BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Stomatitis Aftosa Rekuren
Stomatitis aftosa rekuren (SAR) merupakan salah satu ulser pada mukosa rongga oral yang paling umum terjadi secara berulang yang berbentuk oval atau bulat. SAR merupakan salah satu jenis ulser inflamatif dan dapat menimbulkan rasa sakit pada saat makan, menelan dan berbicara.7
2.1.1 Epidemiologi
SAR merupakan suatu kondisi yang sangat umum terjadi dengan prevalensi sebesar 20% dari populasi, dan prevalensi pada kelompok anak-anak sebesar 5-10%. Prevalensi terjadinya SAR sekitar 80% merupakan tipe minor. Berdasarkan jenis kelamin, SAR cenderung lebih banyak ditemukan pada wanita.12
2.1.2 Gambaran Klinis
Permulaan terjadinya SAR biasanya terjadi pada masa kanak-kanak, dengan kecenderungan frekuensi dan keparahan terjadinya ulser berkurang seiring bertambahnya usia.7 Gejala prodromal seperti rasa terbakar atau rasa sakit yang terlokalisir selama 24 sampai 48 jam biasanya menyertai terjadinya SAR. Ulser yang terbentuk terasa sakit, terlihat jelas, dangkal, berbentuk oval atau bulat, ditutupi eksudat putih keabu-abuan dan dikelilingi oleh pinggiran eritema.3,4,7
2.1.3 Klasifikasi
Klasifikasi SAR berdasarkan gambaran klinis terdiri atas 3, yaitu : 1. SAR minor
SAR minor disebut juga sebagai Mikulicz’s aphthae atau cancer sore. 10,17 SAR minor merupakan bentuk SAR yang paling sering diderita dengan prevalensi
cenderung mengenai daerah-daerah non-keratin, seperti mukosa labial, mukosa bukal, dan dasar mulut. Ulserasi biasanya tunggal atau berkelompok yang terdiri atas empat atau lima dan akan sembuh dalam waktu 10 sampai 14 hari tanpa meninggalkan bekas (Gambar 1).2-6
Gambar 1. SAR minor.9
2. SAR mayor
Jenis SAR ini merupakan jenis SAR yang lebih hebat daripada SAR minor.3 Biasanya ulsernya lebih dalam dan lebih besar daripada SAR minor. Ulser ini berdiameter kira-kira 1 sampai 3 cm, berlangsung selama 4 minggu atau lebih dan dapat terjadi pada bagian mana saja dari mukosa mulut, termasuk daerah-daerah berkeratin.4-11 Demam, disfagia (kesulitan menelan), dan malaise (perasaan tidak sehat, tidak nyaman, dan lemas) biasanya dapat menyertai terjadinya SAR mayor (Gambar 2).10
Gambar 2. SAR mayor.9
3. Ulser Rekuren Herpetiform
Rekuren ulser herpetiform merupakan jenis SAR yang paling jarang terjadi. Gambaran klinisnya berupa ulser multipel (5-100), berdiameter 1 sampai 3 mm, bulat, sakit dan dapat terdapat pada berbagai tempat pada rongga mulut.9-10 Ulser yang terbentuk cenderung akan berkelompok sehingga menghasilkan ulser yang lebih besar dan dapat sembuh sekitar 2 minggu. Penyembuhan jenis SAR ini akan meninggalkan bekas luka.9 Jenis SAR ini biasanya lebih banyak terjadi pada wanita dan terjadi pada usia yang sudah tua (Gambar 3).10
SAR merupakan kelainan rongga mulut berupa ulser dengan etiologi yang belum pasti.9 Beberapa faktor predisposisi terjadinya SAR adalah :
1. Trauma
Beberapa peneliti membuktikan bahwa trauma merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya SAR. Beberapa insidens yang dapat menimbulkan trauma pada rongga mulut seperti menyikat gigi, flossing, mengonsumsi makanan, maloklusi, dan beberapa perawatan dental telah dibuktikan menjadi faktor predisposisi terjadinya SAR.3,10
2. Ketidakseimbangan hormonal
Pada wanita, terutama pada siklus menstruasi mengalami penurunan hormon estrogen. Hormon estrogen berperan dalam maturasi sel, termasuk sel epitel oral dan hal ini berpengaruh pada mukosa oral sehingga pada siklus ini wanita cenderung menderita SAR.41
