Subsektor Perkebunan mendominasi usaha pertanian di Maluku Utara. Sensus pertanian 2013 mencatat bahwa jumlah rumah tangga usaha pertanian terbanyak di Maluku Utara adalah di Subsektor Perkebunan dan Subsektor Tanaman Pangan. Jumlah rumah tangga usaha pertanian dari Subsektor Perkebunan adalah sebanyak 116.352 rumah tangga dan jumlah rumah tangga usaha pertanian dari Subsektor Tanaman Pangan adalah sebanyak 62.744 rumah tangga. Dilihat dari kondisi demografi petani menurut jenis kelamin, hasil sensus pertanian 2013 menunjukkan bahwa jumlah petani dengan jenis kelamin laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Kondisi ini terjadi di seluruh subsektor. Subsektor Perkebunan dan Hortikultura merupakan subsektor yang memiliki jumlah petani berjenis kelamin laki-laki tertinggi, yaitu sebanyak 112.820 petani untuk Subsektor Perkebunan dan sebanyak 55.140 petani untuk Subsektor Hortikultura.
Perkembagan Luas Areal TanamTanaman Rempah di Maluku Utara
Perkembangan luas areal komoditas tanaman rempah menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan yang cukup baik dalam kurun waktu 2005-2009. Rata-rata setiap tahun komoditas utama tanaman rempah mengalami peningkatan luas areal sebesar 3.39 %.
Total luas areal tanaman pala sampai pada tahun 2009 seluas 34,571 Ha dan tanaman cengkih seluas 20,130 ha. Komoditas pala mengalami pertumbuhan yang cukup besar per tahun yaitu 12,79 % dan cengkih sebesar 4% sedangkan bila dilihat dalam kurun waktu lima tahun pertumbuhan luas areal tanaman pala dan cengkih masing-masing mengalami pertumbuhan sebesar 59,31% dan 16,31%. Capaian luas areal komoditas utama rempah dalam kurun waktu lima tahun (2005-2009) disajikan pada Tabel 11.
Gambar 13. Peta kesesuaian lahan untuk Tanaman Cengkih di Kota Ternate(Sumber :BPTP Maluku Utara, 2014a)
Tabel 11. Perkembangan Luas Areal Komoditas rempah Utama
No Komoditas 2005 2006 2007 2008 2009 Pertumbuhan (%)
(Ha) Per Tahun 2005-2009
1 Pala 21.700 22.447 24.122 31.352 34.571 12,79 59,31
2 Cengkih 17.307 19.347 19.358 18.908 20.130 4,00 16,31
Total 39.007 41.794 43.480 50.260 54.701 3,39 75,62
Sumber : Renstra Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara 2010-2014
Sedangankan dari data perkembangan luas areal tanaman perkebunan pada periode tahun 2012-2014 di Maluku Utara terlihat bahwa luas areal tanam dari tanaman rempah utama mengalami peningkatan luas areal tanam sebesar 150,73% dengan peningkatan terbesar pada tanaman cengkih yang mengalami peningkatan sebesar 156,85%, sedangkan tanaman pala menglami penurunan luas areal tanam sebesar 6,12%. Perkembangan luas areal tanaman rempah utama Maluku Utara tahun 2012-2014 disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12.Perkembangan dan Trend Luas Areal Tanaman Rempah Utama Di Maluku Utara Tahun 2012-2014
Komoditi Perkebunan Total Luas Areal (ha) Trend
(%) Keterangan
2012 2013 2014
Cengkih 22.202,51 20.224,40 85.468,32 156,85 Meningkat Pala 42.494,79 34.280,01 36.711,58 -6,12 Menurun Total Maluku Utara 358.290,52 354.497,00 391.661,41 150,73 Meningkat Sumber : BPTP Maluku Utara, 2015
Trend perkembangan luas areal dari tanaman perkebunan bila dilihat dari status budidaya yaitu perbandingan luas areal (Gambar 14) dan persen komposisi (Gambar 15) Tanaman Menghasilkan (TM), Tanaman Belum Menghasilkan dan Tanaman Tidak Terawat (TTR) untuk komoditi perkebunan utama memperlihatkan bahwa komoditas kelapa merupakan komoditas perkebunan dominan walaupun dengan proporsi TBM dan TTR yang cukup tinggi, sedangkan untuk komoditas pala merupakan komoditas tanaman rempah utama dengan luas areal TBM yang cukup tinggi hal ini mengambarkan bahwa pala merupakan tanaman perkebunan yang masih menjadi pilihan bagi petani perkebunan di Maluku Utara selain tanaman kelapa. Untuk tanaman cengkih pada tahun 2012-2013 luas areal tanaman menghasilkan (TM) menurun, sedangkan pada tahun 2014 mengalami peningkatan yang signifikan.
