BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Internalisasi
3. Strategi Internalisasi
Brooks dan Goole dalam Elmubarak mengatakan bahwasannya untuk mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah terdapat tiga elemen penting untuk diperhatikan, yaitu prinsip, proses, dan
praktiknya.20 Dalam pendidikan karakter menuju terbentuknya akhlak
mulia dalam diri siswa, ada tiga tahapan strategi yang harus dilalui,
yaitu:21
a. Moral Knowing/ Learning to Know
Tahapan ini merupakan langkah pertama dalam pendidikan karakter. Dalam tahap ini tujuan diorientasikan pada penguasaan pengetahuan tentang nilai-nilai. Siswa harus mampu: 1) membedakan nilai akhlak mulia dan akhlak tercela serta nilai-nilai universal; 2) memahami secara logis dan rasional pentingnya akhlak mulia dan bahaya akhlak tercela dalam kehidupan; 3) mengenal sosok Nabi Muhammad Saw, sebagai figur teladan akhlak mulia melalui hadits-hadits dan sunahnya.
20 Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 111.
b. Moral loving/ Moral Feeling
Belajar mencintai dengan melayani orang lain. Belajar mencintai dengan cinta tanpa syarat. Tahapan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa butuh terhadap nilai-nilai akhlak mulia. Dalam tahapan ini yang menjadi sasaran guru adalah dimensi emosional siswa, hati, jiwa, bukan lagi akal, rasio, dan logika. Guru menyentuh emosi siswa sehingga tumbuh kesadaran, keinginan, dan kebutuhan sehingga siswa mampu berkata kepada dirinya sendiri, “Iya, saya harus seperti itu…” atau “Saya perlu mempraktekkan akhlak ini…” Untuk mencapai tahapan ini guru bisa memasukinya dengan kisah-kisah yang menyentuh hati, modelling, atau kontemplasi. Melalui tahap ini pun siswa diharapkan mampu menilai dirinya sendiri (muhasabah), semakin tahu kekurangan-kekurangannya.
c. Moral Doing/ Learning to do
Inilah puncak keberhasilan mata pelajaran akhlak, siswa mempraktekkan nilai-nilai akhlak mulia itu dalam perilakunya sehari-hari. Siswa menjadi semakin sopan, ramah, hormat, penyayang, jujur, disiplin, cinta, kasih dan sayang, adil serta murah hati dan seterusnya. Selama perubahan akhlak belum terlihat dalam perilaku anak walaupun sedikit, selama itu pula kita memiliki pertanyaan yang harus selalu dicari jawabannya. Contoh atau teladan adalah guru yang paling baik dalam menanamkan nilai.
siapa kita dan apa yang kita berikan. Tindakan selanjutnya adalah pembiasaan dan pemotivasian.
B. Kajian Nilai
1. Pengertian Nilai
Nilai berasal dari bahasa latin vale’re yang artinya berguna, mampu akan, berdaya, berlaku, sehingga nilai diartikan sebagai sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang. Nilai adalah kualitas suatu hal yang menjadikan hal itu disukai, diinginkan, dikejar, dihargai, berguna dan dapat membuat orang yang menghayatinya
menjadi bermartabat.22
Nilai merupakan preferensi yang tercermin dari perilaku seseorang, sehingga seseorang akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu tergantung pada sistem nilai yang dipegangnya. Nilai akan selalu berhubungan dengan kebaikan, kebajikan, dan keluhuran budi serta akan menjadi sesuatu yang dihargai dan dijunjung tinggi serta dikejar oleh seseorang sehingga ia merasakan adanya suatu kepuasan, dan ia merasa menjadi manusia yang sebenarnya.
