Hipotesis merupakan jawaban sementara yang hendak diuji kebenarannya. Tidak semua penelitian memerlukan hipotesis, penelitian yang bersifat eksploratif dan deskriptif tidak memerlukan hipotesis. Pengujian hipotesis dengan distribusi t adalah pengujian hipotesis yang menggunakan distribusi t sebagai uji statistik. Tabel pengujiannya disebut tabel t-student. Distribusi t pertama kali diterbitkan pada tahun 1908 dalam satu makalah oleh W.S Gosset. Uji statistik ini kemudian dibandingkan dengan nilai yang ada pada tabel untuk kemudian menerima atau menolak hipotesis nol (Ho) yang dikemukakan (Sugiyono, 2006).
Pengujian sampel dalam distribusi t dibedakan menjadi 2 jenis hipotesa, yaitu :
a. Satu Rata – Rata
25
rumus diatas adalah untuk menghitung nilai t dengan to adalah nilai t yang dihitung, x adalah rata-rata sampel, adalah rata-rata populasi, s adalah standar deviasi dan n adalah jumlah sampel.
Penyusunan hipotesanya adalah : i. Ho : 1= 2 Ha : 1 2 ii. Ho : 1 2 Ha : 1> 2 iii. Ho : 1 2 Ha : 1< 2
Apabila data yang diambil dari hasil eksperimen, maka langkah yang harus dilakukan sebelum mencari t hitung adalah :
i. Menentukan rata-ratanya terlebih dahulu :
...(2.15)
Rumus di atas adalah untuk mencari nilai rata-rata dari suatu sampel. Dengan adalah nilai rata-rata sampel, adalah sampel dan n adalah jumlah sampel.
ii. Menentukan standar deviasi :
...(2.16)
Rumus di atas adalah untuk mencari nilai standar deviasi dari suatu sampel. Dengan adalah simpangan baku suatu sampel, adalah sampel, n adalah jumlah sampel dan adalah standar deviasi. b.Dua Rata – Rata
...(2.17)
Rumus di atas adalah untuk mencari nilai rata-rata dua kelompok sampel dengan syarat . X adalah sampel (pertama dan kedua). Do adalah selisih 1 dengan 2 ( 1 – 2 ). adalah standar deviasi dan adalah jumlah sampel.
Penyusunan hipotesanya adalah : i. Ho : 1- 2= do Ha : 1- 2 do ii. Ho : 1- 2 do Ha : 1- 2> do iii. Ho : 1- 2 do Ha : 1- 2 < do
2.4.
GPS 2.4.1 Definisi GPSGPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit. Nama formalnya adalah NAVSTAR GPS (Navigation Satellite Timing and Ranging Global Positioning
27
Gambar 2. 2
Satelit GPS
(Sumber : Hasanuddin, 2012)Sistem ini didesain untuk memberikan posisi dan kecepatan tiga dimensi serta informasi mengenai waktu, secara berkelanjutan diseluruh dunia tanpa bergantung waktu dan cuaca. Pada saat ini sistem GPS sudah banyak digunakan orang diseluruh dunia, karena GPS mempunyai banyak kelebihan dan menawarkan banyak keuntungan, baik dari segi operasionalnya maupun kualitas posisi yang diberikan GPS didesain untuk memberikan informasi posisi, kecepatan dan waktu. Pada dasarnya GPS terdiri atas 3 segmen utama, yaitu:
a. Segmen angkasa (space segment)
Terdiri dari 24 satelit yang terbagi dalam 6 orbit dengan inklinasi 55 dan ketinggian 20200 km dan periode orbit 11 jam 58 menit.
b. Segmen sistem kontrol (control system segment)
Mempunyai tanggung jawab untuk memantau satelit GPS supaya satelit GPS dapat tetap berfungsi dengan tepat. Misalnya untuk sinkronisasi waktu, prediksi orbit dan
monitoring “kesehatan” satelit.
c. Segmen pemakai (user segment)
Segmen pemakai merupakan pengguna, baik di darat, laut maupun udara, yang menggunakan receiver GPS untuk mendapatkan sinyal GPS sehingga dapat menghitung posisi, kecepatan, waktu dan parameter lainnya.
Sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu. Sistem yang serupa dengan GPS antara lain GLONASS Rusia, Galileo Uni Eropa, IRNSS India. Berikut ini adalah konfigurasi orbit satelit GPS (id.wikipedia.org, 2015) :
a. Orbital Shape : nominally circle (e < 0.02) b. 6 orbital planes
d. Inclination : 550
e. Mean altitude : 20.200 km
f. Orbital period : 11hr and 58 minutes
Beberapa kemampuan GPS antara lain dapat memberikan informasi tentang posisi, kecepatan, dan waktu secara cepat, akurat, murah, dimana saja di bumi ini tanpa tergantung cuaca. Hal yang perlu dicatat bahwa GPS adalah satu-satunya sistem navigasi ataupun sistem penentuan posisi dalam beberapa abad ini yang memiliki kemampuan handal seperti itu. Ketelitian dari GPS dapat mencapai beberapa mm untuk ketelitian posisinya, beberapa cm/s untuk ketelitian kecepatannya dan beberapa nanodetik untuk ketelitian waktunya. Ketelitian posisi yang diperoleh akan tergantung pada beberapa faktor yaitu metode penentuan posisi, geometri satelit, tingkat ketelitian data, dan metode pengolahan datanya (http://geodesy.gd.itb.ac.id, 2015).
2.4.2 Metode Penentuan Posisi dengan GPS
Pada dasarnya konsep penentuan posisi dengan GPS adalah reseksi (pengikatan kebelakang) dengan jarak, yaitu dengan pengukuran jarak secara simultan pada beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Posisi yang diberikan oleh GPS adalah posisi 3 dimensi (x,y,z atau , ,h) yang dinyatakan dalam datum WGS (World Geodetic System) 1984, sedangkan tinggi yang diperoleh adalah tinggi ellipsoid (Hasanuddin,1999).
29
Gambar 2. 3 Metode dan sistem penentuan posisi dengan GPS (Sumber : Hasanuddin, 1999)
Metoda penentuan posisi dengan GPS pertama-tama terbagi dua, yaitu metoda absolut, dan metoda diferensial. Masing-masing metoda kemudian dapat dilakukan dengan cara real time dan atau post-processing. Apabila obyek yang ditentukan posisinya diam maka metodenya disebut Statik. Sebaliknya apabila obyek yang ditentukan posisinya bergerak, maka metodenya disebut kinematik. Selanjutnya lebih detail lagi kita akan menemukan metoda-metoda seperti SPP, DGPS, RTK, Survei GPS, Rapid statik, pseudo kinematik, dan stop and go, serta masih ada beberapa metode lainnya (http://geodesy.gd.itb.ac.id). Adapun pengelompokan metode penentuan posisi dengan GPS berdasarkan mekanisme pengaplikasiannya dapat dilihat pada Tabel 2.1.
(Sumber : Hasanuddin, 1999)
Metode (1 receiver)Absolute (min 2 receiver)Differensial Titik Receiver
Static V V Diam Diam
Kinematic V V Bergerak Bergerak
Rapid static V Diam Diam (singkat)
Pseudeo
kinematic V Diam Diam & bergerak
Stop and go V Diam Diam & bergerak
2.4.3 Penentuan Posisi Metode Survei Statik
Titik-titik yang akan ditentukan posisinya dalam penentuan posisi metode statik adalah titik yang tidak bergerak. Bisa berupa absolute ataupun differential positioning dan bisa menggunakan data pseudorange dan/atau fase. Ukuran lebih pada suatu epok pengamatan biasanya banyak daripada metode lainnya. Keandalan dan ketelitian posisi yang diperoleh umumnya tinggi (orde mm sampai cm). Aplikasi metode survei ini antara lain untuk penentuan titik-titik kontrol untuk survai pemetaan maupun survai geodetik (Hasanuddin, 1998).
Gambar 2. 4 Metode akuisisi data penentuan posisi dengan GPS (Sumber : Hasanuddin, 1999)
29