STATUS DAN HAK MEWARISI ANAK DARI HASIL PERKAWINAN LAKI-LAKI BATAK DENGAN PEREMPUAN MINANGKABAU DI
NAGARI KOTO TANGAH, KECAMATAN TANJUNG EMAS, KABUPATEN TANAH DATAR, SUMATERA BARAT
A. Status Anak dari Hasil Perkawinan Laki-Laki Batak dengan
Perempuan Minangkabau Di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat
1. Status Anak dari Hasil Perkawinan Laki-Laki Batak dengan Perempuan Minangkabau Di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat Sebelum Tahun 1974
Masalah status dan kedudukan anak yang lahir dari perkawinan campuran adat sebelum tahun 1974 atau sebelum lahirnya UU No 1/1974 diatur dalam Pasal 11 dan 12 Stb. 1898/158. Pasal 11 menyatakan bahwa kedudukan anak yang lahir dari perkawinan campuran adalah mengikuti kedudukan hukum bapaknya. Kedudukan hukum anak-anak tersebut pada Pasal 11 oleh karena surat nikah ayah ibu mereka ada kekurangan syarat-syarat atau oleh sebab tidak ada surat nikah tidak dapat diperlihatkan jika anak-anak itu lahirnya mempunyai kedudukan hukum sebagai anak-anak ayah ibu mereka, sedangkan orang tua mereka hidup dengan terangan-terangan sebagai suami isteri. (Pasal 12).
Perkawinan campuran yang dilaksanakan sebelum tahun 1974 bukan berarti perkawinan tersebut tidak dilaksanakan menurut agama. Agama mempunyai peran terpenting walaupun pada tahun tersebut perkawinan tidak dicatatkan.
Di Indonesia, hubungan kedua orang tua dan anak ditentukan oleh hukum sang ayah. Status anak sendiri dibagi dalam 2 bagian, yaitu:
a. Anak yang sah, yaitu anak yang lahir dalam perkawinan orangtua.
b. Anak tidak sah, dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu anak yang lahir dari hubungan incest, anak yang lahir dari perzinahan, dan anak yang lahir di luar nikah.117
Anak yang lahir dari perzinahan ataupun yang lahir di luar nikah pada masyarakat hukum adat tidak dipermasalahkan karena anak tersebut tetaplah darah dagingnya, tetapi anak tersebut harus ikut kepada suku, adat dan sistem kekerabatan ibunya apabila anak yang dilahirkan tanpa bapak bagi anak tersebut.
Masyarakat yang melakukan perkawinan campuran adat masih saja mengikuti ego masing-masing dalam menentukan status dan kedudukan anak yang dihasilkan dari perkawinan me118
Dari hasil perkawinan campuran adat, tentunya menimbulkan beberapa permasalahan yang terjadi baik dalam status dan kedudukan anak yang dilahirkan dari dua suku, adat istiadat ataupun sistem kekerabatan yang berbeda. Hal tersebut sering terjadi pada masyarakat yang menikah secara beda suku, adat istiadat
reka, walaupun telah ada peraturan yang mengatur tentang hal itu.
117 Purnadi Purbacaraka, Agus Brotosusilo, Sendi-Sendi Hukum Perdata International
Suatu Orientasi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hal. 41.
118
ataupun sistem kekerabatannya, apalagi terjadi pada suku Batak dan Minangkabau yang kedua suku tersebut sama-sama kuat adatnya.
Pada masyarakat Batak yang menganut sistem kekerabatan patrilineal, masyarakat tersebut akan memilih anak laki-laki sebagai penerus garis keturunannya. Anak laki-laki tersebut yang akan mewarisi marga/suku dari bapaknya yang akan diturunkan lagi kepada generasi berikutnya, sedangkan pada masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, masyarakat tersebut memilih anak perempuan sebagai penerus garis keturunannya. Anak perempuan tersebut yang akan mewarisi marga/suku dari ibunya yang akan diturunkan kepada generasi berikutnya.
