BAB IV HASIL PENELITIAN
4.6 Distribusi Penimbangan Balita berdasarkan Variabel Penelitian
4.6.3 Status Bekerja Ibu dengan Penimbangan Balita
Hasil tabulasi silang antara status bekerja ibu dengan penimbangan balita dapat dilihat pada Tabel 4.13 sebagai berikut:
Tabel 4.13 Distribusi Penimbangan Balita berdasarkan Status Bekerja Ibu No Status Bekerja
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.13 dapat diketahui bahwa dari 21 ibu yang bekerja, sebanyak 18 orang (85,7%) tidak teratur menimbang balitanya dan dari 42 ibu yang tidak bekerja, sebanyak 22 orang (52,4%) teratur menimbang balitanya.
4.6.4 Jarak Tempat Tinggal ke Posyandu dengan Penimbangan Balita
Hasil tabulasi silang antara jarak tempat tinggal dengan penimbangan balita dapat dilihat pada Tabel 4.14 sebagai berikut:
Tabel 4.14 Distribusi Penimbangan Balita berdasarkan Jarak Tempat Tinggal ke Posyandu
Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.14 diketahui bahwa dari 18 ibu yang tinggal jauh dari posyandu, sebanyak 17 orang (94,4%) tidak teratur dalam menimbang balitanya dan sebanyak 1 orang (5,6%) yang teratur menimbangkan balitanya ke posyandu. Dari 45 ibu yang tinggal dekat dengan posyandu, sebanyak 24 orang (53,3%) teratur menimbang balitanya.
4.6.5 Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Penimbangan Balita
Hasil tabulasi silang antara tingkat pengetahuan ibu dengan penimbangan balita dapat dilihat pada Tabel 4.15 sebagai berikut:
Tabel 4.15 Distribusi Penimbangan Balita berdasarkan Tingkat Pengetahuan , (61,5%) teratur menimbang balitanya. Dari 18 ibu yang memiliki pengetahuan baik, sebanyak 14 orang (77,8%) teratur menimbang balitanya.
4.6.6 Sikap Ibu terhadap Posyandu dengan Penimbangan Balita
Hasil tabulasi silang antara sikap ibu terhadap posyandu dengan penimbangan balita dapat dilihat pada Tabel 4.16 sebagai berikut:
Tabel 4.16 Distribusi Penimbangan Balita berdasarkan Sikap Ibu
No Sikap
Penimbangan Balita
di Posyandu Jumlah
Teratur Tidak Teratur
f % f % f %
1 Kurang 1 3,6 27 96,4 28 100,0
2 Sedang 7 70,0 3 30,0 10 100,0
3 Baik 17 68,0 8 32,0 25 100,0
Hasil penelitian antara sikap dan penimbangan pada Tabel 4.16 diketahui bahwa dari 28 ibu yang memiliki sikap kurang, sebanyak 27 orang (96,4%) tidak teratur menimbang balitanya. Dari 10 ibu dengan sikap sedang, sebanyak 7 orang (70,0%) teratur menimbang balitanya. Dari 25 ibu dengan sikap baik, sebanyak 17 orang (68,0%) teratur menimbang balitanya keposyandu.
Hasil penelitian pada Tabel 4.9 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu tidak teratur menimbang balitanya keposyandu yaitu sebesar 60,3% dan hanya 39,7% yang teratur menimbang balitanya yaitu minimal 8 kali dalam 1 tahun terakhir.
Penimbangan balita di posyandu bermanfaat untuk memantau status kesehatan dan gizi pada balita. Pemantauan status gizi dilakukan dengan memanfaatkan data hasil penimbangan bulanan posyandu yang didasarkan pada indikator SKDN yaitu N/D diartikan sebagai balita yang naik berat badanya (N) dan balita yang ditimbang (D) sedangkan D/S diartikan sebagai balita yang datang dan ditimbang (D), dan balita yang ada di wilayah kerja posyandu (S). Jika angka cakupan penimbangan balita tinggi akan dapat diketahui secara dini masalah gizi yang terjadi pada balita misalnya gizi kurang, gizi lebih, dan gizi buruk sehingga dapat segera diambil tindakan untuk mengatasi masalah tersebut
Perubahan berat badan merupakan indikator yang sangat sensitif untuk memantau pertumbuhan anak. Bila kenaikan berat badan anak lebih rendah dari yang seharusnya, pertumbuhan anak terganggu dan anak beresiko akan mengalami kekurangan gizi. Sebaliknya bila kenaikan berat badan lebih besar dari seharusnya merupakan indikasi risiko kelebihan gizi (Kemenkes RI, 2010).
