BAB III KONSEP PERANCANGAN
A. Gagasan Visual Karya
2. Storyline
Hal 1 : Halaman Judul dan Pengarang.
Hal 2 : Sekutu melakukan serangan balasan atas Pearl Harbor dengan Nagasaki dan Hirosima di bom atom. Kapten Sato bersama anak buahnya mengusir massa yang menyerang maskas Kempeitai.
commit to user
Sabtu siang 13 Oktober 1945, dengan meloncati tembok dan membongkar genteng, Slamet Rijadi dan massa berhasil merebut markas Kempeitai dan melucuti senjata dari tangan Jepang. Hal 3 : Front Srondol 8 Agustus 1946, Karena kedua rekan belum juga
muncul untuk melakukan serangan pancingan ke Asrama pasukan Belanda di Jatingaleh, Resimen 26 TRI Batalyon Slamet Rijadi yang cukup lama bersembunyi di luar pagar menyusup masuk Asrama.
Tiba-tiba lampu sorot menyala. Ditengah siraman cahaya itu, hujan peluru menebas pasukan. Satu demi satu pasukan jatuh bersimbah darah. Letnan I Soegijoko menjatuhkan diri sambil berguling-guling di tanah, dengan segera Slamet Rijadi yang melakukan hal serupa, langsung memberi perintah mundur. Dari 52 orang, 27 gugur di dalam halaman, 10 gugur diluar pagar, 9 diringkus di dalam karena tidak sempat melarikan diri.
Hal 4 : Pukul 07.00, 21 Juli 1947, setelah menghujani bom Ungaran dan sekitar, dengan dihadang sejumlah TNI Brigade Tijger bergegas menyerang Solo. Di sebelah timur sejumlah tank dengan susah payah merayap di atas persawahan yang gembur berlumpur. Di sebelah barat Batalyon Infantri 2-7 terpaksa bergelut melewati jalan setapak yang licin di pinggang gunung Ungaran. Di sebelah selatan tank-tank stuart berjalan tersendat-sendat, karena TNI lebih dulu memasang ranjau.
commit to user
Hal 5 : Tanggal 22 Juli 1947, setelah berhasil memukul mundur pasukan Belanda yang baru tiba di Ambarawa, Batalyon II Divisi IV/Panembahan Senopati dalam Komando Mayor Slamet Rijadi memutuskan membumi hanguskan seluruh Salatiga.
Hal 6 : Tanggal 3 Agustus 1947, Van Langen bersama pasukan menyerbu Demak dan Gubug, disebelah selatan Banyubiru, Bandungan, dan Sumowono. Serbuan tersebut hanya sukses sementara karena Batalyon II Divisi IV/Panembahan Senopati dalam Komando Mayor Slamet Rijadi segera memukul mundur pasukan Van Langen dengan korban dan kerugian sangat besar. Hal 7 : Karena aneka macam tindakan pelanggaran disiplin, aksi
perampokan dan berbagai catatan negative Letnan Kolonel Mardjoeki bersama pasukanya Resimen V Brigade 24 dari Divisi Siliwangi, TNI didukung TP menyergap markasnya. Slamet Rijadi mengeksekusi Mardjoeki dengan tembak mati.
Tanggal 21 Desember 1948, Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda, Brigade V/KNIL bergerak menyerang Solo. Slamet Rijadi beserta 6000 pasukan TNI mundur dan memutuskan bergerilya setelah membumi hanguskan kota Solo.
Hal 8 : Pasukan gerilya Slamet Rijadi segera meninggalkan desa Ngaglik setelah berhasil memukul mundur pasukan Belanda yang mengejarnya.
commit to user
Hal 9 : Tiga truk penuh pasukan Belanda mengejar perjalanan gerilya di Eromoko. Pasukan Belanda menembakkan ke segala arah karena mendapati Eromoko dalam keadaan kosong.
Slamet Rijadi menembaki truk nomor tiga, Sandy Moerdani menembaki truk nomor dua yang kembali dari Eromoko. Sesaat Slamet Rijadi memerintahkan menghentikan tembakan.
