• Tidak ada hasil yang ditemukan

PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN

B. Deskripsi Hasil Penelitian

2. Strategi Pelaksanaan Pengembangan Budaya Religius

Setiap lembaga pendidikan memiliki tujuan mulia salah satunya yakni membentuk karakter peserta didik agar terwujud budi pekerti luhur dan akhlak mulia yang diharapkan dapat menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Majunya Negara agar menjadi bangsa yang beradab ditentukan oleh karakter yang tertanam dalam diri para anak bangsanya. Seperti halnya dalam sebuah pepatah dikatakan “Pemuda hari ini adalah cerminan pemuda di masa yang akan datang”. Jika pemuda di hari ini sudah terlena dengan hal-hal yang tidak bermanfaat, hal ini tentu akan berimbas pada kehidupan di masa yang akan datang bahkan bisa mengakibatkan kehancuran dalam sebuah Negara.

Oleh karena itu perlu adanya pondasi yang kokoh dan pendidikan yang bermutu sehingga dapat terwujud harapan dalam mencetak generasi muda yang berakhlak. Berhubungan dengan hal ini MTs Hidayatul Mubtadi’in Malang memiliki strategi dalam pengembangan budaya religius yang diharapkan bisa membentuk karakter siswa.

Agar siswa menerapkan ajaran agama berdasarkan keikhlasan hati nuraninya sendiri, maka salah satu strategi guru dalam mengembangkan budaya religius disini adalah dengan memberikan penjelasan kepada siswa tentang anjuran umat islam dalam melaksanakan perintah ibadah. Dengan penjelasan yang baik serta

diselipkan motivasi-motivasi maka siswa akan mengerti sehingga tidak dibutuhkan aturan khusus untuk menerapkannya kepada siswa.

“Setiap kali, untuk menggerakkan siswa disini supaya antusias dalam melaksanakan budaya religius, saya dan guru-guru yang lain tidak bosan-bosannya dalam memberikan penjelasan dan motivasi ke anak-anak seperti tentang nikmatnya ibadah, pahalanya, hukuman bagi yang tidak patuh pada Allah. Bahkan harus bercerita sesuatu yang kejadiannya memang di luar nalar, seperti keajaiban yang diperoleh dari istiqomahnya sholat dhuha, baca yasin, dan yang lain-lain, la tujuannya buat apa? Biar anak-anak memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh dalam ibadah”.107

Jadi menurut Bapak Saiful selaku guru PAI dalam wawancara bersama penulis diatas, bahwa memberikan penjelasan dan motivasi pada siswa merupakan salah satu strategi yang dapat berhasil dalam pengembangan budaya religius di MTs Hidayatul Mubtadi’in.

Menguatkan pernyataan di atas, Bapak Saiful mengatakan:

“Saya memberikan cerita, salah satu contohnya ini, jadi di kala itu Pak Rozi kepala sekolah kita waktu beliau sholat dhuha disini, di Arab Saudi Mekkah itu kepala Depag sini, satu tahun yang lalu itu mendengarkan lantunan dari ayat-ayat yang dibaca oleh Pak Rozi. Katanya terdengar jelas di telinganya. Jadi kepala Depag tersebut sampai langsung menelfon Pak Rozi karena mendengar suara pak Rozi padahal posisinya ternyata pak Rozi disini sedang sholat dhuha bersama anak-anak. Inilah salah satu kejaiban Allah yang ditunjukkan buah hasil dari ke istiqomahan ibadah. Ya cerita-cerita seperti ini yang diharapkan juga dapat memotivasi siswa”.108 Penjelasan yang mendalam serta mengaitkannya langsung kepada Allah dinilai lebih efektif dibandingkan dengan memberikan iming-iming nilai pada siswa ataupun hukuman bagi yang melanggar aturan budaya religius yang ada. Hal ini juga untuk melatih siswa agar lebih

107 Wawancara dengan Saiful Arifin S.Pd selaku guru PAI, tanggal 15 Agustus 2019.

mengedepankan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah daripada hanya untuk mengejar nilai saja.

Seperti yang dikatakan Bapak Ngadiyono dalam lanjutan wawancara dengan penulis.

