• Tidak ada hasil yang ditemukan

Status Kewarganegaraan Akibat Perkawinan Campuran

BAB III : PELAKSANAAN PERKAWINAN CAMPURAN DI

B. Status Kewarganegaraan Akibat Perkawinan Campuran

Perkawinan campuran terdiri dari dua kata yaitu perkawinan dan campuran, perkawinan secara bahasa yaitu menghimpun atau mengumpulkan.28 Campuran menurut bahasa adalah sesuatu yang tercampur, gabungan atau kombinasi, peranakan ( Bukan keturunan asli).29 Menurut istilah perkawinan campuran yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974 pasal 57 perkawinan campuran ialah Perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia.

1. Undang-Undang Perkawinan. No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Bangsa Indonesia telah memiliki undang-undang nasional yang berlaku bagi seluruh warga negara republik Indonesia, yaitu Undang-undang nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.30 Dalam Pasal 66 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dijelaskan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan dengan berlakunya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, maka ketentuan yang diatur dalam KUHP, Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen,

27 Diposting oleh www.mammet.tk di 19.34 http://mammet.blogspot.com/2010/12/kisah-perjalan-christian-gonzales.html

28 Dahlan Abdul Azis, Esiklopedi Hukum Islam.., hlm. 1329

29 Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: PT Gramediaa Pustaka Utama, 2011), hlm. 239.

30 A. Hamid Sarong, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Banda Aceh : Pena, 2005), hlm. 28-29.

Peraturan Perkawinan Campuran dan peraturan-peraturan lain yang mengatur tentang perkawinan yang diatur dalam UU ini, dinyatakan tidak berlaku lagi.31 Hukum Perkawinan yang berlaku bagi tiap-tiap agama antara satu sama lain ada perbedaan , akan tetapi tidak saling bertentangan. Adapun di Indonesia telah ada hukum perkawinan yang secara otentik diatur didalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974.

Dalam beberapa hal aspek perkawinan campuran telah diatur di dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Bagi orang-orang yang berlainan kewarganegaraan yang melakukan perkawinan campuran dapat memperoleh kewarganegaraan dari suami isterinya dan dapat pula kehilangan kewarganegaraannya. Menurut cara cara yang telah ditentukan dalam Undang-undang Kewarganegaraan Republik Indonesia yang berlaku32. Kewarganegaraan yang diperoleh sebagai akibat perkawinan atau putusnya perkawinan menentukan hukum yang berlaku, baik mengenai hukum publik maupun mengenai hukum perdata. Perkawinan yang dilangsungkan di Indonesia dilakukan menurut Perkawinan ini33.

Perkawinan campuran tidak dapat dilangsungkan sebelum terbukti bahwa syarat-syarat perkawinan yang ditentukan oleh hukum yang berlaku bagi pihak masing-masing telah dipenuhi. Untuk membuktikan bahwa syarat-syarat tersebut dalam ayat (1) telah dipenuhi dan karena itu tidak ada rintangan Untuk melangsungkan perkawinan campuran, maka oleh mereka yang menurut

31 Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, Lembaran Negara tahun 1974 No. 1, Tambahan Lembaran Negara No. 5216

32 LIHAT Pasal 58 lihat UUP 33 LIHAT Pasal 59 lihat UUP

hukum yang berlaku bagi pihak masing-masing berwenang mencatat perkawinan, diberikan surat keterangan bahwa syarat-syarat telah dipenuhi. Jika pejabat yang bersangkutan menolak untuk memberikan surat keterangan itu, maka atas permintaan yang berkepentingan, pengadilan memberikan keputusan dengan tidak beracara serta tidak boleh dimintakan banding lagi tentang soal apakah penolakan pemberian surat keterangan itu beralasan atau tidak34.

