• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Alokasi Gas Dalam Negeri

Dalam dokumen Percepatan Pembangunan Industri Gas Bumi (Halaman 82-85)

BAB 5 STRATEGI PERCEPATAN PEMBANGUNAN INDUSTRI GAS DALAM

5.2 Strategi Pengembangan Industri Gas Dalam Negeri

5.2.2 Strategi Alokasi Gas Dalam Negeri

Walaupun dalam beberapa tahun terakhir ini alokasi gas untuk dalam negeri lebih diutamakan yang ditandai dengan kontrak, namun dalam realisasinya seringkali tidak maksimal. Sebagai contoh, berikut ini perbandingan alokasi gas tahun 2011 berdasarkan kontrak.

Gambar 32 Perbandingan Rencana dan Realisasi Alokasi Gas Tahun 2011 (Ditjen Migas, 2012)

Dari dua grafik di atas, diketahui bahwa alokasi untuk ekspor dan peningkatan produksi minyak cenderung aman. Sementara untuk industri pupuk dan listrik cenderung menurun. Beberapa industri pupuk dan listrik mengatasi kekurangan pasokan ini melalui

75

badan usaha niaga seperti PGN, Pertagas dan lainnya sehingga alokasi sektor industri lainnya ikut meningkat.

Pergeseran alokasi gas untuk ekspor lebih sulit dengan adanya adanya konsekuensi ekonomi dan bisnis (sanksi penalti) yang akan dihadapi pemerintah dengan pengurangan alokasi ekspor. Akibatnya apabila terjadi krisis gas, yang pertama kali diamankan adalah alokasi gas untuk ekspor. Contoh nyata dalam hal ini adalah kasus rebutan alokasi antara ekspor ke Singapura, lifting minyak Chevron dan untuk PLN Muara karang yang akhir-akhir ini menjadi bahan audit BPK. Dalam kasus ini ekspor menjadi prioritas pertama, selanjutnya lifting minyak dan kemudian untuk listrik (PLN) itu sendiri. Dengan pertimbangan tersebut, memang tidak ada yang dapat dilakukan pemerintah selain dari renegosiasi baik dari segi harga atau jumlah alokasi.

Terkait urutan prioritas pemanfaatan gas dalam negeri, pemerintah menempatkan kegiatan lifting minyak sebagai prioritas pertama sebelum pupuk, listrik dan industri lainnya. Pada kegiatan lifting minyak, gas berfungsi sebagai bahan bakar untuk menghasilkan uap yang akan diinjeksikan sebagai proses Enhance Oil Recovery (EOR). Dengan adanya EOR, produksi minyak bumi dapat dipertahankan yang menjadi salah satu potensi pendapatan negara. Efek selanjutnya adalah keterjaminan pasokan BBM bersubsidi. Secara umum, pengaruh dari alokasi gas untuk lifting adalah ketahanan energi namun kurang memberi nilai tambah.

Sementara dalam industri pupuk yang menjadi prioritas selanjutnya, gas bumi lebih berperan sebagai bahan baku dimana gas berperan sekitar 50–60 persen dari struktur biaya produksi pupuk. Penguatan industri pupuk ini diharapkan dapat meningkatkan industri pertanian nasional. Namun yang kadangkala terjadi adalah ekspor pupuk yang diantaranya dilakukan secara ilegal. Sementara dalam kelistrikan, gas digunakan sebagai sumber energi untuk pembangkitan listrik. Secara umum, gas memiliki kelebihan dibanding sumber energi lainnya diantaranya relatif lebih bersih, memiliki faktor kapasitas yang tinggi dan relatif lebih murah.

Sebagai pengguna prioritas terakhir adalah industri lainnya. Secara karakteristik, industri memiliki nilai tambah yang tinggi. Pada industi ini umumnya gas digunakan sebagai bahan bakar. Sebagian di antaranya kontak langsung dengan produk yang umumnya tidak dapat digantikan dengan bahan lain seperti dalam industri logam, keramik, kaca, gelas dan

76

semen. Pada industri petrokimia, gas lebih berperan sebagai bahan baku. Keunggulan gas dalam proses produksi di sektor industri adalah lebih efisien dibanding sumber energi lainnya yang akan menjadikan harga kompetitif untuk keunggulan industri domestik yang selanjutnya akan berdampak pada penguatan perekonomian nasional.

