BAB III KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
3.1 Strategi dan Arah Kebijakan Ekonomi Daerah
Arah kebijakan pembangunan ekonomi nasional adalah mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik. Sektor-sektor unggulan yang akan dikembangkan adalah kedaulatan pangan, kemaritiman dan kelautan serta pariwisata dan industri. Dilihat dari sasaran pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 sebesar 5,1% dan pada tahun 2015 sebesar 5,02%.
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Perubahan (RKPD-P)
Kabupaten Blitar Tahun 2017
54Penurunan inflasi nasional diharapkan berpengaruh pada menurunnya tingkat suku bunga sehingga dapat mendorong kegiatan ekonomi di sektor riil, baik kegiatan investasi maupun produksi. Pada tahun 2010, laju inflasi nasional sebesar 5,1%, pada tahun 2011 sebesar 5,4%, pada tahun 2012 turun menjadi 4,3%, pada tahun 2013 menjadi 8,4%, pada tahun 2014 sebesar 8,4%, dan proyeksi jangka menengah yang menjadi sasaran nasional pada tahun 2015 sebesar 5,0%, dan pada tahun 2016 sebesar 4,0% dan pada tahun 2017 sebesar 4,0%. Dengan adanya strategi dan arah kebijakan nasional, dalam periode 2015-2019 laju inflasi akan dapat dikendalikan rata-rata sekitar 3,5-5%.
Dilihat dari arah kebijakan ekonomi Provinsi Jawa Timur 2009-2014 yaitu keseimbangan pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan agroindustry/agrobisnis. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur pada tahun 2011 sebesar 7,22%, pada tahun 2012 sebesar 7,27%,pada tahun 2013 sebesar 6,55%, pada tahun 2014 sebesar 6,55%, dan pada tahun 2015 diperkirakan sebesar 6,55%. Sedangkan laju inflasi Provinsi Jawa Timur pada tahun 2011 sebesar 4,09%, pada tahun 2012 sebesar 4,5%, pada tahun 2013 sebesar 7,59%, pada tahun 2014 sebesar 6,55%, dan pada tahun 2015 sebesar 5,9%.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Blitar pada tahunpada tahun 2011 sebesar 5,43%, pada tahun 2012 sebesar 5,62%, pada tahun 2013 sebesar 5,04%, pada tahun 2014 sebesar 5,01%, dan pada tahun 2015 dperkirakan sebesar 5,06%. Tingkat inflasi di Kabupaten Blitar pada tahun 2011 sebesar 3,62%, pada tahun 2012 sebesar 4,63%, pada tahun 2013 sebesar 8,05%, pada tahun 2014 sebesar 7,49%, dan pada tahun 2015 sebesar 1,71%.Tren pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2012 mengalami kenaikan tetapi pada tahun 2013 mengalami penurunan dan tahun 2013 sampai 2015 diperkirakan memiliki angka yang sama. Dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Blitar pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2012 mengalam kenaikan akan tetapi mengalami penurunan mulai tahun 2012 sampai 2015.
Strategi dan arah kebijakan ekonomi daerah Kabupaten Blitar diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama pada sektor primer Kabupaten Blitar dan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan, dapat dilakukan melalui :
a. Strategi Kesatu, meningkatkan daya saing usaha koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah.
Arah kebijakan:
(1) Peningkatan kualitas produk koperasi dan UMKM.
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Perubahan (RKPD-P)
Kabupaten Blitar Tahun 2017
55b. Strategi Kedua, Meningkatkan pengembangan industri kecil menengah, dan sentra industri potensial.
Arah Kebijakan:
(1) Peningkatan jumlah industri kecil dan menengah, serta industri potensial (2) Peningkatan penggunaan iptek dalam industri kecil dan menengah. c. Strategi Ketiga, mengembangkan destinasi pariwisata
Arah Kebijakan:
(1) Pengembangan destinasi kawasan wisata Penataran, wisata agro dan edukasi, serta wisata alam.
(2) Pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana destinasi wisata. (3) Pengembangan industri penunjang kepariwisataan dan desa wisata.
d. Strategi Keempat, menyederhanakan prosedur pelayanan perijinan.