Penimbangan anak balita yang dilakukan tiap bulan merupakan salah satu kegiatan yang vital dalam pemantauan status kesehatan dan gizi. Dengan
(penurunanpertumbuhan) lebih awal sehingga dapat dilakukan promosi kesehatan untuk mencegah kejadian gizi kurang dan buruk lebih dini (Sandjaja, dkk, 2005).
Penelitian Soeryoto (2000) menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan penimbangan balita di Posyandu Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan adalah faktor status bekerja ibu, pengetahuan ibu mengenai posyandu, faktor pelayanan posyandu, dan faktor pembinaan oleh kader.
Menurut Sandjaja, dkk (2005) mengatakan bahwa faktor yang berhubungan dengan cakupan penimbangan anak balita di Indonesia adalah daerah tempat tinggal, umur balita, dan ekonomi keluarga.
Menurut Parulian (2010), dalam penelitiannya menunjukkan bahwa Faktor karakteristik ibu yang berhubungan dengan penimbangan balita di posyandu Desa Binjai Kecamatan Medan Denai Kota Medan Tahun 2010 adalah pekerjaan Ibu, pengetahuan ibu, dan sikap ibu terhadap posyandu.
Menurut Hindu Mathi (2013), faktor yang berhubungan dengan cakupan penimbangan balita di Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Darussalam Kecamatan Medan Petisah Tahun 2013 adalah pengetahuan ibu, sikap ibu terhadap posyandu, dan sikap kader posyandu.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, peneliti berasumsi bahwa ketidakteraturan ibu dalam menimbang balita disebabkan oleh beberapa faktor seperti jumlah anak yang dimiliki, tingkat pendidikan ibu, status bekerja ibu, jarak tempat tinggal, pengetahuan, dan sikap ibu dalam menanggapi posyandu dan penimbangan balita.
5.2 Jumlah Balita yang Dimiliki Ibu
Hasil distribusi frekuensi pada Tabel 4.1 menunjukkan bahwa ibu yang memiliki 1-2 balita sebesar 46,0% dan ibu yang memiliki >2 balita sebesar 54,0%.
Hasil tabulasi silang pada Tabel 4.10 menunjukkan bahwa dari 29 ibu yang memiliki 1-2 balita, sebesar 62,1% teratur menimbang balitanya keposyandu. Dari 34 ibu yang memiliki >2 balita, sebesar 79,4% tidak teratur menimbang balitanya keposyandu.
Jumlah balita adalah banyaknya anak yang dimiliki ibu mulai usia 0 sampai dengan 59 bulan. Jumlah anak menuju pada kecenderungan dalam membentuk besar keluarga yang diinginkan. Dengan demikian, besar keluarga akan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah anak, karena setiap keluarga berupaya untuk mencapai jumlah anak dengan menggunakan caranya tersendiri (Bulatao dan Lee, 1983).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rinawati (2014) di wilayah kerja Puskesmas Sukakarya Kota Sabang yang menyatakan bahwa ada hubungan antara jumlah anak dengan kunjungan balita ke Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Sukakarya Kota Sabang Tahun 2014.
Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Hurlock (2010) bahwa semakin besar keluarga maka semakin besar pula permasalahan yang akan muncul dirumah tangga terutama untuk mengurus kesehatan anak mereka. Dalam kaitannya dengan kehadirannya di posyandu seorang ibu akan sulit mengatur waktu untuk hadir di posyandu karena waktunya akan habis untuk memberi perhatian dan kasih sayang dalam mengurus anaknya di rumah.
5.3 Pendidikan Ibu
Tingkat pendidikan dikategorikan menjadi pendidikan rendah, menengah dan tinggi. Hasil distribusi frekuensi pada Tabel 4.2 menunjukkan bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan rendah (tidak tamat SD, tamat SD)sebesar 36,5%, ibu yang memiliki tingkat pendidikan menengah (tamat SMP, tamat SMA/Sederajat)sebesar 34,9% dan ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi (tamat Perguruan Tinggi)sebesar 28,6%. Hasil tabulasi silang pada Tabel 4.11 menunjukkan bahwa dari 23 ibu yang memiliki pendidikan rendah, seluruhnya (100,0%) tidak teratur menimbang balitanya. Dari 22 ibu yang memiliki pendidikan menengah, sebesar 59,1% tidak teratur menimbang balitanya dan dari 18 ibu yang memiliki pendidikan tinggi, sebesar 88,9% teratur menimbang balitanya.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lilik (2009) di Kelurahan Genuksari Kecamatan Genuk Semarang yang menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan maka akan semakin aktif membawa balita dalam kegiatan posyandu dan begitu pula sebaliknya.
