Mematenkan Lokasi Tempat Usaha : Cekatan meloloskan diri dari
kebijakan relokasi
Ketidak layakan pasar yang ada di Akediri, pertama-tama adalah karena kedudukanya yang berhimpitan dengan permukiman penduduk, dan berdekatan dengan markas militer yang dipandang pemerintah daerah merupakan wilayah yang harus terjaga keamanannya. Selain itu keterbatasan lahan alternatif lain yang ada di Akediri, telah menyebabkan pemerintah daerah tidak memasukan pasar ini dalam rencana detail tata ruang kota Jailolo. Sehingga pasar tersebut tidak termasuk dalam salah satu wilayah pengembangan perdagangan kota Jailolo.
Aktifitas perdagangan yang terjadi di Akediri tidak dipandang menguntungkan baik masyarakat, pedagang termasuk Pemerintah Daerah. Keterbatasan lahan menyebabkan aktifitas berdagang berlangsung dalam keseharian hidup aktifitas masyarakat setempat, dari segi estetika permukaiman penduduk telah terhalang oleh toko, kios maupun lapak para pedagang yang berderet di depan kintal rumah mereka.
Bangunan toko, kios atau lapak milik pedagang itu, memiliki status kepemilikan yang beragam. Selain sebagai milik pribadi karena penduduk setempat, ada juga yang berusaha untuk memiliki hak milik atas tempat tersebut dengan cara membeli, tetapi ada juga pedagang yang hanya mampu mengontrak lahan-lahan dimana mereka membangun tempat usahanya.
176
Jika melihat kriteria pedagang yang berhak direlokasi yakni mereka yang tidak memiliki ijin usaha dan yang mengontrak tempat usaha, tentu hal itu akan menimbulkan polemik di antara sesama pedagang. Karena kebijakan tersebut, akhirnya menguntungkan pedagang besar yang ada di Akediri yang mampu secara materi, akan berusaha membeli lahan tersebut dan mengupayakan ijin usahanya.
Inilah yang terjadi di pasar Akediri. Belajar dari kasus tersebut, akhirnya bu Damis Pasuma, dan ibu Rohani M. Ahmat, mereka berdua berusaha untuk mematenkan lahan tempat usahanya dengan cara membeli dan kemudian mengurus ijin usaha. Cara itu ditempuh mereka, karena ada celah dari kebijakan yang memungkinkan pengusaha besar lolos dari upaya relokasi pedagang di pasar Akediri, dimana mereka ini kebanyakan ada di Akediri setelah konflik terjadi.
Contohnya Ci Hoa dahulu ia berada di Gufasa pusat ibukota kecamatan, ia ada di Akediri setelah konflik reda. Begitu juga dengan Ci Fani sebelum rusuh ia berjualan di desa Tuada, ketika konflik terjadi mereka mengungsi dan akhirnya berdagang di Akediri. Lain halnya dengan Ibu Safiani Ode dan om Yon Flory, melalui kontrak lahan dalam waktu yang panjang dan penggunaan uang yang cukup besar oleh tuan tanah, mereka berharap suatu saat akan dapat memiliki tempat tersebut, ketika tuan tanah terbelit dengan pinjamannya atau terdesak dalam masalah yang sama yakni kebutuhan uang kontan dalam waktu mendesak.
Kalau pemerintah daerah keberatan dengan pasar Akediri karena persoalan lahan, nampaknya hal itu bertentangan dengan kebijakan relokasi yang mengacu pada kepemilikan lahan dan ijin usaha. Karena itu satu-satunya cara untuk lolos dari ancaman relokasi, para pedagang berusaha untuk mendapatkan lahan dimana mereka membangun tempat usahanya.
Baik dengan cara membeli secara langsung, mengontrak dalam jangka waktu yang panjang untuk mendapatkan tempat tersebut, atau memberi pinjaman dalam jumlah besar, dan berharap pemilik tanah tidak mampu mengembalikan uang mereka. Sehingga dengan begitu ia
177 melepaskan lahanya. Cara-cara inilah yang dilakukan baik oleh bu Damis, ibu Safiani, om Yon Flory maupun sejumlah pedagang besar lainnya yang berusaha untuk memiliki lahan sendiri, sehingga dapat lolos dari kebijakan relokasi pedagang yang ada di Akediri.