Dalam Pandangan Islam perkawinan merupakan sesuatu yang sangat sakral, maka Islam menetapkan rukun dan syarat yang harus dipenuhi diantaranya dewasa, laki-laki dan perempuan, disertai dengan saksi dan wali kemudian bukan dalam kondisi yang haram untuk dinikahi baik karena hubungan nasab atau karena berbeda agama. Oleh karena itu al-Qur’an membatasi siapa saja yang tidak boleh dinikahi dari pihak keluarga yang biasa disebut dengan muhrim dan hal ini bertujuan untuk kemaslahatan.35

2. Undang-Undang Kewarganegaraan No. 12 Tahun 2006

Adapun penjelasan atas Undang-undang tersebut dimuat di dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019 yang di dalam bagian penjelasan umum diuraikan beberapa masalah mendasar.36

Undang-undang Kewarganegaraan no. 62-1958 Pasal 7 (1) dikatakan Seorang perempuan Asing yang kawin dengan seorang warga negara RI memeperoleh kewarganegaraan RI, apabila dan pada waktu dan ia dalam satu

34 Lihat Pasal 60 UUP

35 Agustin Hanafi, Nikah Lintas Agama dalam Perspektif Ulama, (Banda Aceh: Lembaga Naskah Aceh, 2012), hlm. 6.

tahun setelah perkawinannya berlangsung menyatakan keterangan (kepada Pengadilan Negara atau Perwakilan RI) kecuali jika ia memperoleh kewarganegaraan RI masih mempunyai kewarganegaraan lain, dalam hal mana keterangan itu tidak boleh dinyatakan.37

Kemudian Pasal 7 (2) menyatakan:Dengan kekecualian tersebut dalam ayat (1) perempuan asing yang kawin dengan seorang warga negara RI juga memperoleh kewarganegaraan RI satu tahun sesudah perkawinan berlangsung. Apabila dalam satu tahun suaminya itu tidak menyatakan keterangan untuk melepaskan kewarganegaran RI. alam Pasal 8 (1) UU no. 62-1958 dikatakan seorang perempuan warga negara RI yang kawin dengan seorang asing kehilangan kewarganegaraan RI. Apabila pada waktu ia dalam satu tahun setelah perkawinannya berlangsung menyatakan keterangan untuk itu, kecuali apabila ia dengan kehilangan kewarganegaraan RI itu menjadi tanpa

kewarganegaraan”.38

3. Undang-undang Aministrasi Kependudukan No. 24 Tahun 2013

Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan Data Kependudukan melalui Pendaftaran Penduduk, Pencatatan Sipil, pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lain. Ditata melalui penertiban dokumen yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil setempat agar pemerintah dapat dengan mudah memenuhi segala urusan kependudukan bila dokumen

37 Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia…, hlm. 14.

setiap penduduk dapat dikelola dengan baik dan tertib. Setiap penduduk mempunyai hak dan kewajibannya, kewajiban setiap penduduk adalah mematuhi semua peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan C. Sanksi Pelaksanaan Administrasi Perkawinan Campuran di Indonesia

Dalam Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 57 perkawinan yang dilakukan antara warga negara Indonesia dan warga negara asing disebut sebagai perkawinan campuran. Dokumen dan persyaratan administrasi untuk melaksanakan perkawinan campuran di Kantor Urusan Agama (KUA) bagi yang beragama Islam adalah sebagai berikut :

a. Untuk calon pengantin yang berkewarganegaran Indonesia

Membuat ssurat Pernyataan belum pernah menikah (masih gadis/jejaka) diatas segel/materai bernilai Rp.6000,- (enam ribu rupiah) diketahui RT,RW, dan Lurah setempat. Kelengkapan surat surat berupa : adanuya Surat Pengantar dari RT-RW setempat, Surat Keterangan Nikah (N1,N2,N4) dari Kelurahan/Desa tempat domisili, Persetujuan kedua calon pengantin (N3), Surat Rekomendasi/Pindah Nikah bagi yag bukan penduduk asli daerah tersebut.

