• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI ANALISIS PEMECAHAN MASALAH

3.2. Keluhan Musculoskeletal

3.2.3. Standard Nordic Body Map Questionnaire (SNQ)

Keluhan otot skeletal pada umumnya terjadi karena kontraksi otot yang berlebihan akibat pemberian beban kerja yang terlalu berat dengan durasi pembebanan yang panjang. Sebaliknya, otot kemungkinan tidak terjadi apabila kontraksi otot hanya berkisar antara 15-20%, maka peredaran darah ke otot berkurang menurut tingkat kontraksi yang dipengaruhi oleh besarnya tenaga yang diperlukan. Suplai oksigen ke otot menurun, proses metabolisme karbohidrat terhambat dan sebagai akibatnya terjadi penimbunan asam laktat yang menyebabkan timbulnya rasa nyeri otot.

Ada beberapa cara yang telah diperkenalkan dalam melakukan evaluasi ergonomi untuk mengetahui hubungan antara tekanan fisik dengan resiko keluhan otot skeletal. Pengukuran terhadap tekanan fisik ini cukup sulit karena melibatkan berbagai faktor subjektif seperti kinerja, motivasi, harapan dan toleransi kelelahan. Alat ukur yang digunakan dapat dilakukan dengan berbagai cara mulai metoda yang

sederhana sampai menggunakan sistem komputer. Salah satu dari metode tersebut adalah melalui Standard Nordic Body Map Questionnaire.

Standard Nordic Body Map Questionnaire (SNQ) merupakan alat yang dapat mengetahui bagian-bagian otot yang mengalami keluhan dengan tingkat keluhan mualai dari Tidak Sakit (TS), agak sakit (AS), Sakit (S) dan Sangat Sakit (SS). Dengan melihat dan menganalisis peta tubuh pada kuesioner tersebut maka dapat diestimasi jenis dan tingkat keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh pekerja.Cara ini merupakan cara yang cukup sederhana dan mengandung nilai subjektivitas yang tinggi. Berikut Gambar 3.1. keluhan yang terjadi pada Standard Nordic Body Map Questionnaire.

Gambar 3.1. Standard Nordic Body Map Questionnaire (SNQ)

Keterangan:

1 : Sakit kaku di bagian leher bagian bawah 2 : Sakit di bahu kiri

3 : Sakit di bahu kanan 4 : Sakit lengan atas kiri 5 : Sakit di punggung 6 : Sakit lengan atas kanan 7 : Sakit pada pinggang 8 : Sakit pada bokong 9 : Sakit pada pantat 10 : Sakit pada siku kiri

11 : Sakit pada siku kanan

12 : Sakit pada lengan bawah kiri 13 : Sakit pada lengan bawah kanan 14 : Sakit pada pergelangan tangan kiri 15 : Sakit pada pergelangan tangan kanan 16 : Sakit pada tangan kiri

17 : Sakit pada tangan kanan 18 : Sakit pada paha kiri 19 : Sakit pada paha kanan 20 : Sakit pada lutut kiri 21 : Sakit pada lutut kanan 22 : Sakit pada betis kiri 23 : Sakit pada betis kanan

24 : Sakit pada pergelangan kaki kiri 25 : Sakit pada pergelangan kaki kanan 26 : Sakit pada kaki kiri

27 : Sakit pada kaki kanan

Postur Kerja

Posisi tubuh dalam kerja sangat ditentukan oleh jenis pekerjaan yang dilakukan. Masing-masing posisi kerja mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terhadap tubuh. Grandjean (1993) berpendapat bahwa bekerja dengan posisi duduk mempunyai keuntungan antara lain:

1. Pembebanan pada kaki

2. Pemakaian energi dapat dikurangi

Namun demikian kerja dengan sikap duduk terlalu lama dapat menyebabkan otot perut melembek dan tulang belakang akan melengkung sehingga cepat lelah. Mengingat posisi duduk mempunyai keuntungan dan kerugian, maka untuk mendapatkan hasil kerja yang lebih baik tanpa pengaruh buruk pada tubuh, perlu dipertimbangkan pada jenis pekerjaan apa saja sesuai diterapkan posisi duduk. Untuk maksud tersebut, Pulat (1992) memberikan pertimbangan tentang pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi duduk. Pekerjaan tersebut antara lain:

