Dalam rangka pengembangan usaha agribisnis nanas dan tantangaan menghadapi persaingan dalam era perdaganagan bebas maka pasar menuntut produk yang bermutu tinggi, keseragaman hasil, berkesinambungan, aman terhadap kesehatan, dan ramah lingkungan. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka perlu adanya suatu pedoman atau standar yang dijadikan acuan dalam pengembangan agribisnis komoditas nanas. Terdapat Standart Operating Procedure (SOP) pada usahatani nanas yang mencakup proses budidaya hingga pasca panen.
6.1.1. Pemilihan Lokasi
Lokasi yang cocok untuk budidaya nanas adalah daerah yang memiliki suhu rata-rata 25°C-31°C dengan curah hujan 200-300 mm per tahun. Kondisi tanah yang baik adalah tanah yang memiliki pH berkisar antara 5,5-7 dengan jenis tanah podzolik merah kuning. Lahan yang baik adalah lahan yang bebas hama dan penyakit endemis, subur dengan lapisan top soil tanah yang cukup tebal, dan banyak mengandung unsur hara.
6.1.2. Pemilihan Varietas
Nanas yang dibudidayakan adalah varietas nanas yang dapat memberikan keuntungan bagi petani. Varietas tersebut juga harus memiliki produktivitas tinggi dan mutu yang prima sehingga mempunyai prospek untuk dikembangkan. Saat ini varietas yang dibudidayakan di Desa Astomulyo adalah nanas dengan varietas Queen.
Bibit yang digunakan dalam budidaya harus berkualitas dan mempunyai daya tumbuh tinggi, ukuran seragam, bebas dari hama dan penyakit, serta dapat berproduksi tinggi. Bibit dikelompokkan berdasarkan kelas bibit, yaitu :
a. Bibit yang berasal dari tanaman induk, ciri-ciri:
Pertumbuhan normal dan sehat.
Daun berduri dan berwarna hijau kebiruan.
46
Bentuk buah normal sesuai varietas.
Jumlah anakan 2-4 buah.
Mata buah seragam.
b. Bibit yang berasal dari pangkal buah (siwilan), ciri-ciri:
Ukuran benih untuk Kelas A : panjang 25-30 cm. Kelas B : panjang 20-24 cm. c. Bibit yang berasal dari batang (sogolan), ciri-ciri:
Ukuran benih untuk Kelas A : panjang 45-60 cm. Kelas B : panjang 35-44 cm. 6.1.3. Pembuatan Persemaian
Pembuatan persemaian dilakukan untuk benih nanas yang seragam dan berkualitas dengan pertumbuhan yang cepat, ukuran seragam, tidak mengandung penyakit, dan memiliki potensi berproduksi tinggi. Prosedur pelaksanaan persemaian adalah:
a. Bibit yang dipergunakan berasal dari tunas pangkal buah atau tunas batang dengan varietas Queen : ukuran bibit sesuai yang diinginkan, titik tumbuh tidak dihilangkan, dan kelopak daun paling bawah daun kering dibuang 1- 2 helai (0,5 cm).
b. Bibit diukur dari pangkal batang bibit sampai titik tumbuh.
c. Bibit disortasi, dikumpulkan berdasarkan kelompok ukuran dan varietas (jenis).
d. Sebelum ditanam sebaiknya bibit terpilih dipotong bagian ujung akar 1-2 cm agar cepat terbentuk untuk merangsang pertumbuhan bibit.
6.1.4. Persiapan lahan Pembersihan
Persiapan lahan dilakukan agar lahan siap untuk ditanami dan tanaman tumbuh optimal yaitu dengan membersihkan lahan dari bahan-bahan yang dapat menganggu pertumbuhan tanaman. Alat-alat yang digunakan seperti parang/golok untuk memotong dan membersihkan semak serta cangkul untuk membersihkan tanah dari rumput dan sisa-sisa semak yang tertinggal dan juga untuk mengolah tanah secara manual. Prosedur pelaksanaan dalam kegiatan persiapan lahan adalah:
47 a. Buang dan bersihkan gulma, semak, tunggul, dan sisa-sisa akar dari lahan yang akan mengganggu sistem perakaran tanaman maupun menghambat penyerapan unsur hara.
b. Buang kotoran-kotoran, daun-daun, dan ranting bekas pangkasan yang dapat menjadi sumber penularan yang dapat menjadi sumber penularan hama dan penyakit.
c. Setelah dibersihkan dibiarkan selama dua minggu untuk perlakuan manual atau satu bulan untuk perlakuan kimiawi.
Dengan dilakukannya kegiatan persiapan lahan, diharapkan lahan bebas dari gulma, tunggul, semak belukar, sisa-sisa akar, dan dahan-dahan yang dapat menganggu pertumbuhan tanaman.