Selain itu harus melengkapi ; Fotokopi KTP,KK/Keterangan Domisili. Akta Kelahiran dan Ijazah, masing-masing 2 lembar., Fotokopi keterangan vaksin/imunisasi TT (Tetanus Toxoid) bagi catin wanita. Akta cerai asli bagi janda/duda yang sebelumnya bercerai hidup.

Apabila salah satu ada yang meninggal dunia maka ada surat keterangan/Akta Kematian suami/isteri dan kutipan akta nikah terdahulu bagi janda/duda karena meninggal dunia. Kedua calon menyPasphoto 2x3 darahkan n 3x4 latar belakang biru, masig-masing 4 lembar. Bagi anggota TNI atau Polri harus mengenakan seragam kesatuan dan mendaptkan izin dari Komandan (dari kesatuannya) bagi anggota TNI/Polri. Bagi yang belum berusia 21 Tahun mendaptkan izin dari orang tua. Kemudian Taukil wali secara tertulis dari KUA setempat bagi wali nikah. (dari pihak perempuan) yang tidak dapat menghadiri akad nikah dan di buktikan dengan Surat keterangan memeluk agama Islam.

b. Calon Pengantin yang berkewarganegaraan Asing

Syarat-syarat yang harus di penuhi oleh calon pengatin berkewarganegaraan asing ialah Izin dari Kedutaan/Konsulat perwakilan di Indonesia melampirkan Fotokopi passport yang masih berlaku, Fotokopi VISA/KITAS yang masih berlaku dan dibuktikan dengan Surat tanda melapor diri (STMD) dari kepolisian dan Surat Keterangan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil apabila yang bersangkutan menetap di Indonesia serta Fotokopi Akta Kelahiran yang jika sudah menikah ataupun cerai maka harus melampirkan surat Akta cerai bagi Janda/Duda cerai. Berikutnya adalah Pasphoto terpisah 2x3 dan 3x4 background biru, masing-masing 4 lembar. Bahwa di Indonesia sendiri tidak diperkenankan pernikahan lintas agama jika beragama islam dan

salah satu calon pengantinya itu beragama lain maka harus menentukan apakah memeluk ataukah yang lain jika memilih untuk beragama Islam maka menyertakan Surat Keterangan memeluk Islam bagi muallaf dan juga taukil wali secara tertulis bagi wali nikah (dari pihak Perempuan) yang tidak dapat menghadiri akad nikah.

Semua dokumen dalam bahasa asing harus diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia (yang dilakukan oleh Penerjemah tersumpah). Setiap negara memiliki aturan masing-masing dalam syarat dan ketentuan administrasi warga negaranya dalam melakukan perkawinan di Indonesia. Calon Pengantin yang berkewarganegaran asing harap mencari informasi dan melakukan pelaporan yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kedua calon pengantin harus mendaftarkan diri ke KUA tempat akan dilangsungkannya akad nikah selambat-lambatnya 10 hari kerja dari waktu melangsungkan Pernikahan.

Untuk melakukan perkawinan di luar Indonesia maka harus dapat membuktikan bahwa yang bersangkutan telah memenuhi syarat-syarat perkawinan. Syarat pendaftaran Surat Bukti Perkawinan yang pertama ialah Surat keterangan dari kepala Desa/Lurah yang mewilayahi tempat tinggal mereka. Lampiran Fotokopi passport dengan memperlihatkan aslinya dan juga Fotokopi dari surat bukti perkawinan. Dang yang terakir adalah Fotokopi sertifikat Nikah dari KBRI atau fotokopi Akta Nikah dari KBRI atau surat keterangan KBRI setempat.