Menambah Tempat Usaha Dan Konversi Usaha
Menghadapi pasang surut kebijakan pemerintah daerah, masing-masing pedagang memiliki cara yang berbeda-beda, meskipun ada juga kesamaannya. Misalnya ibu Rohani M.Ahmat. Untuk mengantisipasi relokasi pasar Akediri, Ia telah memperluas usahanya ke wilayah lain. Selain di Akediri Ia juga memiliki satu unit toko dirumah kediamanya dan satu tempat usaha lagi di wilayah Ibu tempat suaminya bertugas sebagai anggota Koramil (Komando Rayon Militer) kecamatan Ibu.
Selain memperbanyak tempat usaha ibu Rohani juga menambah jenis usaha. Selain usaha penjualan sembako dan bisnis kopra yang digeluti ibu Rohani di Jailolo, Ia juga telah merambah ke bisnis material bahan bangunan, dan pembelian kopra di kecamatan Ibu tempat suaminya bertugas sebagai anggota Koramil (Komando rayon militer). Pengembangan usaha bukan saja sebagai antisipasi terjadinya relokasi pasar, tetapi karena ada peluang usaha dan desakan konsumen, seperti di kecamatan ibu, kata ibu Rohani M. Ahmad (Wawancara,25 Jjanuari 2013).
Lain halnya dengan bu Damis, sekalipun tidak memperbanyak tempat usaha, namun bu Damis Pasuma telah menamba jenis usahanya. Kalau pada awalnya bisnis yang digeluti bu Damis hanyalah sembako, dan pembelian kopra, kini Ia telah merambah ke bisnis jasa angkutan barang.
Secara riil bu Damis hanya memiliki satu tempat usaha di Akediri, sedangkan bisnis kopra yang Ia jalin bersama pemilik modal, Ia lebih memilih untuk tidak menampung kopra ditempatnya. Tetapi kopra-kopra dari langganannya ditimbang dan dibawah langsung ke
178
gudang penampungan, sehingga Ia tidak memerlukan tempat penyimpanan.
Setelah kopra-kopra itu dibawa kegudang dan ditimbang bu Damis hanya mengumpulkan nota timbanganya. Hal inilah yang membuat bisnis kopra yang Ia jalani tidak nampak di permukaan, seperti usaha lain atau seperti pengusaha besar lain yang memiliki gudang penampungan kopra.
Selanjutnya jika dipandang cukup dan mereka membutuhkan uang, nota timbangan kopra tersebut kemudian diperhitungkan bersama pemilik modal yang menampung kopra darinya. Selain usaha sembako dan bisnis kopra, bu Damis kemudian mengembangkan usahanya ke bisnis jasa angkutan barang dan terbilang sukses. Setidaknya di bidang usaha ini Ia telah memiliki tiga truk angkut, dan ketiganya sudah dibayar lunas (Wawancara, 10 Mei 2012).
Upaya untuk mengkonversi usaha memang pernah dilakukan oleh om Yon Flori. Menurutnya selain berdagang sembako, Ia juga menggeluti bisnis kopra dan jasa angkut barang. Ia juga membangun kemitraan dengan para kontraktor bangunan, sebagai subkontrak pekerjaan dari mereka kontraktor besar pemenang tender di beberapa bangunan milik pemerintah.
Tetapi langkah untuk mengembangkan usaha ternyata tidak memberikan hasil baik bagi om Yon. Bisnis kopra, usaha jasa angkut barang, maupun kemitraan dengan kontraktor, hanya tinggal kenangan dalam kelana membangun usaha, kata om Yon Flori. Bisnis kopra dan angkutan barang yang melibatkan anggota keluarga lainya, ternyata tidak berjalan muslus.
Bahkan menurut om Yon kegagalan dalam kedua usaha tersebut, tidak lepas dari perilaku menyimpang dari kerabatnya yang terlibat dalam bisnis-bisnia yang Ia jalani, demikian kata om Yon dengan raut wajah yang tak menggembirakan (Wawancara, 26 Januari 2013). Kini Ia hanya fokus pada bisnis sembako sebagai satu-satunya usaha yang Ia geluti.