3. Faktor imunologi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor autoimun dan reaksi hipersensitivitas pada mikroflora rongga mulut merupakan faktor etiologi terjadinya SAR. Penelitian lain menunjukkan bahwa lymphocytotoxicity, antibody-dependent
cell-mediated cytotoxicity dan kerusakan pada sel limfosit merupakan beberapa faktor
etiologi terjadinya SAR. Sitokin, seperti interleukin-2 2) dan interleukin-10 (IL-10) dan penurunan aktivitas sel natural killer (sel NK), juga memegang peranan terjadinya SAR.9 Penelitian terbaru menunjukkan bahwa TNF α memegang peranan penting dalam terjadinya SAR. Meskipun mekanisme kerjanya masih belum diketahui, pembentukan SAR melibatkan produksi sel T, makrofag, sel mastosit dan TNF α. Identifikasi dari peranan TNF α pada SAR dapat membantu dalam terapi SAR dengan menggunakan sintesis inhibitor TNF α, seperti thalidomide dan pentoxifylline.9,10
Pasien yang menderita SAR biasanya adalah mereka yang tidak merokok, prevalensi yang lebih rendah dijumpai pada mereka yang perokok berat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa onset SAR dimulai ketika mereka berhenti merokok.3,9
5. Defisiensi hematologik
Defisiensi vitamin B12, folat, atau zat besi telah dilaporkan terdapat pada sekitar 20% penderita SAR.14 Defisiensi ini lebih sering terjadi pada pasien usia menengah atau lebih tua yang menderita SAR. Pada pasien yang terbukti menderita defisiensi vitamin B12 atau folat, penanganan defisiensi tersebut menjadi solusi yang cepat dalam penyembuhan ulser.15
6. Herediter
Beberapa penelitian menunjukkan faktor genetik merupakan etiologi terjadinya SAR. Lebih dari 42% pasien dengan SAR memiliki saudara kandung yang juga menderita SAR. Prevalensi sebesar 90% ditemukan pada kedua orang tua yang juga menderita SAR, tetapi prevalensinya berkurang menjadi 20% jika hanya salah satu orang tua yang menderita SAR. Pada penderita dengan riwayat keluarga yang menderita SAR kemungkinan akan menderita SAR yang lebih parah dan onsetnya dapat terjadi pada umur yang lebih muda.9-11
7. Mikroorganisme
Beberapa mikroorganisme memiliki peran penting dalam patogenesis terjadinya SAR. Streptococus oral, Helicobacter pylori dan virus merupakan beberapa contoh mikroorganisme yang dapat menyebabkan SAR. Streptococus oral merupakan antigen yang dapat menyebabkan lesi pada rongga mulut termasuk SAR.
Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif yang kebanyakan berada pada
plak dan juga dapat menyebabkan lesi pada rongga mulut.43 2.1.5 Diagnosis
Diagnosis SAR berdasarkan pada gambaran klinis dari ulser dan riwayat kesehatan. Gambaran klinis berguna untuk menentukan klasifikasi SAR (minor,
keadaan sistemik yang dapat menyebabkan terjadinya SAR. 2.1.6 Manajemen
Karena etiologi dari SAR yang belum diketahui secara pasti hingga saat ini, perawatan terhadap SAR masih belum dapat ditentukan secara pasti. Perawatan terhadap SAR biasanya bertujuan untuk :9,10
1. Mengurangi gejala-gejala SAR 2. Mengurangi jumlah dan ukuran ulser
3. Mengurangi periode rekurensi terjadinya SAR
Perawatan terbaik adalah jenis obat yang dapat mengurangi periode rekurensi dengan efek samping minimal.10 Manajemen pada ilmu Penyakit Mulut biasanya meliputi :
1. Edukasi
Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit yang sedang diderita. Jelaskan kepada pasien mengenai etiologi, perawatan yang akan dilakukan disertai dengan prognosis dari penyakit yang diderita pasien.
2. Instruksi
Pasien diberikan petunjuk mengenai apa yang harus dilakukan terhadap penyakit yang sedang diderita seperti pengobatan yang harus dilaksanakan serta apa-apa saja yang harus dihindari untuk mencegah penyakit tersebut kambuh kembali.