Gambar 14. Luas areal tanam Tanaman Menghasilkan (TM), Tanaman Belum Menghasilkan dan Tanaman Tidak Terawat (TTR) dari tanaman perkebunan utama di Maluku Utara Tahun 2012-2014(BPTP Maluku Utara, 2015)
Gambar 15. Persen proporsi Luas areal tanam Tanaman Menghasilkan (TM), Tanaman Belum Menghasilkan dan Tanaman Tidak Terawat (TTR) dari tanaman perkebunan utama di Maluku Utara Tahun 2012-2014(BPTP Maluku Utara, 2015)
Perkembagan Produksi dan Produktivitas Komoditi Rempah Utama di Maluku Utara
Perkembangan produksi komoditas rempah utama di Maluku Utara selama kurun waktu 2005-2009 memperlihatkan adanya peningkatan produksi yang cukup baik dengan laju pertumbuhan rata-rata per tahun mencapai 4,1 %, Laju pertumbuhan produksi terendah terlihat pada komoditas cengkih 1,38 % karena banyaknya tanaman tua dan rusak, pertumbuhan produksi tertinggi terilhat pada komoditas pala yaitu sebesar19,14 %, atau selama lima tahun kedua komoditas ini tumbuh sebesar 7,7%. Capaian produksi komoditasrempah utama pada tahun 2005-2009 disajikan pada Tabel 13.
Tabel13. Produksi Komoditas Rempah Utama Pada Tahun 2005-2009
No Komoditas 2005 2006 2007 2008 2009 Pertunbuhan (%)
Ton Per Tahun 2005-2009
1 Pala 5.213 5.201 2.787 4.915 7.217 19,14 38,4
2 Cengkih 7.413 7.413 2.938 4.312 5.137 1,38 -30,7
Total 245.019 275.662 225.592 268.702 274.972 4,1 7,7 Sumber : Renstra Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara 2010-2014
Kinerja tanaman rempah terutama yang berasal dari tanaman tanaman cengkih dan pala di Maluku Utara pada periode tahun 2012-2014 dapat dilihat dari indikator produksi dari kedua komoditas ini yang secara total meningkat sebesar 0,86 % walaupun untuk komoditas kopi pada periode waktu ini mengalami peningkatan produksi yang besar yaitu 653,41%
kemudian diikuti oleh tanaman cengkih sebesar 21,98%. Data kinerja tanaman perkebunan utama di Maluku Utara pada periode tahun 2012-2014 disajikan pada Tabel 14.
Tabel 14. Kinerja Perkebunan Diukur dari Indikator Produksi (Ton) Dirinci Pada Setiap Komoditas Berdasarkan Data Tahun 2012 – 2014 di Provinsi Maluku Utara.