179
Menggunakan Modal Pihak Lain : Tak ada rotan, masih ada pohon yang lain
Berbicara tentang sumber modal finances yang dipergunakan oleh para informan untuk membangun usahanya, pada umunya mereka menggunakan modal pribadi. Modal tersebut ada yang diperoleh dengan cara menggadaikan perhiasan, maupun uang simpanan mereka.
Seperti bu Damis Pasuma, untuk mendapatkan modal usaha mereka menggadaikan perhiasan milik istrinya. Dengan uang tujuh ratus limas puluh ribu rupiah tersebut, mereka kemudian membelanjakan barang-barang jualan secara bertahap. Menurut usi Teker istrinya bu Damis, awalnya mereka membelanjakan barang-barang dagangan seperti sabun dan supermi secara bertahap, yakni satu dua lusin atau satu dua dos supermi.
Dari keuntungan yang didapat kemudian baru ditingkatkan kuota belanja barang, tentu disesuaikan dengan keuangan dan kebutuhan konsumen (Wawancara, 10 Mei 2012).
Tetapi untuk meningkatkan usaha, bu Damis mempunyai pengalaman mengajukan permohonan bantuan dana kepada Dinas Koperasi dan UKM Halmahera Barat. Menurutnya proses penentuan bantuan dana yang terjadi Dinas Koperasi dan UKM terlalu lama dan tidak ada kepastian. Hal itu berbeda ketika Ia mengajukan kredit ke bank Danamon, pelayanan simpel, ada kepastian dan hanya membutuhkan waktu seminggu kredit modal usaha yang Ia ajukan sudah dicairkan.
Untuk mendapatkan kredit modal usaha yang ditawarkan oleh bank Danamon, bu Damis hanya menjaminkan setrifikat rumah dan 1 BPKB truk yang sudah menjadi miliki mereka, tututr bu Damis (Wawancara, 10 Mei 2012).
Ketidak pastian pendanaan bantuan modal usaha pada Dinas Koperasi dan UKM Halmahera Barat, juga dikemukan oleh om Yon Flory. Ia memang tidak mengajukan permohonan bantuan dana ke instansi pemerintah itu, melainkan dua proposal yang Ia masukan pada tahun 2004 dan 2005 milik dua saudaranya tidak terdanai.
180
Bercermin dari pengalaman itu, om Yon berpendapat bahwa jika ingin membesarkan usaha sebaiknya bermitra dengan bank, karena ada kepastian, tinggal bagaimana aset dan usaha yang kita miliki. Kecilnya bantuan modal usaha yang disediakan oleh pemerintah lewat Dinas Perindag dan UKM, yakni hanya lima juta rupiah untuk usaha kecil, di mata om Yon tidak berarti apa-apa pada kondisi usaha saat ini.
Untuk meningkatkan usahanya akhirnya om Yon mengajukan pinjaman ke Bank Danamon yang terbilang lebih simple pelayanannya dan ada kepastian, kata om Yon (Wawancara, 26 Januari 2013).
Keputusan menggunakan modal bank sebetulnya tidak lahir dari inisiatif om Yon Flory, tetapi karena salah satu ponakanya bekerja di bank Danamon. Sebagai pegawai yang membidangi perkreditan, ia mengejar pertumbuhan angka kredit usaha yang tinggi. Karena itu Ia menawarkan pinjaman modal usaha. Desakannya kepada om Yon, katanya, kalau pencapaian angka kreditnya tinggi hal itu meningkatkan kredit pointnya upaya pemasaran pinjaman modal usaha kepada nasabah.
Tawaran dan alasan dari pegawai bank, yang menggunakan pendekatan keluarga karena memang masih memiliki hubungan kekerabatan, membuat om Yon luluh dan tergerak untuk menggunakan modal usaha dari perbankkan. Sebab menurutnya sebenarnya Ia sudah tidak mau menggunakan modal bank, karena kalau menggunakan modal usaha dari bank, itu berarti kita mengutang. Hal ini membuat kita dipacu terus menerus untuk berusaha, agar usaha tetap berkembang sehingga dapat melunasi utang tersebut. Intinya kalau berhutang di bank kita tidak bias tidur ‘sono’ demikian tegas om Yon Flori (Wawancara,26 Januari 2013).