Karena mengira penghadang telah berlalu, pasukan Belanda yang dalam persembunyian keluar untuk menggotong rekan mereka yang tewas tertembak. Mengetahui musuh lengah, pasukan gerilya Slamet Rijadi menghujani tembakan dan menjadikan ladang pembantaian pasukan Belanda.
Hal 10 : Taktik perang gerilya Slamet Rijadi berhasil membuat Belanda tidak berdaya. Slamet Rijadi bahkan tidak pernah menanggapi himbauan Komandan Detasemen KNIL untuk menyerah. Bangak, kawasan perkebunan tembakau di pinggir jalan raya Semarang-Solo, kabupaten Boyolali, menjadi jalur rawan penghadangan. Lokasi favorit gerilyawan untuk menghadang dan menghabisi konvoi pasukan Belanda.
Gerilyawan menghadang konvoi pasukan Belanda di Sidoharjo, dengan membakar sebuah tank dan truk pengangkut pasukan. Mengakibatkan 22 orang tewas dan 25 orang luka parah di pihak Belanda.
commit to user
Gerilyawan menyerang sebuah perkebunan di Sragen dan berhasil merampas empat bren gun berikut 41 senjata laras panjang. Mengakibatkan 15 penjaga kebun (Ondernemings Wacht) tewas, 40 orang menyerah.
Hal 11 : Tanggal 29 Juli 1949, karena takut disergap gerilyawan, Belanda membersihkan kampung Kestalan dan Cinderejo. Rumah-rumah dari kayu di bakar dan bangunan dari tembok digilas tank setelah memerintahkan penduduk meninggalkan dua kampung tersebut. Tanggal 7 Agustus 1949, sekitar 2000 gerilyawan memulai Serangan Umum Kota Solo, menyusup ke dalam kota Solo dengan diam-diam mengepung musuh dan sebagian berjaga-jaga di jalan-jalan keluar masuk kota untuk menghadang datangnya bantuan dari luar.
Hal 12 : Pasukan Belanda dalam keadaan bingung karena di serang dari segala arah, mengeluarkan tank-tank dan overvalwagen, mondar-mandir memberondong ngawur. Karena mengira pusat konsentrasi gerilyawan berada di pinggiran kota, pasukan Belanda menghujani daerah pinggiran dengan bom dan tembakan 12,7 dari pesawat-pesawat terbang yang menewaskan banyak korban.
Gerilyawan yang berjaga di Boyolali menghadang pasukan infantri, kavaleri berikut pasukan Komando Baret Hijau yang akan membantu pasukan Belanda di dalam kota Solo. Pesawat
commit to user
pengangkut pasukan bantuan KST tidak berani mendarat karena gencarnya serangan gerilyawan di landasan udara Panasan.
Hal 13 : Tanggal 10 Agustus 1949, pasukan gerilya TNI Brigade V dipimpin langsung Letnan Kolonel Slamet Rijadi menyerbu markas Belanda..
Hal 14 : Dengan susah payah Slamet Rijadi bersama pasukan menembus pertahanan musuh. Namun tiba-tiba pesawat pengebom menghampiri mereka.
Hal 15 : Beberapa prajurit gugur dalam pertempuran tersebut. Dalam pertempuran sengit itu, Slamet Rijadi bersama pasukan berhasil memenangkan berbagai pertempuran dalam merebut kota Solo. Sebagian besar kota Solo dikuasai gerilyawan dan Belanda hanya menguasai markasnya
Hal 16 : Dalam keheningan malam, masyarakat berbondong-bondong keluar rumah memberi salam dan memeluk anak-anak muda mereka dan para gerilyawan yang berjuang. Perasaan bangga dan isak tangis menyaksikan bendera Merah Putih di kibarkan diseluruh penjuru kota. Lagu-lagu perjuangan serentak dinyanyikan beramai-ramai.