Arah kebijakan: penggunaan Teknologi Informasi dalam pelayanan perijinan. e. Strategi Kelima, meningkatkan pengendalian ruang dan lingkungan.
Arah Kebijakan: peningkatan pengawasan tata ruang dan lingkungan
f. Strategi Keenam, meningkatkan peran serta masyarakat dalam melestarikan lingkungan hidup.
Arah Kebijakan: peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola kelestarian lingkungan hidup.
3.1.1 Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2016 dan Perkiraan Tahun 2017
Kondisi ekonomi daerah Kabupaten Blitar tahun 2015 dibandingkan dengan tahun 2014 mengalami pertumbuhan di sektor pertanian; pertambangan dan penggalian; persewaan dan jasa perusahaan. Sektor pertanian sebagai penggerak ekonomi Kabupaten Blitar walaupun mengalami penurunan dari tahun sebelumnya hal ini dikarenakan faktor cuaca maupun terus berkurangnya luas lahan budidaya. Penurunan pertumbuhan sektor pertanian (primer) tidak berarti produksi sektor tersebut turun, namun pertumbuhannya kalah cepat dengan sektor yang lain. Secara umum pertumbuhan ekonomi daerah sangat dipengaruhi kondisi perekonomian regional dan ekonomi domestik nasional yang relatif tidak terpangaruh oleh krisis ekonomi yang melanda di Kabupaten Blitar. Penyerapan anggaran pemerintah serta pembangunan infrastruktur juga berpengaruh terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah. Pendapatan Regional dapat digunakan sebagai alat ukur minimal sebagai indikator terhadap hasil upaya pembangunan beserta dampaknya secara sektoral.
PRDB ADHB dan PDRB ADHK Kabupaten Blitar dari tahun 2011-2015 rata-rata meningkat pada setiap sektornya. Pendapatan produk sektor pertanian setiap tahunnya
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Perubahan (RKPD-P)
Kabupaten Blitar Tahun 2017
56menduduki posisi pertama sektor yang banyak berkontribusi di dalam PDRB. Pendapatan sektoral setiap tahun pasti dipengaruhi oleh adanya inflasi di Kabupaten Blitar. Sebagai indikator keberhasilan pembangunan, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Blitar menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan yang dilaksanakan berhasil membawa perubahan yang diinginkan. Pembangunan ekonomi daerah merupakan salah satu kunci keberhasilan sekaligus strategi bagi pembangunan sektor-sektor lainnya. Hal ini mengingat bahwa pembangunan di bidang ekonomi merupakan urat nadi keberhasilan pembangunan bidang-bidang lainnya. Untuk melihat sejauh mana keberhasilan pembangunan bidang ekonomi dapat dilihat dari berbagai indikator. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan ekonomi dapat dilihat pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto atau lebih dikenal dengan pertumbuhan ekonomi dalam tahun tertentu.
Pada tahun 2015 sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan sektor yang memiliki kontribusi atau peran PDRB paling tinggi yaitu sebesar 35,89% disusul sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor yaitu sebesar 17,01% dan kemudian sektor industri pengolah sebesar 12,86%. Kontribusi sektor usaha di Kabupaten Blitar paling banyak ada di sektor pertanian. Dari 22 kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar hanya ada 2 kecamatan yang mempunyai komposisi perekonomian bertumpu pada sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu Kecamatan Sutojayan dan Kecamatan Wlingi dengan persaingan masing-masing 41% dan 49,89%. Sedangkan 20 kecamatan lainnya perekonomiannya bertumpu pada sektor pertanian.
Tingginya peranan sektor pertanian ini karena pemanfaatan sumber daya alam yang intensif untuk kegiatan usaha pertanian dan penggunaan sistem pengairannya. Melalui upaya diversifikasi dan intensifikasi pertanian memungkinkan berbagai macam komoditas pertanian di masing-masing kecamatan dapat dihasilkan melalui kegiatan usaha tani rakyat baik dari usaha komoditas tanaman musiman maupun komoditas tanaman tahunan dengan volume produksi yang cukup besar. Hal ini memposisikan masing-masing kecamatan sebagai salah satu daerah pensuplai bahan baku produk pertanian skala regional maupun nasional.
