darurat letaknya harus menjamin kecepatan akses dan mempunyai pintu masuk yang terpisah
b. Pelayanan administrasi, kantor administrasi umum hendaknya berdekatan dengan pintu utama Puskesmas c. Pelayanan persalinan terletak dan dirancang untuk
mencegah lalu lintas aktivitas yang tidak berhubungan. Ruang persalinan hendaknya tidak bising dan bersih. Ruang persalinan hendaknya terpisah, tetapi mempunyai akses yang cepat dari ruang persalinan
mengamati pasien
6. Tersedia gambar denah bangunan untuk mendukung kelancaran pelayanan Puskesmas
7. Kriteria bangunan yang memenuhi syarat minimal kesehatan a. Konstruksi bangunan kuat utuh, terpelihara, bersih, dan
dapat mencegah penularan penyakit serta kecelakaan b. Lantai
1) Bersih, kuat, rata, tidak licin dan mudah dibersihkan 2) Lantai harus porselen/plastik khusus untuk ruang
tindakan medik c. Dinding
1) Permukaan rata, bersih
2) Dinding harus dicat dengan bahan yang bisa dicuci atau dilapis keramik
3) Cat dan lantai harus berwarna terang sehingga kotoran bisa terlihat dengan mudah
d. Pencahayaan
1) Ruangan diterangi cahaya alami/lampu listrik sehingga pasien dan tulisan dapat terbaca tanpa sumber cahaya tambahan
2) Semua jendela ruang tindakan diberi kawat nyamuk/penapis pencegah masuknya serangga e. Ventilasi
1) Ventilasi memadai dan sirkulasi udara baik. Luas ventilasi alamiah yang permanen minimal 5% dari luas lantai
2) Kipas angin atau pengatur suhu ruangan harus berfungsi baik
3) Ventilasi pada laboratorium menggunakan exhausfan dan dialirkan pada udara luar
f. Atap : terbuat dari bahan yang kuat, tidak bocor, bebas serangga dan tikus, tinggi langit langit antara 2,70 m
sampai 3,3 m dari lantai
g. Keselamatan dan Keamanan (Patient Safety)
Seluruh bangunan harus memenuhi aspek keamanan pasien dan orang yang berada di Puskesmas, dimana; 1) Minimum tersedia dua buah pintu keluar
2) Pintu keluar langsung berhubungan dengan tempat terbuka di luar bangunan
3) Puskesmas mempunyai pemadam kebakaran, seperti pemadam api atau selang yang mudah dilihat dan mudah dicapai pada lokasi strategis
4) Aspek keamanan pas:ien, antara lain a) Pegangan sepanjang tangga
b) Toilet dilengkapi dengan pegangan c) Pintu dapat dibuka dari luar
h. Tersedia listrik dengan daya sesuai kebutuhan. Aliran listrik berfungsi baik, dan steker terpasang aman dan kokoh dan semua lampu berfungsi baik
i. Tersedia air bersih
1) Untuk kebutuhan karyawan dan pengunjung Puskesmas sebanyak 15-20 liter/orang/hari
2) Memenuhi syarat kualitas fisik, kimia, bakteriologis sesuai dengan ketentuan yang berlaku
j. Wastafel dengan air mengalir
1) Harus tersedia pada setiap ruangan periksa, ruang UGD, poli gigi, ruang KIA, ruang pengobatan, ruang suntik, ruang laboratorium dan ruang lainnya yang memerlukan air
2) Dilengkapi dengan dispenser sabun cair atau zat anti septik, khusus untuk ruang tindakan dianjurkan dalam dispenser dengan pompa siku
3) Terpelihara dan selalu bersih
tangan
k. Kamar mandi dan WC
1) Kamar mandi dan WC harus terpisah antara laki-laki, wanita, karyawan dan pengunjung
2) Tersedia cukup air bersih dan sabun
3) Selalu terpelihara dalam keadaan bersih dan tidak bau 4) Lubang penghawaan ventilasi harus berhubungan
langsung dengan udara luar
5) Ada himbauan, slogan dan peringatan untuk rnemelihara kebersihan
l. Unit Gawat Darurat
1) Lokasi harus berada di bagian depan Pu>kesmas, mudah dijangkau oleh masyarakat dengan tanda-tanda yang jelas dari dalam dan luar Puskesmas
2) Harus mempunyai pintu masuk dan keluar yang berbeda
3) Ambulans/kendaraan yang membawa pasien harus dapat sampai di depan pintu yang areanya terlindung dari panas dan hujan
4) Pintu UGD harus dapat dilalui brankar II. Ruang
a. Setiap Puskesmas memiliki fasilitas ruangan yang lengkap dan digunakan seluruhnya, ditata menurut alur kegiatan dengan memperhatikan ruang gerak petugas dan dievaluasi pemanfaatannya
b. Semua ruangan mempunyai ventilasi dan penerangan/pencahayaan yang cukup
c. Ruangan Puskesmas harus terlihat bersih, bebas debu, kotoran, sampah atau limbah, tersedia tempat sampah, atap bersih dan terawat dan tidak ada sarang laba-laba. Hal ini juga berlaku untuk lantai, mebel, perlengkapan dan instrumen, pintu dan jendela, dinding, steker listrik dan
langit-langit
d. Standar minimal ruangan Puskesmas rawat jalan terdapat pada lampiran 12
2.2.1.1 Penanganan Sampah dan Limbah I. Penanganan Sampah
1. Sampah infeksius harus dipisahkan dengan sampah non infeksius
2. Setiap ruangan harus disediakan tempat sampah terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan mudah dibersihkan serta dilengkapi dengan kantong plastik dengan warna dan lambang sebagai berikut.