Pasukan gerilya meninggalkan kota setelah membakar habis toko DrieHoek di pasar legi dan Eng Bo serta Obral di Singosaren. Hal 17 : Tanggal 11 Agustus 1949, setelah gencatan senjata disetujui,
commit to user
mendatangi pos darurat PMI rumah Dr. Padmonegoro di Gading, segera mengobrak-abrik serta menyembelih 14 pasien. Pasukan tersebut melanjutkan teror menelan korban 31 mayat di makamkan di Madyotaman, 23 di Pasar Kembang, 32 di Sambeng, 47 di Serengan, 300 lebih di Laweyan.
TNI melakukan pengejaran dan berhasil menyergap mereka di simpang empat Ngapeman. Melalui pertempuran sengit TNI berhasil menewaskan tujuh pasukan Baret Hijau. TNI segera melakukan dislokasi di sebelah selatan jalan Purwosari.
Tanggal 12 November 1949, Upacara resmi ambil alih tanggung jawab keamanan Solo di Stadion Sriwedari. Letnan Kolonel Slamet Rijadi mewakili TNI berhadapan dengan Kolonel Ohl sebagai wakil Tentara Kerajaan Belanda. Dalam serah terima tersebut Ohl mengakui sangat terkesan dengan pribadi Slamet Rijadi. ”Ketika bertemu, dengan spontan saya langsung berkata, overste begini muda, sepantasnyaAnda menjadi anakku. Tetapi di lapangan, kemampuan overste dalam memimpin pasukan jauh lebih baik dari saya, maka saya kagum.” Saya lebih senang mempunyai lawan yang sportif daripada teman yang hanya setengah-setengah.” Bendera Merah Putih dikibarkan diiringi lagu Indonesia Raya. Bendera Belanda diturunkan langsung diserahkan Kolonel Ohl.
commit to user
Hal 18 : Tanggal 14 Juli 1950, dalam operasi penumpasan RMS, kapal-kapal perang APRIS menghujani daratan. Yon 352 dan Yon Pattimura sebagai pasukan pendobrak, diangkut dengan LST dan LCI mendarat sekitar 5 kilometer barat pelabuhan Namlea. Langsung melakukan penyisiran dengan banyak korban di pihak TNI. Karena pertahanan Namlea sulit ditembus didatangkan pasukan bantuan dari Yon 3 Mei.
Hal 19 : Tanggal 16 Juli pukul 05.30 pagi, menghadapi serangan APRIS, RMS kocar-kacir sebagian menyelamatkan diri dengan perahu dan kemudian disergap tembakan armada kapal perang APRIS. Tanggal 18 Juli KRI Radjawali mendarat mendarat di Namlea, dengan sekoci Slamet Rijadi diiringi Soekirmo dan Soendjoto turun langsung disambut Mayor Soeradji yang segera mengantar mereka ke markas pasukan Komando Operasi Maluku Selatan. Pada hari itu juga dilakukan serah terima komando operasi dari Alex Kawilarang kepada Letnan Kolonel Slamet Rijadi.
Tanggal 20 Juli, dalam misi membebaskan kota Piru di pulau Seram, Slamet Rijadi dengan sangat marah nyaris menembak nahkoda kapal KM Waikelo dan mengancam akan merebut kapal karena menolak berlayar di siang hari ke perairan yang dikategorikan daerah rawan.
Rombongan akhirnya berangkat pukul 18.00, tanggal 21 Juli kapal lego jangkar di depan teluk Piru. Slamet Rijadi bersama
commit to user
dua kompi Batalyo 3 Mei mendarat 6 kilometer di sebelah kiri Piru, sedangkan Mayor Soeradji bersama anak buahnya mendarat 6 kilometer di sebelah kanan Piru. Satu petelon sebagai kawal belakang.
