FRAMING DEVICES
4.2.4 Strategi Framing Pada Berita Izin Siaran Televisi Swasta Habis Jelang Akhir Tahun Ini dalam Program Redaksi Pagi TRANS7
Berita Izin Siaran Televisi Swasta Habis Jelang Akhir Tahun ini dalam program Redaksi TRANS7 menjadi objek penelitian ini. Dewasa ini, banyak sekali media televisi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengangkat moment ini untuk dikaji, didiskusikan dan diinformasikan kemasyarakat. Framing dalam berita Izin Siaran Televisi Swasta Habis Jelang Akhir Tahun Ini, dapat menentukan strategi pembentukan reputasi positif ke masyarakat. Proses mengontruksi frame berita tersebut tidak terlepas dari pembingkaian media lain. Fisman (dalam Scheufele,1999, h.235) menyebut fenomena ini sebagai “News Wave”.
Peristiwa perpanjangan izin siar 10 tahun stasiun televisi kemudian dikemas oleh TRANS7 menjadi realitas media TRANS7. Realitas itu dikemas melalui tim penyeleksi peliputan media yang akan melakukan frame atas
peristiwa perpanjangan izin penyiaran 10 tahun stasiun televisi. Dalam frame berita Izin Siaran Televisi Swasta Habis Jelang Akhir Tahun Ini, memberikan pemahaman dan pemaknaan yang bersifat mendukung pemerintah dan harapan dan tantangan TRANS7 dalam 10 tahun yang akan datang sehingga mengakibatkan peristiwa dalam berita tersebut memiliki makna yang berbeda dengan pemberitaan media lainnya yang menyiarkan berita perpanjangan izin siar 10 tahun stasiun televisi. Kontruksi realitas dalam berita ini sangat dipengaruhi oleh siapa yang memiliki kepentingan atas berita tersebut. Tidak hanya itu, TRANS7 mempunyai kepentingan dalam penyebaran reputasi media melalui program berita salah satunya pemberitaan Izin Siaran Televisi Swasta Habis Jelang Akhir Tahun Ini.
Strategi framing yang dilakukan dalam pemberitaan Izin Siaran Televisi Swasta Habis Jelang Akhir Tahun Ini, terlihat pro atas kebijakan yang sudah dilakukan oleh pemerintah penyiaran seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Komisi Penyiaran Indonesia periode 2014-2016 terhadap proses Evaluasi Dengar Pendapat hingga dikeluarkannya rekomendasi kelayakan penyiaran. TRANS7 dalam program penyiarannya akan mengikuti pemerintah dan aparat undang-undang bukan untuk sekedar untuk persyaratan hak izin siar melainkan untuk sebuah visi yang lebih besar yang sudah disiapkan oleh Jajaran Management TRANS7, serta tayangan yang terbaik di seluruh lapisan masyarakat seluruh di tanah air menuju Indonesia yang lebih baik.
Dalam strategi framing berita Izin Siaran Televisi Swasta Habis Jelang Akhir Tahun Ini dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling mempengaruhi
terutama dipengaruhi oleh pemilik TRANS Media Group serta kepentingan kelompok politik tertentu mengakibatkan adanya frame yang disampaikan bukan realitas yang sesungguhnya melainkan adanya realitas yang dihilangkan dalam berita tersebut. Semua itu menurut Sheufele menyebut framing sebagai teori efek media.
Dalam peliputan berita ini yang dilakukan oleh satu orang reporter dan satu orang juru kamera press mampu dipengaruhi oleh ideologi, sikap dan norma ideologi yang dibahas dalam rapat peliputan. Hasil rapat peliputan, Reporter dan Juru kamera TRANS7 diterjunkan dalam peristiwa perpanjangan izin siar stasiun televisi. Staff Karyawan dan jajaran Redaksi, Pimpinan divisi Peliputan hadir dalam moment Evaluasi Dengar Pendapat yang dilaksanakan di Komisi Penyiaran Indonesia DKI Jakarta yang beralamat di jalan Gedung Prasada Sasana Karya Lt.2 Jl. Suryo Pranoto No. 8 Jakarta Pusat.
Seleksi pembingkaian berita tersebut hasil dari berita yang disampaikan kemasyarakat. Adanya kecenderungan kelompok media TRANS7 yang mendukung pemerintah serta mengkritik pemerintah yang tidak sesuai dan tidak sejalan dengan kebijakan organisasi media sehingga wacana yang disampaikan semakin variatif dan tidak monoton. Dari berita tersebut merefleksikan reputasi media ke masyarakat melalui reporter yang menyampaikan berita tersebut ke masyarakat. Masyarakatpun melihat dari framing yang sudah dikemas oleh TRANS7 kemudian masyarakat mencerna hasil dari pembingkaian berita yang dilakukan oleh TRANS7. Sehingga masyarakat mampu memberikan opini masyarakat dan bersikap terhadap peristiwa perpanjangan izin siar 10 tahun stasiun televisi. Setiap opini
masyarakat berbeda satu dengan yang lain. Dikarenakan adanya subjektifitas antar masing-masing individu yang mencernanya.
