• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status Kesuburan Tanah (SKT)

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN PROFESOR (Halaman 40-44)

BAB 4. METODE PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu

5. HASIL LUARAN YANG DICAPAI

5.3. Status Kesuburan Tanah (SKT)

Hasil analisis kriteria kesuburan tanah (Tabel 9) menunjukkan bahwa dari lima indikator yang dianalisis ternyata status kesuburan tanah pada beberapa ordo tanah di lahan kering Aceh Besar rendah hingga tinggi. Ordo tanah yang berstatus kesuburan rendah ditemukan pada Oxisols Lembah Seulawah dan Inceptisols Blang Bintang sedangkan yang medium ditemukan pada Entisols Jalin, Andisols Saree, dan Ultisols Jantho. Satu-satunya ordo tanah dengan status kesuburan tinggi adalah Mollisols Kreung Raya. Secara berurutan ordo tanah berdasarkan status kesuburan tanah dari tinggi ke rendah adalah: Mollisol >

Andisols = Ultisols = Entisols > Inceptisol = Oxisols.

Ada tiga kendala yang mempengaruhi kesuburan tanah di lahan kering Aceh Besar yaitu kandungan bahan organik, KTK dan kejenuhan basa yang rendah. Selanjutnya jika dikaji lebih jauh, maka terlihat bahwa nilai IKT tidak selalu sama dengan status kesuburan tanah. Tabel 9 dapat dilihat bahwa IKTpada lahan kering Aceh Besar mempunyai dua kriteria yaitu sedang dan tinggi, sedangkan kriteria status kesuburan tanah ada tiga yaitu rendah, sedang dan tinggi. Perbedaan ini terjadi karena pada analisis IKT menggunakan parameter lebih banyak yang meliputi sifat fisika, kimia, dan biologi tanah, sedangkan pada analisis status kesuburan tanah (SKT) hanya menggunakan lima kriteria sifat kimia tanah yaitu KTK, kejenuhan basa, bahan organik, dan cadangan P2O5 dan K2O (Indonesian Soil Research Centre, 2005).

Table 9. Status kesuburan tanah pada beberapa ordo tanah di lahan kering Aceh Besar Indikator Kesuburan Tanah Entisols Soil fertility status Sedang Sedang Rendah Rendah Tinggi Sedang Sumber: Analisis kriteria kesuburan tanah (2019)

R/S/T = rendah/sedang/tinggi

Menurut Islam dan Weil (2000), klasifikasi sifat-sifat tanah yang berkontribusi terhadap kualitas tanah didasarkan atas kepermanenannya dan tingkat kepekaannya terhadap pengelolaan. Sifat-sifat tanah seperti, kadar air, respirasi tanah, pH, N total, K-mineral, P-tersedia dan kerapatan isi, dapat berubah sebagai hasil dari praktek pengelolaan secara rutin atau adanya pengaruh cuaca. Sedangkan sifat-sifat permanen yang merupakan sifat bawaan (inherent) tanah atau lokasi (site) seperti, lereng, kedalaman tanah, tekstur, mineralogi, lapisan pembatas sedikit terpengaruh oleh pengelolaan.

Berdasarkan hal ini, maka dalam pengelolaan tanah perlu dipilih bahan-bahan yang mampu memperbaiki kualitas tanah sehingga dapat meningkatkan status kesuburan tanah.

Jika dilihat kendala dan fungsi tanah, maka penambahan bahan organik ke dalam tanah merupakan salah satu tindakan perbaikan yang baik karena bahan organik selain dapat meningkatkan cadangan karbon (C) ke dalam tanah juga mampu memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia, dan biologi tanah (FAO, 2005, Stevenson, 2007, Sanchez, 2012, Sufardi, 2012, Havlin et al., 2014). Pengembalian bahan organik ke dalam tanah saat ini telah menjadi solusi pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan (Hansen, 2010) dan dengan bahan organik dapat meningkatkan kesehatan tanah (Bonfante et al., 2019).