“yang sering saya sampaikan ke anak-anak itu gini mbak, pilih mana kalau sholat dhuha kalian cuma cari nilai atau cuma supaya gak dihukum, sama kalian melakukan ini semua bener-bener cari ridhonya gusti Allah? Kalau tujuan pertama dalam ibadah ini cari ridhonya Allah, sudah pasti dapet pahala, dapet kasih sayangnya Allah plus dapet nilai, la kalau kalian tujuannya cuma cari nilai, maka sesungguhnya kalian sudah menghilangkan keilkhlasan dalam hati kalian sendiri, kan eman-eman.. jadi anak-anak gak usah khawatir, yang penting tulus niat karena Allah dalam beribadah, masalah nilai itu gampang”.109

Adapun strategi lain yang digunakan oleh guru di sini dalam pelaksanaan budaya religius adalah dengan melakukan monitoring pada siswa, baik di waktu jamaah sholat dhuha maupun sholat dzuhur, dan juga dalam pelaksanaan wajib hafalan juz 30. Jadi melakukan kontrol terhadap siswa itu merupakan cara daripada membangun kedisiplinan yang diawali dengan tujuan membangun karakter.

Seperti yang disampaikan oleh pak Rozi selaku kepala sekolah ketika melakukan wawancara dengan penulis, sebagai berikut.

“Memang dalam pelaksanaan pengembangan budaya religius ini ada beberapa kendala, salah satunya adalah anak-anak pondok yang sekolah disini, sering kali tiap pagi mereka datang telat. Iya sangat wajar karena mungkin kumpulannya, mitranya, konco e tidak saling mendukung, sehingga mereka tidak mengikuti kegiatan sholat dhuha dan kegiatan religius lainnya, bahkan ada yang sampai bolos. Salah satu strategi kami agar kendala tersebut bisa

teratasi adalah guru langsung terjun untuk mencari anak-anak MTs di kamar-kamar pondok. Kemudian langsung kami bawa ke sekolah dan pasti ada sanksi tersendiri”.110

Hal ini sesuai dengan pengamatan peneliti. Waktu itu peneliti sedang berbincang dengan salah satu guru PAI yaitu bapak Ngadiyono, kemudian bapak guru melihat jam yang menunjukkan pukul 06.45 dan kemudian beliau langsung berjalan menuju arah pondok pesantren untuk mencari siswa yang belum berangkat karena ketiduran. Pada akhirnya bapak guru berhasil menggiring para siswa yang telat tersebut dan langsung memberikan hukuman karena telat datang sekolah sampai tidak mengikuti kegiatan religius di pagi hari.111

Menurut pak Rozi bahwa dalam pembentukan karakter juga perlu adanya kesadaran dalam diri siswa. Karena meskipun guru sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengajak siswa dalam membentun karakter agar menjadi baik, tapi dari siswanya tidak ada keinginan untuk berubah, maka hal tersebut akan sulit untuk dicapai.

Seperti halnya yang dijelaskan dalam lanjutan wawancara penulis dengan par Rozi, sebagai berikut.

“Bagi anak-anak yang punya niat, antusias, maka kegiatan budaya religius ini juga memang sudah berdampak pada karakter siswa dalam sehari-harinya, mulai dari mau ngaji, dan istiqomah sholat. Jadi semua budaya religius disini sudah kami kemas mulai dari masuk pagi sholat dhuha sampai siang sholat dzuhur berjama’ah. Ada salah satu contoh, disini ada anak pindahan dari Kalimantan, anaknya punya masalah dalam hal sifat dan sikapnya dan itu berdampak negatif, tapi Alhamdulillah setelah masuk di MTs ini, dia ingin hijrah, begitu disini akhlaknya semakin terlihat baik dan tambah disiplin. Tapi di sisi lain juga ada anak pindahan yang sekedar ingin pindah.. yaa akibatnya tidak ada perobahan, karena kembali lagi semua pada niat masing-masing siswa”.112

110 Wawancara dengan Drs. M. Sairozi M.Pd selaku kepala sekolah, tanggal 22 Agustus 2019.

111 Hasil observasi di MTs. Hidayatul Mubtadi’in Malang, Kamis 22 Agustus 2019, 06.45.

Jadi menurut pak Rozi, kurangnya kesadaran siswa menjadi salah satu kendala dilaksanakannya budaya religius di MTs Hidayatul Mubtadi’in Malang ini. Sebagian dari siswa tidak menyadari bahwa budaya religius itu penting, yakni bertujuan untuk membangun karakter dan membangun kepribadian siswa, serta membangun kereligiusan siswa. Seperti contohnya anak-anak yang sering kali datang terlambat, sehingga aturan sudah dibuat akan tetapi masih banyak yang tidak patuh pada aturan, dan hal ini tidak hanya pihak sekolah saja yang bertanggung jawab atas siswa tersebut, akan tetapi lingkungan dan orang tua dirumah juga harus ikut andil dalam memotivasi siswa untuk patuh pada aturan di sekolah sehingga tujuan dalam pembentukan karakter siswa ini dapat terwujud.