a. Sampah infeksius menggunakan kantong plastik berwarna kuning. Benda tajam dan jarum ditampung pada wadah khusus seperti botol kaca. Sampah dimusnahkan didalam insinerator atau dibawa ke Puskesmas terdekat yang memiliki insinerator
b. Sampah domestik/umurn menggunakan kantong plastik berwarna hitam.Terpisah antara sampah basah dan kering, dapat diolah sendiri, dikubur, dibakar atau diangkut/dibuang ke Tempat Pembuangan sampah Akhir ( TPA)
3. Jumlah tempat sampah minimum 1 (satu) buah tiap kamar atau setiap radius 10 meter dan radius 20 meter untuk ruang tunggu.Wadah sampah tertutup dengan kantong plastic
4. Tempat pengumpulan dan penampungan sampah sementara segera didesinfeksi setelah dikosongkan
II. Limbah
1. Jenis dan definisi limbah Puskesmas
a. Limbah medis padat adalah limbah padat yang terdiri dari limbah infeksius, limbah patologi, limbah benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksis, limbah kimiawi, limbah radioaktif, limbah container bertekanan dan
limbah dengan kandungan logam berat yang tinggi
b. Limbah non medis padat adalah limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan diluar medis yang berasal dari dapur, perkantoran, taman dan halaman yang dapat dimanfaatkan kembali apabila ada teknologinya.
c. Limbah cair adalah semua air buangan termasuk tinja yang berasal dari kegiatan Puskesmas yang kemungkinan mengandung mikroorganisme, bahan kimia beracun dan radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan.
d. Limbah gas adalah semua limbah berbentuk gas yang berasal dari kegiatan pembakaran di puskesmas seperti insinerator, dafur, perlengkapan generator, anestesi dan pembuatan obat sitotoksik.
2. Penanganan Limbah a. Limbah medis padat
1) Limbah benda tajam harus dikumpulkan dalam satu wadah tanpa memperhatikan terkontaminasi atau tidaknya. Wadah harus anti bocor, anti tusuk dan tidak mudah untuk dibuka
2) Jarum dan syringes harus dipisahkan sehingga tidak dapat digunakan kembali. Untuk benda-benda tajam hendaknya ditampung pada tempat khusus (safety box) seperti botol atau karton yang aman
3) Tempat perwadahan limbah medis padat infeksius dan sitotoksik yang tidak langsung kontak dengan limbah harus segera dibersihkan dengan larutan desinfektan apabila akan digunakan kembali sedangkan untuk kantong plastik yang telah dipakai dankontak langsung dengan limbah tersebut tidak boleh digunakan lagi
4) Limbah medis sangat infeksius, infeksius dan patologi anatomi dapat dimasukkan dalam kantong
plastik yang kuat dan anti bocor atau kontainer warna kuning
5) Penanganan limbah infeksius yang berasal dari poli dan ruang bersalin hams direndam dalam larutan kaporit 3% selama satu malam, direbus mendidih selama 1 jam atau dipanaskan dalam autoclave selama 15 menit dan kemudian dibakar atau ditanam dalam tanah
6) Cara dan teknologi pengolahan atau pemusnahan limbah medis padat disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas. Bagi Puskesmas yang tidak mempunyai incinerator, maka limbah medis padatnya hams dimusnahkan melalui kerjasama dengan rumah sakit lain atau pihak lain yang mempunyai incinerator selambat-lambatnya dalam 24 jam apabila disirnpan pada suhu ruang
b. Limbah non medis padat
1) Dilakukan pemilahan limbah non medis padat antara limbah basah dan limbah kering
2) Terdapat minimal 1 (satu) buah wadah yang terbuat dari bahan yang kuat,cukup ringan,tahan karat, kedap air dan mempunyai permukaan yang mudah dibersihkan misalnya fiberglass untuk setiap kamar
3) Limbah tidak boleh dibiarkan dalam wadahnya melebihi 3 X 24 jam supaya tidak menjadi perindukan vektor penyakit
4) Limbah ditampung dalam kantong plastik warna hitam.
