BAB III METODE PENELITIAN
3.7 Uji Hipotesis
3.7.2 Uji F
Uji statistik f digunakan untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak dengan melihat pengaruh positif dan signifikan (sig) antara variabel bebas (X) terhadap variabel (Y). Jika nilai sig dibawah 0,05 maka variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat. Kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis dengan uji f adalah:
1. Jika 𝑓 hitung > 𝑓 tabel maka 𝐻0 ditolak dan 𝐻𝑎 diterima 2. Jika 𝑓 hitung < 𝑓 tabel maka 𝐻0 diterima dan 𝐻𝑎 ditolak 3.8 Analisis Jalur
Analisis jalur pada dasarnya ialah suatu teknik analisis hubungan sebab-akibat dimana variabel-variabel independen mempengaruhi variabel dependen baik secara langsung maupun tidak langsung. Analisis jalur merupakan
pengembangan langsung bentuk regresi berganda dengan tujuan untuk memberikan estimasi tingkat kepentingan (magnitude) dan signifikansi (significance) hubungan sebab akibat hipotetikal dalam seperangkat variabel (Sukaria, 2016). Maka dapat disimpulakan bahwa analisis jalur berfungsi untuk menganalisis besarnya pengaruh langsung dan tidak langsung dari variabel sebab terhadap variabel akibat.
Pada penelitian ini, analisis jalur digunakan untuk mengetahui pengaruh langsung dan tidak langsung pemasaran hijau (X) terhadap citra merek (Y1) dan keputusan pembelian (Y2). Terdapat beberapa tahapan dalam melaksanakan metode analisa jalur yaitu, sebagai berikut:
1. Menentukan model penelitian yang mencerminkan pola pengaruh variabel penelitian berbentuk path
e₂ ρ₁
Ɵ ρ₂ ρ₃
e₁
Gambar 3. 1 Path Diagram Penelitian
2. Selanjutnya ubah path diagram kedalam bentuk formula yang akan menentukan besaran pengaruh
a. Y1 = ρ₂X₁ + e₁ Keterangan:
Y1 = Citra merek Pemasaran hijau
(X1)
Citra merek (Y1)
Keputusan pembelian (Y2)
ρ₂X₁ = Koefisien jalur untuk pengaruh langsung X terhadap Y1 e₁ = Koefisien jalur untuk pengaruh variabel lain diluar model e₁
terhadap Y1 b. Y2 = ρ₁X₁ + ρ₃Y₁ + e₂
Keterangan:
Y2 = Keputusan pembelian
ρ₁X₁ = Koefisien jalur untuk pengaruh langsung X terhadap Y2 ρ₃Y₁ = Koefisien jalur untuk pengaruh langsung Y1 terhadap Y2 e₂ = Koefisien jalur untuk pengaruh variabel lain diluar model e₂
terhadap Y2 3. Periksa asumsi analisis jalur
a. Hubungan antar variabel dalam model adalah linear dan adaptif
b. Seluruh error (residual) diasumsikan tidak berkorelasi dengan yang lainnya c. Observed variabel diukur tanpa kesalahan (valid dan reliable)
4. Menghitung koefisien jalur melalui koefisien determinasi 5. Pengujian model
Pengujian model dilaksanaan dengan pengujian hipotesis. Uji hipotesis yang dilakukan, adalah sebagai berikut:
a. Uji signifikan pengaruh dari masing-masing variabel bebas terhadap variabel intervening
b. Uji signifikansi pengaruh dari variabel intervening terhadap variabel terikat. Hipotesis akan diterima atau ditolak ketika:
i. t hitung > t tabel maka hipotesis diterima.
ii. t hitung < t tabel maka hipotesis ditolak.
BAB IV
HASIL PENELITIAN 4.1 Uji Instrumen
4.1.1 Uji Validitas
Instrumen analisis uji validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Persyaratan nilai untuk masing-masing instrumen tersebut ≥ 0,50 maka dikatakan valid, jika ≤ 0,50 maka dikatakan tidak valid.
