BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN
P. Pagai Utara dan
3. Stasiun MTWL 91, Desa Sikakap, Pagai Utara
Lokasi pengamatan merupakan sebuah gosong karang (patch reef) yang berada pada pesisir bagian utara Desa Sikakap. Panjang rataan terumbu kurang lebih sekitar 1 km. Perairan menghadap ke laut lepas, pada waktu pengamatan perairan relatif tenang dengan arus dan gelombang
tidak terlalu besar, agak keruh dengan jarang pandang sekitar 6 meter. Dasar perairan didominasi oleh pasir, patahan karang mati dan sedikit karang hidup. Batas tubir cukup jelas dengan lereng terumbu agak landai sampai kedalaman 20 meter.
Persentase tutupan karang hidup dicatat 14,67 % yang terdiri dari karang Acropora 2,33 % dan Non-Acropora 12,3 %. Persentase tutupan kategori abiotik cukup tinggi yang terdiri dari patahan karang mati (rubble) yaitu 45,67 %. Persentase tutupan DCA dicatat 37,67 %. Kondisi karang di lokasi ini masuk dalam kategori jelek.
Hasil pengamatan untuk ketiga lokasi ini ditunjukkan dalam Gambar 7a.
Gambar 7a. Persentase tutupan karang, biota bentik lainnya dan kategori abiotik hasil LIT di P. Pagai, Kabu-paten Mentawai.
4. Stasiun MTWL 71, pesisir selatan Desa Bosua, P. Sipora.
Lokasi ini berada pada sisi selatan pesisir Bosua, P.Sipora. Daerah pesisir sebagaian besar adalah pantai berpasir, sedikit cadas dan agak terjal dengan vegetasi umumnya adalah kelapa dan tumbuhan pantai. Daerah perairan ini merupakan lokasi pilihan bagi kegiatan surfing dan wisata bahari. Perairan terbuka dengan gelombang dan arus cukup kuat, terutama pada musim timur (Mei-Oktober) bisa mencapai 4-5 meter, agak keruh dengan jarak pandang sekitar 6-7 meter. Panjang rataan terumbu sekitar 50 m ke arah laut. Dasar
# # # SIKAKAP TAIKAKO MAKALO MATOBEK UPT TAIKAKO I P. Nusa P. Ragi P. Lamui P. Masusu P. Sitonggo P. Singingi P. Siatanusa P. Bakatpeigu P. Siopa Besar 2°51' 2°51' 2°48' 2°48' 2°45' 2°45' 2°42' 2°42' 100°9' 100°9' 100°12' 100°12' 100°15' 100°15' 100°18' 100°18' 100°21' 100°21' Legenda : TUTUPAN LIFEFORM PER STASIUN LIT
DI PAGAI U Darat Hutan Mangrove Fringing Reef Patch Reef Acropora Non acropora Dca Dc Soft coral Sponge Fleshy seaweed Other biota Rubble Sand Silt Rock Jalan
perairan terdiri dari patahan karang mati. Lereng terumbu agak curam sampai kedalaman 20 meter lebih.
Persentase tutupan karang hidup dicatat 30,50 % yang terdiri dari tutupan Acropora 9,30 % dan Non-Acropora 21,20 %. Persentase tutupan
A c r op o ra tertinggi dicatat di lokasi ini. Kategori lain dicatat DCA 42,90 %, pasir 15,73 % dan “rubble” 7,83 %. Kondisi karang di lokasi ini masuk dalam kategori sedang.