c. Limbah cair
1) Puskesmas harus memiliki Instalasi Pengolahan Limbah cair sendiri atau bersama-sama secara
kolektif dengan bangunan di sekitarnya yang memenuhi persyaratan teknis.
2) Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran air limbah harus dilengkapi/ditutup dengan grill.
3) Saluran pembuangan air limbah di Puskesmas dibuang ke septic tank yang dilengkapi dengan sumur peresapan .Limbah cair medis bekas cucian pasien harus dialirkan ke septic tank, sebelum dibuang ke saluran umum. Tersedia septic tank yang memenuhi syarat kesehatan.
4) Saluran limbah harus tertutup, kedap air, limbah harus mengalir dengan lancer, terpisah dengan saluran air hujan,bersih dari sampah dan dilengkapi penutup dengan bak control setiap 5 meter.
5) Pembuatan saluran air limbah setelah SPAL dengan cara diresapkan kedalam tanah.
6) Kualitas effluent yang layak dibuang kedalam lingkungan harus memenuhi persyaratan baku mutu. Semua limbah cair buangan Puskesmas harus masuk kedalam bak penampungan pengelolaan limbah d. Limbah gas
Standar limbah gas (emisi) dari pengolahan pernusnah limbah medis padat mengacu dengan insinerator pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor Kep-13.H/3/1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak.
2.2.2 Sumber Daya Manusia (SDM)
Perencanaan SDM Kesehatan merupakan salah satu unsur utama yang menekankan pentingnya upaya penetapan jenis, jumlah dan kualifikasi SDM sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. Untuk memantapkan sistim manajemen SDM Kesehatan
perlu dilakukan perencanaan, pengadaan, pendayagunaan dan pemberdayaan profesi kesehatan sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 004/Menkes/SK/ I /2003 tentang Kebijakan dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan.
Setiap Puskesmas harus memiliki kepala/penanggung jawab seorang sarjana di bidang kesehatan yang kurikulum pendidikannya mencakup kesehatan masyarakat dan telah mengikuti pelatihan dalam bidang manajemen Puskesmas.
Pctugas teknis Puskesmas harus mengikuti pelatihan dalam bidang teknis yang berkaitan. Pembuktian berupa: ijazah, Surat Keputusan pengangkatan pegawai, sertifikat/surat keterangan pelatihan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 81/MENKES/SK/I/2004 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan SDM Kesehatan di tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota serta Rumah Sakit, maka pola ketenagaan minimal untuk penyelenggaraan manajemen Puskesmas rawat jalan sesuai standar minimal ketenagaan di Puskesmas (lampiran 13)
2.2.3 Peralatan
Persyaratan peralatan di Puskesmas adalah
1) Peralatan yang ada harus dirawat dengan baik agar fungsinya tetap terjaga
2) Setiap peralatan yang digunakan untuk kegiatan harus mempunyai penanggung jawab dalam hal penggunaan dan pemeliharaan peralatan yang menjadi tanggung jawabnya. Kinerja setiap penanggung jawab harus dievaluasi
3) Puskesmas dan setiap ruangan di Puskesmas mempunyai daftar inventaris barang
a. Pemeliharaan peralatan di Puskesmas
Pemeliharaan peralatan mempunyai tujuan mencegah resiko kerusakan peralatan yang digunakan untuk diagnosis, pengobatan, pemantauan dan perawatan pasien
1) Setiap peralatan harus masuk dalam daftar inventaris 2) Peralatan harus terlihat bersih sehabis dipakai ,langsung
dicuci, atau disetrika, disimpan pada tempatnya dengan rapi dan tertutup sehingga tidak ada debu yang menempel 3) Semua peralatan harus bersih dari debu, kotoran, bercak
dan cairan, dll 4) Permukaan alat
a) Permukaan instrumen metal harus bebas karat/cacat /terkelupas
b) Permukaan peralatan yang dicat harus utuh dan bebas dari goresan/cacat
c) Peralatan dari plastik atau kain pelapis harus utuh (tidak bocor/robek)
5) Instrumen yang siap digunakan harus dalam keadaan steril
6) Roda peralatan jika ada harus lengkap dan berfungsi baik 7) Setiap Puskesmas harus mempunyai prosedur baku
disertai dengan instruksi kerja yang menjelaskan secara rinci tata cara penggunaan alat.
8) Seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pemeliharaan, kalibrasi dan perbaikan peralatan harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan instruksi kerja yang ada.Prosedur dan instruksi kerja tersebut harus dievaluasi secara berkala
9) Pasokan oksigen harus dievaluasi secara berkala, dengan ketentuan
a) Harus ada dua tabung oksigen dengan satu regulator dan pengukur aliran
b) Tabung oksigen cadangan harus selalu terisi penuh c) Harus ada pengatur kadar oksigen
1) Setiap Puskesmas harus dilengkapi dengan peralatan keamanan yang diperlukan untuk melindungi petugas dan orang di sekitarnya
2) Peralatan K3 minimal adalah Set peralatan pencegahan infeksi/APD set (apron/celemek, pengaman mata/kaca mata goggle, masker, sarung tangan, sepatu karet tertutup/boot), alat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) dan pemadam kebakaran
3) Setiap Puskesmas harus mempunyai prosedur baku untuk mengatasi terjadinya kecelakaan dalam Puskesmas
4) Prosedur tersebut harus disertai dengan Instruksi Kerja yang menjelaskan secara rmci tata cata metvgatasi kecelakaan. akibat kebakaran., sengatan listrik, ledakan tumpahan bahan kimia dan bahan infeksius
4) Peralatan minimal yang ada di Puskesmas dibedakan dalam 2 golongan (lampiran 14) yaitu :
a. Peralatan minimal medis Puskesmas (lampiran 16)
1) Ambulans untuk pengangkutan penderita yang memerlukan perawatan khusus/tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa dan diperkirakan tidak akan timbul kegawatan selama dalam perjalanan, dengan kelengkapan minimal:
a) Teknis:
Kendaraan roda empat atau lebih dengan peredam getaran lunak
Sirine 1( satu) atau 2 (dua) nada
Lampu rotator warna merah terletak di tengah atas kendaraan
Dilengkapi AC, alat pengatur di ruangan pengemudi
Pintu belakang dapat dibuka kearah atas
Indonesia
Radio komunikasi/telpon genggam di ruang pengemudi
Dilengkapi sabuk pengaman baik untuk pasien maupun petugas
Tempat duduk yang dapat diatur/dilipat bagi petugas dalam ambulans
Ruangan penderita cukup luas untuk sekurang-kurangnya 2 (dua) tandu Tandu yang dimaksud dapat dilipat
Ruang dalam ambulans cukup tinggi sehingga infus dapat menetes dengan baik
Gantungan infus
Lampu ruangan secukupnya dan bukan lampu neon. Lampu yang dimaksud dapat bergerak untuk menerangi penderita.