Tabel 4. 1 Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel Pemasaran Hijau (X1)
No Item Pernyataan Corrected
Item-Total Correlation
Keterangan
1 Saya menyukai minuman starbucks karena berasal dari bahan alami dan berkualitas.
0.650 Valid
2 Saya lebih menyukai produk yang menggunakan cup daur ulang.
0,590 Valid
3 Saya lebih menyukai memakai wadah gelas ketika dine in di starbucks.
0,718 Valid
4 Saya lebih menyukai memakai tumbler starbucks sebagai wadah minum untuk mengurangi pemakaian plastik dan fleksibel.
0,653 Valid
5 Saya lebih menyukai menggunakan paper bag dan tissue yang dapat didaur ulang.
0,946 Valid
6 Harga minuman starbucks sesuai dengan mutu yang ditawarkan
0,747 Valid
7 Harga minuman starbucks sangat bersaing dengan minuman sejenis lainnya
0,778 Valid
8 Saya bersedia membayar lebih tinggi untuk produk ramah lingkungan.
0,564 Valid
9 Starbucks memberikan pesan lingkungan dalam promosinya.
0,706 Valid
10 Promosi starbucks melalui media non kertas, seperti email, sms dan media sosial.
0,751 Valid
11 Starbucks memberikan potongan harga secara rutin jika membawa tumbler pribadi.
0,789 Valid
12 Lokasi starbucks strategis dan mudah di 0,713 Valid
13 Desain sengaja di buat un-finishing agar menghemat penggunaan cat.
0,844 Valid
14 Pencahayaan toko starbucks yang minimal untuk lampu hemat energi.
0,840 Valid
Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa pengujian instrumen variabel pemasaran hijau menunjukkan bahwa semua nilai r-hitung lebih besar dari 0,50.
Hal ini menunjukkan bahwa instrumen penelitian dikatakan valid dan selanjutnya dapat digunakan dalam penelitian.
Tabel 4. 2 Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel Citra Merek (Y1)
No Item Pernyataan Corrected
Item-Total Correlation
Keterangan
1 Terdapat ciri-ciri khusus sehingga produk starbucks mudah dikenali.
0.779 Valid
2 Desain kemasaran starbucks mudah dikenali.
0,767 Valid
3 Starbucks memiliki tumbler, mug, tissue daur ulang dan papper bag, yang memberikan manfaat untuk ikut serta dalam kegiatan go green.
0,798 Valid
4 Produk minuman starbucks memiliki standar yang lebih baik.
0,738 Valid
5 Starbucks selalu memiliki promo yang berlaku setiap hari (potongan bagi pelanggan yang menggunakan tumbler).
0,599 Valid
6 Kualitas pelayanan starbucks selalu memuaskan .
0,799 Valid
7 Apabila menyebutkan coffe shop saya akan mengingat starbucks.
0,720 Valid
8 Logo starbucks mudah diingat. 0,857 Valid
Berdasarkan Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa pengujian instrumen variabel citra merek menunjukkan bahwa semua nilai r-hitung lebih besar dari 0,50. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen penelitian dikatakan valid dan selanjutnya dapat digunakan dalam penelitian.
Tabel 4. 3 Hasil Uji Validitas Instrumen Variabel Keputusan Pembelian (Y2)
No Item Pernyataan Corrected
Item-Total Correlation
Keterangan
1 Menurut saya produk starbucks sudah sesuai dengan kebutuhan dan keinginan saya.
0.806 Valid
2 Saya mendapat informasi starbucks melalui teman-teman saya.
0,706 Valid
3 Menurut saya iklan starbucks sangat gencar memberikan informasi tentang produk starbucks, seperti tumblernya.
0,860 Valid
4 Menurut saya kualitas produk minuman starbucks yang terbaik diantara merek produk minuman sejenis lainnya.
0,787 Valid
5 Menurut saya produk minuman starbucks sangat sesuai dengan harapan saya.
0,817 Valid
6 Menurut saya starbucks merupakan produk minuman pilihan utama saya.
0,653 Valid
7 Setelah mempertimbangkan berbagai aspek, saya memutuskan untuk membeli produk starbucks.
9 Menurut saya setelah mengkonsumsi produk starbucks, saya tidak akan beralih ke produk minuman sejenis lainnya.
0,592 Valid
Berdasarkan Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa pengujian instrumen variabel Keputusan Pembelian menunjukkan bahwa semua nilai r-hitung lebih besar dari 0,50. Hal ini menunjukkan bahwa instrumen penelitian dikatakan valid dan selanjutnya dapat digunakan dalam penelitian.
4.1.2 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan metode cronbach alpha untuk menentukan apakah setiap instrumen reliable atau tidak. Pengukuran ini menggunakan uji statistik cronbach alpha (α) suatu konstruk atau variabel dikatakan reliable jika memberikan nilai cronbach alpha > 0,60.
Tabel 4. 4 Hasil Uji Reliabel Instrumen Variabel Pemasaran Hijau (X1)
Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa pengujian reliabilitas instrumen variabel pemasaran hijau menunjukkan nilai cronbach alpha lebih besar dari 0,6 yang berarti bahwa instrumen variabel pemasaran hijau adalah reliabel.