Tingkat pendidikan seseorang dapat dilihat berdasarkan lamanya atau jenis pendidikan yang dialami seseorang (Khomsan, 2007). Pendidikan dapat berfungsi sebagai dasar seseorang untuk berperilaku sesuai dengan tingkatan dan jenis pendidikan yang diikutinya. Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak, karena dengan pendidikan yang baik orang tua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan
anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan anaknya, dan sebagainya (Khalimah, 2007).
Pendidikan adalah suatu proses dimana manusia membina perkembangan manusia lain secara sadar dan berencana. Orang tua yang berpendidikan rendah akan sulit beradaptasi dengan situasi dan kondisi dari kegiatan yang dilaksanakan sehingga dapat mempengaruhi dalam kegiatan pelaksanaan posyandu.Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang dalam menyerap informasi dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal kesehatan dan gizi. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi terjadinya perubahan sikap dan perilaku hidup sehat .
5.4 Status Bekerja Ibu
Hasil distribusi frekuensipada Tabel 4.3 menunjukkan bahwa ibu yang bekerja sebesar 33,3% dan ibu yang tidak bekerja sebesar 66,7%. Mayoritas pekerjaan yang dimiliki ibu adalah buruh. Hasil crosstabs pada Tabel 4.12 menunjukkan bahwa dari 21 ibu yang bekerja, sebesar 85,7% tidak teratur menimbang balitanya dan dari 42 ibu yang tidak bekerja, sebesar 52,4% teratur menimbang balitanya.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ita (2015) di Posyandu Dukuh Tegaltandan Desa Banguntan Kabupaten Bantul yang menyatakan bahwa ibu yang tidak bekerja aktif berpartisipasi dalam kegiatan posyandu yaitu sebesar 60,9%dan berhubungan secara bivariat (p=0,025).
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lilik (2009) di Kelurahan Genuksari Kecamatan Genuk Semarang yang menyatakan
bahwa ibu balita yang tidak bekerja dan aktif membawa balita dalam kegiatan posyandu sebanyak 62,3% dan ibu balita yang bekerja dan tidak aktif membawa balita dalam kegiatanposyandu sebanyak 86,2 %. Penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Neil Niven (2000) dalam Lilik (2009) yang menyatakan bahwa aspek sosio ekonomi akan berpengaruh pada partisipasi masyarakat di posyandu. Semua ibu yang bekerja baik di rumah atau luar rumah, keduanya akan tetap meninggalkan anak-anaknya untuk sebagian besar waktu.
Peran ibu yang bekerja dan yang tidak bekerja sangat berpengaruh terhadap perawatan keluarga. Hal ini dapat dilihat dari waktu yang diberikan ibu untuk mengasuh dan membawa anaknya berkunjung ke posyandu masih kurang karena waktunya akan habis untuk menyelesaikan semua pekerjaan. Aspek lain yang berhubungan dengan alokasi waktu adalah jenis pekerjaan, tempat ibu bekerja serta jumlah waktu yang dipergunakan untuk keluarga di rumah.
Peneliti berasumsi bahwa ibu yang tidak bekerja lebih memiliki banyak waktu untuk menimbang balitanya keposyandu oleh karena menimbangkan balita ke posyandu tidak menghabiskan waktu yang lama.Sedangkan ibu yang bekerja cenderung tidak memiliki waktu luang meski hanya sebentar dikarenakan jadwal posyandu yang cenderung cepat dikarenakan kader harus menjaga vaksin agar tidak mengalami kerusakan.