Tata Cara Perkawinan Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Ketentuan mengenai tata cara perkawinan diatur dalam BAB III pasal 8 dan 10 Peraturan Nomor 9 Tahun 1975, sebagai berikut :39

Perkawinan dilangsungkan setelah sepuluh hari sejak pengumuman kehendak perkawinan oleh pegawai pencatat nikah yang dimaksud dalam Pasal 8 Peraturan Nomor 9 Tahun 1975. Tata cara Perkawinan Dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Dengan mengidahkan tata cara Perkawinan menurut masing-masing hukum agamanya dan kepercayaanya itu, perkawinan dilaksanakan dihadapan pegawai pencatat nikah dan dihadiri dua orang saksi. Sesaat setelah Perkawinan dilangsungkan, akta perkawinan yang telah disiapkan oleh pegawai pencatat nikah lalu di tanda tangani oleh Kedua Mempelai, Kedua orang saksi yang menghadiri berlangsungnya perkawinan itu, Pegawai pencatat nikah. Khusus bagi mereka yang melangsungkan Perkawinan menurut agama Islam, akta perkawinan harus di tanda tangani oleh wali nikah atau yang mewakili. Dengan Menandatangani akta perkawinan oleh pihak-pihak yang ditentukan dalam Pasal 11 ayat (2) Peraturan Pelaksana Nomor 9 Tahun 57 Republik Indonesia, Peraturan Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 tahun 1974. 36 1975 maka perkawinan itu resmi dicatat.

39 Republik Indonesia, Peraturan Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undangundang Nomor 1 tahun 1974.

Menurut Hilman Hadikusuma, tata cara perkawinan adalah mengenai pencatatan dan pemberitahuan perkawinan, tentang cara perkawinan dan akta perkawinan.40 Pencatatan Perkawinan merupakan salah satu syarat formil perkawinan yang harus dilakukan setelah berlangsungnya perkawinan. Pasal 2 ayat (2) UU perkawinan disebutkan: Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlak.41

Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama, hlm. 81

41 Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, Lembaran Negara tahun 1974 No. 1.

BAB IV

TINJAUAN YURIDIS PELAKSANAAN PERKAWINAN CAMPURAN DI INDONESIA

A. Tinjauan Yuridis Pelaksanaan Administrasi Perkawinan Campuran di Indonesia.

Dari uraian kasus yang peneliti paparkan pada bab 3, kita mengetahui bahwa keadaan hukum perkawinan di Indonesia adalah bercorak ragam sifatnya. Bagi setiap golongan penduduk berlaku hukum perkawinan yang berbeda dengan golongan penduduk yang lainnya. Keadaan ini telah menimbulkan persoalan hukum antar golongan di bidang perkawinan, yaitu peraturan hukum perkawinan yang manakah yang akan diberlakukan terhadap suatu perkawinan antara dua orang yang berbeda golongan penduduk dan hukumnya.42

Dalam perkawinan campuran, perbedaan peraturan yang ada ini menyebabkan kesulitan bagi pelaku perkawinan campuran yang ingin melakukan perkawinan di Indonesia, hal ini disebabkan karena hukum di Indonesia yang berlaku menyebutkan dalam UU Perkawinan no. 1 Tahun 1974, dalam pasal 2 ayat 1yang menyatakan bahwa perkawinan dianggap sah apabila memenuhi dilakukn menurut agama serta kepercayaanya masing-masing. Dalam prosedur administrasi perkawinan beda negara juga memuat pemberitahuan mengenai agama, dan perkawinan tersebut akan dilakukan

42 Debora, Dampu, Pelaksanaan Perkawinan Antar Warga Negara Indonesia dan Warga Negara Asing Setelah Berlakunya Undang – undang No.1 TAHUN 1974 Tentang Perkawinan Di Kota Denpasar Provinsi (Progam Studi Magister Kenotariatan Progam Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang )© 2009.

berdasarkan agama yang bersangkutan. Selain itu, dalam pembuatan akta perkawinan juga harus dicantumkannya agama/ kepercayaan yang sebagaimana telah diatur didalam Pasal 12 PP No.9/75. Hal ini tentu memberikan dampak bagi pelaku perkawinan campuran yang sebagian besar memiliki perbedaan keyakinan.