1. Pekerjaan yang memerlukan kontrol dengan teliti pada kaki

2. Pekerjaan utama adalah menulis atau memerlukan ketelitian pada tangan 3. Tidak diperlukan tenaga dorong yang besar

4. Objek yang dipegang tidak memerlukan tangan bekerja pada ketinggian lebih dari 15 cm dari landasan kerja

5. Diperlukan tingkat kestabilan tubuh yang tinggi 6. Pekerjaan dilakukan pada waktu yang lama

7. Seluruh objek yang dikerjakan atau disuplai masih dalam jangkauan dengan posisi duduk

Selain posisi kerja duduk, posisi berdiri juga banyak ditemukan di perusahaan. Seperti halnya posisi duduk, posisi kerja berdiri juga mempunyai keuntungan maupun kerugian. Menurut Sutalaksana (2000) bahwa sikap berdiri merupakan sikap siaga baik fisik maupun mental, sehingga aktivitas kerja yang dilakukan lebih cepat, kuat dan teliti. Pada dasarnya, berdiri lebih lelah daripada duduk dan energi yang dikeluarkan untuk berdiri lebih banyak 10-15% dibandingkan dengan duduk. Untuk

meminimalkan pengaruh kelelahan dan keluhan subyektif maka pekerjaan harus didesain agar tidak terlalu banyak menjangkau, membungkuk, atau melakukan gerakan dengan posisi kepala yang tidak alamiah. Untuk maksud tersebut, Pulat (1992) dan Clark (1996) memberikan pertimbangan tentang pekerjaan yang paling baik dilakukan dengan posisi berdiri antara lain:

1. Tidak tersedia tempat untuk kaki dan lutut

2. Harus memegang objek yang berat (lebih dari 4,5 kg) 3. Sering menjangkau ke atas, ke bawah dan ke samping. 4. Sering melakukan pekerjaan dengan menekan ke bawah 5. Memerlukan mobilitas tinggi

Clark (1996) mencoba mengambil keuntungan dari posisi kerja duduk dan berdiri kemudian mengkombinasikan desain stasiun kerja untuk posisi duduk dan berdiri. Kemudian disimpulkan bahwa pemilihan posisi kerja harus sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan seperti pada Tabel 3.1 berikut ini.

Tabel 3.1. Pemilihan Sikap Kerja Terhadap Jenis Pekerjaan yang Berbeda Jenis Pekerjaan Sikap Kerja yang Dipilih

Pilihan Pertama Pilihan Kedua

Mengangkat beban > 5kg Berdiri Duduk – Berdiri Bekerja di bawah tinggi siku Berdiri Duduk – Berdiri Menjangkau horizontal di luar

daerah jangkauan optimum Berdiri Duduk – Berdiri Pekerjaan ringan dengan

Tabel 3.1. (Lanjutan)

Jenis Pekerjaan Sikap Kerja yang Dipilih

Pilihan Pertama Pilihan Kedua

Pekerjaan perlu ketelitian Duduk Duduk – Berdiri

Inspeksi dan monitoring Duduk Duduk – Berdiri

Sering berpindah-pindah Duduk – Berdiri Berdiri

Quick Exposure Check (QEC)

QEC adalah suatu alat untuk penilaian terhadap resiko kerja yang berhubungan dengan ganguan otot (work related musculoskeletal disorders – WMSDs) pada tempat kerja. QEC menilai gangguan resiko yang terjadi pada bagian belakang punggung (back), bahu / lengan (should arm), pergelangan tangan (hand wrist), dan leher (neck).

Alat ini mempunyai beberapa fungsi, antara lain : d. Mengidentifikasi faktor resiko untuk WMSDs

e. Mengevaluasi gangguan resiko untuk daerah / bagian tubuh yang berbeda- beda.

f. Mengevaluasi efektivitas dari suatu intervensi ergonomi di tempat kerja.

g. Menyarankan suatu tindakan yang perlu diambil dalam rangka mengurangi gangguan resiko yang ada.

