• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TEMUAN DATA

C. Strategi Komunikasi pada Kampanye (P2P) TB

2. Strategi Komunikasi melalui Program

Kegiatan - kegiatan di atas terdapat di dalam program - program yang dibuat oleh Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Yenvetris sebagai seksi P3M (Pengendalian Penyakit Menular) mengatakan Dinas Kesehatan banyak melakukan program dan kegiatan seperti program penyuluhan - penyuluhan ke masyarakat. Hal ini disampaikan oleh narasumber berikut:

“kita kan tidak hanya mengobati saja tentu kita juga ada pengendaliannya, dan juga kitaa adain penyuluhan ke masyarakat”.79

78 Dokumentasi Dinas Kesehatan Provinsi Riau 2017 ( diakses tanggal 8 Februari 2018).

79 (Yenvetris selaku Kepala seksi P3M (Pengendalian Penyakit Menular), wawancara langsung pada tanggal 31 Oktober 2017, pukul 10.00 WIB).

55

Gambar 3.7 Salah satu penyuluhan tentang Tuberkulosis di Puskesmas Melur80

Kemudian adapun program lainnya yaitu program pelatihan kader yang sejauh ini sudah terbentuk di 12 Kabupaten Kota. Hal ini dikatakan oleh Dwi sebagai Pengelola Pemegang Program TB dalam wawancara berikut:

“kader kita sudah banyak, pos di desa kita juga sudah terbentuk 12 kabupaten kota, pamalitibi sudah tersebar di kabupaten khususnya pekanbaru kita udah punya hampir empat Puskesmas”.81

Hal serupa juga disampaikan oleh Dwi Sri Rahayu ada juga program gerakan kesehatan yaitu seperti Gerakan Kader Ketuk Pintu, Gerakan Kader Ketuk Pintu ini gerakan secara komprehensif yang akan memeriksa kondisi kesehatan lingkungan di rumah dalam menemukan penderita TB dengan mendatangi rumah - rumah warga atau masyarakat. Dwi Sri Rahayu juga menjelaskan cara kerja dari Gerakan Kader Ketuk Pintu ini bahwa kader dibentuk untuk melakukan pencarian pasien TB, dalam pencariannya kader itu di gerakkan untuk datang ke rumah tetangga sekitar pasien yang terkena TB tersebut kemudian jika ditemukan masyarakat yang batuk lebih dari 2 minggu maka dilakukan ketuk pintu dan akan diberi PO dahak, lalu selanjutnya dibawa periksa ke puskesmas. Hal ini disampaikan oleh narasumber sebagai berikut :

80 Dokumentasi Dinas Kesehatan Provinsi Riau 2017 ( diakses tanggal 8 Februari 2018).

81 (Dwi selaku Pengelola Program TB dan PPO Komponen TB, wawancara langsung pada tanggal 9 November 2017, pukul 09.00 WIB).

56

“Kader itu dibentuk untuk melakukan pencarian pasien TB, itu yang di cari bila ada masyarakat yang batuk lebih dari 2 minggu itu dilakukan ketuk pintu, itu biasanya dilakukan kepada masyarakat yang dekat dengan pasien, maksudnya yang rumahnya dekat dengan pasien terkena TB, jadi dilingkungan sekitarnya kita datang ke rumah tetangga sekitar pasien TB yang mempunyai riwayat batuk lebih dari 2 minggu kemudian kader itu kita gerakkan untuk melakukan pencarian pasien TB tersebut, dan jika ada pasien yang batuknya lebih dari 2 minggu kita kasih PO dahak, lalu kita suruh periksa ke puskesmas”.82

Adapun gerakan kesehatan lainnya pemegang program TB Dinas Kesehatan Provinsi Riau juga membuat program Gerakan Masyarakat Menuju Indonesia Bebas Tuberkulosis, program ini dibuat untuk mengetahui cara pencegahan TB melalui PHBS (Prilaku Hidup Bersih dan Sehat). Dan juga program TipeTenis, program ini dibuat untuk memudahkan pemeriksaan pasien agar cukup melakukan pemeriksaan di puskesmas tanpa harus kerumah sakit. Hal ini disampaikan oleh Dwi sebagai Pengelola Pemegang Program TB dalam wawancara berikut:

“ada TipeTenis ,jadi puskesmas sekarang udah wajib melakukan pemeriksaan Puskopi jadi tidak harus kirim pasien kerujukan ke puskesmas lagi jadi wajib puskesmas bisa melakukan pemeriksaan di Puskopisnya”.83

Selanjutnya untuk penemuan kasus TB anak, adapun programnya dinamakan dengan PPH anak yaitu program ini untuk menemukan kasus TB dengan mencari indek kasus secara langsung yang turun ke lapangan, seperti ketuk pintu. Dan jika menemukan kasus ini dan hasilnya negatif, maka masyarakat mendapatkan profil aktif pencegahan TB anak. Hal ini dikatakan oleh Dwi dalam wawancara berikut ini:

“untuk TB anak kita punya PPH anak, jadi petugas menemukan kasus dengan mencari indek kasus turun termasuk ketuk pintu atau keluarga

82 (Dwi selaku Pengelola Program TB dan PPO Komponen TB, wawancara langsung pada tanggal 9 November 2017, pukul 09.00 WIB).