5. Stasiun MTWL 76, pesisir timur Desa Bosua, P. Sipora.
Lokasi ini berada pada bagian timur pesisir Bosua, Sipora Kepulauan Mentawai. Daerah pesisir merupakan pantai berpasir dengan vegetasi utama kelapa. Perairan terbuka dengan arus dan gelombang cukup kuat, jernih dengan jarak pandang mencapai 10 meter. Tipe terumbu adalah karang tepi dengan rataan terumbu cukup luas dengan jarak lebih kurang 500 meter dari pantai. Dasar perairan terdiri dari substrat keras, patahan karang mati dan sedikit bongkahan karang mati. Tubir jelas dengan lereng terumbu agak curam sampai kedalaman 20 meter
Persentase tutupan karang hidup dicatat 8,03 %, terdiri dari tutupan Acropora 0,57 % dan
Non-A c r op o ra 7,47 %. Persentase tutupan DCA cukup tinggi yaitu 59,47 %, dan “rubble” 30 %. Kondisi karang di lokasi ini masuk dalam kategori jelek.
6. Stasiun MTWL 78, pesisir timur laut Desa Bosua, P. Sipora.
Stasiun ini terletak pada pesisir timur paling utara dari Desa Bosua, P.Sipora. Daerah pesisir merupakan pantai dengan vegetasi mangrove dan sedikit bagian berpasir dan batuan cadas dengan vegetasi umumnya kelapa, mangrove dan hutan
hujan. Kawasan perairan dimanfaatkan sebagai daerah tangkapan nelayan lokal dan lokasi wisata bahari. Perairan sedikit agak terlindung dengan arus dan gelombang tidak besar, keruh dengan jarak pandang 4-5 meter. Dasar perairan berpasir dengan sedikit patahan karang mati ditumbuhi alga, bongkahan karang mati dan pertumbuhan beberapa karang hidup bentuk massive. Lereng terumbu landai dan dangkal sampai ke kedalaman 6 meter.
Persentase tutupan karang hidup dicatat 7,83 %, terdiri dari tutupan Acropora 1,00 % dan
Non-A c r op o ra 6,83 %. Persentase tutupan DCA sangat tinggi yaitu 76,73 %, merupakan catatan tertinggi dari semua lokasi pengamatan, Biota lain yaitu spong dicatat 10,17 % dan biota lain (OT) dicatat 3,70 %. Kondisi karang di lokasi ini masuk dalam kategori jelek. Hasil pengamatan di tiga lokasi ini disajikan dalam Gambar 7 b.
Gambar 7b. Persentase tutupan karang, biota bentik lainnya dan kategori abiotik hasil LIT di P. Sipora, Kabu-paten Mentawai.
7. Stasiun MTWL 53, Desa Saibi Samukop, P. Siberut.
Lokasi pengamatan merupakan gosong karang yang berada cukup jauh dari pantai yaitu lebih kurang 1 km. Tipe terumbu termasuk karang tepi yang mengalami pertumbuhan kearah luar dan terpisah menjadi gososng karang. Dasar perairan umumnya dasar yang keras, terdiri dari patahan karang mati, pasir dan bongkahan karang mati. Lereng terumbu sangat landai kemudian langsung terjal sampai kedalaman 15-20 meter.
Persentase tutupan karang hidup dicatat 19 % yang terdiri dari tutupan Acropora 2,83 % dan
Non-A c r op o ra 16,17 %. Persentase tutupan DCA cukup tinggi yaitu 52,17 %, Biota lain yaitu spong dicatat
# # # BOSUA BERIULEU NEM-NEM LEU Tg. Bulak Tg. Batukinapat 2°24' 2°24' 2°23' 2°23' 2°22' 2°22' 2°21' 2°21' 2°20' 2°20' 99°47' 99°47' 99°48' 99°48' 99°49' 99°49' 99°50' 99°50' 99°51' 99°51' 99°52' 99°52' 99°53' 99°53' 99°54' 99°54' Legenda : TUTUPAN LIFEFORM PER STASIUN LIT
DI SIPORA U Darat Hutan Mangrove Fringing Reef Patch Reef Acropora Non acropora Dca Dc Soft coral Sponge Fleshy seaweed Other biota Rubble Sand Silt Rock Jalan
0,33 %. Kategori abiotik lainnya yaitu “rubble” dicatat 18,67 % dan pasir, 9,33 %. Kondisi karang di lokasi ini masuk dalam kategori jelek.
