Setelah dibubarkannya Departemen Penerangan, status RRI dan TVRI sempat tidak jelas meski hanya beberapa bulan. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 4 Tahun 2000 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Penyiaran, yang ditanda-tangani Menteri Agum Gumelar pada 26 Januari 2000, mestinya RRI dan TVRI menjadi bagian dari Departemen Perhubungan. Keputusan Menteri tersebut merujuk pada Keputusan Presi den Nomor 136 Tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Departemen. Pada Pasal 5 ayat 10 huruf (a) disebutkan bahwa Departemen Perhu bungan memiliki fungsi penetapan kebijakan pelaksanaan, kebijakan teknis dan pengendalian pelaksanaannya, penge lolaan kekayaan negara, serta perumusan dan penyiapan ke-bijakan umum di bidang perhubungan yang mencakup transportasi ter padu meliputi darat, laut, udara, pos dan telekomunikasi, serta penyiaran, search and rescue (SAR), dan meteorologi dan geo fisika ber dasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Berpijak dari Keppres Nomor 136/1999 yang ditandatangani oleh Presiden Abdurrah man Wahid (Gus Dur) pada 10 November 1999 selanjutnya disusun organisasi dan tata kerja Direktorat Jenderal Penyiaran. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 2 Kepmen ter sebut, keberadaan Direktorat Jenderal Penyiaran bertugas menye leng
gara-kan sebagian tugas dari Departemen Perhubungan berdasargara-kan ke-bijakan yang ditetapkan oleh Menteri Perhubungan dan peraturan pe-rundangan yang berlaku. Mencermati substansi dari Kepmen Nomor 4/2000 tersebut sangat jelas bahwa kedudukan Direktorat Jenderal Penyiaran di bawah Departemen Perhubungan tidak ada bedanya dengan waktu berada di bawah Departemen Penerangan, yakni hanya sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) sehingga tidak akan mungkin mendapatkan kemandirian.
Akan tetapi, keberadaan Direktorat Jenderal Penyiaran ditolak oleh angkasawan RRI. Dalam jumpa pers di Hotel Sriwedari Yogya-karta, Senin, 8 Mei 2000 Forum Diskusi Angkasawan RRI Nusantara II yang berasal dari RRI Denpasar, Surabaya, Malang, Madiun, Surakarta, Purwokerto, Semarang dan Yogyakarta; mereka mendesak agar UU No. 24 Tahun 1997 dicabut dan digantikan dengan UU Penyiaran yang memungkinkan RRI dapat indepen den dan professional. Mereka juga mendesak agar keberadaan Kepmenhub Nomor 4 Tahun 2000 ditinjau Kembali. Menurut mereka, jika Kepmenhub tersebut tidak dicabut, ibaratnya RRI itu keluar dari mulut singa masuk ke mulut singa yang lebih ganas lagi. Oleh karenanya, pada kesempatan tersebut Kabul Budiono menyatakan bahwa angkasawan RRI memilih opsi menjadi Perusahaan Jawaban (Perjan) plus agar tetap dapat menjalankan fung-si nya sebagai radio publik yang independen dan profefung-sional (Jawa
Pos, 9/5 dan Kompas, 10/5/2000).
Dinamika untuk mempertahankan eksistensi diri juga dilakukan oleh TVRI pascabu bar nya Departemen Penerangan. Melihat ke mung-kinan tercerai-berainya karyawan TVRI di seluruh Indonesia, Kepala Subdit Bina Produksi Direktorat TV Ditjen RTF Deppen Hardi Sofyan segera mengambil inisiatif untuk melakukan upaya-upaya pencegahan terjadinya kemungkinan terburuk yang menimpa karyawan TVRI. Koordinasi pun segera dilakukan dengan menunjuk Harmens Taher sebagai koordinator lapangan. Mereka bekerja secara sistematis dan terorganisir untuk melakukan lobi-lobi guna mendukung tetap eksisnya TVRI (Intani, 2017).
