PERSENTASE PENDUDUK 10 TAHUN KEATAS MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN YANG DITAMATKAN DI PROVINSI NTB,
D. Status Gizi
Beberapa data menunjukkan bahwa adanya hubungan timbal balik
antara kurang gizi dan kemiskinan. Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau
akar masalah gizi buruk. Proporsi anak yang gizi kurang dan gizi buruk
berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk, makin
tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi, makin tinggi pendapatan makin kecil
persentasinya. Kurang Gizi berpotensi sebagai penyebab kemiskinan melalui
rendahnya pendidikan dan produktivitas.
Kemiskinan merupakan penghambat keluarga untuk memperoleh akses
terhadap ketiga faktor penyebab kekurangan gizi di atas, tetapi untuk mencegah
gizi buruk tidak harus menunggu berhasilnya pembangunan ekonomi sampai
ketersediaan pangan dalam rumah tangga, asuhan gizi keluarga dan akses keluarga
terhadap pelayanan kesehatan.
Pada saat ini 50% rumah tangga masih mengalami kekurangan
konsumsi pangan dengan rata-rata asupan kalori di bawah kecukupan sehari-hari
(<2100 K.kal). Hal ini diperberat dengan asuhan gizi keluarga yang belum
mendukung seperti persentase bayi yang diberi ASI eksklusif (41,13%),
pemberian makanan pendamping ASI anak usia 6 – 23 bulan dari keluarga miskin
(16,24%), persentase Balita ditimbang sebanyak 62,54%, keluarga mengkonsumsi
garam beryodium dengan kualitas cukup, masih rendah yaitu 44,24% dengan
cakupan gizi buruk yang mendapat perawatan 65,15%.
Status gizi balita dapat merupakan salah satu indikator untuk
mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat disamping itu juga dapat
menunjukkan kualitas fisik penduduk. Penemuan kasus gizi buruk dari tahun ke
tahun mengalami penurunan. Pada tahun 2008 sebesar 1.207 orang menjadi 926
pada tahun 2009 dan menurun menjadi 731 pada tahun 2010. Selengkapnya dapat
dilihat pada gambar III.16 berikut ini :
Gambar III. 16
Cakupan Balita Gizi Buruk di Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2008 s/d 2010 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 2008 56 285 0 84 401 214 31 51 66 19 1.207 2009 48 156 58 75 307 115 7 43 86 31 926 2010 41 128 23 74 284 72 15 35 49 10 731 Kota
Mtr. Lobar KLU Loteng Lotim Sbw KSB Dompu Bima Kota Bima NTB.
Menurunnya kasus Gizi buruk dari tahun ke tahun tidak terlepas dari
usaha tenaga pengelola gizi di dalam meningkatkan respon cepat melalui
survailance gizi aktif dengan mengoptimalkan kegiatan posyandu dan pekan
penimbangan dalam rangka penemuan kasus dan tidak lanjut penanganannya,
namun masih saja ditemukan kematian akibat gizi buruk seperti terlihat pada
gambar III.17 berikut :
Gambar III. 17
JUMLAH KEMATIAN KASUS GIZI BURUK PER KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI NTB TAHUN 2008 - 2010 0 20 40 60 Kabupaten/Kota J u m la h K e m a ti a n 2008 5 9 16 9 0 0 2 4 0 45 2009 1 9 8 11 3 0 4 6 0 2 44 2010 3 3 9 8 2 2 1 5 2 0 35
Mataram Lobar Loteng Lotim KSB Sumbaw a Dompu Bima Kota Bima Lombok Utara NTB
Cita–cita Provinsi Nusa Tenggara Barat di bidang kesehatan yang ingin dicapai di
masa depan dan dituangkan dalam visi Dinas Kesehatan adalah “Masyarakat Nusa
Tenggara Barat yang mandiri untuk hidup sehat”, ada tiga kata kunci dalam visi
pembangunan Kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Barat 2009 – 2013 tersebut, yaitu :
Kata “Masyarakat Nusa Tenggara Barat “ : mengandung pengertian seluruh warga
masyarakat yang hidup dan tinggal di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Kata “Mandiri“ : berarti masyarakat yang mempunyai kemauan dan kemampuan
dalam mengakses upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pelayanan
Kesehatan.
Kata “Hidup Sehat“ : mengandung makna suatu kondisi bebas dari gangguan
kesehatan dan mampu berinteraksi sosial, beraktivitas serta produktif.