Nilai tidak selalu sama bagi seluruh warga masyarakat, karena dalam suatu kelompok-kelompok yang berbeda secara sosio-ekonomis,
22 Sutarjo Adisusilo, J.R, Pembelajaran Nilai Karakter (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), hlm. 56-57.
politik, agama, etnis, budaya, dimana masing-masing kelompok sering memiliki sistem nilai yang berbeda-beda. Konflik dapat muncul antar pribadi, atau antar kelompok karena sistem nilai yang tidak sama atau berbenturan satu sama lain. Oleh karena itu, jika terjadi konflik, dialog merupakan salah satu solusi terbaik sebab dalam dialog terjadi usaha untuk saling mengerti, memahami, atau menghargai sistem nilai kelompok lain, sehingga dapat memutuskan apakah orang harus menghormati dan bersikap toleran terhadapnya, atau menerima atau mengintegrasikan dalam sistem nilainya sendiri.
Sehubungan dengan peranan nilai dalam kehidupan manusia, ahli pendidikan nilai dari Amerika Serikat, Raths, Harmin, dan Simon, mengatakan: “Values are general guides to behavior which tend to give direction to life”. Jadi, nilai itu merupakan panduan umum untuk membimbing tingkah laku dalam rangka mencapai tujuan hidup
seseorang.23
2. Tujuan Pendidikan Nilai
Menurut Djiwandono, pembelajaran nilai di sekolah (termasuk
Sekolah Dasar) mempunyai tujuan sebagai berikut:24
a. Menanamkan nilai-nilai untuk menangkis nilai-nilai negatif atau yang cenderung mendorong nilai-nilai negatif dalam artian moral sebagai akibat arus globalisasi.
23 Ibid, hlm. 59.
24
Soedjati Djiwandono, Globalisasi dan Pendidikan Nilai, sebagaimana dikutip Agus Zaenul Fitri, Pendiidkan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah, op.cit., hlm. 93.
b. Memerangi kecenderungan materialisme, konsumerisme, dan hedonisme. Misalnya, yang dapat dibawa atau sekurang-kurangnya didorong oleh arus globalisasi, ditanamkan nilai kesederhanaan dan cinta kepada sesama.
c. Menanamkan pemahaman dan penghayatan nilai kemanusiaan dan ketuhanan karena kecenderungan materialisme, konsumerisme, dan hedonisme sebenarnya dapat dianggap sebagai cermin egoisme, kurang cinta kasih, dan kurang peduli terhadap orang lain.
3. Indikator Nilai
Nilai sebagai sesuatu yang abstrak menurut Raths, et al, ahli pendidikan nilai dari Amerika Serikat, mempunyai sejumlah indikator yang dapat kita cermati.
Indikator yang dapat kita cermati, yaitu:25
a. Nilai memberi tujuan dan arah (goals or purpose) kemana kehidupan harus menuju, harus dikembangkan atau harus diarahkan.
b. Nilai memberi aspirasi (aspirations) atau inspirasi kepada seseorang untuk hal yang berguna, yang baik, yang positif bagi kehidupan.
c. Nilai mengarahkan seseorang untuk bertingkah laku (attitudes), atau bersikap sesuai dengan moralitas masyarakat, jadi nilai itu
memberi acuan atau pedoman bagaimana seseorang harus bertingkah laku.
d. Nilai itu menarik (interest), memikat hati seseorang untuk
dipikirkan, untuk direnungkan, untuk dimiliki, untuk
diperjuangkan dan untuk dihayati.
e. Nilai mengusik perasaan (feelings), hati nurani seseorang ketika sedang mengalami berbagai perasaan, atau suasana hati, seperti senang, sedih, tertekan, bergembira, bersemangat, dan lain-lain. f. Nilai terkait dengan keyakinan atau kepercayaan (beliefs and
convictions) seseorang, suatu kepercayaan atau keyakinan terkait dengan nilai-nilai tertentu.
g. Suatu nilai menuntut adanya aktivitas (activities) perbuatan atau tingkah laku tertentu sesuai dengan nilai tersebut, jadi nilai tidak berhenti pada pemikiran, tetapi mendorong atau menimbulkan niat untuk melakukan sesuatu dengan nilai tersebut.
h. Nilai biasanya muncul dalam kesadaran, hati nurani atau pikiran seseorang ketika yang bersangkutan dalam situasi kebingungan, mengalami dilema atau menghadapi berbagai persoalan hidup (worries, problems, obtacles).