Seperti yang terjadi dengan seorang wanita yang menikah dengan pria berkewarganegaraan Belanda yang dalam proses perkawinannya yang bersangkutan mengalami kendala yang disebabkan karena suaminya tidak beragama (atheis). Peraturan yang ada tersebut dirasakan kurang memberikan kebebasan Hak Asasi Manusia sehingga menyebabkan sulitnya prosedur dari perkawinan campuran ini. Kendala lain yang datang dari pelaku perkawinan campuran yang lainnya adalah mengenai legalitas dari perkawinan yang dilakukan oleh pelaku perkawinan campuran yang telah melaksanakan pernikahannya di luar wilayah Indonesia namun tidak mencatatkan kembali di Indonesia. Hal ini tentu menimbulkan reaksi bagi legalitas perkawinan tersebut karena menurut pasal 37 ayat 4 Undang-Undang No. 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan menyebutkan apabila perkawinan campuran tersebut dilakukan di luar wilayah Indonesia maka yang bersangkutan harus melaporkan kembali perkawinannya yakni paling lambat 30 hari setelah yang bersangkutan tiba di indonesia.

Namun apabila perkawinan yang dilakukan di luar negeri tersebut tidak dicatatkan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tersebut tentu akan menimbulkan reaksi atas tidak sahnya perkawinan menurut hukum di

Indonesia. Kurangnya pengetahuan masyarakat selaku pelaku perkawinan campuran mengenai legalitas perkawinan ini menjadi suatu hal yang sangat hironis mengingat pentingnya pencatatan perkawinan sebagai landasan atau payung hukum apabila yang bersangkutan mengalami konflik di dalam 6 perkawinan yang dijalankannya karena tidak bisa dipungkiri dalam berkawinan campuran yang menyatukan dua hukum yang berlainan ini seringkali menimbulkan kendala diantaranya ialah mengenai harta benda atau aset maupun mengenai anak hasil perkawinan campuran.

Dalam hubungan perkawinan campuran, perbedaan kewarganegaraan orang tua sudah pasti akan memberikan dampak bagi anak yang dilahirkan dalam perkawinan tersebut karena keduanya terikat oleh hukum yang berbeda. Pada saat ini, anak yang lahir dari perkawinan campuran tidak lagi secara otomatis mengikuti kewarganegaraan ayahnya, tetapi anak tersebut dapat menjadi WNI ataupun WNA. Hal itu karena dalam UU No.12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan RI menganut asas terjadinya peristiwa di mana anak tersebut di lahirkan dan asas penentuan kewarganegaraan berdasarkan keturunan.

Setelah anak berusia 18 tahun anak berhak menentukan atau memilih kewarganegaraanya dengan mengajukan permohonan kepada presiden melalui Menteri Kehakiman dan HAM. Permasalahan kewarganegaraan yang dialami oleh anak hasil perkawinan campuran yang saat ini menjadi sorotan adalah kasus seorang anak hasil perkawinan campuran yang dibatalkan untuk ikut menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (paskibraka) dalam upacara

bendera pada hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 pada tanggal 17 Agustus 2016 lalu. Hal ini terjadi karena yang bersangkutan memiliki paspor prancis sehinggadianggap bukan warga negara Indonesia. (dikutip dari harian kompas pada tanggal 15 Agustus 2016).Berdasarkan Peraturan Menpora No. 0065/2015 syarat untuk dapat direkrut menjadi pasukan paskibraka adalah WNI. Penjelasan UndangUndang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan jelas disebutkan bahwa seseorang akan kehilangan status warga negaranya apabila yang bersangkutan memiliki paspor negara lain.43