Demi meningkatkan angka kredit point ponakannya itu, akhirnya om Yon mengajukan kredit modal usaha ke bank Danamon, kelakarnya kepada pegawai bank, berapa yang bisa kamu berikan kepada tua8, katanya dua ratus juta. Mendengar itu akhirnya om Yon
8 Tua, adalah sapaan lokal yang menunjuk pada seseorang yang lebih tua dalam silsilah keluarga yakni dari keluarga ibu atau bapak. Biasanya kata ini disandingkan dengan
181 setujuh untuk mengajukan kredit ke bank Danamon, dan benar terdanai seperti yang dijanjikan ponakannya yakni, sebanyak Rp 200.000.000.
Dalam dua tahun perjalanan mengangsur pinjamannya, pihak bank kembali menawarkan perpanjangan kredit dengan om Yon dan hal itu disetujuinya. Kini om Yon sudah masuk pada termin kedua pengagunaan modal bank, dengan akumulasi pinjaman yang sama dengan pinjaman pada termin pertama, sehingga secara keseluruhan dalam kurun waktu tiga tahun, 2010-2013 om Yon Telah menggunakan modal usaha dari bank sebanyak Rp 400.000.000.
Anggunan yang disertakan untuk mendapatkan pinjaman modal usaha adalah sertifikat rumah, bagi om Yon ini adalah seni dalam hidup, katanya bahwa tidak ada orang yang tidak pernah berhutang, negara sendiri juga berhutang, karena itu jika mau mengembangkan usaha, sebaiknya bermitra dengan bank tegas om Yon Flory (Wawancara, 26 Januari 2013).
Seperti bu Damis dan om Yon, yang akhirnya menggunakan modal bank, demikian juga dengan ibu Rohani M. Ahmad. Memang untuk bisnis sembako Ia tidak menggunakan modal bank, tetapi modal pribadinya. Namun ketika Ia merambah ke bisnis kopra Ia akhirnya menggunakan modal bank.
Menurutnya bisnis kopra membutuhkan uang kontan dan itu dalam jumlah besar, sebab terjadi transaksi langsung, dan dalam jangka tiga sampai enam bulan baru di jual ke Manado. Jadi jika ingin memperoleh hasil yang besar, dibutuhkan modal yang besar pula, kata ibu Rohani (Wawancara,25 Januari 2013).
Jika mencermati apa yang dikemukan oleh Pak Ismail Arifin Kadis Perindag Halmahera Barat, tentu sudah jelas terlihat bagaimana sikap pemerintah daerah terhadap pasar maupun pedagang yang ada di Akediri. Pemerintah tidak saja mengilegalkan pasar, melainkan juga membatasi bantuan modal usaha maupun ijin usaha bagi pedagang kata bapa atau mama, sehingga menjadi bapa tua, atau mama tua, dan dalam bentuk singkat disebut Tua, yang menunjuk pada keduan figur tersebut.
182
yang mengontrak tempat usahanya, juga memiliki ijin usaha (wawancara,27 Januari 2013).
Konversi Usaha, Swa Relokasi Tempat Dan Mengakhiri Usaha
Kebijakan pemerintah daerah merelokasi pedagang pasar Akediri ke pasar Akelamo, tidak hanya berdampak menurunkan pendapatan mereka. Tetapi ketika pendapatan tidak lagi berimbang dengan konsumtif mereka, hal itu tentu mempengaruhi modal.
Dari tujuh informan yang diwawancarai, dua orang diantaranya sudah melakukan konversi usaha jauh sebelum relokasi ke pasar Jailolo maupun Akelamo. Mereka itu adalah bu Damis dan ibu Rohani. Sedangkan lima orang lainya tidak melakukan konversi usaha. Ketika direlokasi ke pasar Akelamo, hanya ibu Rohani dan Alimin yang tidak turut serta dalam relokasi tersebut.
Sebab ketika itu Alimin Sabri belum berjualan di Akediri, sedangkan ibu Rohani sudah memiliki hak milik tempat dan ijin usaha, sehingga Ia sudah membangun toko yang permanen di Akediri. Kebijakan relokasi yang memprioritaskan pedagang yang masih mengontrak tempat (lahan) dan tidak memiliki ijin usaha, tak terhindarkan menyebabkan, om Aba, Damis Pasuma, tante Ratna, ibu Safiani Ode, dan om Yon Flory tidak dapat bertahan di Akediri.