Hal 20 : Saat Slamet Rijadi bersama pasukan selesai melakukan stelling melebar menghadap kota siap untuk menyergap, dengan perasaan was-was, Slamet Rijadi mengizinkan Letnan I Kalangie, perwira intelijen Batalyon 3 Mei yang meminta izin untuk masuk lebih dulu ke kota dan bermaksud untuk meminta Kapten Nussy pemimpin pasukan RMS di Piru yang dulu merupakan rekannya semasa di KST untuk menyerah daripada meletus perang saudara dan jatuh korban di antara penduduk yang tidak bersalah.
Hal 21 : Lewat satu jam, Kalangie belum juga kembali. Tepat pukul 17.00 diiringi tembakan KRI Radjawali, Slamet Rijadi bersama pasukan menyerbu kota. Pukul 18.30 kota tersebut dibebaskan, mayat Kalangie bersama dua rekannya dengan sangat mengenaskan tergeletak di depan bekas markas RMS.
Batalyon 3 Mei menuntut balas atas Kalangie melakukan pengejaran sisa-sisa RMS yang lari ke pedalaman.
Hal 22 : Slamet Rijadi melanjutkan penyerbuan ke Amahai dan Seram, bersama dua kompi Batalyon 352. selama dua jam pertempuran sengit Amahai berhasil diduduki. Sementara pulau Seram bagian selatan terlalu luas, operasi penghancuran terhadap sisa-sisa
commit to user
pasukan RMS yang telah mengundurkan diri tidak dilanjutkan, akibatnya mereka tetap mempertahankan pesisir pantai Seram selatan, mulai Tuheru sampai negeri Angus.
Hal 23 : Tanggal 26 Juli sekitar pukul 06.00, Batalyon 352 di Amahai diserang RMS. Menelan sebelas orang tewas, pululan luka-luka, dan dua pucuk bren hilang, sedangkan musuh hanya meninggalkan empat mayat.
Hal 24 : Slamet Rijadi dan Kawilarang sepakat bahwa mereka memerlukan pasukan dan peralatan tambahan. Kawilarang memberi mandat kepada Slamet Rijadi untuk membicarakan masalah ini di Jakarta dengan Kolonel Nasution. Kesempatan ini digunakan Slamet Rijadi memenuhi janjinya kepada Soerachmi, dalam acara pertunangan dua bulan sebelumnya di Surabaya. Dengan membawa bendera RMS sebagai mas kawin yang dulu pernah dia janjikan. Tanggal 19 Agustus 1950 di Kantor Urusan Agama Menteng, Jakarta Pusat. Malamnya diselenggarakan pesta sederhana di jalan Jambu, rumah kediaman Prof. Dr. Soemedi, dihadiri sejumlah perwira TNI dan beberapa kawan dekat mempelai. Pernikahan praktis tanpa bulan madu, karena paginya, tanggal 20 Agustus, Slamet Rijadi harus sudah berangkat kembali ke Ambon.
Tanggal 28 September 1950 pagi buta konvoi gabungan APRIS meliputi Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara
commit to user
bergerak ke Waituron, Air Panas, dan Pelabuhan Tuhelu. Kemudian memecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dengan komando Slamet Rijadi menuju Tuhelu di sisi timur Pulau Ambon. Kelompok kedua dengan komando Mayor Soeradji menuju Hitumala di sisi utara Pulau Ambon.
Hal 25 : Pendaratan demi pendaratan dilakukan setelah sebelumnya kapal-kapal perang Angkatan Laut menyiram kawasan pantai dengan tembakan meriam. Slamet Soediarto gugur pada pendaratan ketiga, LCM yang ditumpanginya bergoyang-goyang dipukul ombak besar. Akibat gocangan tersebut, arahnya yang semula menuju pantai tanpa sengaja malahan paralel dengan garis pantai. Situasi semacam ini menjadikan pintu nahkoda tidak terlindungi. Sebuah tembakan sniper RMS tepat mengenai perut Slamet Soediarto, Komandan Groep II, ajudan, dan lima prajurit.