Selain hal diatas memberikan penilaian pada siswa untuk hafalan juz 30, hafalan surat yasin, rotibul haddad, dan juga sholat jenazah ini juga harus terus kami kontrol, yang mana hal ini sebagai salah satu strategi dalam pengembangan budaya religius siswa. Seperti yang dijelaskan oleh bu Durin dalam wawancara dengan penulis sebagai berikut.

“Kami sebagai guru maka harus terus memberikan nasihat dan peringatan, serta terus mengontrol siswa. Pun seandainya hal tersebut dirasa masih kurang maka ada juga hukuman yang diberikan pada siswa seperti yang telat di hukum setelah jam pelajaran selesai harus mengaji di mushola sampai beberapa juz. Untuk program hafalan guru juga harus terus memberikan tekanan pada siswa agar mau hafalan, jika kenaikan kelas masih belum hafal maka siswa wajib menghadap guru bersama orang tuanya dan

mau memberikan pernyataan untuk harus menyetorkan hafalan meski itu didampingi oleh orang tua.”113

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu dari terlaksananya budaya religius dengan baik adalah karena pengaruh dari nilai yang diberikan kepada siswa. Akan tetapi guru-guru disini tidak lupa dalam mengedepankan pemberian nasihat-nasihat dan motivasi agar siswa sadar makna dari tujuan pelaksanaan budaya religius yang sebenarnya.

Selain dari strategi yang telah dijelaskan diatas, terdapat strategi lain yang memang benar dapat mendukung berjalannya kegiata budaya religius di MTs Hidayatul Mubtadi’in ini, yakni terdapat organisasi kepesertadidikan yang turut berperan aktif dalam mengembangkan budaya religus yang ada di Madrasah. Organisasi tersebut sangat berperan aktif dalam mengadakan acara hari-hari besar seperti peringatan Maulid Nabi, Isra’mi’raj, Tahun Baru Islam, dan lain sebagainya.

Seperti yang dinyatakan oleh bapak Hariyanto dalam lanjutan wawancara dengan penulis, sebagai berikut.

“Untuk perayaan hari-hari besar Islam, tidak hanya guru yang berperan aktif dalam pelaksanaan acara yang diadakan. Tapi peran OSIS sangat membantu, bahkan ide-ide kreatif muncul dari pemikiran mereka. Seperti contohnya dalam setiap kegiatan hari besar dilaksanakan maka yang mengatur rundown acara ya anak-anak OSIS, kemudian setelah itu baru mereka melaporkan pada guru tentang hasil rapat mereka. Ada lagi contohnya, mereka juga sangat kreatif dan aktif dalam mengadakan lomba-lomba ketika satu muharrom, nah ada lagi kan tiap ngadain pengajian di sekolah

ada Kyai yang ngisi untuk ceramah itu juga anak-anak OSIS yang nyari, tapi harus ada profil jelas dan disitu nantik kami lihat”.114 Dengan melibatkan organisasi kepesertadidikan serta memberikan kebebasan untuk mengadakan suatu acara maka guru-guru hanya menjadi fasilitator, koordinator kegiatan, serta inspirator. Selain hal ini berguna agar acara yang diadakan bisa sukses sesuai yang diharapkan karena adanya kerjasama antara guru dan peserta didik, hal ini juga bermanfaat dalam membentuk rasa kebersamaan dan kemandirian siswa. Selanjutnya juga ada acara seperti khataman keliling di rumah siswa-siswi. Hal ini dilakukan secara bergilir, dengan tujuan untuk menjalin silaturrahim dengan orang tua siswa serta menjunjung tinggi rasa solidaritas antar siswa. Pernyataan ini disampaikan oleh bapak Saiful kepada peneliti, sebagai berikut.

“Seperti yang sudah saya jelaskan tadi diawal. Memang ada harapan lebih ketika kami ngadain acara Khotmil keliling seperti ini. Selain memang untuk menjalin silaturrahim dengan orang tua, juga supaya rasa persaudaraan antar siswa ini lebih rekatlah istilahnya, karena acara ini diikuti oleh siswa siswi. Jadi yang awalnya gak kenal bisa saling kenal dan akrab.”115

Dari data diatas maka dapat dipahami bahwa pelaksanaan pengembangan budaya religius, warga sekolah dan orang tua siswa ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Sehingga siswa dapat memahami bahwa kegiatan yang diadakan secara rutin itu tidak diperuntukkan untuk dirinya saja, akan tetapi juga orang-orang yang disekitarnya pun ikut berpatisipasi.