Namun ketika direlokasi om Yon tidak bertahan lama di Akelamo, tak lebih dari sebulan Ia langsung kembali ke Akediri, tutur om Yon Flory (Wawancara,26 Januari 2013).
Secara khusus dalam bagian ini akan menyoroti tindakan mengkonversi usaha, sewa relokasi, dan keputusan mengakhiri usaha yang dilakukan oleh informan.
Sikap tidak melegalkan pasar Akediri oleh pemerintah daerah, kemudian ditindaklanjuti dengan keputusan untuk merelokasi pedagang ke pasar Akelamo di Sahu Timur. Keputusan akhirnya menempatkan mereka pada kondisi rentan, baik om Aba, tante Ratna, dan juga sesama pedagang yang turut direlokasi ke pasar Akelamo. Dengan bisnis pakaian yang dijalani om Aba, Ia merasa kesulitan ketika
183 hanya satu atau dua kaos yang laku terjual dalam sehari, berbeda dengan usaha Sembako jika barang tidak laku terjual barang tersebut bisa dimakan kata om Aba (Wawancara, 26 Januari 2014).
Menurutnya jika sehari Ia hanya bisa mendapat Rp 50.000 sampai Rp 70.000 itu sudah beruntung, tetapi dalam realita kadang sehari tidak satu potong pakaian pun laku terjual. Menghadapi kondisi tersebut akhirnya, selain tetap bertahan menjalani usaha dagang pakaian di pasar Akelamo, akhirnya om Aba melakukan konversi usaha, dan arena itu Ia memutuskan untuk terjun ke ladang untuk menanam cabai dan tomat.
Pilihan usaha penanaman cabai dan tomat sebagai usaha alternatif lain, disamping bisnis pakaian, selain karena bisnis pakaian tidak dapat diandalkan sebagai tumpuan utama pendapatan rumah tangga, juga karena om Aba mempunyai pengalaman di bidang usaha tersebut. Kata om Aba :
…“ Menanam rica dan tomat, mengerjakan sawah, menjadi tukang baik tukang kayu, atau tukang batu, hal itu merupakan pekerjaan yang biasa Ia lakukan ketika masih di Gorontalo (Wawancara,26 Januari 2013).
Sehingga keuntungan dari berdagang pakaian, tidak Ia investasikan untuk bisnis pakaian, melainkan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sebagian lagi di investasikan ke usaha tanam rica dan tomat. Dengan hanya memiliki modal dua sampai tiga juta rupiah, bagi om Aba tidak mungkin Ia dapat berbelanja pakaian ke Manado, baginya bisnis pakaian membutuhkan biaya besar dan harus mengikuti perkembangan kebutuhan konsumen.
Persaingan di bisnis pakaian kata om Aba sangat ketat, karena itu siapa kalah modal dan model Ia akan ketinggalan, tutur om Aba (Wawancara,26 Januari 2013). Selain terjun ke ladang, dan bertahan dengan bisnis pakaian yang makin memprihatinkan, akhirnya om Aba merelokasi kembali usahanya keluar ke perempatan jalan utama desa Akelamo kecamatan Sahu Timur. Di tempat yang baru itu, Ia harus membangun lapak dengan biayanya sendiri, setelah Ia bertahan selama satu tahun di dalam pasar Akelamo.
184
Sekalipun om Aba telah berupaya merelokasi usahanya ke luar dari pasar Akelamo ke pinggiran perempatan jalan utama desa Akelamo, hal itu tidak berhasil mempertahankan bisnis pakaiannya. Pendapatan ketika berjualan di pinggiran jalan perempatan desa Akelamo, tak jauh berbeda saat berada di dalam pasar Akelamo. Pendapata rata-rata hanya berkisar Rp 70.000 sampai Rp 100.000 perhari.
Pendapatan yang demikian mana cukup untuk berbelanja ke Manado, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja hampir tidak mencukupi, kata om Aba (Wawancara,26 Januari 2013).