Hal 26 : Pasukan RMS memang sudah berhasil dipukul mundur dari Hitu oleh Yusmin yang menggantikan Slamet Soegiarto. Tetapi di Wanat, RMS mengubah wilayah yang penuh jurang, tikungan, serta perbukitan menjadi basis pertahanan yang sulit ditembus. Namun karena menghadapi tekanan yang terus-menerus oleh Batalyon Tengkorak Putih dibawah pimpinan Mayor Soerjo Soebandrio dengan dua kompi Yon 362 Gadjah Merah, pertahanan RMS di Wanat dapat dihancurkan dan pasukan RMS melarikan diri ke Telaga Kodok.
commit to user
Tanggal 4 Oktober pasukan TNI mengundurkan diri setelah mendapat serangan di Hasal dan Telaga Kodok. Tiga hari kemudian RMS kembali melakukan serangan di kampung belakang Hitu. Posisi TNI menjadi kritis karena hanya bisa bertahan di sektor pantai.
Hal 27 : Setelah mendapat bantuan tembakan dari KRI Radjawali serta pengeboman dari dua pesawat Angkatan Udara, RMS kembali mundur ke Hasal dan sisanya bertahan di Telaga Kodok dan Durian Patah.
Tanggal 3 November, sesuai rencana operasi, Batalyon 352 menyerbu Telaga Kodok melewati jalan pintas di sebelah kiri Hitu dengan pertempuran sengit TNI berhasil menguasai Wanat. Hal 28 : Secara serentak, pasukan di bawah komando Soetarto yang
bergerak di sisi jalan Hitu-Hasal segera menyergap RMS hingga mundur ke Durian Patah. Karena gerak bersamaan dari kedua Batalyon tersebut, sorenya pasukan pemerintah telah menguasai Telaga Kodok. Pasukan ketiga, Batalyon Tengkorak Putih, mengamankan wilayah sektor Hitu dan berhasil menggagalkan rencana pengacauan yang dilakukan sisa-sisa pasukan RMS. Paginya, dua kompi Batalyon 352 bergerak dari telaga Kodok memotong kompas menerjang Negeri Nania dan Passo Lama. Sementara induk pasukan bergerak lewat jalan raya, menerobos Durian Patah bertujuan secepat mungkin menguasai simpang tiga
commit to user
Passo-Hitu-Laha agar bisa menutup jalan pasukan RMS yang berusaha melarikan diri setelah terdesak.
Hal 29 : Pada sisi lain, pukul 05.00 Batalyon Soetarto berangkat dari Hasal melalui jalan setapak dengan tujuan merebut Rumah Tiga. setelah berhasil merebut Rumah Tiga, mereka segera melakukan tembakan gangguan ke arah Galala guna memecah konsentrasi musuh. Sayang gerakan mereka mengalami kelambatan akibat kokohnya pertahanan RMS.
Sementara itu, Groep II pimpinan Slamet Rijadi melaju sesuai rencana mencapai Batu Merah. Satu jam kemudian, Detasemen Faah membuka pendaratan di Toisapu, dekat Batugong. Sementara itu, dari arah lambung utara Passo-Negeri Nania Lama sudah bergerak anak buah Batalyon Mahmud.
Pada pukul 05.30, Detasemen Faah bersama Batalyon Mahmud sudah melambung jauh dan segera memasuki pertempuran cukup berat. Sejak pukul 07.30 dengan menghancurkan pasukan RMS yang bersembunyi di lubang-lubang persembunyian, Detasemen Faah berhasil mendekati sungai Waitopo.
Hal 30 : Sekitar pukul 08.30, setelah melewati pertempuran dahsyat yang menelan banyak korban, Kapten Faah bersama anak buahnya berhasil mencapai Batugong. Dengan keberhasilan tersebut, posisi Passo saat itu terkepung dari tiga jurusan : dari Negeri Lama, dari Batugong, dan dari arah Tulehu-Waitatiri.
commit to user
Tanggal 3 November Groep II dalam komando Slamet Rijadi berhasil menembus Waitatiri berikut Passo. Slamet Rijadi juga berhasil menembus pertahanan RMS yang lari dan bersembunyi di lubang-lubang persembunyian di Lateri. Hari itu juga Halong kemudian Galala bisa direbut sehingga Slamet Rijadi bersama Groep II sampai di Batu Merah pinggir kota Ambon.