Apabila laki-laki Batak dan perempuan Minangkabau melakukan perkawinan, status dan kedudukan anak tentunya akan diperebutkan. Bapaknya yang bermarga/bersuku Batak tentu mengatakan anaknya ikut kepada suku Batak, begitu juga sebaliknya ibunya yang bermarga/bersuku Minangkabau juga mengatakan anaknya ikut suku Minangkabau. Agar tidak terjadinya perselisihan dalam menentukan status dan kedudukan anak dari hasil perkawinan laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau, kedua belah pihak berdiskusi untuk menentukan status dan kedudukan anak tersebut, dan dapat juga membuat perjanjian kawin sebelum perkawinan itu dilakukan.
Di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, terdapat beberapa orang yang melakukan perkawinan campuran
disebut juga dengan istilah lompek paga, begitu juga perkawinan yang dilakukan antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau sebelum tahun 1974, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang berikut ini :
Tabel 1. Pihak–pihak yang Melakukan Perkawinan antara Laki-laki Batak dengan Perempuan Minangkabau sebelum Tahun 1974
n = 10 No Nama Jenis kelamin Suku/Marga 1 Budi Firmansyah Lubis LK Batak
2 Salamudin Nasution LK Batak
3 Dedi Febrian Harahap LK Batak
4 Desmawati PR Minangkabau
5 Nurlela PR Minangkabau
6 Fatmawati PR Minangkabau
7 Syamsul Arifin Lubis LK Batak
8 Susi Amalia PR Minangkabau
9 Sari Haniffah PR Minangkabau
10 Beni R Siregar LK Batak
Sumber: Data Primer
Dalam wawancara dengan masyarakat yang melakukan perkawinan antara laki- laki Batak dengan perempuan Minangkabau sebelum tahun 1974 yaitu ada yang menyatakan memakai adat Batak dan Minangkabau sekaligus dalam upacara perkawinannya, ada juga yang memakai adat Batak saja dalam upacara
perkawinannya, dan sebaliknya ada yang memakai adat Minangkabau saja dalam upacara perkawinannya, seperti terlihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Upacara Perkawinan Adat yang Dilakukan oleh Laki-laki Batak dengan Perempuan Minangkabau sebelum Tahun 1974
n = 10
No Upacara Perkawinan Adat Frekuensi Persentase
1 Hukum Batak 2 20%
2 Hukum Minangkabau 3 30%
3 Hukum Batak & Minangkabau 5 50%
Jumlah 10 100%
Sumber: Data Primer
Data di atas menunjukkan bahwa narasumber yang melakukan perkawinan antara laki-laki batak dengan perempuan minangkabau sebelum tahun 1974 di tempat penelitian penulis menjawab 20% memakai hukum Batak dalam upacara perkawinan adatnya, 30% memakai hukum Minangkabau dalam upacara perkawinan adatnya, serta 50% memakai hukum Batak dan Minangkabau dalam upacara perkawinan adatnya.
Di tempat penelitian penulis dalam menentukan hukum yang berlaku untuk anak dari hasil perkawinan laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau sebelum tahun 1974, setelah dilakukannya wawancara dengan beberapa pihak yang
melakukan perkawinan lompek paga tersebut ada yang menyatakan memakai hukum adat Batak dan Minangkabau sekaligus untuk hukum anaknya, ada juga yang memakai hukum adat batak saja, dan sebaliknya ada juga yang memakai adat minangkabau untuk hukum anaknya, itu tergantung kesepakatan kedua belah pihak dalam menentukan hukum yang berlaku untuk anak mereka, seperti terlihat pada tabel berikut :
Tabel 3. Hukum yang Berlaku untuk Anak dari Hasil Perkawinan Laki- Laki Batak dengan Perempuan Minangkabau Sebelum Tahun 1974
n = 10
No Hukum yang berlaku Frekuensi Persentase
1 Hukum Batak 3 30%
2 Hukum Minangkabau 2 20%
3 Hukum Batak & Minangkabau 5 50%
Jumlah 10 100%
Sumber: Data Primer
Data di atas menunjukkan bahwa narasumber yang melakukan perkawinan antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau di tempat penelian penulis sebelum tahun 1974 menjawab 30% mereka memilih hukum Batak yaitu hukum dari bapaknya sebagai hukum adat anaknya. 20% mereka memilih hukum Minangkabau yaitu hukum ibunya sebagai hukum adat anaknya. Sementara 50%
dari mereka memilih hukum adat Batak dan Minangkabau sebagai hukum adat anak mereka tersebut.