Peneliti sendiri mengakibatkan efek atas pemberitaan yang dilakukan oleh TRANS7 atas pemberitaannya. Efeknya itu berupa sikap terhadap peristiwa perpanjangan izin siar 10 tahun stasiun televisi, sehingga peneliti memutuskan untuk melakukan penelitian dan mengambil peristiwa perpanjangan izin siar 10 tahun stasiun televisi menjadi objek penelitian dalam kajiannya.
Wartawan yang diterjunkan dalam peliputan peristiwa perpanjangan izin siar 10 tahun stasiun televisi dalam kegiatan evaluasi dengar pendapat tidak terlepas dari pembingkaian atas wacana yang akan ditonjolkan dalam berita Redaksi Pagi TRANS7 Serta Reporter TRANS7 melihat berita yang sudah ditayangkan oleh media lain melalui U See TV maupun dari Youtube yang disebut dengan fenomena “News Wave”. Karena itu, berita yang ditonjolkan oleh TRANS7 hampir sama dengan media lain.
Bangunan framing atas Peristiwa Evaluasi Dengar Pendapat yang merupakan proses Perpanjangan Izin Penyiaran 10 Tahun Stasiun Televisi yang diselenggarakan oleh Komisi Penyiaran Pusat Periode 2014-2016. Bangunan-bangunan yang di angkat dari isu tersebut antara lain menceritakan awal munculnnya TRANS Media Group sudah mengudara selama 16 tahun, kemudian disusul dengan dihadirkannya Menteri Komunikasi dan Informatika yang menceritakan telah melakukan evaluasi izin dan kelengkapan administrasi sekaligus teknis yang berhubungan dengan frekuensi dan konten-konten acara. hasil evaluasi ini kemudian akan dibawa ke evaluasi dengar
pendapat yang juga melibatkan 10 lembaga penyiar swasta. Bagi komisi penyiaran Indonesia atau KPI mekanisme perizinan ini menjamin warga negara mendapatkan informasi yang baik dan benar sesuai dengan undang-undang penyiaran dan pedoman perilaku penyiaran KPI.
Disusul dengan adanya penonjolan yang dihadirkan oleh Judhariksawan, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia periode 2014- 2016 yang menceritakan Evaluasi Dengar Pendapat. Proses Evaluasi Dengar Pendapat adalah mekanisme Komisi Penyiaran Indonesia untuk mangevaluasi program-program siaran yang diselenggarakan oleh lembaga penyiaran. apakah 10 stasiun televisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan atau tidak.
Kemudian disusul oleh Ishadi SK (Komisaris TRANS Media) menceritakan tantangan dan harapan TRANS Media khususnya TRANS7 di 10 tahun yang akan datang. TRANS Media telah hadir dilayar kaca dari tahun 2001 senantiasa mengikuti pemerintah dan aparat undang-undang bukan untuk sekedar untuk persyaratan izin hak siar melainkan untuk sebuah visi yang lebih besar. Berkat tayangan yang terbaik yang ditampilkan oleh TRANS7 keseluruh lapisan masyarakat tanah air Indonesia menuju yang lebih baik. Semua itu aspek yang ditonjolkan dalam pemberitaan Izin Siaran Televisi Swasta Habis Jelang Akhir Tahun Ini dalam durasi 02 menit 23 detik.
Dengan cara bercerita dengan menghadirkan gugusan ide-ide yang disampaikan kemasyarakat melalui framing TRANS7 dalam pemberitaan Izin Siaran Televisi Swasta Habis Jelang Akhir Tahun Ini yang menghadirkan pemaknaan atas peristiwa Evaluasi Dengar Pendapat suatu wacana media yang dikemas dalam berita tersebut. Cara bercerita itu melalui kemasan yang
sistematis pemahaman yang digunakan oleh Individu untuk mengkontruksi makna pesan yang disampaikan kemasyarakat. Perjalanan pembentukan framing atas berita tersebut tidak sesederhana yang kita bayangkan. Banyak faktor yang ingut mempengaruhi atas kontruksi realitas media yang dihadirkan dalam membuat peristiwa dengan makna baru atas peristiwa perpanjangan izin penyiaran 10 tahun stasiun televisi.