Penilaian QEC dilakukan kepada peneliti dan pekerja. Selanjutnya dengan penjumlahan setiap skor hasil kombinasi masing-masing bagian, diperoleh skor dengan kategori level tindakan.

Tabel 3.2. Penilaian Pekerja (worker) QEC

Faktor Kode 1 2 3 4

Beban a ≤ 5 kg 6-10 kg 11-20 kg > 20 kg

Durasi b < 2 jam 2-4 jam > 4 jam

Kekuatan

tangan c <1 kg 1-4 kg 4 kg

Vibrasi d Tidak ada/kecil Sedang Tinggi

Visual e Tidak diperlukan

Diperlukan untuk melihat

detail

Langkah f Tidak susah Kadang-

kadang susah

Lebih sering susah Tingkat

stres g Tidak ada Kecil Sedang tinggi

Tabel 3.3. Penilaian Observer QEC

Faktor Kode 1 2 3

Belakang A Hampir netral Berputar atau

bengkok sedikit

Cenderung berputar atau

bengkok

Frekuensi pergerakan

bagian belakang B ≤ 3 / menit Kira-kira 8 / menit ≥12 / menit

Tinggi tugas C

Pada atau setinggi pinggang

Setinggi dada Setinggi bahu

Gerakan bahu / lengan D Sesekali Reguler / teratur

dengan jeda Hampir kontinu Postur pergelangan

tangan/tangan E Hampir lurus Bengkok / berputar Pergerakan

pergelangan tangan/tangan

F ≤ 10 / menit 11-20 / menit ≥ 20 / menit

Postur leher G Hampir netral

Kadang-kadang bengkok/berputar secara berlebihan pada kepala/leher Bengkok/ berputar secara berlebihan pada kepala/leher

Exposure level (E) dihitung berdasarkan persentase antara total skor aktual exposure (X) dengan total skor maksimum (Xmaks) yaitu :

% 100 X X (%) E maks × = Dimana :

X = total skor yang diperoleh dari penilaian terhadap postur (punggung + bahu / lengan + pergelangan tangan + leher )

Xmaks = total skor maksimum untuk postur kerja ( punggung + bahu / lengan +

pergelangan tangan + leher ).

Xmaks adalah konstan untuk tipe-tipe tugas tertentu. Pemberian skor

maksimum (Xmaks = 162) apabila tipe tubuh adalah statis, termasuk duduk atau berdiri

dengan /tanpa pengulangan (repetitive) yang sering dan penggunaan tenaga/beban yang relatif rendah. Untuk Pemberian skor maksimum (Xmaks = 176) apabila

dilakukan manual handling, yaitu mengangkat, mendorong, menarik, dan membawa beban.

3.3.2. OWAS (Ovako Working Postures Analysis System)

OWAS (Ovako Working Postures Analysis System) adalah suatu metode untuk mengevaluasi beban postur (postural load) selama bekerja. Metode OWAS didasarkan pada sebuah klasifikasi yang sederhana dan sistematis dari postur kerja yang dikombinasikan dengan pengamatan dari tugas selama bekerja. Metode OWAS

pertama kali dilakukan untuk menganalisis postur kerja pada industri baja. Metode ini telah digunakan dalam penelitian dan pembangunan di Finlandia, Swedia, Jerman, Belanda, India dan Australia. Metode ini dapat diterapkan pada suatu area:

1. Pembangunan stasiun kerja (work place) atau sebuah metode kerja untuk mengurangi beban gangguan otot (musculoskeletal) agar lebih nyaman dan lebih produktif.