B. Tinjaun yuridis Status Kewarganegaraan Akibat Perkawinan Campuran di Indonesia

1. Perolehan kewarganegaraan

Kewarganegaraaan ganda terbatas kelahiran Setelah berlakunya Undang-undang Administrasi kependudukan No. 24 tahun 2013, di dalam akta kelahirannya langsung ditulis WNI. Sedangkan di dalam biodata anak, ditulis 2 (dua) jenis kewarganegaraannya. Berdasarkan pasal 41 Undang-undang Adminduk No. 24 tahun 2013 setelah penetapan status kewarganegaraan Indonesia pada akta-akta catatan sipil yang dimiliki diberikan catatan pinggir (sepanjang akta tersebut diterbitkan di Indonesia).

Perolehan kembali kewarganegaraan Berdasarkan pasal 42 Undang-undang Adminduk No. 24 tahun 2013, perolehan kembali kewarganegaraan RI, setelah penetapan status kewarganegaraan RI diikuti dengan pengisian

43 Sistem Administrasi Perkawinan Beda Negara Pada Dinas Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kota Denpasar Ni Putu Diah Arsari1), Tedi Erviantono2), I Ketut Winaya3) 1,2,3)Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana Email : [email protected] ,[email protected] ,[email protected]

Biodata Penduduk, Penerbitan KK dan KTP. Penegasan status kewarganegaraan. Bagi penduduk keturunan asing tanpa dokumen kewarganegaraan dan kependudukan yang telah cukup lama tinggal di Indonesia secara turun temurun, setelah didata oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dapat diusulkan untuk mendapat penegasan status kewarganegaraan RI oleh Menteri Hukum dan HAM.44

2. Kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia

Seseorang WNI yang kehilangan kewarganegaraannya maka dalam akta-akta catatan sipil yang dipunyai akan diberikan catatan pinggir, kemudian kutipan akta yang dipegang pada yang bersangkutan ditarik oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. KK dan KTP yang bersangkutan dicabut dan ditarik dari yang bersangkutan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Dengan demikian, jelaslah bahwa dalam perolehan kewarganegaraan baik dalam ganda terbatas, perolehan kembali kewarganegaraan maupun tentang penegasan status WNI, semuanya memerlukan dokumen kependudukan; artinya bahwa di dalam akta kelahiran ditulis status kewarganegaraan yaitu WNI meskipun dalam biodata ditulis 2 (dua) kewarganegaraan.

Begitu pula dengan perolehan kembali kewarganegaraan maka setelah penetapan status WNI, diikuti pengisian Biodata, KK dan KTP (pasal 42 Undang-undang Adminduk No. 24 tahun 2013). Bagi pemukim keturunan asing yang tidak memiliki dokumen pun setelah ada penegasan status

44 Mirza Firmansyah, Kewarganegaraan Republik Indonesia dan Kehilangan Kewarganegaraan Republik Indonesia Berdasarkan Undang-undang No. 12 Tahun 2006. (Fakultas hukum), Sumatera Utara. 2013. Akses tanggal 22/11/2018.

kewarganegaraan RI maka diberikan kepadanya dokumen kependudukan (KK, KTP, dan Akte Kelahiran). Ini semua menunjukkan bahwa ada hubungan hukum kewarganegaraan dengan administrasi kependudukan.

Kendala keluarga perkawinan campuran dalam menyikapi penentuan kewarganegaraan Terdapat berbagai kendala keluarga perkawinan campuran dalam menyikapi penentuan kewarganegaraan seperti kendala teknis (belum lengkapnya dokumen yang diperlukan), kendala psikis (perbedaan pilihan kewarganegaraan antara suami istri) dan kendala yuridis (seperti lama tinggal yang disyaratkan belum terpenuhi) sehingga belum bisa menyampaikan surat pernyataan tetap menjadi WNI.