Adapun pembagian tugas lobinya, yaitu Tribowo Kriswinarso bertugas melobi Menko pol kam dengan tujuan agar masalah TVRI tetap tercantum menjadi salah satu dari sepuluh poin dalam setiap Rakor Polkam untuk direkomendasikan pada sidang kabinet. France Djasman bertugas melobi Menteri Negara PAN mengenai nasib pegawai TVRI yang berstatus PNS. Sutrimo bertugas melobi Presiden Abdulrahman Wahid untuk pertemuan dengan Direktur TV dan Direktur Radio. Sementara itu Marfa Edison melakukan pendekatan dengan pihak DPR RI dan mengawal segala hal yang berkaitan dengan TVRI di lingkungan Kantor Menteri Sekretaris Negara. Eddy Emir, Bin Thalib Hasan dan Nelwan Yus secara intensif melakukan pendekatan terhadap pimpinan MPR RI dan DPR RI, antara lain Amin Rais, AM. Fatwa, Soetardjo Suryoguritno, Permadi. Adapun Purnama Suwardi, Cosmalinda Iskandar, dan Gatot Budi Utomo bertugas menyu sun konsep peraturan dan pengem bangan TVRI termasuk Blue Print dan Corporate Plan. Selain pe jabat negara, lobi juga dilakukan oleh pihak TVRI kepada tokoh-tokoh masyarakat yang dipandang memiliki kemampuan untuk turut mem per juangkan masa depan TVRI. Tokoh yang dimaksud misalnya Gus Mus (KH. Mustofa Bisri), KH. Sholahuddin Wahid, Syaifullah Yusuf, Syafei Ma’arif, Al Zastrouw, dan Frangky Sahilatua. Selain ke perororangan, lobi juga dilakukan secara kelembagaan, misalnya ke Perguruan Tinggi (UI, Forum Rektor), dan LSM seperti LBH, Yayasan SET, dan WALHI (Intani, 2017). Pembagian tugas tidak hanya untuk mereka yang ada di pusat, tetapi juga yang ada di daerah seperti dikisahkan oleh Intansi berikut:
Sementara dari daerah Retno Intani ZA (TVRI Yogyakarta) ber tugas menerjemahkan buku–buku atau naskah–naskah yang berkaitan dengan TV Publik untuk keperluan penyusunan konsep dan Dedi Iskandar Muda (TVRI Surabaya) bertugas berkoordinasi dengan organisasi penyiaran Internasional seperti ABU, EBU, ILO dan negara negara sahabat yang bersimpati terhadap keberadaan TVRI. Karyawan di semua lini bergerak dan berjuang agar TVRI
tetap eksis meskipun Deppen dibubarkan. Sriyati, H. Syalnas, Irwan Buana, Azhar Gunawan, Ganef Djatitomo dan Bernardi berada pada posisi penggalangan dana dan logistik. Sedangkan Dedi Permadi, Erwin dan Heriyanto bertugas membantu berkoordinasi dengan kantor MENPAN dan BKN. (Intani, 2017: 200)
Merespon desakan angkawasan RRI, perjuangan karyawan TVRI, dan dorongan berbagai pihak untuk menyelamatkan RRI dan TVRI sebagai institusi penting untuk kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia maka Presiden Abdurrahman Wahid pada 7 Juni 2000 mendata nga ni Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2000 tentang Pendirian Perusahaan Jawatan Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan PP Nomor 37 tentang Pendirian Perusahaan Jawatan Radio Republik Indonesia (RRI). Kedua PP tersebut pada dasarnya hanya copy paste, sama-sama terdiri dari 55 Pasal. Pembedanya hanya kata “TVRI” pada PP Nomor 36 dan kata “RRI” pada PP Nomor 37. Namun, kedua PP tersebut dapat dikatakan sebagai embiro lahirnya penyiaran publik di Indonesia. Hal itu dapat dibuktikan dengan adanya 5 pasal yang memuat ketentuan mengenai semangat penyiaran publik di masing-masing PP tersebut sebagaimana dapat dibaca pada Tabel 1.
Tabel 1: Pengaturan tentang Penyiaran Publik dalam PP No. 36 dan 37 Tahun 2000
Nomor
PP Pasal Bunyi Ketentuan
36/37 3 Perjan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah Badan usaha Milik Negara yang diberi tugas dan wewenang untuk menye-leng gara kan kegiatan usaha jasa penyiaran publik dalam bidang penyiaran televisi/radio.