Mereka yang memakai adat Batak dan Minangkabau sekaligus berpendapat bahwa dikarenakan mereka tinggal di lingkungan adat Minangkabau yang bersistem kekerabatan matrilineal, maka anak mereka ikut kepada ibunya yang bersuku Minangkabau serta bersistem kekerabatan matrilineal. Hal tersebut terjadi ketika berada di lingkungan adat Minangkabau saja, apabila si anak nantinya berkunjung ke kampung bapaknya maka suku yang digunakan suku bapaknya yaitu suku Batak yang bersistem kekerabatan patrilineal.119
Ada juga di antara mereka melakukan kesepakatan atau perjanjian kawin yang menyatakan bahwa status dan kedudukan anak dari hasil perkawinan mereka ikut kepada adat Minangkabau yaitu adat ibunya, karena pada saat perkawinan ikut adat istri.
120
Begitu juga sebaliknya ada juga yang menyatakan bahwa anaknya ikut kepada adat Batak yaitu adat bapaknya, karena pada saat perkawinan menggunakan adat suami.121
Perkawinan antara laki-laki Batak sebagai suami dengan perempuan Minangkabau sebagai istri yang dilakukan di kampung halaman suami kemudian menetap di kampung halaman isteri, terhadap suami tidaklah semata-mata berlaku hukum
119 Wawancara dengan Bapak Budi Firmansyah Lubis, Bapak Salamudin Nasution dan
Bapak Dedi Febrian Harahap di Nagari Koto Tangah, pada tanggal 5 Mei 2015.
120 Wawancara dengan Ibuk Desmawati dan Ibuk Nurlela di Nagari Koto Tangah, pada
tanggal 5 Mei 2015.
adat Minangkabau, melainkan ada pula peranan pentingnya dari hukum adat Batak.122
Masyarakat di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, tidak bisa memaksakan diri agar adat yang dipakai harus adat Minangkabau atau adat Nagari Koto Tangah, tetapi juga harus menghormati adat istiadat suku bangsa lainnya. Begitu juga ketika terjadi perkawinan antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau, harus juga menghormati hukum adat Batak tidak hanya memaksakan adat Minangkabau saja yang harus dipakai.
123
2. Status Anak dari Hasil Perkawinan Laki-Laki Batak dengan Perempuan Minangkabau Di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat Setelah Tahun 1974
Setelah lahirnya UU No 1/1974 tidak ada lagi yang mengatur tentang perkawinan campuran adat. Perkawinan campuran yang dimaksud dalam Undang-Undang tersebut adalah perkawinan beda kewarganegaraan. Perkawinan campuran adat dianggap biasa saja terjadi, asalkan dalam perkawinan tersebut bukanlah berbeda agama, karena di Indonesia hal tersebut tidak diperbolehkan.
Walaupun dalam perkawinan tersebut pihak laki-laki dan perempuan yang beda adat, suku atau kekerabatannya menikah dengan agama yang sama, bukan berarti tidak akan mendatangkan perselisihan dalam menentukan status dan kedudukan
122 Wawancara dengan bapak D. DT Simajo Lelo, Ketua KAN (Kerapatan Adat Nagari)
Nagari Koto Tangah, pada tanggal 9 Mei 2015.
123
Wawancara dengan Datuk Tambaro (Pimpinan Kaum/Suku di Nagari Koto Tangah), pada tanggal 8 Mei 2015.
anaknya nanti. Demikian juga yang terjadi bagi masyarakat yang melakukan perkawinan antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau yang suku, adat dan sistem kekerabatan yang berbeda. Perbedaan yang terjadi akibat kedua suku, adat dan sistem kekerabatan yang mereka miliki keduanya sama-sama kuat.