Pembuatan Bedengan
Pada tahapan ini dilakukan pembentukan gundukan pada areal lahan sesuai dengan jarak tanam sehingga memudahkan penanaman, pemeliharaan, dan panen. Alat yang digunakan adalah cangkul untuk menaikkan atau mengangkat tanah agar terbentuk sebuah gundukan dan handtraktor atau bajak sapi untuk membajak tanah dan membuat parit. Prosedur pelaksanaan:
a. Membuat bedengan dengan membentuk gundukan tanah yang berpola dan sesuai dengan ukuran yang diperlukan.
b. Ukuran bedengan dibuat dengan lebar sesuai dengan jumlah baris dalam kelompok.
Pengajiran
Pengajiran adalah kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh posisi tanam sehingga diperoleh populasi tanam sesuai dengan varietas dan standar yang ditetapkan. Dengan adanya jarak tanam dapat menjamin tanaman tumbuh dengan optimal. Prosedur pelaksanaan yaitu dengan membuat tanda dengan menggunakan patok dengan mengacu pada jarak tanam.
a. Pola tanam satu alur dengan ukuran: Jarak dalam baris : 20-25 cm Jarak antar baris : 80-100 cm
b. Pola tanam ganda (2-1 atau jejer legowo), dengan ukuran: Jarak dalam barisan : 20-25 cm
48 Jarak antar baris terdekat : 50 cm
Jarak antar baris terjauh : 100 cm 6.1.5. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan meletakkan bibit pada lubang tanam atau alur yang telah dipersiapkan sesuai dengan jarak tanam sehingga dapat memberikan lingkungan tumbuh yang optimal terhadap pertumbuhan tanaman. Prosedur pelaksanaan:
a. Bibit ditanam dengan cara ditugal dengan kedalaman 5-10 cm.
b. Bibit yang berasal dari satu kelas dan satu sumber ditanam dalam satu blok agar ukuran buah seragam.
c. Maksimal bibit yang dapat ditanam dengan pola satu alur adalah 40.000 bibit.
d. Lakukanlah penyulaman maksimum satu bulan setelah tanam. 6.1.6. Sanitasi Lahan
Lingkungan tanaman nanas perlu dijaga kebersihannya agar tanaman dapat tumbuh dengan optimal dan bebas dari hama dan penyakit. Alat yang digunakan dalam kegiatan ini seperti cangkul untuk membantu penyiangan gulma sekaligus penggemburan lahan, pisau/parang untuk memotong batang/daun yang tua, herbisida untuk membunuh gulma, handsprayer untuk menyemprotkan herbisida, dan ember untuk menuangkan air ke dalam handsprayer. Prosedur pelaksanaan:
a. Penyiangan dilakukan agar pertanaman bebas dari gulma sampai menjelang panen (2-3 kali selama pertanaman).
b. Pembuangan daun batang tua pada pertanaman setelah panen untuk memicu tumbuhnya tunas baru.
c. Disisakan 1-2 tunas baru yang baik. 6.1.7. Pemupukan
Pemupukan perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman dan perakaran agar tanaman dapat berkembang lebih baik, pertumbuhan optimal, produksi tinggi, dan kualitas yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Prosedur pelaksanaan:
49 a. Pemupukan untuk siwilan
Pemberian pupuk kandang dilakukan kurang dari satu bulan setelah tanam.
Pemberian pupuk susulan pertama diberikan dua bulan setelah tanam dengan dosis: Urea = 200 kg/ha
SP 36 = 200 kg/ha Phonska = 200 kg/ha
Pemberian pupuk kedua diberikan enam bulan setelah tanam, dengan dosis: Urea = 200 kg/ha
SP 36 = 200 kg/ha Phonska = 200 kg/ha
Pemberian pupuk susulan ketiga diberikan 10 bulan setelah tanam, dengan dosis: Urea = 200 kg/ha
SP 36 = 200 kg/ha Phonska = 200 kg/ha
Penambahan PPC dengan dosis empat liter/ha yang diberikan pada umur tanaman tiga dan delapan bulan setelah tanam.
b. Pemupukan untuk sogolan
Pemberian pupuk kandang dilakukan kurang dari satu bulan setelah tanam.
Pemberian pupuk susulan pertama diberikan dua bulan setelah tanam dengan dosis: Urea = 200 kg/ha
SP 36 = 200 kg/ha Phonska = 200 kg/ha
Pemberian pupuk kedua diberikan empat bulan setelah tanam, dengan dosis: Urea = 200 kg/ha
SP 36 = 200 kg/ha Phonska = 200 kg/ha
Pemberian pupuk susulan ketiga diberikan enam bulan setelah tanam (sebelum forcing), dengan dosis: Urea = 200 kg/ha
SP 36 = 200 kg/ha Phonska = 200 kg/ha
50
Penambahan PPC dengan dosis empat liter/ha yang diberikan pada umur tanaman tiga dan delapan bulan setelah tanam.