8. Stasiun MTWL 61, pesisir timur Desa Saliguma, P. Siberut.
Lokasi pengamatan berada di pesisir timur P. Siberut, dengan pertumbuhan karang terpisah-terpisah menjadi kelompok-kelompok terumbu (patch reef) di tempat yang dangkal dengan kedalaman 4 meter. Dasar perairan didominasi oleh substrat keras dan sebagian ditutupi oleh patahan karang mati yang ditumbuhi alga, pasir dan bongkahan-bongkahan karang mati. Lereng terumbu relatif landai dan kadang-kadang tidak jelas sampai kedalaman 15 meter.
Persentase tutupan karang hidup dicatat 5,83 % yang terdiri dari tutupan Non-Acropora saja. Persentase tutupan DCA cukup tinggi yaitu 51,57 %, Biota lain yaitu spong dan karang lunak masing-masing 0,17 %. Biota lain (OT) dicatat 0,33 %. Kategori abiotik lainnya yaitu “rubble” dicatat cukup tinggi yaitu 39,03 % dan pasir 2,9 %. Kondisi karang tidak berbeda jauh dengan di Stasiun MTWL81 di P. Pagai dan masuk dalam kategori sangat jelek.
9. Stasiun MTWL 64, pesisir timur Desa Saliguma, P. Siberut.
Lokasi ini merupakan daerah perlindungan laut (DPL) yang masih berada pada pesisir timur Pulau Siberut. Stasiun pengamatan merupakan tipe terumbu karang tepi dari beberapa pulau kecil dalam teluk. Rataan terumbu selalu berada terendam pada saat surut terendah sehingga kadang-kadang tidak jelas. Dasar perairan didominasi oleh pasir berlumpur, patahan karang mati ditumbuhi makroalga dan sedikit bongkahan-bongkahan karang mati yang ditumbuhi ‘turf
algae” (TA). Lereng terumbu landai dan dangkal hanya mencapai lebih kurang 10 meter dan jarak pandang sekitar 5 m.
Persentase tutupan karang hidup dicatat 13,60 % yang terdiri dari tutupan Acropora 0,23 % dan Non-Acropora 13,37 %. Persentase tutupan DCA 27,43 %, Biota lain yaitu spong, persentasenya cukup tinggi yaitu 12,53% dan makro alga (FS) 2,53 %. Kategori abiotik lainnya yaitu “rubble” dicatat 19,90 % dan pasir 19,67 %. Juga dicatat lumpur halus (silt) 4,33 %. Kondisi karang masuk dalam kategori jelek. Hasil pengamatan untuk ketiga loksi ini disajikan dalam Gambar 7 c.
Gambar 7c. Persentase tutupan karang, biota bentik lainnya dan kategori abiotik hasil LIT di P. Siberut, Kabu-paten Mentawai.
Dari hasil transek dengan metode LIT yang dilakukan di 9 stasiun di perairan Mentawai, dihi-tung nilai indeks keanekaragaman jenis Shannon dan nilai indeks kemerataan Pielou dan disajikan dalam Tabel 2. # # # # SAIBI SAMUKOP CIMPUNGAN
SALIGUMA (SILACI NAN TANGAH)
SARAREKET ULU SAGALUBEK TAILEU 1°30' 1°30' 1°25' 1°25' 1°20' 1°20' 1°15' 1°15' 99°00' 99°00' 99°5' 99°5' 99°10' 99°10' 99°15' 99°15' 99°20' 99°20' Legenda : TUTUPAN LIFEFORM PER STASIUN LIT
DI SIBERUT U Darat Hutan Mangrove Fringing Reef Patch Reef Acropora Non acropora Dca Dc Soft coral Sponge Fleshy seaweed Other biota Rubble Sand Silt Rock Jalan
Tabel 2. Nilai indeks keanekaragaman jenis Shannon (H’) yang dihitung menggunakan ln (=log e) dan Indeks kemer-ataan Pielou (J’) untuk karang batu di masing-masing stasiun transek permanen dengan metode LIT.