114 Wawancara dengan Drs. Suhariyanto selaku Waka Sarpras, tanggal 14 Agustus 2019.

Selain strategi di atas, ada strategi lagi yang juga mendukung dalam pengembangan budaya religius di MTs Hidayatul Mubtadi’in ini. Yakni memberikan keteladanan, jadi dalam setiap pelaksanaan budaya religius yang ada, guru-guru disini menjadi contoh tersendiri bagi siswa. Seperti halnya dalam pelaksanaan sholat dhuha, dan juga sholat dzuhur berjama’ah. Maka semua guru juga serentak dalam melaksanakan hal tersebut, sembari memberikan peringatan pada siswa yang masih berada di luar mushola. Guru berkeliling ke kelas-kelas untuk mencari siswa yang masih belum turun ke mushola.

“Berdasarkan pengamatan peneliti, peran serta guru juga sangat tampak dalam pelaksanaan sholat berjamaah. Hal ini terbukti setiap kali siswa-siswi mengambil wudhu. Para guru juga mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat berjama’ah baik itu pada waktu sholat dhuha maupun dzuhur. Tiap kali akan dilaksanakan sholat berjamaah sebagian guru yang lain juga bekerja sama mengelilingi kelas-kelas untuk mencari siswa/siswi yang masih berada di kelas, dan juga terbukti tiap kali yang mengimami sholat berjama’ah yakni salah satu guru, dan itu tidak hanya satu guru saja, akan tetapi bergantian. Bahkan yang dilihat peneliti, bahwa kepala sekolah setiap pagi berada di barisan terdepan untuk mengimami sholat dhuha”.116

Memperkuat data diatas, peneliti melakukan wawancara dengan salah satu siswi yaitu Kincka Ratira Hayyisa kelas IX.

“Iya, semua guru-guru ikut sholat, terus pasti ibu guru banyak yang keliling pas sholat jama’ah mau dimulai. Nyariin anak-anak yang masih belum turun ke mushola. Terus juga yang cewek-ceweknya kalau udzur itu bener-bener dicek ke kamar mandi sama bu guru, jadi disini gak ada yang bisa bohong atau alasan udzur”.117

116 Hasil observasi di MTs Hidayatul Mubtadi’in Malang, Kamis tanggal 15 Agustus 2019, pukul 06.15.

93

Bapak Sairozi selaku kepala sekolah juga juga memperkuat bahwa guru-guru semua terlibat dalam pelaksanaan budaya religius, dengan mengatakan.

“Bahwa semua guru-guru disini mempunyai tanggung jawab dalam mendukung seluruh kegitan siswa, terkhusus dalam kegiatan religius ini. Karena guru itu kan sebagai contoh, sebagai uswatun hasanah. Jika guru secara sadar memberikan teladan pada siswa, secara otomatis siswa juga akan tergerak lebih semangat dalam melaksanakan kegiatan religius yang ada di MTs Hidayatul Mubtadi’in ini.”118

Dari data diatas dapat dipahami bahwa dalam pelaksanaan pengembangan budaya religius peran guru adalah termasuk sangat penting dalam hal memberikan teladan kepada siswa. Sehingga siswa juga lebih yakin dan semangat karena melihat para guru juga melaksanakan kegiatan religius yang mana menjadi uswatun hasanah bagi para siswa.

Berdasarkan paparan data yang ada di lapangan didapatkan temuan penelitian tentang strategi pelaksanaan pengembangan budaya religius di MTs Hidayatul Mubtadi’in Malang diantaranya: (1) memberikan penjelasan kepada siswa bahwa tujuan ibadah semata-mata untuk mencari ridho Allah dan program budaya religius sebagai salah satu cara membiasakan siswa, (2) melakukan monitoring penilaian seperti setor hafalan surat-surat dan praktik religius di akhir semester, (3) melibatkan organisasi kepesertadidikan, untuk ikut mensukseskan program pengembangaan budaya religius dalam memberikan

kebebasan dalam berinovasi dengan pengawasan guru, (4) Memberi teladan, partisipasi warga sekolah dalam menyemarakkan program pengembagan budaya religius yang dicontohkan mulai dari kepala sekolah, semua guru dan staff, sampai dengan dukungan wali murid.

Gambar 4.3: Strategi Pengembagan Budaya Religius

STRATEGI PENGEMBANGAN BUDAYA RELIGIUS Memberikan Nasehat dan Motivasi Guru selalu memberi nasihat

pada siswa agar beribadah hanya karena Allah bukan karena adanya hukuman dari guru Monitoring Kegiatan Religius siswa Ada absensi khusus bagi siswa

yang telat sholat dhuha dan penilaian praktik religius di akhir semester Melibatkan Organisasi Kepesertadidikan Melibatkan siswa dalam setiap diadakannya perayaan Hari Besar Islam Memberi Teladan Seluruh warga sekolah diwajibkan untuk melaksanakan program budaya religius mulai dari

kepala sekolah hingga staff, dan

dukungan wali murid

3. Dampak Pengembangan Budaya Religius terhadap Karakter