Jenis industri yang didirikan akan berpengaruh erat terhadap besarnya nilai investasi yang ditanam. Jumlah investasi industri kecil di Kabupaten Blitar pada tahun 2013 sebesar Rp 117 milyar yang terbagi menjadi Rp 70 milyar untuk kelompok industri kecil formal dan Rp 47 milyar untuk kelompok industri kecil non formal. Di Kabupaten Blitar pada tahun 2013 tercatat sebanyak 1 industri besar dan 77 industri sedang. Industri besar yang ada bergerak di sektor makanan dan terletak di Kecamatan Sanankulon. Nilai produksi industri kecil menurut kategori pada tahun 2013 lebih dominan adalah industri hasil pertanian dan
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Perubahan (RKPD-P)
Kabupaten Blitar Tahun 2017
57kehutanan sebesar 81,63% kemudian industri aneka sebesar 13,18% dan industri logam, mesin dan kimia 5,19%.
3.1.2 Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2017 dan Tahun 2018
Potensi daerah Kabupaten Blitar adalah sektor pertanian yang banyak tersebar di seluruh kecamatan. Kabupaten Blitar dengan luas 158.897 Ha apabila dilihat dari penggunaan lahannya tampak bahwa 19,95% dari luas wilayah merupakan persawahan,sehingga dapat menopang pasokan bahan pangan masyarakat khususnya Kabupaten Blitar. Setiap tahun konversi lahan sawah untuk bangunan terus mengalami peningkatan. Hal ini perlu diimbangi dengan membuka lahan baru untuk pertanian sehingga terus menambah pemanfaatan luasan lahan kering untuk lahan sawah. Untuk menghindari cepatnya konversi lahan pertanian ke lahan kering harus ada kebijakan pembangunan yang berpihak pada sektor pertanian berkelanjutan.
Unggulan bidang pertanian adalah tanaman pangan yang terdiri atas padi, jagung dan ketela pohon. Disusul oleh sub sektor peternakan dalam hal ini ayam petelur dan hasil peternakan sapi yaitu susu. Kedua komoditi ini menjadi produk andalan Kabupaten Blitar. Selain itu Kabupaten Blitar merupakan sentra pengembangan dan budidaya perikanan darat (ikan hias) terutama koi unggulan yang telah diakui secara nasional. Di sektor perkebunan, komoditas khas yang sangat menonjol adalah rambutan dan nanas, kemudian tanaman tahunan perkebunan rakyat yang terbanyak adalah petani kelapa yaitu 34.438 orang, menyusul kakao 7.461 orang, kopi 3,880 orang, cengkeh 3.576 orang dan kenanga 994 orang. Potensi ternak yang mendominasi di Kabupaten Blitar adalah sapi potong dan produksi telur ayam ras. Potensi alam yang dapat dikembangkan menjadi objek wisata sangat berpotensi mengundang wisatawan domestik atau luar negeri, seperti pantai yang tersebar di sepanjang pantai selatan, air terjun, pengembangan desa wisata. Pengembangan usaha mikro di setiap desa juga dapat berperan untuk meningkatkan prospek perekonomian daerah yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Selama kurun waktu tahun 2011-2015, semua sektor ekonomi yang ada di Kabupaten Blitar mengalami pertumbuhan yang positif, meskipun ada beberapa yang mengalami perlambatan. Dengan kata lain, aktivitas produksi barang dan jasa di daerah ini semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu dan diperkirakan dalam beberapa tahun mendatang, perekonomian Kabupaten Blitar mampu tumbuh semakin pesat. Terlebih dengan adanya upaya-upaya yang ditempuh pemerintah daerah untuk mewujudkan pembangunan ekonomi masyarakat.