5.5 Jarak Tempat Tinggal dengan Posyandu
Jarak tempat tinggal dikelompokkan menjadi jauh apabila ditempuh dalam waktu > 15 menit dan dekat apabila ditempuh dalam waktu < 15 menit. Hasil distribusi frekuensi pada Tabel 4.4 menunjukkan bahwa sebesar 71,4% tinggal
dekat dengan posyandu dan sebesar 28,6% tinggal jauh dari posyandu. Hasil tabulasi silang juga menunjukkan bahwa dari 18 ibu yang tinggal jauh dari posyandu, sebesar 94,4% tidak teratur dalam menimbang balitanya dan dari 45 ibu yang tinggal dekat dengan posyandu, sebesar 53,3% teratur menimbang balitanya.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rinawati (2014) di wilayah kerja Puskesmas Sukakarya Kota Sabang yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara jarak tempat tinggal dengan kunjungan balita ke Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Sukakarya Kota Sabang Tahun 2014.
Faktor letak geografis dapat mempengaruhi partisipasi ibu yang mempunyai balita untuk rutin berkunjung ke posyandu. Masyarakat yang merasa jauh ketempat lokasi atau sulit di jangkau serta memerlukan biaya tambahan transportasi untuk mencapai lokasi, akan mempertimbangkan ulang untuk berkunjung ke posyandu.
Demikian juga sesuai yang dikemukakan oleh WHO dalam Notoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa sikap akan terwujud tergantung dari situasi pada saat itu. Ibu balita mau datang ke posyandu tetapi karena jaraknya jauh atau situasi kurang mendukung maka balita tidak berkunjung keposyandu. Ibu yang tinggal dekat dengan posyandu cenderung lebih teratur dalam kegiatan posyandu dan begitu sebaliknya ibu yang tinggal jauh dari posyandu cenderung tidak teratur dalam kegiatan posyandu.Jadi jarak tempat tinggal sangat mempengaruhi kunjungan balita dalam kegiatan posyandu.
5.6 Tingkat Pengetahuan Ibu
Hasil analisis distribusi frekuensi menunjukkan bahwa lebih banyak ibu yang memiliki pengetahuan kurang tentang posyandu dan penimbangan balita sebesar 50,8%. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kesalahan dalam menjawab setiap pertanyaan yang disampaikan yaitu pada jawaban ketiga “Anak umur 0-5 tahun perlu ditimbang” dapat dilihat bahwa sebagian besar ibu menjawab salah yaitu 74,6% yang berarti bahwa sebesar 74,6% ibu tidak mengetahui pada umur berapa balita sebaiknya ditimbang.
Jawaban keenam “Pertumbuhan balita sehat pada KMS adalah berat badan balita naik setiap pertambahan usia, grafik berada pada area garis hijau” dapat dilihat bahwa sebagian besar ibu menjawab salah yaitu 60,3% yang berarti bahwa sebesar 60,3% tidak mengetahui cara membaca KMS yang tepat dan benar terutama mengenai kemaknaan warna KMS dalam penimbangan balita.
Pada jawaban kedelapan “Arti dari berat badan anak berada di bawah garis merah 3 kali berturut adalah anak mengalami gangguan pertumbuhan, anak mengalami kekurangan gizi” dapat dilihat bahwa sebagian besar ibu menjawab salah yaitu 65,1% yang berarti bahwa sebesar 65,1% ibu tidak mengerti manfaat KMS dan makna warna yang berhubungan dengan penimbangan balita.
Pada jawaban kesepuluh “Anak tetap ditimbang ke posyandu meski terlihat sudah sehat dan gemuk” diketahui bahwa sebagian besar ibu juga menjawab salah yaitu 61,9% yang berarti bahwa sebesar 61,9% ibu tidak lagi menimbang balitanya jika balita sehat dan gemuk.
Berdasarkan hasil tabulasi silang antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan ibu menunjukan bahwa semakin tinggi pendidikan akan semakin baik pula pengetahuan ibu dan begitu sebaliknya. Hal ini dimungkinkan karena tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan seseorang dalam menyerap informasi dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam hal kesehatan dan gizi.
Pengetahuan yang baik tentang penimbangan balita di posyandu dapat menimbulkan kesadaran akan pentingnya peranan posyandu dalam memantau tumbuh kembang dan kesehatan gizi anak balita, sehingga dapat mempengaruhi partisipasi ibu dalam kegiataan posyandu. Hasil tabulasi silang antara pengetahuan ibu dengan penimbangan balita di posyandu, menunjukkan bahwa dari 32 ibu yang memiliki pengetahuan kurang, sebesar 90,6% tidak teratur menimbang balitanya. Dari 13 ibu yang memiliki pengetahuan sedang, sebesar 61,5% teratur menimbang balitanya. Dari 18 ibu yang memiliki pengetahuan baik, sebesar 77,8% teratur menimbang balitanya.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Ita (2015) yang berjudul “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Partisipasi Ibu Balita Ke Posyandu Kencursari Di Dukuh Tegaltandan Desa Banguntan Kabupaten Bantul”
yang menyatakan bahwa ibu dengan tingkat pengetahuan baik, aktif berpartisipasi dalam kegiatan posyandu dan berhubungan secara bivariat (p<0,001).