Di tempat penelitian penulis, masyarakat yang melakukan perkawinan lompek paga antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau setelah tahun 1974 melakukan perkawinan menurut agama Islam, bukan berarti adat istiadat mereka tinggalkan. Mereka menikah di mesjid atau di rumah pihak wanita yaitu tempat dilakukannya ijab kabul. Setelah ijab kabul maka dilakukanlah pesta adat (baralek). Seperti yang dilakukan oleh beberapa orang berikut ini :
Tabel 4. Pihak–pihak yang Melakukan Perkawinan antara Laki-laki Batak dengan Perempuan Minangkabau setelah Tahun 1974
n = 15 No Nama Jenis kelamin Suku/Marga
1 Tukimin Siregar LK Batak
2 Arwindes Nasution LK Batak
3 Yulianus Simanjuntak LK Batak
4 Henriwita PR Minangkabau
5 Elly Nuryanthi Harahap PR Batak
6 Janiar Jana PR Minangkabau
7 Maharut Simanjuntak LK Batak
9 Bodrek Simatupang LK Batak
10 Rahmi Izatti PR Minangkabau
11 Atika Tanjung PR Minangkabau
12 Ambril Nasution LK Batak
13 Annisa Rahman PR Minangkabau
14 Mutia Yulandari PR Minangkabau 15 Syamsul Rizal Harahap LK Batak
Sumber: Data Primer
Dalam wawancara dengan masyarakat yang melakukan perkawinan antara laki- laki Batak dengan perempuan Minangkabau setelah tahun 1974 yaitu ada yang menyatakan memakai adat Batak dan Minangkabau sekaligus dalam upacara perkawinannya, ada juga yang memakai adat Batak saja dalam upacara perkawinannya, dan sebaliknya ada yang memakai adat Minangkabau saja dalam upacara perkawinannya, seperti terlihat pada tabel berikut :
Tabel 5. Upacara perkawinan adat yang dilakukan oleh laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau setelah tahun 1974
n = 15
No Upacara Perkawinan Adat Frekuensi Persentase
1 Hukum Batak 4 26,7%
2 Hukum Minangkabau 5 33,3%
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Primer
Data di atas menunjukkan bahwa narasumber yang melakukan perkawinan antara laki-laki batak dengan perempuan minangkabau setelah tahun 1974 di tempat penelitian penulis menjawab 26,7% memakai hukum Batak dalam upacara perkawinan adatnya, 33,3% memakai hukum Minangkabau dalam upacara perkawinan adatnya, serta 40% memakai hukum Batak dan Minangkabau dalam upacara perkawinan adatnya.
Anak yang lahir dari perkawinan lompek paga antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau tersebut nantinya yang menjadi pemicu terjadinya perselisihan dalam menentukan status anak tersebut. Hal tersebut dapat diselesaikan dengan kesepakatan kedua orang tua dari anak tersebut. Anak mereka tersebut ikut adat, suku, dan sistem kekerabatan bapaknya atau ikut adat, suku, dan sistem kekerabatan ibunya. Permasalahan tersebut dapat juga diselesaikan dengan membuat perjanjian kawin sebelum mereka melaksanakan perkawinan.
Setelah dilakukannya wawancara untuk mengetahui status dan kedudukan anak dari hasil perkawinan antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau di tempat penelitian penulis setelah tahun 1974 yaitu karena dalam perkawinan mereka tersebut terdapat dua adat, suku, dan sistem kekerabatan maka mereka bersepakat bahwa anak laki-laki ikut kepada adat, suku, dan sistem kekerabatan bapaknya yaitu adat Batak. Sebaliknya anak perempuan ikut kepada adat, suku,
dan sistem kekerabatan ibunya yaitu adat Minangkabau.124 Mereka mengatakan bahwa anaknya ikut kepada hukum adat Batak karena bapak merupakan kepala rumah tangga, walaupun pada saat dilakukannya perkawinan menggunakan adat Minangkabau.125
Di tempat penelitian penulis terdapat juga perkawinan antara perempuan Batak dengan laki-laki Minangkabau, mereka mengatakan bahwa status dan kedudukan anak mereka ikut kepada adat, suku dan sistem kekerabatan bapaknya yaitu adat Minangkabau. karena bapak dari anak tersebut merupakan kepala rumah tangga, walaupun pada saat perkawinan dilangsungkan mereka memakai adat Batak.126
Di antara mereka juga melakukan musyawarah yang menyatakan bahwa status dan kedudukan anak dari hasil perkawinan mereka ikut kepada adat Minangkabau yaitu adat ibunya, karena pada saat perkawinan ikut adat istri.127 Begitu juga sebaliknya ada juga yang menyatakan bahwa anaknya ikut kepada adat Batak yaitu adat bapaknya, karena pada saat perkawinan menggunakan adat suami.128
Status anak tunggal yang lahir dari hasil perkawinan laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau yaitu tergantung jenis kelamin anak tersebut, apabila anak yang lahir adalah laki-laki maka ikut hukum bapaknya, dan sebaliknya
124
Wawancara dengan Bapak Tukimin Siregar dan Ibuk Henriwita di Nagari Koto Tangah, pada tanggal 5 Mei 2015.