Detasemen Faah mendarat menguasai Batugong-Toisapu. Dengan bantuan tembakan oleh Kesatuan Artileri dari Suli dan tembakan meriam dari KRI Radjawali Detasemen Faah terus menuju Passo.
Hal 31 : Groep II melakukan pendaratan diantara Ambon dan Amahasu. Pendaratan pertama oleh Batalyon Poniman ditambah satu kompi Batalyon 3 Mei di pantai sekitar kampung Banteng bersama sejumlah panser lapis baja dari Kesatuan Kavaleri. Setelah menyerbu Ambon dari arah barat daya kemudian membelok ke kanan untuk membangun pertahanan di luar kota guna menutup datangnya bantuan musuh. Batalyon Lukas Koestarjo yang semula menjadi cadangan mulai diterjunkan dan menyerbu masuk tengah kota.
Kapal-kapal perang Angkatan Laut berhasil menenggelamkan lima kapal jenis Higgins milik RMS, dan merampas satu kapal kemudian diberi nama baru KRI Pati Unus II.
commit to user
Hal 32 : Karena tidak ada balasan, setelah melakukan tembakan pancingan, KRI Pati Unus memasuki teluk Ambon. Dengan suara menggelegar Kawilarang dari geladak Pati Unus memerintahkan serangkaian tembakan meriam dari kapal-kapal perang Angkatan Laut yang menghujani daerah pendaratan di Fort Victoria.
Secara bersamaan KRI Banteng membersihkan daerah sekitar benteng Victoria, sementara KRI Hang Toeah sedang mengarah ke pantai Amahusu muncul Kapten Noordaven dan Letnan Ismail dengan dua pesawat pengebom B25 Angkatan Udara menghancurkan sasaran strategis komplek pertahanan utama RMS, Fort Victoria.
Hal 33 : Karena tembakan mitraliur dan mortir tidak bisa menahan dua peawat pengebom tersebut pasukan RMS melarikan diri di daerah sekitar pantai.
Dengan dilindungi tembakan meriam dari KRI Hang Toeah, LCM melaju di depan benteng victoria. Pada saat bersamaan LCM lainya menuju pantai dengan dilindungi tembakan meriam dari KRI Pati Unus dan KRI Banteng.
Pasukan Lukas Koestarjo mendarat di dekat benteng dan berhasil menguasai bentang tersebut. Sementara itu anak buah Kapten Poniman dan Batalyon 3 Mei sebagian kota, khususnya sekitar pantai.
commit to user
Hal 34 : Namun sekitar tengah hari, pasukan RMS dengan sejumlah panser tiba-tiba menyerang ke dalam benteng dan berhasil mengusir Lukas Koestarjo bersama anak buahnya.
Pasukan RMS terus mendobrak sampai masuk wilayah pelabuhan. Akibatnya, sebagian pasukan TNI terpaksa lari menyelamatkan diri, terpisah kebagian utara kota sampai Batu Merah. Untunglah pasukan depan Slamet Rijadi sudah sampai disana dan menyelamatkan mereka dari kejaran pasukan RMS. Hal 35 : Tanggal 4 November pagi, Slamet rijadi memerintahkan Mayor
Worang dan Kapten Claporth maju serentak bersama anak buahnya. Sekitar pukul 10.00 Halong dan Galala berhasil dikuasai sehingga pasukan bisa terus sampai Batu Merah. Sekitar pukul 14.30, regu pelopor Batalyon Worang sudah bergerak mendekati kota, tetapi segera berhenti di jembatan Waitomu. Worang memerintahkan anak buahnya menahan diri, agar tidak terjadi kesalah pahaman karena Groep III sudah memasuki wilayah itu sejak kemarin saing.