Dilihat secara topografis, Kabupaten Blitar memiliki potensi bencana gunung merapi. Lokasi rawan bencana gunung Kelud meliputi Kecamatan Gandusari, Kecamatan Nglegok,
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Perubahan (RKPD-P)
Kabupaten Blitar Tahun 2017
58Kecamatan Ponggok dan Kecamatan Srengat. Selain bencana gunung merapi, antisipasi bencana lainnya juga perlu diperhatikan. Daerah rawan tsunami di sepanjang pesisir pantai selatan, daerah rawan banjir di daerah aliran sungai brantas dan daerah rawan angin putting beliung di Kecamatan Srengat, Kecamatan Wonodadi dan Kecamatan Udanawu.
Dari sisi demografis, potensi sumber daya manusia masih perlu diberdayakan untuk meningkatkan kemakmuran melalui peningkatan kemampuan dan keterampilan dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Peningkatan dan pengembangan potensi sumber daya manusia dapat dilihat dari Angka Partisipasi Sekolah (APS) mulai umur 7-12 tahun rata-rata 99,01%, umur 13-15 tahun rata-rata 89,05% dan umur 16-18 tahun 59,09%. Dan dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2014 terus menunjukkan peningkatan meskipun relatif kecil. Namun demikian, masih banyak sekali upaya yang harus dilaksanakan agar APK pendidikan utamanya pendidikan menengah (SMP-SMA) semakin tinggi, bahkan bila mungkin justru dapat menarik lulusan dari daerah lain untuk bersekolah di Kabupaten Blitar. Kemakmuran masyarakat juga dapat dilihat dari pelayanan kepada masyarakat miskin diberikan dalam bentuk jaminan sosial meskipun masih dalam skala terbatas.
Aktivitas ekonomi tidak terlepas dari sarana dan prasana perhubungan dalam hal ini adalah jalan dan jembatan merupakan bidang yang amat vital sebagai pendukung aktivitas perekonomian tak pelak juga harus mendapatkan perhatian serius. Aktivitas perekonomian tidak hanya berlangsung di daerah Kabupaten Blitar saja tetapi dapat berlangsung antar daerah sekitar Kabupaten Blitar seperti Kabupaten Malang, Kota Blitar, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Tulungagung. Guna meningkatkan kelancaran arus lalu lintas kendaraan dan barang khususnya pada jalur Blitar-Malang, kondisi saat ini terdapat kondisi jalan yang mengganggu kelancaran arus lalu lintas dimana kondisi jalan berkelok-kelok kemudian menurun atau menanjak cukup tajam. Terus diupayakan mencari terobosan untuk meluruskan jalan tersebut dan membangun jembatan di empat titik yaitu Jembatan Kali Bambang, jembatan sungai Tuwuh, Jembatan Kalilegi, dan perbatasan antara Blitar-Malang. Selain itu, akses jalan desa yang merupakan akses utama kegiatan ekonomi dan mengangkut hasil bumi sangat perlu diperhatikan.
Kabupaten Blitar merupakan daerah yang memiliki keunggulan di sektor pertanian sehingga akses penghubung dengan desa-desa penghasil pertanian harus menjadi prioritas utama. Akses jalan antara daerah produksi pertanian dengan pasar, jalan usaha tani, irigasi dan pengelolaan sumber air harus benar-benar diperhatikan. Tantangan di bidang infrastruktur adalah bagaimana membentuk konektivitas wilayah secara merata dan mampu menjadi penggerak pertumbuhan termasuk membentuk sinkronasi dengan daerah yang berbatasandengan Kabupaten Blitar. Potensi wilayah Blitar timur dan utara perlu
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Perubahan (RKPD-P)
Kabupaten Blitar Tahun 2017
59dikembangkan dengan meningkatkan kualitas jalan yang menghubungkan dengan Kota Batu dan Kabupaten Malang. Tersedianya infrstruktur transportasi desa, jalan desa dan jembatan juga sangat diperlukan sebagai sarana dan prasarana dasar pemukiman agar akses masyarakat meningkat. Peningkatan kualitas prasarana pasar tradisional sebagai sarana distribusi produk dan kegiatan jual beli masyarakat sangat dibutuhkan. Selain itu peningkatan infrastruktur sumber daya air untuk mendukung upaya konservasi dan pendayagunaan sumber daya air untuk memperlancar kegiatan produksi pertanian juga sangat penting.