Kotak untuk obat dan peralatan Scoop stretcher
Tanda pengenal ambulans transportasi dari bahan yang memantulkan sinar
Meja yang dapat dilipat Tempat kereta dorong pasien b) Medis:
Tabung Oksigen dan peralatan untuk 2 (dua) orang
Peralatan medis gawat darurat:
Bidai dan mitella √ Pack luka baker Verband 5 cm √ Kasa steril
dan 10 cm √ Urine cathether Elastic verband √ Naso gastric tube
Gunting verband √ Head immobilizer Manset pengikat Plester √ Stiff neck collar Gurita √ Syringe 2,5 s/d 20 cc Balut cepat
Neck collar √ Lampu senter Touny spatel √ Termometer Arteri klem √ Long spine board Pinset √ Pen light
Peralatan resusitasi secara manual/otomatik lengkap bagi dewasa, anak dan bayi
Suction portable
Obat-obatan, infus set dan cairan infus secukupnya
Kantung mayat
Sarung tangan disposable c) Petugas:
1 (satu) orang pengemudi dengan kemampuan BLS, mengemudi dan komunikasi
1 ( satu) orang perawat dengan kemampuan PPGD 1 ( satu) orang dokter (tergantung keadaan)
b. Peralatan minimal non medis Puskesmas selain yang tercantum dalam lampiran 16 juga terdiri dari:
1) Kendaraan bermotor sesuai dengan kebutuhan pelayanan puskesmas
2) Perahu bermotor untuk Puskesmas keliling daerah tertinggal dan terpencil
3) Alat-alat komunikasi:
a. Mampu mengadakan komunikasi keluar Puskesmas b. Berupa alat komunikasi internal dan eksternal baik
telepon seluler, telepon dan fax 4) Mebelair
a. Bersih dari debu, kotoran, cemaran, cairan dan Iain-lain
b. Jumlah dan jenis sesuai kebutuhan 2.2.4 Obat-obatan dan Bahan Habis Pakai
2.2.4.1 Obat-obatan
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada obat-obatan:
a. Pencatatan dalam rekam medis pasien beserta dosis obat yang diberikan
b. Pengelolaan yang meliputi perencanaan, penyimpanan dan penyerahan
c. Pencatatan, pelaporan dan pengarsipan mengenai pemakaian obat dan efek samping obat
d. Pemberian informasi kcpada pasien maupun keluarga pasien dalam hal pcnggunaan dan penyimpanan obat serta berbagai aspek pengetahuan tentang obat demi meningkatkan kepatuhan dalam penggunaan obat e. Pemantauan terapi obat dan pengkajian penggunaan
obat
f. Pengaturan persediaan dan perencanaan obat
I. Jenis obat yang terdapat di Puskesmas sesuai DOEN untuk Puskesmas 2008 (lampiran 18), terdiri dari: 1. Analgesik, antipiretik, anti inflamasi non steroid dan
anti pirai
1.1 Analgesik narkotik 1.2 Analgesik non narkotik 1.3 Antipirai
2. Anestetik
2.1 Anestetik local
2.2 Anestetik umum dan oksigen 2.3 Obat untuk prosedur pre operatif
3. Anti alergi dan obat untuk anafilaksis
4. Anti dotum dan obat lain untuk keracunan umum dan khusus 5. Antiepilepsi-antikonvulsi 6. Antiinfeksi: 2.2 Antelmintik 2.3 Antibakteri 1) Beta laktam
2) Antibakteri lain (Tetrasiklin, Kloramfenikol, Sulfa Trimetoprim, Makrolid)
3) Anti infeksi khusus (Anti lepra, anti tuberculosis, antiseptik saluran kemih) 4) Antifungi (sistemik dan topikal)
5) Antiprotozoa (antiamoeba, antimalaria). 7. Anti Migren (profilaksis dan serangan akut) 8. Anti Parkinson
