• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status Hak Waris Anak yang Dilahirkan Melalui Proses Bayi Tabung

DAN HUKUM POSITIF

C. Status Hak Waris Anak yang Dilahirkan Melalui Proses Bayi Tabung

Program bayi tabung merupakan salah satu cara untuk memiliki anak bagi pasangan suami isteri yang mengalami infertilitas. Pelaksanaan bayi tabung tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang kesehatan dan dalam Peraturan Menteri Kesehatan nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Teknologi Reproduksi Buatan.Dalam kedua peraturan tersebut pelaksanaan bayi tabung yang diperbolehkan hanya kepada pasangan suami isteri yang sah, lalu menggunakan sel sperma dan sel telur dari pasangan tersebut yang kemudian embrionya ditanam dalam rahim isteri. Hal ini dilakukan untuk menjamin status anak tersebut sebagai anak sah dari pasangan suami isteri tersebut. Penetapan seorang anak sebagai anak sah adalah berdasar pada pasal 42 Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Pasal 42 UU Nomor 1 Tahun 1974 yang berbunyi

“Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat

perkawinan yang sah.”

Inseminasi buatan menjadi permasalahan hukum dan etis moral bila sperma/sel telur datang dari pasangan keluarga yang sah dalam hubungan pernikahan. Hal ini pun dapat menjadi masalah bila yang menjadi bahan pembuahan tersebut diambil dari orang yang telah meninggal dunia. Jika benihnya berasal dari Suami Istri, dilakukan proses fertilisasi-in-vitro transfer embrio dan diimplantasikan ke dalam rahim Istri maka anak tersebut baik secara biologis ataupun yuridis mempunyai satus sebagai anak sah (keturunan genetik) dari pasangan tersebut. Akibatnya memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya. Jika ketika embrio diimplantasikan ke dalam rahim ibunya di saat ibunya telah bercerai dari suaminya maka jika anak itu lahir sebelum 300 hari perceraian mempunyai status sebagai anak sah dari pasangan tersebut. Namun jika dilahirkan setelah masa 300 hari, maka anak

itu bukan anak sah bekas suami ibunya dan tidak memiliki hubungan keperdataan apapun dengan bekas suami ibunya. Dasar hukum ps. 255 KUHPerdata.

Pasal 255 KUHPerdata yang berbunyi :

“Anak yang dilahirkan tiga ratus hari setelah perkawinan dibubarkan, adalah tak sah”

Untuk membuktikan secara hukum bahwa seorang anak adalah anak sah dari pasangan suami isteri, yang dibutuhkan adalah sebuah akta kelahiran dari anak tersebut. Akta tersebut berisi nama, hari, tanggal, kota anak tersebut lahir dan nama kedua orang tua dari anak tersebut. Karena anak hasil bayi tabung merupakan anak sah, maka hak dan kewajiban dari anak yang dilahirkan dengan menggunakan program bayi tabung sama dengan anak yang tidak menggunakan program bayi tabung. Sehingga anak hasil bayi tabung dalam hukum waris termasuk kedalam ahli waris golongan I yang diatur dalam pasal 852 KUH Perdata.

Pasal 852 KUHPerdata yang berbunyi :

“Anak-anak atau sekalian keturunan mereka, biar dilahirkan dari lain-lain

perkawinan sekalipun, mewaris dari kedua orang tua, kakek, nenek atau semua keluarga sedarah mereka selanjutnya dalam garis lurus ke atas, dengan tiada perbedaan antara laki atau perempuan dan tiada perbedaan berdasarkan kelahiran lebih dahulu.”

1) Kedudukan anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung menggunakan

sperma suami dalam hukum waris

Didalam hukum waris BW tidak ada suatu ketentuan yang secara khusus megatur kewarisan anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung yang menggunakan sperma suami, tetapi yang ada hanya mengatur tentang warisan yang

dilahirkan secara alamiah.8 Seperti warisan anak sah, dan anak luar nikah yang

66

diakui. Namun bukan berarti bahwa ketentuan tersebut tidak dapat diterapkan terhadap anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung yang menggunakan sperma suami. Caranya yaitu dengan mengkaitkan dengan kedudukan yuridis anak tersebut. Karena kedudukan yuridis mempunyai pengaruh dalam menentukan berhak atau dan tidaknya seorang anak terhadap warisan yang ditinggalkan oleh orang tuanya.

Kedudukan hukum anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung yang menggunakan sperma suami adalah dianggap sebagai anak sah. Oleh karena anak tersebut dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah, meskipun proses pembuahannya tidak dilakukan secara alami, dan anak tersebut disamakan dengan anak kandung. Anak kandung berhak untuk memperoleh warisan dari orang tua kandungnya, apabila orang tuanya (pewaris) telah meniggal dunia sedangkan bagian yang harus diterimanya adalah sama besarnya di antara para ahli waris, baik laki-laki maupun perempuan, dan tidak dibedakan antara yang lahir terlebih dahulu maupun yang kemudian.

Menurut hukum adat, bahwa anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung yang menggunakan sperma suami dan ovum dari isteri, kemudian embrionya ditransplantasikan ke dalam rahim isteri disamakan dengan anak kandung. Sebab anak itu lahir dari hubungan pernikahan menurut adat dan agama. Dengan demikian ia berhak untuk mendapatkan warisan dari orang tuanya (pewaris). Selanjutnya sistem pewarisannya menurut hukum adatnya masing-masing.