5.1.3. Sifat-sifat Kimia Tanah

Tabel 10 dan Tabel 11 secara ringkas dapat dikemukakan bahwa sifat-sifat kimia tanah pada beberapa ordo tanah di lahan kering Kabupaten Aceh Besar secara relatif berbeda antar subgrop tanah dan antar lapisan horizon. Reaksi tanah (pH) secara umum didominasi oleh tanah-tanah yang bereaksi masam hingga agak masam. Yang tergolong dalam kelompok tanah masam berdasarkan hasil penelitian ini adalah Inceptisol, Ultisol, Andisol, Oxisol, dan Entisol, sedangkan yang tergolong ke dalam tanah dengan rekasi netral hingga agak alkalis adalah ordo Mollisol. Meskipun banyak ordo tanah bereaksi masam, tetapi kandungan Al-dd tanah relatif kecil dan tidak berpotensi menimbulkan keracunan pada tanaman karena kejenuhan Al < 10 %, serta pH tanah umumnya > 5,5, sehingga Al—d terdapat dalam bentuk yang mengendap (tidak larut) yaitu Al(OH)30 (Norman, 1978; Fageria et al., 1986).

Kandungan C dan N total tanah pada Ultisol, Inceptisol, Oxisols, Entisol, dan Inceptisol secara umum juga rendah kecuali pada tanah ordo Andisol dan Mollisol.

Rendahnya C dan N ini terjadi selain karena tanah-tanah di lahan kering terbentuk dari bahan induk mineral yang telah mengalami pencucuian sehingga meninggalkan Fe, Al, dan Si yang miskin bahan organik yang menyebabkan tanah berwarna cerah (coklat hingga kuning

kemerahan). Pada ordo Mollisol dan Andisiol, C total dan N total tergolong sedang karena bahan organik terikat bersama mineral amorf alofan pada Andisol atau tanah mengandung mineral liat 2:1 yang dapat menjerap molekul organik sehingga tanah berwarna coklat kehitaman (Gambar 1).

Tabel 10. Nilai pH tanah, kandungan C dan N serta P tanah pada setiap lapisan horizon pada beberapa ordo tanah di lahan kering suboptimal Aceh Besar

No Profil Horison Kedalaman (cm)

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kandungan kation basa seperti Ca, Mg, K, dan Na pada sebagian besar tanah di lahan kering suboptimal Aceh Besar tergolong rendah terutama Mg, K, dan Na, sedangkan Ca lebih bervariasi Antara ordo dan kedalaman tanah.

Pada ordo Oxisol, Ultisol, dan Inceptisol, kandungan kation basa tertukar Ca-dd, Mg-dd, K-dd, dan Na-dd relatif rendah, sedangkan pada Mollisol dan Andisol termasuk kategori sedang hingga sangat tinggi terutama kandungan Ca-dd. KTK tanah dan kejenuhan basa juga relatif rendah kecuali pada Mollisol. Berdasarkan data ini dapat dinyatakan bahwa ketersediaan hara kation (Ca, Mg, dan K) serta kejenuhan basa tanah menjadi salah satu

faktor kendala pada lahan kering suboptimal Kabupaten Aceh Besar. Hal ini berarti status kesuburan tanah sangat berbeda Antara ordo tanah. Hasil penilaian status kesuburan tanah, sebagian besar tanah di lahan kering Aceh Besar mempunyai status kesuburan tanah rendah yaitu ordo Entisol, Inceptisol, Oxisol, dan Ultisol, sedangkan yang berstatus kesuburan tanah sedang adalah Andisol dan Mollisol. Tidak ditemukan adanya ordo tanah yang berstatus kesuburan tinggi di lahan kering suboptimal Aceh Besar.

Tabel 11. Kandungan kation basa tertukar, KTK, KB, Al-dd, H-dd, dan DHL tanah pada setiap lapisan horizon pada beberapa ordo tanah di lahan kering suboptimal

Dalam dokumen LAPORAN AKHIR PENELITIAN PROFESOR (Halaman 40-44)

Dokumen terkait