6.1.8. Pengendalian OPT
Upaya yang dilakukan dengan mengamati dan melakukan pengendalian terhadap hama dan penyakit pada tanaman sehingga diketahui jenis hama dan penyakit yang mempunyai potensi akan merusak tanaman, dapat melindungi tanaman dari serangan OPT, dan dapat meningkatkan kualitas produk. Prosedur pelaksanaan:
a. Lakukan pengamatan OPT secara dini dan berkala, dengan melakukan identifikasi potensi timbulnya hama dan penyakit.
b. Identifikasi jenis OPT yang membahayakan produksi dan mutu. c. Identifikasi jenis dan cara pengendalian.
d. Lakukan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu, yaitu:
Teknik bercocok tanam yang baik dan benar.
Pengendalian secara mekanis. 6.1.9. Forcing
Kegiatan pengarbitan atau forcing dilakukan untuk mengatur pembungaan dan waktu panen dengan menggunakan zat pengatur tumbuh sehingga pembungaan dan pembuahan terjadi pada waktu yang dikehendaki serta dapat meningkatkan ukuran dan bobot buah. Dengan begitu buah dapat dipanen pada waktu yang diharapkan dan serentak. Prosedur pelaksanaan:
a. Pengarbitan dilakukan pada waktu tanaman berumur 10 bulan atau memiliki daun sebanyak 40 helai.
b. Ethrel diberikan bersama dengan urea.
c. Satu kilogram urea dilarutkan ke dalam 600-800 liter air dengan karbit delapan kg per ha untuk menyiram 40.000 tanaman.
d. Setiap tanaman mendapat 15-20 ml larutan dengan cara disiramkan pda titik tumbuh.
e. Perlakuan ini akan menyebabkan tanaman berbunga 40 hari setelah pengaplikasian.
f. Pemberian dilakukan pada waktu pagi hari (jam 05.00-08.00) dan sore hari (16.00-selesai).
51 g. Perlakuan tidak dapat dilakukan pada waktu hujan.
6.1.10. Panen
Panen merupakan proses pengambilan buah yang sudah menunjukkan ciri matang panen. Prosedur pelaksanaan:
a. Panen dilakukan 4-5 bulan setelah pengarbitan.
b. Masak fisiologis atau tingkat kematangan pada buah adalah 10-25 persen, warna kuning pada dasar buah, dan pangkal batang buah telah keriput. c. Pangkal mata buah telah menguning.
d. Tangkai dipotong atau dipangkas, tidak dipotes.
e. Waktu panen sebaiknya pagi setelah embun mengering dan sore hari untuk menghindari kelembapan atau panas.
f. Buah jangan dilempar atau dibanting.
g. Pengumpulan hasil panen dilakukan di tempat teduh atau diberi lindungan (atap/terpal) dan diberi alas.
h. Untuk nanas segar, sebelum dilakukan perlakuan lebih lanjut diupayakan untuk menghilangkan panas lapang dengan diangin-anginkan lalu ditutup dengan terpal.
6.1.11. Sortasi dan Pengkelasan Buah
Proses ini dilakukan untuk memilih dan memisahkan buah berdasarkan tingkat kematangan buah dan ukuran buah sehingga buah sesuai dengan ukuran/kelas untuk mendapatkan buah yang seragam. Selain itu juga agar didapat pengelompokkan buah yang baik dan yang rusak. Prosedur pelaksanaan:
a. Pisahkan buah yang bentuknya abnormal, cacat, luka, atau busuk dari buah yang bentuknya normal dan baik.
b. Buah yang muda, terlalu matang, atau terlalu kecil, serta buah yang memar dan cacat dikategorikan sebagai ”out of grade” atau di luar kelas.
c. Pengkelasan buah dilakukan dengan memilah-milah buah sesuai ukuran berat yang ditentukan, yaitu:
Grade A : 1,5-2,0 kg Grade B : 1,0-1,49 kg Grade C : 0,6-1,0 kg
52 6.1.12. Pengangkutan Buah
Pengangkutan buah dilakukan setelah buah disortir di lapang berdasarkan ukuran dan kelas buah sehingga buah dapat diterima oleh konsumen. Prosedur pelaksanaan:
a. Setelah dikelaskan, buah disusun dalam alat angkut. b. Buah dengan mahkota utuh disusun pada posisi tidur. c. Tumpukkan buah dalam alat angkut ditutup terpal.
Hal tersebut dilakukan agar buah dapat sampai ke tangan konsumen dalam keadaan yang baik.