Dari Tabel 2 tersebut terlihat bahwa kemer-ataan jenis disemua stasiun umumnya rendah. Hal ini disebabkan ada jenis-jenis tertentu yang men-dominasi, seperti misalnya di stasiun MTWL53 di-dominasi oleh karang dari marga Pocillopora, di stasiun MTWL78 didominasi oleh Montipora, dan di stasiun MTWL84 didominasi oleh Galaxea dan
Porites.
Berdasarkan nilai kemiripan Bray-Curtis (Bray -Curtis Similarity) yang dihitung dari jumlah ke-hadiran masing-masing jenis karang batu (data ditransformasikan ke bentuk fourth root atau √√y) di setiap stasiun transek permanen dengan meng-gunakan program PRIMER v5 dilakukan analisa pengelompokan (cluster analysis) dengan meng-gunakan metode rerata kelompok (group average)
S t a s i u n H ’ J ’ MTWL53 1.641 0.789 MTWL61 0.888 0.808 MTWL64 1.589 0.887 MTWL71 2.577 0.892 MTWL76 2.046 0.889 MTWL78 1.025 0.572 MTWL81 2.301 0.926 MTWL84 1.647 0.846 MTWL91 1.499 0.931
sehingga dihasilkan dendrogram seperti pada Gambar 8. Selain itu juga dilakukan analisa multi-variat non-metric multidimensional scaling (MDS) dimana hasilnya disajikan pada Gambar 9.
Gambar 8. Dendrogram analisa pengelompokan stasiun transek permanen di Mentawai berdasarkan jumlah ke-hadiran masing-masing jenis karang batu (data ditransformasikan ke bentuk √√y).
Gambar 9. MDS untuk stasiun transek permanen di Mentawai berdasarkan berdasarkan jumlah ke-hadiran masing-masing jenis karang batu (data ditransformasikan ke bentuk √√y).
Dari Gambar 8 dan Gambar 9 terlihat bahwa antara stasiun MTWL53 dan MTWL91, serta sta-siun MTWL76 dan MTWL81 mengelompok dengan nilai kemiripan lebih besar dari 50%.
Dari hasil pengamatan terumbu karang den-gan metode LIT di 9 stasiun transek permanen di-catat 7 lokasi masuk dalam kondisi jelek atau ru-sak (tutupan karang hidup <25%), 1 lokasi masuk dalam kategori sedang, dan 1 lokasi masuk dalam kategori baik. Persentase tutupan karang hidup mulai dari 3,43 % - 52,07% dengan rerata sebesar 17,22 % (Gambar 8). Rendahnya persentase tutu-pan juga diikuti dengan rendahnya keragaman jenis. Dari hasil LIT diperoleh 14 suku dan 44 jenis karang (Lampiran 3). Rerata persentase tutupan
kategori biota dan substrat dari masing-masing stasiun transek permanen disajikan dalam dan Gambar 10, sedangkan hasil persentase tutupan di masing-masing lokasi pengamatan dirangkum dalam histogram dan disajikan dalam Gambar 11.
Gambar 10. Rerata persentase tutupan karang dan kategori bentik lainnya berdasarkan LIT di masing-masing lokasi. Acropora Non Acropora DCA DC Soft Coral Sponge Fleshy Seaweed Other Biota Rubble Sand Silt Rock
Gambar 11. Histogram persentase tutupan kategori biota dan substrat di masing-masing stasiun transek permanen dengan metode LIT.
C. MEGABENTOS
Pengamatan megabentos dengan metode “reef check” dilakukan di lokasi transek permanen. Biota yang dicatat ialah biota bentik yang bernilai ekonomis penting ataupun yang bisa dijadikan indikator dalam menilai kondisi kesehatan terumbu karang.