36/37 6 Maksud dan tujuan Perjan adalah menyelenggarakan kegiatan pe-nyiaran televisi/radio sesuai dengan prinsip-prinsip televisi publik yang independen, netral, mandiri dan program siarannya senantiasa berorientasi kepada kepentingan masyarakat serta tidak semata-mata mencari keuntungan.
36/37 7 Untuk mencapai maksud dan tujuan sebagaimana dimaksud pasal 6, Perjan menyelenggarakan kegiatan usaha jasa penyiaran publik dalam bidang informasi, pendidikan dan hiburan serta usaha-usaha terkait lainnya yang dilakukan dengan standar kualitas yang tinggi. 36/37 8 Untuk mendukung pembiayaan kegiatan Perjan dalam rangka
mencapai maksud dan tujuan sebagaimana dimaksud pasal 7, PerjaJn dapat menerima:
a. bantuan dan atau subsidi yang berasal dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara berupa uang ataupun barang; b. iuran penyiaran;
c. kontribusi siaran iklan niaga dari lembaga penyiaran televisi swasta;
d. hasil kerja sama dengan pihak lain yang terkait; e. hasil usaha-usaha lain yang sah.
36/37 53 1. Selain Direksi dan Dewan Pengawas Perjan, pihak lain manapun dilarang mencampuri pengurusan dan pengelolaan Perjan.
2. Instansi pemerintah dilarang membebani Perjan di luar tugas pokok dan fungsi Perjan.
Berdasarkan PP 36 dan 37 Tahun 2000, status kelembagaan TVRI dan RRI mengalami transformasi dari status sebelumnya se-ba gai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Penerangan yang kemu dian masuk ke klaster Badan Usaha Milik Negara/BUMN di bawah Kementerian Keuangan. Meskipun sama-sama berada di ba-wah suatu kementerian, tetapi ada perbedaan dari aspek ke man di ri an. Posisi Perjan menjadikan TVRI/RRI lebih otonom dibanding waktu men jadi UPT di bawah Departemen Penerangan (Deppen). Hal itu karena PP 36 dan 37 Tahun 2000 dengan jelas menyatakan bahwa TVRI dan RRI menjalankan fungsi sebagai penyiaran publik sehingga selain direksi dan dewan pengawas dilarang mencampuri penguru-san dan pengelolaan Perjan RRI dan TVRI. Perbedaan karakteristik manajemen RRI dan TVRI antara sebagai UPT dan Perjan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2: Perbedaan karakteristik manajemen RRI dan TVRI antara sebagai UPT dan Perjan
Aspek Status Kelembagaan Keterangan
UPT Perjan
Induk
Organisasi Deppen Departemen Keuangan Sebagian urusan di kementerian BUMN Struktur
organisasi Ditjen RTF, direktorat radio dan televisi, stasiun nasional, stasiun daerah
Kantor Pusat, Cabang Utama, Cabang Madya, Cabang Muda, Cabang Pratama Status
Pejabat struktural
Eselon Vb-IIa Non-eselon disetarakan
Sumber dana APBN Subsidi APBN berupa uang ataupun barang; iuran penyiaran; kontribusi siaran iklan niaga dari penyiaran TV Swasta; hasil kerja sama dengan pihak lain yang terkait; hasil usaha-usaha lain yang sah
Pada masa awal Perjan sepenuhnya dari APBN
Orientasi
bisnis Tidak ada Sangat kuat Setiap Ka-cab perbulan wajib setor ke kantor pusat
Sifat
penge-lolaan Birokratis Semi profesional Untuk urusan kepega-waian (PNS) mengi kuti prosedur birokrasi Kontrol isi
siaran Semua pejabat Deppen, dan institusi negara lainnya yang terkait
Dewan Pengawas, dan
masyarakat Pihak di luar Direksi dan Dewan Pengawas dilarang mencampuri urusan Perjan RRI/ TVRI
Tingkat
otonomi Sangat rendah Tinggi Selain masalah kepe-ga waian dan subsidi APBN, sepenuhnya ada di tangan Perjan
Setelah lahirnya UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran, kelima pasal tersebut kemudian diadopsi ke dalam Peraturan Peme-rin tah Nomor 12 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI), dan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia.