Setelah memastikan pasukanya berhenti, Slamet Rijadi dengan tiga panser segera memerintahkan Kapten Klees untuk perlahan-lahan mendekati benteng. Slamet Rijadi di dampingi Klees naik kendaraan pertama. Sekitar jarak 30 meter, persis di sebuah simpang tiga, tembakan gencar dari dalam benteng diarahkan kepada ketiga panser tersebut. Sebuah tembakan menghancurkan
commit to user
periskoop panser yang dinaiki Slamet Rijadi dan Klees, secara otomatis Klees ingin membalas tembakan tersebut dengan meriam 2 cm yang terpasang di moncong pansernya.
Karena mengira bahwa pasukan yang berada di dalam benteng adalah anak buah Lukas Koestarjo maka Slamet Rijadi memerintahkan untuk manahan tembakan. Namun Klees tetap bersikeras untuk membalas tembakan, karena Klees berpendapat bahwa pasukan yang berada di dalam benteng adalah pasukan RMS yang sengaja memakai seragam TNI bekas prajurit yang gugur di benteng tersebut untuk mengelabuhi. Kali ini Slamet Rijadi justru memerintahkan, jangan tembak dan Slamet Rijadi akan keluar memeriksa situasi. Siap! Jawab Klees sambil memberi hormat.
Hal 36 : Slamet Rijadi keluar dan berdiri tegap di samping panser. Melihat kesempatan tersebut, pasukan RMS yang berada di dalam benteng segera menghujani tembakan ke arah Slamet Rijadi. Klees langsung memerintahkan skawdron panser maju sambil membalas tembakan dengan meriam-meriam dari ketiga panser tersebut.
Langkah tersebut untuk melindungi Letnan I Soendjoto, ajudan Slamet Rijadi, manarik komandannya ketempat terlindung ditepi jalan. Sewaktu roboh terkena tembakan Slamet Rijadi berbisik
commit to user
kepada Soendjoto, ”Njot, sikilku kena. Kok ora kroso yo..., tapi ora biso diobahke.”
Kemudian menyusul perintahnya,”... Aku gregeten, minggir. Kowe ojo nongol-nongol. Yen tak wenehi owen-ku iki, tembakno
nyang arah benteng.” dia memerintahkan sambil mengisikan
peluru ke dalam magazijn senapan kesayangannya.
Slamet Rijadi kemudian memberi isyarat untuk menembak. Tiga prajurit musuh yang mendekat langsung disikat. Soendjoto segera memapah tubuh Slamet Rijadi, berusaha membawa ke tempat aman, tiba-tiba Mator Lukas Koestarjo bersama ajudan sudah berdiri disampinghnya dan segera mengambil alih komando, ” Letnan, segera amankan beliau ke belakang. Saya akan melindungimu...”
Hal 37 : Slamet Rijadi di bawa ke kapal KM Waibolang. Pukul 21.15 waktu setempat, Slamet Rijadi menghembuskan napas penghabisan pada usia 24 tahun lebih enam bulan.
Minggu pagi tanggal 5 November Mayor Worang memerintahkan pasukannya menyerbu Ambon. ” Overste Slamet Rijadi kena tembak Sabtu sore sekitar pukul 16.00, maka pasukan saya akan menuntut balas.” Begitu juga anak buah Slamet Rijadi dari Solo yang selalu mengikuti jejaknya sampai ke Maluku yang tergabung dalam Batalyon 352 di Groep II Kopas Malsel bersama-sama Batalyon Worang. Diikuti pasukan
commit to user
Groep I dan III, mereka kemudian bersama-sama menyerbu masuk kota, merebut kembali Fort Victoria, membersihkan kawasan pelabuhan, dan mengusir pasukan RMS keluar kota. Lebih dari enam jam pertempuran sengit, akhirnya Ambon jatuh ketangan pasukan pemerintah. Tanggal 10 November, persis pada peringatan hari pahlawan, sisa-sisa pasukan RMS yang