2. Pengukuran ergonomi untuk beban postur

3. Pelayanan kesehatan yang mengalami sakit dalam suatu pekerjaan 4. Riset dan pembangunan

Dengan bantuan kamera digital dalam observasi dan teknologi computer, OWAS dapat digunakan secara efisien dalam mengidentifikasi postur kerja yang kaku/tidak nyaman, untuk daerah bagian belakang punggung (back), lengan (arms), dan kaki (legs). Prosedur OWAS dilakukan dengan mengobservasi untuk mengambil data postur, beban/tenaga, dan fase kerja untuk kemudian dibuat kode berdasarkan data tersebut. Evaluasi penilaian didasarkan pada skor dari tingkat bahaya postur kerja yang ada dan selanjutnya dihubungkan dengan kategori tindakan yang harus diambil. Di bawah ini dijabarkan faktor-faktor yang dinilai dengan metode OWAS, nilai yang diberikan dan kategori tindakan yang akan diambil, yaitu:

1. Bagian Belakang (Back)

1 2 3 4

Gambar 3.2. Postur Tubuh Bagian Belakang

Tabel 3.4. Skor Bagian Belakang OWAS

Pergerakan Skor

Lurus / tegak 1

Bungkuk ke depan 2

Miring ke samping 3

Bungkuk ke depan dan miring ke samping 4 1. Lengan (arms)

1 2 3

Gambar 3.3. Postur Bagian Lengan Tabel 3.5. Skor Bagian Lengan OWAS

Pergerakan Skor

Kedua tangan di bawah bahu 1

Satu tangan pada atau di atas bahu 2 Kedua tangan pada atau di atas bahu 3

2. Kaki (Legs)

1 2 3 4

5 6 7

Gambar 3.4. Postur Bagian Kaki

Tabel 3.6. Skor Bagian Kaki OWAS

Pergerakan Skor

Duduk 1

Berdiri dengan kedua kaki lurus 2

Berdiri dengan bertumpu pada satu kaki lurus 3 Berdiri atau jongkok dengan kedua lutut 4 Berdiri atau jongkok dengan satu lutut 5

Berlutut pada satu atau dua lutut 6

4. Beban (load)

Tabel 3.7. Skor Berat Beban OWAS

Beban / load Skor

< 10 kg 1

< 20 kg 2

> 20 kg 3

Postur kerja dan kombinasi postur kerja kemudian diklasifikasikan ke dalam 4 kategori tindakan seperti pada Tabel 3.8.

Tabel 3.8. Kategori Tindakan OWAS

Kategori Tindakan Tindakan

1 Aman

2 Diperlukan beberapa waktu ke depan 3 Tindakan dalam waktu dekat

4 Tindakan sekarang juga

3.3.3. RULA (Rapid Upper Limb Assessment)

RULA (Rapid Upper Limb Assessment) merupakan suatu metode penelitian untuk meginvestigasi gangguan pada anggota badan bagian atas. Metode ini tidak membutuhkan peralatan spesial dalam penetapan penilaian postur leher, punggung, dan lengan atas. Setiap pergerakan diberi dengan skor yang telah ditetapkan. RULA

dikembangkan sebagai suatu metode untuk mendeteksi podtur kerja yang merupakan factor resiko (risk factors). Metode ini didesain untuk menilai para pekerja dan mengetahui beban musculoskeletal yang kemungkinan dapat menimbulkan gangguan pada anggota badan atas.

Metode ini menggunakan diagram dari postur tubuh dan 3 tabel skor dalam menetapkan evaluasi faktor resiko. Faktor resiko yang telah diinvestigasi dijelaskan oleh McPhee sebagai faktor beban eksternal yaitu jumlah pergerakan, kerja otot statik, tenaga, penentuan postur kerja oleh peralatan, waktu kerja tanpa istirahat.

Dalam mempermudah penilaiannya maka tubuh dibagi atas 2 segmen yaitu grup A terdiri atas lengan atas (upper arm), lengan bawah (lower arm), dan pergelangan tangan (wrist). Sedangkan grup B terdiri dari leher (neck), punggung (trunk), dan kaki (legs). Berikut ini adalah penilaian postur kerja berdasarkan metode RULA.