Untuk mewujudkan visi tersebut di atas berbagai upaya ditempuh hingga perlu
dirumuskan misi Dinas Kesehatan dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan di
Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebagai berikut :
1. Meningkatkan kemandirian masyarakat untuk hidup sehat melalui kemitraan
dan pemberdayaan.
2. Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan.
3. Meningkatkan derajat kesehatan Ibu, Bayi dan Anak Balita.
Program Pembangunan Kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Rencana
Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) tahun 2009 – 2013 diuraikan dalam BAB IV
sembilan pokok program meliputi : (1) Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan
masyarakat; (2) Upaya Kesehatan Masyarakat; (3) Upaya Kesehatan Perorangan; (4)
Perbaikan Gizi Masyarakat; (5) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular; (6)
Lingkungan Sehat; (7) Obat dan Perbekalan Kesehatan; (8) Peningkatan Sumber Daya
Kesehatan; (9) Kebijakan & Manajemen Pembangunan Kesehatan.
Di samping sasaran utama ada pula sasaran–sasaran secara internasional yang
dituangkan dalam Millenium Development Goals (MDGs) bidang kesehatan yaitu :
memberantas kelaparan dan kemiskinan yang ekstrim; memperoleh pendidikan dasar;
mempromosikan persamaan gender dan pemberdayaan perempuan; mengurangi jumlah
kematian anak; meningkatkan kesehatan maternal (kesehatan ibu); memerangi HIV/AIDS,
malaria dan penyakit lainnya; menjamin kelangsungan hidup; dan mengembangkan
kerjasama global untuk pembangunan. Perlu juga diperhatikan adanya perkembangan
lingkungan strategis (linstra), baik dalam lingkup internasional, nasional dan lokal yang
akan mempengaruhi penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Di samping 4 (empat) isu
pokok di atas, Kementrian Kesehatan memandang perlu untuk menambahkan isu penting
lainnya yaitu dukungan manajemen dalam peningkatan pelayanan kesehatan yang
termasuk di dalamnya adalah good governance, desentralisasi bidang kesehatan dan
struktur organisasi yang efektif dan efisien.
Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam melaksanakan tugas pokok
dan fungsinya berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi NTB Nomor 7 tahun 2008 tentang
organisasi dan Tata Kerja Dinas–Dinas Provinsi Nusa Tenggara Barat, dengan struktur
KEPALA DINAS PERDA: 7/2008
SEKRETARIAT
SUB BAG. PROGRAM DAN PELAPORAN
SUB BAG. KEUANGAN
SUB BAG. UMUM DAN KEPEGAWAIAN KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
BIDANG
BINA YANKES DASAR DAN RUJUKAN BIDANG BINA KESEHATAN MASYARAKAT BIDANG PENGENDALIAN PENYAKIT DAN LINGKUNGAN BIDANG PENGEMBANGAN SDMK DAN PROMOSI KESEHATAN SEKSI SARANA PELAYANAN KESEHATAN SEKSI SERTIFIKASI DAN PERIJINAN SEKSI KEFARMASIAN MAKMIN DAN ALAT
KESEHATAN
SEKSI KESEHATAN IBU DAN
ANAK
SEKSI KESEHATAN REMAJA
DAN USIA LANJUT
SEKSI GIZI MASYARAKAT
SEKSI SURVEILANS EPIDEMIOLOGI/IMUN
ISASI & KESEHATAN BENCANA SEKSI PENGENDALIAN PENYAKIT SEKSI PENYEHATAN LINGKUNGAN SEKSI PENGEMBANGAN SUMBER DAYA KESEHATAN SEKSI PENDAYAGUNAAN NAKES SEKSI PROMOS IKESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UPT
Berdasarkan peraturan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor : 21 Tahun 2008
tanggal 26 Agustus 2008 tentang rincian tugas, fungsi dan Tata Kerja Dinas–Dinas Daerah
Provinsi Nusa Tenggara Barat, Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat
mempunyai tugas membantu Gubernur dalam melaksanakan melaksanakan urusan
pemerintahan daerah bidang kesehatan berdasarkan azas otonomi, tugas pembantuan dan
dekonsentrasi.
Tujuan pembangunan kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dan dalam rangka mewujudkan visi dan misi
Dinas Kesehatan dimana salah satu strategi utamanya adalah “Meningkatkan akses
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas“. Untuk mencapai keadaan
tersebut telah dilakukan berbagai upaya kesehatan masyarakat sebagaimana uraian di