Selain menghadapi kenyataan bahwa Ia tidak dapat mempertahankan bisnis pakaiannya, ketidak stabilan usaha yang berimbas pada pendapatan yang tidak pasti, juga merupakan salah satu sebab Ia berpisah dengan istrinya, Katanya :
…“Begitu sudah kalau kita laki-laki sudah tidak mempunyai apa-apa pasti perempuan juga mengeluh, jadi mau bilang apa kondisi waktu itu memang sulit, bisnis pakaian tidak laris karena kesepian pengunjung, sedangkan tanaman rica dan tomat belum menghasilkan. Ketika ada uang dan saya memintanya kembali Ia sudah tidak mau kembali, jadi begitulah ceritanya” (Wawancara, 26 Januari 2013).
Kini om Aba menetap di Akediri dan terus menanam cabai dan tomat bersama istri barunya, sebagai usaha alternatif yang Ia pilih ketika menutup dagangan pakaiannya, dan sesekali meluangkan waktu membantu saudara perempuanya berdagang di pasar Akediri.
Kalau om Aba turun ke ladang untuk menanam rica dan tomat, sebagai langkah pengalihan usaha ketika bisnis pakaian tak lagi menjadi tumpuan pendapatan keluarga. Hal itu berbeda dengan tante Ratna.
Kalau dilihat perjalanan usahanya, ketika mereka ikut dalam relokasi pedagang ke pasar Akelamo, awalnya kondisi usaha mereka terbilang baik, bahkan menurut usi Teker kalau mau diukur dari
185 keadaan barang, lebih banyak milik tente Ratna dibandingkan barang miliki mereka (wawancara, 10 Mei 2012).
Tetapi karena kurangnya pengunjung pasar Akelamo, ditambah lokasi pasar yang terisolir dari permukiman penduduk, tak terelakan berdampak pada pendapatan mereka. Sekalipun hari-hari pertama berjualan di pasar Akelamo menunjukan hasil baik, dimana bisa mencapai Rp 500.000 sampai Rp 800.000 dalam sehari.
Namun kondisi itu tidak bertahan lama, pendapatan tante Ratna tidak bergerak naik, malah manukik turun tak terkendalikan. Dari pendapatan tertinggih Rp 800.000 beranjak turun pada kisaran Rp 150.000, hingga Rp 50.000. Situasi tersebut ketika masih bertahan di dalam pasar Akelamo. Begitu sebaliknya ketika Ia berusaha merelokasi usahanya ke perempatan pinggiran jalan utama desa Akelamo.
Awalnya baik-baik saja, sehari bisa mencapai Rp 800.000 sampai Rp 1.000.000, tetapi pada hari-hari selanjutnya, kembali terpuruk, pendapatan mereka malah bergerak turun hingga sehari hanya bisa mencapai Rp 100.000 sampai Rp 150.000, begitu kata tante Ratna (Wawancara,26 Januari 2013). Karena makin merugi akhirnya tante Ratna memutuskan kembali ke Akediri.
Upaya untuk memulihkan kondisi usaha terus dilakukan oleh tante Ratna ketika kembali ke Akediri, menurut usi Teker istrinya bu Damis Pasuma (Wawancara,10 Mei 2012), tante Ratne dan suaminya mencoba untuk menggunakan modal dari koperasi simpan pinjam sebagai pilihan alternatif untuk menyokong usaha mereka.
Tetapi langkah tersebut tak terlihat manjur. Jika awalnya dagangan utama tante Ratna adalah Sembako (sembilan bahan pokok), kini beranjak turun hingga bertahan pada dagangan Barito (bawang, rica, tomat) dengan campuran sayuran-sayuran dan bumbu dapur seadanya. Pada titik inilah ketika pemerintah daerah kembali merencanakan untuk merelokasi kembali pedagang pasar Akediri ke pasar Akelamo, tante Ratna berencana untuk berhenti berdagang.
186
Baginya, Akelamo merupakan tempat dimana mereka pernah merasakan masa-masa suram dalam berdagang. Jika melihat kesiapan kondisi pasar tersebut, tak jauh bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya, kendati telah mengalami perbaikan infrastruktur, kata tante Ratna (Wawancara,26 Januari 2013). Menurut Cherli9, kini tante Ratna sudah tidak berdagang atau telah menutup usahanya.
9 Cherli Namotemo adalah salah satu informan yang dilibatkan untuk mengumpulkan informasi, dari informan kunci ketika peneliti sudah kembali ke Salatiga. Komunikasi melalui Handphon, 12 Maret 2013.