2) Kedudukan anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung

menggunakan sperma donor dalam hukum waris.

Kedudukan yuridis anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung yang menggunakan sperma donor dan ovum dari isteri kemudian embrionya

ditransplantasikan ke dalam Rahim isteri dapat dikualifikasi kepada 2 jenis anak, yaitu9

a. Anak sah melalui pengakuan apabila penggunaan sperma donor itu

mendapat izin dari suami,

b. Anak itu disebut sebagai anak zina, apabila penggunaan sperma donor itu

tanpa izin suami.

Anak sah melalui pengakuan suami berhak untuk memperoleh warisan dari orang tua yang mengakuinya. Sedangkan bagian yang harus diterimanya ditentukan sebagai berikut:

1. Pewaris meninggalkan keturunan yang sah, seorang suami atau isteri, maka

bagian anak tersebut adalah 1/3 (pasal 863 BW)

2. Pewaris tidak meniggalkan keturunan maupun suami atau isteri, akan tetapi

meninggalkan keluarga sedarah dalam garis ke atas, saudara laki-laki dan perempuan atau keturunan mereka maka anak sah melalui pengakuan mewarisi ½ dari warisan (pasal 863 BW)

3. Jika hanya ada sanak saudara yang lebih jauh, maka anak sah melalui pengakuan

memperoleh bagian ¾

4. Jika pewaris tidak meninggalkan ahli wars yang sah, maka anak sah melalui

pengakuan mendapat keseluruhan dari hari warisan.

Dari pemaparan sebelumnya penulis dapat menyimpulkan jika benihnya

berasal dari suami Istri, dilakukan proses fertilisasi-in-vitro transfer embrio dan

diimplantasikan ke dalam rahim Istri maka anak tersebut baik secara biologis ataupun yuridis mempunyai status sebagai anak sah (keturunan genetik) dari pasangan

68

tersebut. Walaupun proses pembuahannya tidak dilakukan secara alami, dan anak jenis ini dapat disamakan dengan anak kandung. Anak kandung berhak untuk mendapatkan warisan dari orang tua kandungnya Akibatnya memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya.

Anak kandung berhak untuk mendapatkan warisan dari orang tua kandungnya, apabila orang tuanya (pewaris) telah meninggal dunia. Sedangkan bagian yang harus diterimanya adalah sama besarnya di antara para ahli waris, baik laki-laki maupun perempuan dan tidak dibedakan antara yang lahir terdahulu maupun kemudian.

69

Dari berbagai uraian yang yang telah dijelaskan secara panjang lebar pada bab sebelumnya, maka pada bagian akhir ini penulis dapat menyimpulkan sesuai dengan rumusan masalahnya sebagai berikut:

1. Hukum Islam kontemporer memandang proses kelahiran bayi tabung yaitu

jika sperma dan sel telurnya berasal dari suami istri yang sah, hanya tempat untuk melakukan pembuahan yang tidak berada di dalam rahim wanita tapi di suatu wadah khusus (tabung) yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai dengan tempat pembuahannya yang asli yaitu rahim, temperatur dan situasinya juga dibuat sama dengan aslinya makanya hukumnya mubah atau boleh-boleh saja. Akan tetapi jika anak yang dihasilkan dari bayi tabung tersebut berasal dari sperma dan ovum pasangan suami istri yang tidak sah, secara akal sehat juga hal tersebut termasuk kedalam perzinahan, oleh karena itu hukumya haram.

2. Kedudukan anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung dalam perspektif

hukum Islam dan hukum positif yaitu jika anak yang berasal dari sperma dan sel telur yang berasal dari suami isteri yang sah menurut hukum Islam maka kedudukan anak dengan sendirinya berhak untuk mewaris dari orang tuanya (pewaris), dan bagian yang harus diterima adalah anak laki-laki mendapat dua bagian, dan anak perempuan mendapat satu bagian. Sedangkan dalam pandangan hukum positif bayi tabung yang berasal dari suami isteri yang sah yang tidak mempunyai anak, Kedudukan yuridis bayi tabung pun seperti

70

halnya dengan anak kandung. Jadi anak yang dilahirkan melalui bayi tabung hak dan kewajibannya sama dengan anak kandung. Ia berhak atas pemeliharaan, pendidikan dan warisan dari orang tuanya.

B. Implikasi

Berdasarkan hasil dari kesimpulan di atas, maka saran-saran yang dapat penulis kemukakan adalah sebagai berikut:

1. Pemerintah hendaknya melarang untuk berdirinya bank sperma dan ovum

untuk proses inseminasi buatan secara donor, karena selain bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, hal tersebut juga bertentangan dengan norma agama dan moral, serta dapat merendahkan harkat dan martabat manusia sejajar dengan hewan yang diinseminasi tanpa perlu adanya ikatan perkawinan.

2. Bagi pasangan suami isteri yang memang benar-benar tidak bisa

menghasilkan keturunan kecuali dengan sistem donor, maka hendaknya tidak menggunakan inseminasi buatan jenis ini, karena hal tersebut telah diharamkan oleh Islam, akan tetapi lebih baiknya bagi pasangan tersebut untuk mengangkat anak atau adopsi karena nasab dari anak tersebut sudah jelas.

71

Dokumen terkait