BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.2 Statistik Deskriptif
Salah satu fungsi dari tiga fungsi utama keuangan adalah fungsi keputusan pendanaan.Kebijakan pendanaan adalah kebijakan yang berkaitan dengan keputusan keuangan tentang dari mana dana untuk membeli suatu aktiva berasal. Untuk menilai kebijakan pendanaan dapat menggunakan rasio solvabilitas atau leverage. Rasio ini memberikan ukuran atas dana yang disediakan oleh perusahaan itu sendiri dibandingkan dengan keuangan yang disediakan oleh kreditor. Kebijakan pendanaan merupakan perbandingan komposisi modal perusahaan antara penggunaan utang dan ekuitas (Alza dan Utama, 2018). Salah satu rasio yang sering digunakan dalam mengukur solvabilitas suatu perusahaan adalah Debt to Equity Ratio (DER). DER dihitung dengan membandingkan antara
108
jumlah seluruh hutang (baik jangka pendek maupun jangka panjang), dengan jumlah modal sendiri perusahaan.
Gambar 4.1
Rata-rata Rasio DER Sub Sektor Bank Tahun 2013-2017
Sumber: data diolah peneliti (2019)
Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa rata-rata nilai DER tahun 2013 hingga 2017 mengalami fluktuasi.Perubahan yang terjadi setiap tahunnya sangat bervariasi. Pada tahun 2013 rata-rata nilai rasio DER adalah sebesar 6,136287 dan mengalami kenaikan pada tahun 2014 menjadi 6,291335. Namun rata-rata nilai rasio DER tersebut terus mengalami penurunan sejak tahun 2015 hingga tahun 2017. Pada tahun 2015 rata-rata nilai DER adalah 5,982507 mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi sebesar 5,508017, dan mengalami penurunan kembali pada tahun 2017 menjadi 5,445306. Nilai DER yang meningkat menunjukkan bahwa semakin besar struktur modal yang berasal dari utang.
4.1.2.2 Kebijakan Investasi
Kebijakan investasi merupakan salah satu dari tiga fungsi utama keuangan.Kebijakan investasi adalah kebijakan yang berkaitan dengan pengalokasian dana ke berbagai macam aktivitas atau aktiva (Kamaludin, 2011:5).
2013 2014 2015 2016 2017 6,136287 6,291335 5,982507 5,508017 5,445306 5 5,2 5,4 5,6 5,8 6 6,2 6,4
RATA-RATA DER
109
Untuk menilai kebijakan investasi, dapat digunakan rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham tertentu. Salah satu pengukuran yang digunakan adalah dengan menghitung tingkat pengembalian atas investasi (Return on Invesment - ROI) atau tingkat pengembalian atas aktiva (Return on Assets) (Hanafi, 2015:42).
Gambar 4.2
Rata-rata Rasio ROA Sub Sektor Bank Tahun 2013-2017
Sumber: data diolah peneliti (2019)
Nilai rata-rata ROA perusahaan perbankan pada tahun 2013 hingga tahun 2017 terus mengalami perubahan yang sangat bervariasi. Pada tahun 2013 hingga tahun 2016 nilai rata-rata ROA terus mengalami penurunan. Rata-rata nilai ROA pada tahun 2013 adalah sebesar 2,40% dan mengalami penurunan pada tahun 2014 menjadi 1,90%, kemudian pada tahun 2015 kembali mengalami penurunan menjadi 1,81% dan pada tahun 2016 turun kembali menjadi 1,70%. Sedangkan pada tahun 2017 rata-rata nilai ROA naik menjadi 1,85%. Semakin besar nilai ROA berarti semakin baik kinerja suatu perusahaan.
2013 2014 2015 2016 2017 2,40% 1,90% 1,81% 1,70% 1,85% 0,00% 0,50% 1,00% 1,50% 2,00% 2,50% 3,00% A xi s Ti tl e
RATA-RATA ROA
110
4.1.2.3 Kebijakan Dividen
Kebijakan lain yang tidak kalah penting dalam hal keuangan adalah kebijakan dividen. Kebijakan dividen adalah kebijakan yang mencakup keputusan mengenai apakah laba akan dibagikan kepada pemegang saham atau akan ditahan untuk reinvestasi dalam perusahaan.Untuk menilai kebijakan dividen dapat dilakukan dengan menggunakan rasio pembayaran dividen atau Dividend Payout Ratio (DPR). Rasio ini mengukur bagian earning (pendapatan) yang dibayarkan sebagai dividen kepada para pemegang saham. Bagian lain yang tidak dibagikan akan diinvestasikan kembali ke perusahaan dalam bentuk laba ditahan.