Sebaran megabentos di perairan pesisir Pulau Mentawai cukup bervariasi, dengan keragaman berkisar antara 1 – 6 kelompok biota. Megabentos dengan ker-agaman tertinggi ditemukan pada stasiun MTWL52 se-banyak 6 kelompok biota dan terendah di stasiun MTWL61, MTWL71 dan MTWL81 masing-masing 1 biota (Tabel 3). 0% 20% 40% 60% 80% 100% MTWL 53 MTWL 61 MTWL 64 MTW L 71 MTW L 76 MTW L78 MTW L 81 MTWL 84 MTWL 91 Rock Silt Sand Rubble Other Biota Fleshy Seaweed Sponge Soft Coral DC DCA Non Acropora Acropora
Kelimpahan megabentos didominasi oleh karang jamur (CMR=Coral Mushrom) yaitu sebesar 9143 indi-vidu/ha. Tingginya kelimpahan karang jamur terutama dijumpai pada Stasiun MTWL78 (3071 individu/ha) dan MTWL71 (1214 individu/ha) yang posisinya berada pada barat laut Pulau Sipora bagian utara, tepatnya di daerah teluk dekat dengan muara sungai serta stasiun MTWL84 (2714 individu/ha) yang berada di Pulau Pagai bagian selatan.
Untuk jenis biota lain seperti Drupella sp. kelimpa-han tertinggi ditemukan di St. MTWL76 yaitu sebesar 643 individu/ha. Tingginya biota ini mengindikasikan bahwa perairan ini relatif jernih serta tidak ada sedi-mentasi. Semakin baik pertumbuhan karang maka jenis ini semakin banyak ditemukan.
Untuk kelompok biota ekonomis penting lain, seperti teripang (holothurian) ditemukan dalam jumlah yang relatif sedikit, dimana untuk yang berukuran besar (panjang ≥ 20 cm) kelimpahannya sebanyak 714 indi-vidu/ha dan yang berukuran kecil (panjang ≤ 20) hanya sebanyak 71 individu/ha. Demikian juga dengan kima dimana yang berukuran besar (diameter >20) kelimpa-hannya hanya sebanyak 143 individu/ha dan yang beru-kuran kecil (diameter ≤ 20) sebanyak 571 individu/ha. Rendahnya nilai kelimpahan kedua biota ini lebih dise-babkan oleh eksploitasi yang berlebihan dari penduduk setempat ataupun nelayan lain yang datang dari luar wilayah tersebut. Dalam pengamatan ini tidak ditemu-kan bulu babi “Pencil sea urchin”, lobster dan Diadema
s e to su m serta Acanthaster planci, yang merupakan he-wan pemakan polip karang.
Beberapa jenis mungkin tidak ditemukan pada saat pengamatan berlangsung karena luas pengamatan yang
dibatasi (luasan bidang pengamatan = 140 m2/transek),
sehingga tidak menutup kemungkinan akan dijumpai pada lokasi di luar transek. Hasil pengamatan megabentos selengkapnya di masing-masing lokasi
Tabel 3. Kelimpahan megabentos (Individu /ha)di perairan Kepulauan Metawai. MEGABENTOS MTW L 52 MTW L 53 MTW L 61 MT WL 64 MTW L 71 MTW L 76 MTW L 78 MTW L 81 MTW L 84 MTWL 91 Acanthaster planci 214 71 0 0 0 0 0 0 0 0 Banded Coral Shrimp 0 0 0 0 0 286 0 0 0 71 CMR 71 0 0 929 1214 643 3071 0 2714 500 Diadema setosum 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Drupellasp. 71 214 0 214 0 643 143 0 0 143
Large Giant Clam 143 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Small Giant Clam 0 0 571 0 0 0 0 0 0 0
Large Holothurian 71 71 0 0 0 71 214 143 143 0
Small Holothurian 0 0 0 0 0 0 0 0 71 0
Lobster 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Pencil sea urchin 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Gambar 11a. Kelimpahan biota megabentos hasil “reef check” di perairan P. Pagai, Kabupaten Mentawai.
Gambar 11b. Kelimpahan biota megabentos hasil “reef check” di perairan P. Sipora, Kabupaten Mentawai.
Gambar 11c. Kelimpahan masing-masing megabentos hasil LIT di perairan P. Siberut, Kabupaten Mentawai.