Indikator Kinerja Total Produksi (ton) Trend
(%) Keterangan
2012 2013 2014
Cengkih 6.939,86 7.101,80 10.057,95 21,98 Meningkat Pala 7.875,68 7.953,59 8.322,43 2,81 Meningkat Total Maluku Utara 14.815,54 15.055,39 18.380,38 24,79 Meningkat
(Sumber: BPTP Maluku Utara, 2015)
Pertumbuhan produktivitas tanaman perkebunan utama selama tahun 2005-2009 meningkat cukup tinggi. Komoditas yang produktivitasnya meningkat sangat nyata adalah kakao dengan laju pertumbuhan per tahun mencapai 25,97 % diikuti pala 5,12 % dan kelapa 1,23 %. Pertumbuhan produktivitas tanaman cengkih mengalami penurunan akibat masih banyaknya tanaman tua dan rusak yang harus direhabilitasi. Capaian pertumbuhan produktivitas komoditi utama perkebunan utama pada tahun 2005-2009disajikan pada Tabel 15.
Tabel 15. Produktivitas Komoditas Utama Perkebunan utama pada tahun 2005-2009 No Komoditas 2005 2006 2007 2008 2009
Rata-Rata Pertumbuhan
Ton/Ha (%)
1 Pala 0,520 0,517 0,262 0,369 0,478 0,43 5,12
2 Cengkih 0,631 0,535 0,214 0,314 0,344 0,41 -4,73 Sumber : Renstra Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara 2010-2014
Pada periode tahun 2012-2014 produktivitas tanaman perkebunan utama di Maluku Utara terlihat bahwa tanaman kelapa dan tanaman kopi memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan empat komoditas perkebunan utama lainnya yaitu diatas 1.8 ton/ha, sedangkan lainnya dibawah 0.8 ton/tahun.Data produktivitas tanaman perkebunan utama di Maluku Utara pada periode tahun 2012-2014 disajikan pada Gambar 16.
Gambar 16. Produktivitas Tanaman Perkebunan Utama Tahun 2012-2014 (Sumber: BPTP Maluku Utara, 2015)
PENUTUP
Wilayah provinsi Maluku Utara memiliki luas wilayah sebesar 140,2 ribu km2, dengan luas wilayah perairan 76,3 persen dan daratan 23,7 persen. Sebagai wilayah kepulauan, Maluku Utara memiliki 805 buah pulau besar dan kecil, dengan 82 pulau di antaranya telah dihuni. Dari sejumlah pulau-pulau tersebut, pulau yang tergolong besar adalah Pulau Halmahera, sedangkan pulau yang ukurannya sedang adalah Pulau Obi, Pulau Taliabu, Pulau Bacan, dan Pulau Morotai. Pulau-pulau yang lebih kecil antara lain Pulau Ternate, Tidore, Makian, Kayoa, dan Gebe. Wilayah Maluku Utara bedasarkan keadaan biofisik lingkungannya yang terdiri dari iklim, tanah, dan terrain/topografi, mempunyai potensi untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian seperti tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan berpotensi untuk diusahakan. Pengenalan secara detil, baik komoditas pertanian andalan maupun sentral – sentral pengembangan komoditas pertanian, sangat di perlukan dalam rangka mempercepat laju pembangunan provinsi ini. Provinsi Maluku Utara memiliki ekosistem yang relatif berangam, dan dapat digolongkan menjadi agro-ekosistem lahan basah, lahan kering, dan dataran pantai. Sebagai konsekuensinya, keragaan dan peran pengusahaan suatu komoditas akan berbeda antar agro-ekosistem tersebut. Setiap zone agro–ekosistem dengan karakteristik tertentu digolongkan ke dalam empat bentuk, yaitu: Productivity, gambaran antara nilai produksi dengan penggunaan per satuan satuan sumberdaya (lahan, tenaga kerja, energi dan modal); Stability, mencerminkan tingkat stabilan produktivitas dan fluktuasi variabel lingkungan (iklim atau kondisi pasar) yang tidak terlalu besar; Sustainability, mencerminkan kemampuan suatau agro–ekosistem untuk mempertahankan produktivitas; dan Equitability, yang mencerminkan tingkat pemerataan penyebaran prodiktivitas suatu agro – ekosistem bagi manusia yang terlibat di dalamnya.