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan
raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2012).
Apabila penerima perilaku baru didasari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang positif, maka perilaku itu akan bersifat langgeng (long lasting).
Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama (Notoatmodjo, 2003). Ibu yang memiki pengetahuan baik tentang posyandu dan penimbangan balita cenderung lebih banyak yang teratur dalam kegiatan posyandu dan begitu sebaliknya ibu yang memiliki pengetahuan kurang cenderung tidak teratur dalam kegiatan posyandu.
Ini berarti semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang tentang kesehatan akan menumbuhkan kesadaran yang besar dalam dirinya dan dapat mengubah perilaku kesehatan mereka menjadi lebih baik.
5.7 Sikap Ibu
Sikap ibu dalam penelitian ini adalah tanggapan ibu mengenai posyandu dan penimbangan balita. Hasil analisis menunjukkan bahwa ibu yang teratur menimbang balitanya sebesar 39,7% dan yang tidak teratur menimbang balitanya sebesar 60,3%.Hasil distribusi frekuensi tanggapan ibu diketahui bahwa pada pernyataan keempat “Setelah anak mendapatkan lima imunisasi dasar lengkap, ibu harus tetap hadir dalam kegiatan posyandu untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan balita hingga usia 5 tahun”, 74,6% menanggapi tidak setuju. Hal ini berarti bahwa sebesar 74,6% ibu tidak bersedia hadir kembali keposyandu untuk memantau pertumbuhan balitanya hingga usia 5 tahun.
Pada pernyataan kedelapan “Program pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita bukan hanya tugas pemerintah saja tetapi juga masyarakat yang memiliki balita dengan menimbangkan balita secara rutin hingga umur 5 tahun diposyandu” 74,6% menanggapi tidak setuju yang berarti bahwa sebesar 74,6% ibu tidak bersedia menimbang balitanya secara rutin hingga usia 5 tahun.
Hasil tabulasi silang pada Tabel 4.15 menunjukkan bahwa dari 28 ibu yang memiliki sikap kurang, 96,4% tidak teratur menimbang balitanya. Dari 10 ibu dengan sikap sedang, 70,0% teratur menimbang balitanya. Dari 25 ibu dengan sikap baik, 68,0% teratur menimbang balitanya keposyandu.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Mathi (2013) yang berjudul
“Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Partisipasi Ibu dalam Penimbangan Balita ke Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Darussalam Kecamatan Medan Petisah Tahun 2013” yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan partisipasi ibu dalam melakukan penimbangan balita keposyandu.
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum merupakan suatu perbuatan (action), tetapi dari sikap dapat diramalkan perbuatannya. Sikap merupakan kecenderungan yang berasal dari dalam diri individu untuk berkelakuan dengan pola-pola tertentu, terhadap suatu objek akibat pendirian dan perasaan terhadap objek tersebut (Maulana, 2009).
Sikap tidak sama dengan perilaku dan perilaku tidak selalu mencerminkan sikap seseorang. Individu seringkali memperlihatkan tindakan bertentangan
dengan sikapnya. Akan tetapi, sikap dapat menimbulkan pola-pola cara berpikir tertentu dalam masyarakat dan sebaliknya, pola-pola cara berpikir ini mempengaruhi tindakan dan kelakuan masyarakat, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam hal membuat keputusan yang penting dalam hidup (Maulana, 2009).