1. Lengan atas (upper arm)

Tabel 3.9. Skor Lengan Atas RULA

Pergerakan Skor Skor Perubahan

200 ke depan maupun ke belakang tubuh

1

+ 1 jika bahu naik +1 jika lengan berputar /

bengkok >200 (ke belakang) atau 20-450 2

45 - 900 3

> 900 4

2. Lengan bawah (lower arm)

Gambar 3.6. Postur Lengan Bawah RULA Tabel 3.10. Skor Lengan Bawah RULA

Pergerakan Skor Skor Perubahan

60-1000 1 +1 Jika lengan bawah bekerja melewati/keluar sisi tubuh <600 atau >1000 2

3. Pergelangan tangan (wrist)

Gambar 3.7. Postur Pergelangan Tangan RULA

Tabel 3.11. Skor Pergelangan Tangan RULA

Pergerakan Skor Skor Perubahan

Posisi netral 1

+1 jika pergelangan tangan menjauhi sisi tengah

0-150 2

>150 3

4. Leher (neck)

Tabel 3.12. Skor Leher RULA Pergerakan Skor Skor Perubahan

0-100 1 +1 jika leher berputar/bengkok 10-200 2 > 200 3 ekstensi 4 5. Punggung (Trunk)

Gambar 3.9. Postur Punggung RULA Tabel 3.13. Skor Punggung RULA Pergerakan Skor Skor Perubahan

Posisi normal 1

+1 jika leher berputar/bengkok +1 jika batang tubuh

bungkuk

0-200 2

20-600 3

6. Kaki (legs)

Tabel 3.14. Skor Kaki RULA

Pergerakan Skor

Posisi normal / seimbang 1

Tidak seimbang 2

Skor dari hasil kombinasi postur kerja diklasifikasikan dalam kategori level resiko sebagai berikut:

Tabel 3.15. Kategori Tindakan RULA

Kategori Tindakan Level Tindakan

1-2 Minimum Aman

3-4 Kecil Diperlukan beberapa waktu ke depan 5-6 Sedang Tindakan dalam waktu dekat

7 Tinggi Tindakan sekarang juga

3.3.4. REBA

REBA (Rapid Entire Body Assessment) merupakan suatu metode penilaian postur untuk menilai faktor resiko gangguan tubuh keseluruhan. Untuk masing- masing tugas, kita menilai faktor postur tubuh dengan penilaian pada masing-masing grup yang terdiri atas 2 grup yaitu:

1. Grup A yang terdiri dari postur tubuh kiri dan kanan dari batang tubuh (trunk), leher (neck), dan kaki (legs).

2. Grup B yang terdiri atas postur tubuh kanan dan kiri dari lengan atas (upper arm), lengan bawah (lower arm), dan pergelangan tangan (wrist).

Pada masing-masing grup diberikan suatu skala postur tubuh dan suatu pernyataan tambahan. Diberikan juga faktor beban/kekuatan dan coupling. Berikut ini adalah faktor-faktor yang dinilai pada metode REBA.

Grup A:

a. Batang tubuh (trunk)

Gambar 3.10. Postur Batang Tubuh REBA

Tabel 3.16. Skor Batang Tubuh REBA

Pergerakan Skor Skor Perubahan

Posisi normal 1

+1 jika batang tubuh berputar/bengkok/bungkuk 0-200 (ke depan dan belakang) 2

<-200 atau 20-600 3

2. Leher (neck)

Gambar 3.11. Postur Leher REBA Tabel 3.17. Skor Leher REBA

Pergerakan Skor Skor Perubahan

0-200 1

+1 jika leher berputar/bengkok >200-ekstensi 2

c. Kaki (legs)

Gambar 3.12. Postur Kaki REBA

Tabel 3.18. Skor Kaki REBA

Pergerakan Skor Skor Perubahan

Posisi normal/seimbang

(berjalan/duduk) 1 +1 jika lutut antara 30-60 0

+2 jika lutut >600 Bertumpu pada satu kaki lurus 2

4. Beban (load)

Tabel 3.19. Skor Beban REBA

Pergerakan Skor Skor Pergerakan

<5 kg 0

+1 jika kekuatan cepat

5-10 kg 1

>10 kg 2

Grup B:

1. Lengan atas (upper arm)

Gambar 3.13. Postur Lengan Atas REBA Tabel 3.20. Skor Lengan Atas REBA

Pergerakan Skor Skor Perubahan

200 (ke depan dan belakang) 1 +1 jika bahu naik

+1 jika lengan berputar/bengkok -1 miring, menyangga berat

lengan >200 (ke belakang) atau 20-450 2

45-900 3

2. Lengan bawah (lower arm)

Gambar 3.14. Postur Lengan Bawah REBA

Tabel 3.21. Skor Lengan Bawah REBA

Pergerakan Skor

60-1000 1

<600 atau >1000 2

3. Pergelangan tangan (wrist)

Gambar 3.15. Postur Pergelangan Tangan REBA

Tabel 3.22. Skor Pergelangan Tangan REBA

Pergerakan Skor Skor Perubahan

0-150 (ke atas dan bawah) 1 +1 jika pergelangan tangan putaran menjauhi sisi tengah >150 (ke atas dan bawah) 2

4. Coupling

Tabel 3.23. Coupling

Coupling Skor Keterangan

Baik 0 Kekuatan pegangan baik

Sedang 1 Pegangan bagus tapi tidak ideal atau kopling cocok dengan bagian tubuh

Kurang baik 2 Pegangan tangan tidak sesuai walaupun mungkin

Tidak dapat diterima 3

Kaku, pegangan tangan tidak nyaman, tidak ada pegangan atau kopling tidak sesuai dengan bagian tubuh

Tabel 3.24. Skor Aktivitas

Aktivitas Skor Keterangan

Postur statik +1 1 atau lebih bagian tubuh statis/diam

Pengulangan +1 Tindakan berulang-ulang

Ketidakstabilan

+1

Tindakan menyebabkan jarak yang besar dan cepat pada postur (tidak stabil)

Untuk menentukan level tindakan REBA, kita membutuhkan tambahan data apakah akan menggunakan tubuh bagian kiri atau kanan. Berikut ini nilai level tindakan REBA.

Tabel 3.25. Nilai Level Tindakan REBA

Skor REBA Level Resiko Level Tindakan Tindakan

1 Dapat diabaikan 0 Tidak diperlukan

2-3 Kecil 1 Mungkin diperlukan

Tabel 3.25. (Lanjutan)

Skor REBA Level Resiko Level Tindakan Tindakan

8-10 Tinggi 3 Segera

11-15 Sangat tinggi 4 Sekarang juga

3.4. Anthropometri

Istilah anthropometri berasal dari “anthro” yang berarti manusia dan “metri” yang berarti ukuran. Secara defenitif antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran dimensi tuuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk, ukuran (tinggi, lebar, dan lain sebagainya), berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan yang lainnya. Antropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis dalam memerlukan interaksi manusia. Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal:

a. Perancangan areal kerja (work station)

b. Perancangan peralatan kerja, seperti mesin dan peralatan

c. Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi/meja komputer, dan lain-lain

d. Perancangan lingkungan kerja fisik

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data antropometri akan menentukan bentuk, ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang akan menggunakan/mengoperasikan produk

tersebut. Dalam kaitan ini maka perancangan produk harus mampu mengakomodasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan produk hasil rancangannya tersebut.

Manusia pada umumnya akan berbeda-beda dalam hal bentuk dan dimensi ukuran tubuhnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran tubuh manusia, sehingga sudah semestinya seorang perancang produk harus memperhatikan faktor- faktor tersebut yang antara lain adalah:

a. Umur

Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar seiring dengan bertambahnya umur yaitu sejak awal kelahirannya sampaio dengan umur sekitar duapuliuh tahunan. Dari penelitian yang dilkukan oleh A.F. Roche dan G. H. Davila (1972) di USA diperoleh kesimpulan bahwa laki-laki akan tumbuh dan berkembang naik smpai dengan usia 21,2 tahun dan wanita 17,3 tahun.

b. Jenis Kelamin

Dimensi tubuh laki-laki umumnya lebih besar dibandingkan dengan wanita, terkecuali untuk beberapa bagian tubuh tertentu.

c. Suku bangsa

Setiap suku, bangsa maupun kelompok etnik akan memiliki karakteristik yang berbeda satu dengan yang lainnya.

d. Posisi tubuh

Sikap ataupun posisi tubuh akan berpengaruh terhadap ukuran tubuh, olehkarena itu posisi tubuh standard harus diterapkan untuk survey pengukuran.

Dokumen terkait