Dengan demikian, kebijakan alokasi gas saat ini lebih cenderung ditujukan pada kegiatan strategis seperti peningkatan produksi minyak bumi namun cenderung kurang produktif dan kurang bernilai tambah. Sementara kegiatan produktif menjadi prioritas di bawahnya. Selain dari strategi alokasi gas, kebijakan pengembangan sektor hulu gas perlu dikaji agar lebih mendukung iklim investasi sehingga kegiatan eksplorasi lebih berkembang dan tentunya akan banyak penemuan play gas yang baru. Dengan begitu cadangan gas lebih meningkat dan kesinambungan pasokan akan lebih terjamin dalam beberapa tahun mendatang.

Dari hasil kegiatan pemboran sumur eksplorasi yang dilakukan selama periode yang sama 2001 sampai dengan 2011 antara rencana kegiatan pemboran, realisasi kegiatan pemboran dengan adanya sumur yang menghasilkan (discovery) dapat menunjukkan besarnya sukses rasio. Dari tahun ke tahun, angka sukses rasio ini mengecil. Jika pada tahun 2001 sampai 2004, sukses rasio masih sebesar di atas 51,5 persen, namun sejak tahun 2005 sampai 2010 rata sukses rasio ini rata-rata hanya berada di kisaran 41 persen. Penurunan sukses rasio ini kemungkinan karena eksplorasi dilakukan sebagian besar di wilayah timur dan umumnya di daerah laut dalam. Sementara wilayah barat umumnya telah dieksplorasi secara mendalam. Perkembangan teknologi eksplorasi di tahun-tahun itu tidak membantu banyak seiring perbedaan kondisi geologi bawah permukaan wilayah timur dan wilayah barat. Dengan pengenalan kondisi geologi melalui intensifikasi kegiatan eksplorasi, success ratio ini diperkirakan dapat meningkat kembali.

Kebijakan insentif yang dapat diterapkan adalah Split untuk produsen gas bertambah dan Split pemerintah berkurang yang tentunya dibarengi dengan klausul yang menguntungkan terhadap pemerintah seperti harga jual gas untuk domestik yang dapat ditekan sesuai dengan kemampuan keekonomian pasar dalam negeri. Dampak berantai dari kebijakan ini adalah menggiatnya kembali kegiatan eksplorasi dan eksploitasi lapangan gas; tumbuhnya infrastruktur gas bumi (jaringan transmisi dan distribusi gas bumi baik melalui pipa maupun LNG) dan sarana aplikasi gas bumi secara komersial tanpa bantuan APBN, serta tumbuhnya perekonomian nasional yang berbasis energi murah.

77

Selain itu, kebijakan penyertaan pemerintah daerah dalam bentuk Participating Interest (PI) sebesar 10 persen pada kegiatan hulu migas harus dilakukan secara selektif karena pada praktik di lapangan, kebijakan ini malah membuat program pengembangan lapangan migas terhambat. Risiko kegiatan usaha hulu yang besar membuat pemerintah daerah membutuhkan waktu lama untuk mencari mitra usaha (partner) yang mampu menyerap risiko finansial yang timbul pada kegiatan eksploitasi tahap lanjut. Makin besar lapangan produksi yang akan dikerjakan, makin lama pula waktu yang dibutuhkan oleh pemerintah daerah untuk mendapatkan mitra yang sesuai. Hal yang mungkin perlu dikaji adalah justru kebijakan participating interest di sisi hilir migas. Selain risiko usaha di hilir yang tidak sebesar di hulu, kebijakan ini juga diharapkan dapat memicu peningkatan infrastruktur migas yang menjadi syarat investasi di hilir, sementara pemerintah pusat lebih berperan aktif dalam penentuan atau jaminan alokasi gas. Contoh sederhana adalah pembangunan jaringan gas kota yang melibatkan partisipasi pemerintah daerah melalui penyertaan BUMD sebagai operator.

Dalam dokumen Percepatan Pembangunan Industri Gas Bumi (Halaman 82-85)