Sikap terbentuk dari pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta pengaruh faktor emosional (Azwar, 2003). Hal ini sesuai dengan pernyataan Maulana (2009) bahwa sikap seseorang dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek tertentu, melalui persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya. Sikap dapat dibentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami individu. Interaksi yang dimaksud tidak hanya berupa kontak sosial dan hubungan antarpribadi sebagai anggota kelompok sosial, tetapi meliputi juga hubungan dengan lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis serta dapat berubah jika ada pengalaman luar biasa. Perubahan sikap dan kepercayaan dapat dipengaruhi oleh adanya suatu pendidikan baik formal maupun informal (Pranadji, 1988). Ibu yang memiki sikap baik terhadap posyandu cenderung lebih teratur dalam kegiatan posyandu dan begitu sebaliknya ibu yang memiliki sikap kurang cenderung tidak teratur dalam kegiatan posyandu. Hal ini disebabkan karena ibu yang memiliki sikap baik terdorong membawa balitanya ke posyandu untuk mengetahui tumbuh kembang balitanya dan berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam hal kesehatan balitanya.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sebesar 54,0% ibu di Posyandu Desa Jambur Pulau Kecamatan Perbaungan memiliki > 2 balita.
2. Sebesar 52,4% ibu di Posyandu Desa Jambur Pulau Kecamatan Perbaungan memiliki tingkat pendidikan rendah.
3. Sebesar 66,7%ibu di Posyandu Desa Jambur Pulau Kecamatan Perbaungan tidak bekerja.
4. Sebesar 71,4% ibu di Posyandu Desa Jambur Pulau Kecamatan Perbaungan memiliki tempat tinggal yang dekat dengan posyandu.
5. Sebesar 50,8% ibu di Posyandu Desa Jambur Pulau Kecamatan Perbaungan memiliki pengetahuan kurang tentang posyandu dan penimbangan balita.
6. Sebesar 44,4% ibu di Posyandu Desa Jambur Pulau Kecamatan Perbaungan memiliki sikap kurang dalam menanggapi posyandu dan penimbangan balita.
7. Sebesar 60,3% ibu di Posyandu Desa Jambur Pulau Kecamatan Perbaungan tidak teratur dalam melakukan penimbangan balita.
6.2 Saran
1. Diharapkan kepada kader untuk memberikan edukasi kepada ibu balita tentang simbol warna pada KMS yang berhubungan dengan berat badan balita saat ditimbang.
2. Diharapkan kepada pihak puskesmas di Desa Jambur Pulau untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terutama ibu-ibu mengenai manfaat pelayanan posyandu dan pentingnya penimbangan balita termasuk usia anak untuk ditimbang sehingga dapat meningkatkan pengetahuan ibu dan diharapkan dapat berdampak pada keteraturan penimbangan balita yaitu 1 kali setiap bulan.
3. Diharapkan posyandu dapat membuka jadwal kunjungan sore hari sehingga ibu yang bekerja dapat mengikuti kegiatan posyandu.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi., 2000. Manajemen Penelitian. Jakarta. Rineka Cipta.
Depkes RI, 2011. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta
Hidayat, Aziz. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba Medika
Hidayati, Nurul. 2010. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Partisipasi Ibu Balita ke Posyandu di Kelurahan Rempoa Kecamatan Ciputat Timur Kota Selatan. repository.uinjkt.ac.id. Diakses tanggal 8 Oktober 2015.
Kemenkes RI. 2005. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1593/Menkes/SK/XI/2005. Tentang Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan bagi Bangsa Indonesia.
Kemenkes, RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat bagi Balita. Jakarta
Kemenkes RI. 2011. Strategi Peningkatan Penimbangan Balita di Posyandu.
Jakarta
Kemenkes RI, POKJANAL Posyandu. 2011. Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu. Jakarta
Khomsan, Ali., 2003. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. Jakarta. Grafindo Persada.
Marimbi, Hanum. 2010. Tumbuh Kembang, Status Gizi dan Imunisasi Dasar Pada Balita. Yogyakarta : Nuha Medika
Mathi, Hindu. 2013. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Tingkat Partisipasi dalam Penimbangan Balita ke Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Darussalam Kecamatan Medan Petisah. jurnal.usu.ac.id.
Diakses tanggal 1 Februari 2016
Maulana, Agung. 2013. Hubungan Keaktifan Ibu dalam Posyandu dengan Penurunan Jumlah Balita Bawah Garis Merah di Desa Suko Jember Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember. repository.unej.ac.id. 29 Januari 2016
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
, 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
, 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan.
Jakarta : Rineka Cipta.
Nursalam, 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Profil Desa Jambur Pulau Kecamatan Perbaungan Wilayah Kerja Puskesmas
Profil Desa Jambur Pulau Kecamatan Perbaungan Wilayah Kerja Puskesmas