125 Wawancara dengan Bapak Arwindes Nasution, Bapak Yulianus Simanjuntak dan
Bapak Marahut Simanjuntak di Nagari Koto Tangah, pada tanggal 15 Mei 2015.
126
Wawancara yang dilakukan dengan Ibuk Elly Nuryanthi Harahap di Nagari Koto Tangah, pada tanggal 15 Mei 2015.
127 Wawancara dengan Bapak Syafruni Nasution dan Ibuk Janiar Jana di Nagari Koto
Tangah, pada tanggal 13 Mei 2015.
128
Wawancara dengan Bapak Bodrek Simatupang di Nagari Koto Tangah, pada tanggal 14 Mei 2015.
apabila yang lahir anak perempuan maka ikut hukum ibunya, tetapi kembali lagi kepada kesepakatan kedua belah pihak dalam menentukan status anak tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam paparan tabel berikut:
Tabel 6. Hukum yang Berlaku untuk Anak dari Perkawinan Laki-Laki Batak dengan Perempuan Minangkabau Setelah Tahun 1974.
n = 15
No Hukum yang berlaku frekuensi Persentase
1 Hukum Batak 6 40%
2 Hukum Minangkabau 5 33,3% 3 Hukum Batak & Minang 4 26,7%
Jumlah 15 100%
Sumber: Data Primer
Data di atas juga menunjukkan bahwa narasumber yang melakukan perkawinan lompek paga antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, setelah tahun 1974 menjawab 40% mereka memilih hukum Batak yaitu hukum dari bapaknya sebagai hukum adat anaknya. 33,3% mereka memilih hukum Minangkabau yaitu hukum ibunya sebagai hukum adat anaknya. Dan 26,7% dari mereka memilih hukum adat Batak dan Minangkabau sebagai hukum adat anak mereka tersebut.
Dari tabel di atas dapatlah disimpulkan bahwa masyarakat yang melakukan perkawinan lompek paga antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau di tempat penelitian penulis setelah tahun 1974, dominan memilih hukum Batak sebagai hukum anaknya. Mereka memilih hukum adat Batak karena menurut mereka status dan kedudukan anak tersebut sebaiknya ikut kepada hukum bapaknya, karena dalam rumah tangga tersebut bapaklah sebagai kepala rumah tangga.
B. Hak Mewarisi Anak dari Hasil Perkawinan Laki-Laki Batak dengan Perempuan Minangkabau Di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat
Hak mewarisi anak dari perkawinan hukum adat dilaksanakan menurut daerahnya dan hukum adatnya masing-masing. Di Indonesia lebih menjunjung tinggi musyawarah untuk mufakat dalam hal menetapkan hak mewarisi harta warisan bagi anak dari hasil perkawinan. Di mana musyawarah tersebut berdasarkan rasa kekeluargaan agar tidak terjadinya perselisihan dalam hal membagi warisan, dan dapat menghasilkan pembagian secara adil bagi ahli waris.
Setelah dilakukan wawancara di tempat penelian penulis, hak mewarisi anak dari hasil perkawinan antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau tidak lepas dari hukum Islam, tetapi berlaku juga hukum adat dalam menentukan ahli warisnya, yaitu dominan dari orangtuanya kepada anak laki-laki sebagai ahli warisnya, anak perempuan juga memperoleh harta warisan, tetapi dengan jumlah
yang sedikit dibanding anak laki-laki, dan ada juga yang menjadi ahli warisnya anak laki-laki dan anak perempuan sekaligus, seperti terlihat pada tabel berikut :
Tabel 7. Anak yang Menerima Warisan dari Hasil Perkawinan Laki-Laki Batak dengan Perempuan Minangkabau.
n = 25
No Anak yang menerima warisan frekuensi Persentase
1 Anak laki-laki 10 40%
2 Anak perempuan 7 28%
3 Anak laki-laki dan perempuan 8 32%
Jumlah 25 100%
Sumber: Data Primer
Data di atas juga menunjukkan bahwa narasumber yang melakukan perkawinan lompek paga antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, menjawab 40% mereka memilih anak laki-laki sebagai ahli waris, 28% mereka memilih anak perempuan sebagai ahli waris. Dan 32% dari mereka memilih anak laki-laki dan perempuan sekaligus sebagai ahli waris.