Tantangan perekonomian daerah sangat tergantung dari kondisi perekonomian nasional dan gejolak pasar globalyang mengakibatkan pelemahan terhadap permintaan ekspor. Selain itu masalah penyerapan anggaran pemerintah yang mengalami keterlambatan turut memperlambat masuknya investasi dan menurunkan daya saing. Hal tersebut dapat mempengaruhi perekonomian daerah Kabupaten Blitar khususnya investasi dan pengembangan usaha berbasis lokal dan ketahanan pangan. Berdasarkan perkembangan ketenagakerjaan Kabupaten Blitar tahun 2013mencapai 21.688 orang pencari kerja 11.923 diantaranya perempuan, sementara jumlah lowongan kerja yang tersedia hanya untuk 5.454 orang. Dari jumlah data tersebut yang sudah mendapat penempatan kerja sebanyak 4.124 orang. Hal ini disebabkan ketidakseimbangan antara perkembangan jumlah pencari kerja dengan perkembangan lowongan kerja yang tersedia, apalagi jumlah angka penghapusan lowongan kerja yang cukup tinggi yaitu sebesar 1.287 lowongan. Tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2014 sebesar 1,90% dan pada tahun 2015 sebesar 1,85%.
Tantangan lainnya yang menyangkut globalisasi dan perdagangan bebas adalah masuknya budaya asing yang bersifat negatif yang dapat mempengaruhi budaya lokal Kabupaten Blitar yang menjunjung tinggi adat jawa. Disparitas antar wilayah juga menjadi perhatian yang dapat berakibat pada disharmonisasi masyarakat. Dilihat dari laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, dapat berpengaruh pada kualitas keluarga, kesehatan masyarakat, penyediaan fasilitas pendidikan, lapangan pekerjaan dan fasilitas lainnya. Banyaknya angka pengangguran dan rendahnya kualitas ekonomi dapat berdampak pada angka kriminalitas, gangguan keamanan dan ketertiban yang tidak segera teratasi berpengaruh pada stabilitas wilayah dan ketenteraman masyarakat. Sedangkan masalah lingkungan hidup yang tidak dikelola dengan baik, perubahan iklim dan bencana alam yang belum diantisipasi dapat berpengaruh pada berbagai aktivitas masyarakat. Antisipasi bencana khususnya Gunung Kelud perlu ditingkatkan guna memenuhi pelayanan masyarakat dalam hal rasa aman.
Rencana Kerja Pembangunan Daerah Perubahan (RKPD-P)
Kabupaten Blitar Tahun 2017
60Masalah sosial khususnya masyarakat miskin, tantangan yang dihadapi adalah bagaimana memberdayakan rumah tangga miskin dan hampir miskin agar memiliki ketahanan terhadap peningkatan harga-harga serta gejolak sosial lainnya. Saat ini konsep terhadap pemberdayaan rumah tangga miskin perlu dipertegas lagi dengan penjabaran rencana aksi yang lebih konkrit dan terkoordinasi lintas sektor. Tantangan peningkatan kualitas pendidikan Kabupaten Blitar tahun 2016 yaitu meningkatkan kualitas Sumber Daya Pendidik, meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan, dan meningkatkan prosentase wajib belajar 12 tahun. Sedangkan untuk bidang kesehatan, tantangan yang dihadapi pemerintah Kabupaten Blitar yaitu meningkatkan kualitas sarana dan prasarana kesehatan dari tingkat daerah (rumah sakit umum daerah) sampai tingkat desa (puskesdes). Selain itu peningkatan kualitas tenaga kesehatan juga sangat dibutuhkan hingga level desa.
Sumber daya aparatur sangat penting sebagai aktor pemerintah daerah yang mampu mengayomi masyarakat secara keseluruhan. Permasalahan di dalam kegiatan aparatur pemerintah sangat bervariasi, salah satunya adalah persoalan budaya kerja. Salah satu aspek yang bisa dipergunakan untuk melihat budaya kerja aparat pemerintah daerah adalah disiplin kerja. Disiplin kerja merupakan ketaatan pada peraturan-peraturan yang berlaku di dalam proses pelaksanaan pekerjaan.