• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi dan Taktik Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Studi

C. Strategi dan Taktik Penelitian

Strategi dan taktik penelitian yang digunakan adalah:

Pertama-tama peneliti berusaha mengenal kondisi desa penelitian yang telah ditetapkan baik secara geografis, keadaan ekonomi, sosial, budaya dan adat-istiadat masyarakat serta keadaan pelaku migrasi sirkuler dan keluarganya di desa Tegalombo. Strategi dan taktik penelitian ini hanya dapat diperoleh jika peneliti sebelumnya

129

telah menyatu dan mampu berinteraksi dengan masyarakat setempat (informan penelitian), maka langkah yang ditempuh berikutnya adalah: penciptaan ―rapport”.

Menurut Faisal (1990) penciptaan rapport ini merupakan prasyarat yang amat penting. Peneliti tidak akan dapat berharap untuk memperoleh informasi secara produktif dari informan apabila tidak tercipta hubungan harmonis yang saling mempercayai antara pihak peneliti dengan pihak yang diteliti. Terciptanya hubungan harmonis satu dengan yang lain saling mempercayai, tanpa kecurigaan apapun untuk saling membuka diri, merupakan permasalahan yang berkaitan dengan penciptaan rapport (Faisal, 1990: 53-54).

Selanjutnya peneliti melakukan pengumpulan data penelitian kualitatif dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Pertama, pada awal penelitian pendahuluan peneliti mengontrak sebuah rumah sederhana untuk ditempati peneliti. Dengan cara ini peneliti bisa berinteraksi dengan masyarakat dalam segala aktivitasnya, misalnya; mendatangi undangan manten, syukuran kelahiran anak, melayat, gotong royong kampung, ikut ronda, mendatangi orang sakit, membantu mencarikan obat dan lain sebagainya.

Dengan telah diterimanya peneliti di masyarakat, maka langkah selanjutnya peneliti mendatangi warga masyarakat yang ada, seperti; mbah Wiro, mbah Wongso, Tukimin (sesepuh/tokoh masyarakat), Sri Hartini (Sekretaris Desa), Padmo (Kaur Kesra), dan Sudarna, Jumari, Salimin, Sunarto, Priyo Hartono, Supardi, Supadi, Suyanto (pelaku migran sirkuler), dan pelaku migran sirkuler yang lain; Sarmidi dan Samijo. Demikian sebaliknya peneliti setiap saat dapat menerima kunjungan mereka.

Kedua, langkah berikutnya, peneliti segera melanjutkan berkonsultasi kepada Kepala Desa menyampaikan keinginan akan mengadakan penelitian disertasi dan sekaligus memohon bantuannya agar penelitian berjalan dengan lancar. Selanjutnya, peneliti segera mengadakan pencatatan data-data keadaan geografis desa Tegalombo, dan data-data lainnyayang dibutuhkan dalam penelitian ini.

Ketiga, langkah selanjutnya peneliti menemui beberapa informan dan ditambah informan yang lain, yang memiliki karakteristik sebagai informan yang bisa memberikan informasi berkaitan dengan

130

struktur masyarakat desa Tegalombo, proses migrasi sirkuler, dan efeknya. Maka hal yang harus dilakukan terlebih dulu adalah peneliti menemui perangkat desa lagi, guna menanyakan kembali; bagaimana struktur masyarakat desa Tegalombo? Pertanyaan berikutnya adalah siapa diantara penduduk desa Tegalombo ini yang pertama kali melakukan mugrasi sirkuler ke Sumatra (sebagai perintis)? dan siapa saja yang bisa di temui untuk mendapatkan data tentang proses migrasi sirkuler?

Untuk mendapatkan informasi mengenai hal ini, peneliti berusaha menemui beberapa orang perangkat desa, Ketua RW dan RT, dan beberapa tokoh masyarakat serta beberapa keluarga migran sirkuler. Hal ini peneliti lakukan guna cross check data untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya mengenai struktur masyarakat, perintis migrasi sirkuler dan data yang lain.