Gambar 4.3
Rata-rata Rasio DPR Sub Sektor DPR Tahun 2013-2017
Sumber: data diolah peneliti (2019)
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa rata-rata nilai DPR pada perusahaan sub sektor bank mengalami fluktuasi selama tahun 2013 hingga tahun 2017. Pada tahun 2013 rata-rata nilai DPR sebesar 31,64% dan mengalami penurunan pada tahun 2014 menjadi 28,98%. Pada tahun 2015, 2016 dan 2017 rata-rata nilai DPR terus mengalami kenaikan masing-masing menjadi 30,90%, 35,58% dan 36,89%. Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi
2013 2014 2015 2016 2017 31,64% 28,98% 30,90% 35,58% 36,89% 0,00% 5,00% 10,00% 15,00% 20,00% 25,00% 30,00% 35,00% 40,00% A xi s Ti tl e
RATA-RATA DPR
111
akan mempunyai rasio pembayaran dividen yang rendah. Sebaliknya, perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah akan mempunyai rasio pembayaran dividen yang tinggi.
4.1.2.4 Good Corporate Governance (GCG)
Menurut Sutedi (2011:1), Corporate Governance didefinisikan sebagai suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ perusahaan yang terdiri dari Pemegang Saham atau Pemilik Modal, Komisaris atau Dewan Pengawas dan Direksi untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya dengan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan nilai-nilai etika.
Berdasarkan POJK No. 4/ POJK.03/2016 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum mengenai Pelaksanaan GCG bagi Bank Umum serta Peraturan Bank Indonesia tentang penilaian Tingkat Kesehatan Bank, salah satu penilaian poin penilaian tingkat kesehatan Bank adalah penilaian sendiri (self assessment) atas pelaksanaan prinsip – prinsip Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG) pada bank.
112
Gambar 4.4
Rata-rata GCG Sub Sektor Bank Tahun 2013-2017
Sumber: data diolah peneliti (2019)
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa rata-rata nilai GCG perusahaan dalam sub sektor bank mengalami fluktuasi selama tahun 2013 hingga tahun 2017. Pada tahun 2013 rata-rata nilai GCG adalah sebesar 1,8875 dan mengalami penurunan pada tahun 2014 menjadi 1,795833. Pada tahun 2015 dan tahun 2016 kembali mengalami penurunan menjadi 1,766667 dan 1,75. Sedangkan pada tahun 2017 rata-rata nilai GCG mengalami kenaikan menjadi 1,795833.
4.1.2.5 Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan dapat digunakan sebagai indikator dalam menilai perusahaan secara keseluruhan. Oleh karena itu, nilai perusahaan menjadi konsep yang penting bagi investor. Nilai perusahaan merupakan harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli jika perusahaan tersebut dijual (Dewi dan Wirasedana, 2018). Nilai perusahaan dapat dihitung menggunakan rasio Price Book Value (PBV). PBV merupakan rasio yang menunjukkan perbandingan antara harga saham dengan nilai buku per lembar saham. PBV menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku saham suatu perusahaan. Perusahaan yang berjalan
2013 2014 2015 2016 2017 1,8875 1,795833 1,766667 1,75 1,795833 1,65 1,7 1,75 1,8 1,85 1,9 A xi s Ti tl e
RATA-RATA GCG
113
dengan baik, pada umumnya memiliki nilai PBV diatas satu, yang mencerminkan bahwa nilai pasar suatu saham lebih besar dari nilai bukunya.
Gambar 4.5
Rata-rata Rasio PBV Sub Sektor Bank Tahun 2013-2017
Sumber: data diolah peneliti (2019)
Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa rata-rata nilai PBV terus mengalami fluktuasi selama tahun 2013 hingga tahun 2017. Pada tahun 2013, 2014 dan 2015 rata-rata nilai PBV terus mengalami penurunan masing-masing menjadi 1,86, 1,75 dan 1,52. Pada tahun 2016 dan tahun 2017 rata-rata nilai PBV mengalami kenaikan menjadi 1,82 dan 2,02. Perusahaan yang berjalan dengan baik, pada umumnya memiliki nilai PBV diatas satu yang mencerminkan bahwa nilai pasar suatu saham lebih besar dari nilai bukunya.