9. Obat yang mempengaruhi darah ( antianemia, obat yang mempengaruhi koagulasi).
10. Diagnostik (test fungsi dan test kulit) 11. Desinfektan dan antiseptic
12. Obat dan bahan untuk gigi dan mulut 13. Diuretik.
14. Hormon, obat endokrin lain dan kontraseptik (anti diabetes oral, kontraseptik, hormon tiroid dan antitiroid, kortikosteroid )
15. Kardiovaskuler (anti angina, anti aritmia, anti hipertensi, anti agregasi platelet, gagal jantung, obat untuk syok, anti hiperlipidemia)
16. Obat topikal untuk kulit ( anti bakteri, anti fungi, anti inflamasi dan anti pruritik, anti scabies dan anti pedikulosis, kaustik, keratolitik dan
keratoplastik)
17. Larutan elektrolit, nutrisi dan Iain-lain (oral, parenteral dll)
18. Obat untuk mata (anestetik lokal, anti mikroba, midriatik, miotik dan anti glaukoma)
19. Oksitosik dan relaksan uterus
20. Psikofarmaka (anti ansietas dan anti insomnia, anti depresi dan anti mania, anti obsesi kompulsi, anti psikosis)
21. Obat untuk saluran cerna (antasida dan anti ulkus, anti emetik, anti hemoroid, anti spasmodik, obat untuk diare, katartik)
22. Obat untuk saluran nafas (anti asma, antitusif, ekspektoran)
23. Obat yang mempengaruhi sistem imun(serum dan immunoglobulin, vaksin)
24. Obat untuk Telinga, Hidung dan Tenggorokan 25. Vitamin dan mineral
II. Obat emergensi dan bahan habis pakai yang harus tersedia dalam jumlah cukup pada ruang Unit Gawat Darurat, persalinan, pelayanan gigi dan mulut, kamar tindakan dan unit pelayanan yang melakukan tindakan adalah :
1. Adrenalin 1:1000 11. Diphenhidramin 2. Noradrenalin 12. Diazepam ampul 3. Norepinefrin 13. Antipiretika 4. Ephedrine 14. Koagulantia 5. Sulfas atropine 15. Antike jang 6. Antihistamin 16. Papaverin
7. Hidrokortison vial 17. Cairan infus Ringer 8. Aminophilin 240 mg/10 ml Lactat, Na Cl 0,9 %,
9. Transamin Glucose 5%,40%
10. Dopamin 18. Infus set
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 900/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 25 Juli 2002, adalah
1. Roborantia 7. Uterotonika
2. Vaksin 8. Antipiretika
3. Syok anafilaktik 9. Koagulantia a. Adrenalin 1 : 1000 10. Anti kejang b. Antihistamin 11. Glycerin c. Hidrokortison 12. Obat luka d. Aminophilin 240 mg/10 ml 13. Dopamin
4. Sedativa 14. Obat pennanganan asfiksia pada bayu baru lahir 5. Antibiotika
6. Cairan infus 15. Cairan desinfektan (termasuk Chorine) 2.2.4.2 Bahan Habis Pakai
I. Bahan habis pakai medis untuk Puskesmas : Folley cather no 10, 12, 14, 16, 18 Urine bag
Selang karet untuk anus
NGT /selang lambung (berbagai ukuran) Endotracheal tube (ETT) 2.5, 3, 4 Sungkup berbalon
Sungkup/masker sederhana
Kateter, selang penghisap lendir bayi Sarung tangan steril no 6 ½, 7, 7 ½, 8 Infus set dan jarum infus
Wing needle (jarum berkateter) no 16, 18 Surflow, Abbocath no 16, 18, 20
Skaptel
Mata pisau bedah no 10, 11, 15, 20
Disposible syringe berbagai ukuran (1 cc, 2 ½ cc, 3 cc, 5 cc, 10 cc, 20 cc)
Jarum suntik disposible no 02, 12, 14, 18, 20, 23
Jarum jahit, lengkung ½ (bedah) no 9, 10, 11, 12, 13, 14, 16 Jarum jahit, lengkung lingkaran
Jarum otot besar dan jarum otot kecil
Benang : cat gut no 3.0, nilon no 3,0 dan silk no 3,0 Kapas, kasa, kasa steril, dan perban
Duk bias, besar (274 x 183 cm), sedang (274 x ), kecil (114 x 91 cm)
Duk bolong besar duk bolong sedang, duk bolong kecil Kain balut segitiga ( mitella )
Pembalut
Jelly / cairan pelicin / minyak Plester
Safety box untuk pembuangan jarum suntik bekas Sarung tangan karet untuk mencuci tangan. Strip glukotest
Oksigen
II. Bahan habis pakai non medis untuk Puskesmas a. Lap untuk mandi pasien
b. Perlak tebal, lunak (200 x 90 cm)
c. Kantong plastik untuk sampah biologis dan infeksius d. Kertas tisue
e. Sabut / detergent 2.2.5 Pembiayaan
Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang menjadi tanggung jawab Puskesmas, perlu ditunjang dengan pembiayaan yang cukup. Sumber pembiayaan Puskesmas yaitu
1. Pemerintah
Sumber pembiayaan yang berasal dari pemerintah terutama adalah pemerintah pusat, pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota seperti Jamkesmas, Jampersal, Bantuan Operasional Keuangan (BOK).
2. Pendapatan Puskesmas
Pendapatan Puskesmas adalah pendapatan yang didapat dari retribusi yang dibayar oleh pasien yang memanfaatkan.
Sesuai dengan kebijakan pemerintah, masyarakat dikenakan kewajiban membiayai upaya kesehatan perorang yang dimanfaatkan, yang besarnya ditentukan oleh peraturan daerah masing-masing (retribusi). Pendapatan bisa dimanfaatkan sesuai dengan peraturan yang berlaku di daerah.
3. Sumber lain yang sah dan tidak mengikat, seperti PT. ASKES, PT. Jamsostek dan Bantuan Luar Negeri (BLN)