83 (Dwi selaku Pengelola Program TB dan PPO Komponen TB, wawancara langsung pada tanggal 9 November 2017, pukul 09.00 WIB).

57

sehat jika menemukan kasus ini, mendapatkan PPINH atau profil aktif pencegahan TB anak”.84

Seperti yang dijelaskan Dwi Sri Rahayu sebagai pemegang program TB, program kampanye ini merupakan hal yang telah direncanakan dengan matang.

Karena menurut Dwi dengan adanya penyakit menular TB yang sedang terjadi ini maka perlu adanya penanganan yang sesuai, cepat dan tepat. Karena penyakit menular TB ini sudah dikategorikan dalam penyakit yang berbahaya, maka perlu adanya tindakan dalam penanganannya.

Kemudian dalam penyuluhan itu ada juga pihak - pihak yang mendukung dalam strategi pelaksanaan program yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Riau ini. Peneliti juga menanyakan kepada salah satu Dokter Puskesmas yang ada di Kabupaten Kuansing sebagai pihak pendukung dari kampanye ini untuk mengetahui adakah pengaruh dari kampanye program (P2P) TB yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Riau, dan bagaimana tanggapan dari pihak pendukung yang terkait dengan adanya kampanye program pengendalian dan pencegahan penyakit (P2P) TB ini.

Dalam wawancara dengan Dokter Wiwit selaku Dokter Puskesmas di Kabupaten Kuansing mengatakan bahwa kampanye program (P2P) TB yang dilakukan ini sangat membantu sekali, dikarenakan program ini dapat menjaring masyarakat yang terkena TB atau Tuberkulosis sehingga hal ini sangat berpengaruh kepada masyarakat. Hal ini dikatakan oleh narasumber berikut:

“Sangat membantu sekali karena program ini bisa menjaring masyarakat yang terkena penyakit TB atau Tuberkulosis ya. Dan program ini sangat berpengaruh sekali ya”.85

Karena sebelumnya pasien dengan penderita TB ini tidak ada yang mengetahui oleh masyarakat, setelah adanya penyuluhan program (P2P) TB ini pihak puskesmas bisa mengetahui atau bisa menjaring lebih banyak lagi pasien dengan penderita TB. Hal ini juga dikatakan oleh Wiwit dalam wawancara berikut:

84 (Dwi selaku Pengelola Program TB dan PPO Komponen TB, wawancara langsung pada tanggal 9 November 2017, pukul 09.00 WIB).

85 (Wiwit selaku Dokter Puskesmas di Kabupaten Kuansing, wawancara langsung pada tanggal 18 November 2017, pukul 15.00 WIB).

58

“yang sebelumnya pasien dengan penderita TB ini tidak ada yang mengetahui oleh masyarakat, sekarang dengan adanya program (P2P) TB ini bisa mengetahui atau bisa menjaring lebih banyak lagi pasien dengan menderita TB”.86

Menurut Wiwit selaku Dokter Puskesmas yang bekerja di Kabupaten Kuansing ini juga mengatakan bahwa dengan adanya program ini dapat menimbulkan dampak yang positif terhadap masyarakat, karena dengan program ini dapat mengetahui pasien yang terkena penyakit TB. Seperti yang dikatakan narasumber berikut:

“program ini sangat berdampak positif karena bisa menjaring lebih banyak lagi pasien dengan penyakit TB yang selama ini pasien ini hanya diketahui batuk - batuk biasa”.87

Kemudian adapun program - program yang dijalankan kepada masyarakat sangat berjalan dengan lancar. Dalam pelaksanaan di puskesmas yaitu pihak pemegang program mendatangi rumah - rumah pasien yang menderita batuk, dan di puskesmas - puskesmas ini banyak yang terjaring pasien dengan penyakit TB.

Seperti yang dikatakan oleh narasumber berikut:

“Sampai saat ini sepertinya program berjalan lancar, karna dipuskesmas - puskesmas itu sekarang semakin banyak yang terjaring pasien dengan penyakit TB. Dan cara pelaksanaannya itu biasanya pemegang program di puskesmas itu mendatangi rumah - rumah pasien yang menderita batuk, atau misalnya pasien datang ke puskesmas dengan batuk, kemudian ditanya apakah keluarga juga menderita batuk atau anak famili juga menderita batuk, maka petugas kesehatan puskesmas akan langsung turun ke rumah pasien tersebut untuk meninjau kembali keluarga - keluarga pasien tersebut”.88

Wiwit menganggap hal ini, bahwa dengan kampanye yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Riau dapat menjangkau semua masyarakat.