Posisi sebagai Perjan dapat memperjelas status kelembagaan RRI dan TVRI setelah di bu barkannya Deppen, dan ditolaknya kehadiran Direktorat Jenderal Penyiaran di bawah Kementerian Perhubungan. Status Perjan sekaligus menjadi cikal bakal (embrio) bagi lahirnya penyiaran publik di Indonesia. Proses ini bersamaan waktunya dengan diluncurkan nya draf RUU Usul Inisiatif DPR RI tentang Penyiaran yang di dalamnya terdapat pasal mengenai Lembaga Penyiaran Publik.
Namun, di sisi lain posisi Perjan menimbulkan dilema bagi RRI dan TVRI. Sebab, di satu sisi RRI dan TVRI dinyatakan sebagai penyiaran publik yang mestinya bersifat nonkomersial, tetapi di sisi lain status Perjan menuntut RRI dan TVRI mencari keuntungan. Contoh kasus, berdasarkan Nota Dinas Direktur Utama Perjan RRI Nomor 20/Dirut/SEK/2002 terhitung per Januari 2002 setiap kantor cabang RRI wajib menyetor ke kantor pusat dengan besaran yang berbeda-beda. Untuk kategori Cabang Madya I wajib setor per bulan Rp 40 juta; Cabang Madya II Rp 30 juta; Cabang Muda I Rp 20 juta; Cabang Muda II Rp 15 juta, Cabang Pratama I Rp 12,5 juta, dan Cabang Pratama II sebesar Rp 7,5 juta. Selain dari aspek mencari keuntungan, status Perjan juga membawa konskuensi berubahnya nomenklatur posisi struktural. Sejak masa itu mulai dikenal istilah Dewan Pengawas dan Dewan Direksi. Sebutan untuk kepala RRI/TVRI yang semula disebut Kepala Stasiun RRI/TVRI berubah menjadi Kepala Cabang. Pejabat struktural di bawahnya ke mu dian disebut manager (Darmanto, 2004). Jadi, kesannya memang sangat bisnis dan branding sebagai penyiaran publik tidak terbentuk.
Masa berlakunya status Perjan bagi RRI dan TVRI berbeda. Untuk RRI status Perjan berakhir dengan terbentuknya Dewan Pengawas dan Dewan Direksi Lembaga Penyiaran Radio Republik Indonesia
(LPP RRI) pada paruh kedua tahun 2005 sesuai dengan PP Nomor 12 Tahun 2005 sebagai turunan dari UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Sementara itu, status Perjan TVRI secara formal berakhir pada 17 April 2002 dengan keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2002 Tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Jawatan (Perjan) Televisi Republik Indonesia Menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Proses peralihan dari Perjan menjadi Persero itulah yang menjadi sebab bagi TVRI mengalami keterlambatan mengimplementasikan PP Nomor 13 Tahun 2005 tentang Penyele nggaraan Penyiaran Lembaga Pe nyiar an Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI). Sejauh ini be lum ada akses informasi yang dapat mengungkapkan alasan alih status Perjan TVRI menjadi PERSERO di tengah proses pembahasan RUU Penyiaran. Akan tetapi, kalau melihat bagian konsideran, peng a lihan status itu dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan jasa penyiaran kepada masyarakat oleh pihak TVRI. Adapun maksud dan tujuan didirikannya Persero TVRI adalah (a) menyelenggarakan kegiatan penyiaran televisi sesuai dengan prinsip-prinsip televisi publik yang independen, netral dan man diri guna meningkatkan dan mengembangkan sikap mental sya rakat Indonesia, meningkatkan pengetahuan dan kecerdasan ma-sya rakat, serta lebih memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa; (b) menyelenggarakan usaha di bidang pertelevisian yang meng hasil-kan program siaran yang sehat dan bermutu tinggi sekaligus dapat me mu puk keuntungan berdasarkan prinsip-prinsip pengelolaan peru sa ha an yang modern dan profesional; (c) menyelenggarakan usaha-usaha lainnya yang dapat menunjang tercapainya maksud dan tu juan Persero sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b.
Berdasarkan uraian singkat pada bab ini, dapat disimpulkan bah wa status Perjan bagi RRI merupakan masa transisi dari status se be lum nya sebagai UPT Departemen Penerangan bertransformasi men jadi Lembaga Penyiaran Publik. Sementara itu bagi TVRI, proses trans for masi dari UPT Departemen Penerangan menjadi Lembaga Penyiaran Publik melewati tahap sebagai Perjan dan Persero.