Adapun pertanyaan-pertanyaan yang digunakan untuk bahan wawancara dalam rangkan mendapatkan informasi struktur masyarakat dan proses migrasi sirkuler, antara lain sebagai berikut:

1. Bagaimana struktur masyarakat di desa Tegalombo ini?

2. Siapa warga desa Tegalombo yang melakukan migrasi sirkuler? 3. Kemana saja mereka melakukan?

4. Siapa diantara bapak-bapak yang bisa disebut sebagai perintis migrasi sirkuler desa Tegalombo ini?

5. Apa aktivitas, dan pekerjaan bapak sebelum bapak melakukan migrasi?

6. Bagaimana prosesnya bapak melakukan? 7. Bagaimana peran istri ?

Beberapa pertanyaan tersebut di atas belum cukup untuk menjawab permasalahan penelitian, oleh karena itu diperlukan pertanyaan lain yang mampu menggali permasalahan lebih mendalam sebagai berikut: (1) siapakah pelaku migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial di desa Tegalombo, mengapa mereka bermigrasi, bagaimana pelaku migrasi mengkonstruksikan alasan yang mendasari tindakan mereka melakukan migrasi sirkuler? (2) bagaimana konstruksi sosial proses migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial, apakah ada keterkaitan antara proses migrasi itu itu dengan kesadaran akan jaringan sosial, apakah juga ada keterkaitan antara proses migrasi sirkuler dengan jaminan sosial seperti jaminan

131

keamanan, kesehatan terhadap keluarga (istri dan anak-anak) yang ditinggalkan?

Keempat, langkah selanjutnya peneliti bertemu beberapa informan antara lain; Sudarna (perintis migrasi sirkuler) dan beberapa orang yang memiliki karakteristik sebagai pelaku migrasi sirkuler itu yakni; Sudarna, Jumari, Sunarto, Priyo Hartono, Supadi, Supardi, dan pelaku yang lain; Sarmidi dan Samijo, serta keluarganya, untuk mengadakan wawancara mendalam berikutnya dalam upaya menggali informasi lebih mendalam. Wawancara dengan mereka itu tidak hanya sekali dua kali, tetapi peneliti lakukan beberapa kali sampai peneliti bisa mendapatkan informasi yang benar dan sampai peneliti bisa menyusun laporan disertasi ini,

Kelima, dalam langkah ini peneliti mengadakan wawancara mendalam kepada pelaku migrasi sirkuler tentang makna migrasi sirkuler. Dalam langkah ini juga peneliti lakukan untuk mengkaji migrasi sirkuler dari realitas subjektif, ada makna apa migran melakukan migrasi? Bagiamana makna migrasi bagi migran itu sendiri? Adapun pertanyaanya sebagai berikut:

1. Mengapa bapak melakukan migrasi sirkuler? 2. Ada makna apa bapak melakukan migrasi sirkuler? 3. Bagaimana makna migrasi sirkuler bagi migran? 4. Bagaimana maknanya migrasi demi anak-anak? 5. Bagaimana maknanya migrasi mencari ilmu?

6. Bagaimana maknanya migrasi meningkatkan status sosial seseorang di desanya?

7. Bagaimana maknanya migrasi merubah nasib?

8. Bagaimana efek migrasi sirkuler terhadap lingkungan, tenaga kerja, dan kehidupan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan itu juga belum cukup untuk menjawab permasalahan penelitian berkaitan dengan makna migrasi, maka selanjutnya peneliti menyampaikan pertanyaan kepada subjek penelitian, bagaimana konstruksi sosial makna migrasi sirkuler sebagai mobilitas penduduk dan gejala sosial bagi migran itu sendiri?

Wawancara mendalam tersebut peneliti lakukan tidak hanya sekali tetapi peneliti lakukan beberapa kali dalam kurun waktu selama 6 bulan. Hal ini peneliti lakukan untuk mendapatkan data yang benar dan data yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah sampai peneliti dapat membuat laporan disertasi ini secara tertulis.

132

Setelah laporan penelitian ini secara tertulis selesai, peneliti masih melanjutkan komunikasi dengan informan tersebut untuk pengecekan kebenaran data tersebut di atas, peneliti bertemu lagi dengan informan yakni Sudarna, Jumari, Priyo Hartono, Supadi, Supardi dan beberapa pelaku migrasi sirkuler yang lain.

Untuk memperkaya data dan validitas data maka selain mendapatkan informasi data dari pelaku migrasi sirkuler tersebut di atas peneliti juga bertemu dengan perangkat desa dan tokoh masyarakat. Dalam hal ini peneliti juga bertemu dan memperoleh informasi dari ibu Sekretaris Desa dimana suaminya sampai sekarang masih boro ke Sumatera. Langkah ini terus dikembangkan sampai diperoleh gambaran yang benar tentang proses dan makna migrasisirkuler. Setelah diperoleh kebenaran data, dan informasi yang ada kaitannya dengan migrasi sirkuler tersebut di atas, peneliti masih perlu harus melakukan pengecekan data sampai diperoleh data yang benar sampai bisa menyusun laporan penelitian ini dengan benar.