Dari tabel di atas dapatlah disimpulkan bahwa masyarakat yang melakukan perkawinan lompek paga antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau di tempat penelitian penulis, dominan memilih anak laki-laki yang menjadi ahli waris tidak menutup kemungkinan anak perempuan juga menjadi ahli waris. Bagi
anak tunggal hak mewarisi diberikan oleh orangtuanya kepada anak tersebut, tidak memandang jenis kelamin anak yang lahir dari hasil perkawinannya.
C. Pembagian Harta Warisan untuk Anak dari Hasil Perkawinan antara Laki-laki Batak dengan Perempuan Minangkabau di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat
Di tempat penelitian penulis setelah dilakukannya wawancara kepada pihak-pihak yang melakukan perkawinan lompek paga antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau ada yang sudah membagi harta warisan, dan ada juga yang belum membagi harta warisan tetapi telah membuat wasiat terlebih dahulu agar tidak terjadinya perselisihan dalam membagi harta warisan tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam paparan tabel berikut :
Tabel 8. Pihak-pihak yang sudah/belum membagi warisan.
n = 25 No Membagi Warisan frekuensi Persentase
1 Sudah 6 24%
2 Belum 19 76%
Jumlah 25 100%
Sumber: Data Primer
Data di atas menunjukkan bahwa 24 % sudah membagi warisan dan 76 % belum membagi warisan.
Dalam pembagian harta warisan di tempat penelitian penulis setelah dilakukannya wawancara kepada pihak-pihak yang melakukan perkawinan lompek paga antara laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau ada yang menggunakan hukum adat, ada juga yang menggunakan hukum Islam, serta hukum adat dan hukum Islam sekaligus dalam membagi harta warisan dalam kehidupan sehari-seharinya tergantung kesepakatan kedua belah pihak, sebagaimana terdapat dalam tabel berikut:
Tabel 9. Hukum yang Digunakan dalam Membagi Harta Warisan untuk Anak dari Hasil Perkawinan Laki-laki Batak dengan Perempuan Minangkabau.
n = 25 No Hukum yang Digunakan frekuensi Persentase
1 Hukum Islam 10 40%
2 Hukum Adat 5 20%
3 Hukum Islam dan Adat 10 40%
Jumlah 25 100%
Sumber: Data Primer
Data di atas menunjukkan bahwa hukum yang digunakan dalam pembagian harta warisan untuk anak dari hasil perkawinan laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau, 40% memilih hukum Islam, 5% memilih hukum adat, dan 40% memilih hukum Islam dan hukum adat dalam pembagian harta warisannya.
Setelah 40 hari pewaris meninggal dunia, pembagian harta warisan menurut hukum adat tersebut dilakukan setelah musyawarah dilaksanakan secara kekeluargaan yang dihadiri oleh mamak-mamak dari pewaris, serta pemuka adat (Datuk), sebelum harta warisan dibagi ke masing-masing ahli waris, para ahli waris bertanggung jawab untuk melunasi utang dari pewaris.
Besarnya bagian masing-masing ahli waris yang memperoleh harta pusaka rendah berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak dari hasil perkawinan laki-laki Batak dengan perempuan Minangkabau yaitu :
a. Apabila suami meninggal dunia, yang menjadi ahli waris yaitu : 1) Anak kandung yang terdiri dari :
a) Anak laki-laki, memperoleh 2 : 1 dari bagian anak perempuan dari harta warisan.
b) Anak perempuan, memperoleh ½ bagian dari bagian anak laki-laki. 2) Janda, memperoleh 1/3 bagian dari harta warisan.
b. Apabila isteri meninggal dunia, yang menjadi ahli waris yaitu : 1) Anak kandung yang terdiri dari :
a) Anak laki-laki, memperoleh 2 : 1 dari bagian anak perempuan dari harta warisan.
b) Anak perempuan, memperoleh ½ bagian dari bagian anak laki-laki. 2) Duda, memperoleh ¼ bagian dari harta warisan.