Keluarga perkawinan campuran, tidak semuanya bertempat tinggal satu rumah bahkan ada yang suaminya tinggal terpisah di luar negeri. Jadi kemudahan yang diberikan undang-undang tidak serta merta mengakibatkan keluarga perkawinan campuran memanfaatkan peluang undang-undang, beberapa kendala seperti dokumen kependudukan dirinya dan si anak dibawa si suami ke luar negeri, enggannya suami jika anaknya menjadi WNI merupakan beberapa faktor yang menjadi kendala dalam menyikapi penentuan kewarganegaraan.45

Penyampaian pernyataan menjadi WNI di hadapan pejabat merupakan sarana yang tersedia bagi WNA yang kawin secara sah dengan WNI untuk memperoleh kewarganegaraan RI, apabila yang bersangkutan sudah bertempat tinggal di wilayah negara RI paling singkat 5 (lima) tahun

45 Ibid. jurnal hlm 22. 22/11/2018.

berturut-turut atau paling singkat 10 (sepuluh) tahun tidak berturut-turut dengan syarat-syarat sebagaimana ditentukan dalam Pasal 3 Permenhukham No.M.02-HL.05.06 Tahun 2006 tentang Tata Cara Menyampaikan Pernyataan untuk Menjadi WNI. Bagi WNA yang kawin secara sah dengan WNI dapat memperoleh kewarganegaraan RI dengan menyampaikan pernyataan menjadi WNI dihadapan pejabat dengan syaratsyarat sebagaimana ditentukan dalam ayat (3) dan (4).

Selanjutnya, Pejabat memeriksa kelengkapan pernyataan dalam jangka waktu 14 (empat) hari sejak permohonan diterima. Dalam hal pernyataan telah dinyatakan lengkap, pejabat menyampaikan kepada Menteri dalam waktu paling lambat 14 (empat) hari terhitung sejak tanggal pernyataan diterima secara lengkap. Menteri memeriksa pernyataan dalam waktu paling lambat 14 (empat) hari terhitung sejak tanggal pernyataan diterima dari Pejabat. Dalam hal penyataan telah lengkap, dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal pernyataan diterima dari Pejabat, Menteri menetapkan keputusan bahwa orang yang mengajukan pernyataan memperoleh kewarganegaraan RI. Keputusan Menteri tersebut disampaikan kepada Pejabat untuk diteruskan kepada orang mengajukan pernyataan dalam waktu paling lambat 14 (empat) hari terhitung sejak tanggal keputusan Menteri diterima.

Kemudian pemohon wajib mengembalikan dokumen yang berkaitan dengan statusnya sebagai WNA kepada instansi yang berwenang dalam waktu paling lambat 14 hari terhitung sejak tanggal diterimanya Keputusan

Menteri. Menteri kemudian mengumumkan nama orang yang memperoleh kewarganegaraan RI dalam Berita Negara RI. Jadi waktu yang diperlukan untuk menyampaikan pernyataan menjadi WNI minimal 86 hari (kurang lebih 3 bulan). Dalam hal pengajuan surat pernyataan ingin tetap menjadi WNI sebagaimana diatur dalam pasal 26 Undang-undang Adminduk No. 24 tahun 2013, dalam hal perempuan WNI yang kawin dengan laki-laki asing kehilangan kewarganegaraan RI jika menurut hukum negara asal suaminya, kewarganegaraan istri mengikuti kewarganegaraan suaminya akibat perkawinan tersebut atau laki-laki WNI yang kawin dengan perempuan WNA kehilangan kewarganegaraan RI jika menurut hukum negara asal istrinya kewarganegaraan suami mengikuti kewarganegaraan isteri sebagai akibat perkawinan tersebut.

Surat dimaksud dapat diajukan oleh perempuan atau laki-laki setelah 3 (tiga ) tahun sejak tanggal perkawinannya berlangsung. Ketentuan ini telah diakomodasi dalam PP No.2007 tentang Tata Cara Memperoleh, Kehilangan, Pembatalan, dan Memperoleh Kembali Kewar-ganegaraan RI.

Dokumen terkait