Kondisi biofisik wilayah di Maluku Utara mendukung sebagai kawasan pengembangan tanaman rempah terutama tanaman Pala dan cengkih dimana curah hujan yang cukup tinggi pada bulan-bulan tertentu atau secara total sebesar 2333 ml/tahun, sedangkan bahan indukan dikelompokkan atas batuan sediman dan batuan volkan yang akan menghasilkan tanah-tanah yang subur baik secara fisik maupun kimia. Secara topografis wilayah Maluku Utara sebagian besar bergunung dan berbukit-bukit serta banyak memiliki pulau-pulau vulkanis dan pulau karang, sedangkan sebagian lainnya merupakan dataran biasa. Pulau Halmahera mempunyai banyak pegunungan yang rapat – mulai dari Teluk Kao, Teluk Buli, Teluk Weda, Teluk Payahe dan Dodinga. Di setiap daerah terdapat punggung gunung yang merapat ke pesisir, sedangkan di daerah sekitar Teluk Buli (di timur) sampai Teluk Kao (di utara), pesisir barat mulai Teluk Jailolo ke utara dan Teluk Weda ke selatan dan utara ditemui daerah daratan yang luas. Pada bagian lainnya terdapat deretan pegunungan yang melandai dengan cepat ke arah pesisir. Pulau-pulau yang relatif sedang (Obi, Morotai, Taliabu, dan Bacan) umumnya memiliki dataran luas yang diselingi pegunungan yang bervariasi.
Lahan yang terdapat di daerah Maluku Utara menunjukkan sifat-sifat yang berbeda, mulai dari Morotai bagian utara sampai Sulabesi di selatan. Perbedaan ini disebabkan faktor iklim (curah hujan dan suhu) yang tinggi. Selain itu, yang membedakan sifat-sifat tanah adalah tipe batuan/bahan induk dan kemiringan lereng yang berkolerasi dengan kedalaman efektif perakaran serta vegetasi di tanah tempatnya berkembang. Selain iklim dan vegetasi, kompleks geologi Provinsi Maluku Utara sangat erat hubungannya dengan penyebaran sifat-sifat tanah.
Keadaan geologi dibarengi pula dengan proses pelapukan dan pencucian pada kondisi suhu dan curah hujan yang bervariasi. Maka tanah di daerah Maluku Utara berada dalam suatu perkembangan dan kedalaman yang bervariasi dengan drainase baik, tekstur tanah halus, kesuburan yang relatif rendah.
Pada daerah-daerah perbukitan dan pegunungan yang berlereng curam sampai sangat curam dengan penutupan vegetasi yang jarang, secara relatif juga mempengaruhi erosi permukaan. Oleh karena itu sering ditemukan tanah-tanah dengan kedalaman solum dangkal sampai sedang dengan tingkat perkembangan lemah dan sedang. Berdasarkan karakteristik sumberdaya lahan dan iklim di Maluku Utara di peroleh 7 zona agro ekologi yang terdiri dari 3 zona sebagai wilayah pengembangan komodotas tanaman pangan dan hortikultura, 4 zona sebagai wilayah kehutanan, perkebunan, perikanan pantai dan pastura (padang penggembalaan).
Konsep kebijakan Pembangunan Pertanian Maluku Utara merupakan implementasi pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan pertanian yang lebih spesifik berdasarkan karakterisitik wilyah kepulauan dengan berbagai potensi, permasalahan, peluang dan tantangan yang dihadapi, maka pembangunan pertanian di Maluku Utara diarahkan pada keterpaduan sistem usaha Agribisnis pertanian yang terintegrasi dan berkelanjutan melalui tiga pendekatan pembangunan pertanian dengan komoditas prioritas tanaman perkebunan terutama tanaman rempah yaitu melalaui Pendekatan Kawasan, Pendekatan Komoditas dan Pendekatan Multygate System.