Tabel 4. 5 Hasil Uji Reliabel Instrumen Variabel Citra Merek (Y1) Reliability Statistics
Berdasarkan Tabel 4.5 dapat dilihat bahwa pengujian reliabilitas instrumen variabel citra merek menunjukkan nilai cronbach alpha lebih besar dari 0,6 yang berarti bahwa instrumen variabel citra merek adalah reliabel.
Tabel 4. 6 Hasil Uji Reliabel Instrumen Variabel Keputusan Pembelian (Y2) Reliability Statistics
Berdasarkan Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa pengujian reliabilitas instrumen variabel keputusan pembelian menunjukkan nilai cronbach alpha lebih besar dari 0,6 yang berarti bahwa instrumen variabel keputusan pembelian adalah reliabel.
4.2 Analisis Deskriptif
4.2.1 Analisis Deskriptif Karakteristik Responden
Penelitian dilakukan secara kuantitatif yaitu dengan menyebarkan kuesioner kepada pelanggan Starbucks Focal Point Kota Medan yang pernah membeli
sebanyak 155 orang. Kuesioner yang dibuat oleh peneliti terdiri atas 3 variabel dengan total 31 pernyataan.
Karakteristik responden merupakan identitas responden yang menjadi sampel penelitian. Dari uraian karakteristik responden yang didapat dari kuesioner yang telah disebar, data yang yang diperoleh penulis dapat dilihat dalam bentuk tabel berikut:
Tabel 4. 7 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis_Kelamin
Frequency Percent
Valid
Pria 63 40.6
Wanita 92 59.4
Total 155 100.0
Tabel 4.7 diperoleh informasi bahwa mayoritas responden pada penelitian ini adalah berjenis kelamin wanita sebanyak 92 orang atau 59,4%. Sedangkan pria sebanyak 63 orang atau 40,6%. Mayoritas responden berjenis kelamin wanita, hal ini tidak terlepas dari fenomena yang biasa kita temui bahwa wanita jauh lebih tertarik untuk menggunakan produk yang ramah lingkungan dibandingkan pria.
Tabel 4. 8 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Usia
Frequency Percent
Valid
17-22 tahun 23 14.8
23-28 tahun 84 54.2
29-34 tahun 25 16.1
>35 tahun 23 14.8
Total 155 100.0
Tabel 4.8 diperoleh informasi bahwa responden pada penilitian ini didominasi oleh rentang usia 23-28 tahun yaitu sebanyak 84 orang atau 54,2% dan responden yang berusia 29-34 tahun sebanyak 25 orang atau 16,1%. Berdasarkan hasil
tersebut dapat disimpulkan yang menjadi responden penelitian pada penelitian ini adalah berada pada umur yang sudah matang dalam menentukan pilihan terhadap produk yang akan dibeli. Selain itu, responden juga sudah mampu membedakan produk yang berkualitas baik dan yang tidak baik.
Tabel 4. 9 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Pendidikan
Frequency Percent
Valid
Sekolah Menengah Atas (SMA)
8 5.2
Diploma (D3) 23 14.8
Sarjana (S1) 92 59.4
Pascasarjana (S2) 30 19.4
Doktor (S3) 2 1.3
Total 155 100.0
Tabel 4.9 diperoleh informasi bahwa responden pada penilitian ini didominasi oleh pendidikan sarjana yaitu sebanyak 92 orang atau 59,4% dan responden yang berpendidikan pascasarjana sebanyak 30 orang atau 19,4%. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas pelanggan dari starbucks adalah berpendidikan S1 yang sebagian besar sudah memahami manfaat dari produk yang akan dikonsumsi mereka.
Tabel 4. 10 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan
Frequency Percent
Valid
TNI/ Polri 3 1.9
Pegawai Negeri 22 14.2
Pegawai Swasta 60 38.7
Wirausaha 23 14.8
Pelajar 26 16.8
Lainnya 21 13.5
Total 155 100.0
Tabel 4.10 diperoleh informasi bahwa responden pada penilitian ini didominasi oleh pegawai swasta yaitu sebanyak 60 orang atau 38,7% dan pelajar sebanyak 26 orang atau 16,8%. Hal ini karena lokasi starbucks yang strategis sehingga memudahkan pelanggan untuk bertemu dengan rekan kerja dengan suasana yang santai tetapi masih terkesan formal. Serta lokasi yang dekat dengan area kampus sehingga cukup dekat dan mudah dijangkau mahasiswa.
Tabel 4. 11 Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan
Penghasilan
Frequency Percent
Valid
<1.000.000 10 6.5
1.000.000 - 3.000.000 44 28.4
>3.000.000 101 65.2
Total 155 100.0
Tabel 4.11 diperoleh informasi bahwa responden pada penilitian ini didominasi oleh penghasilan > 3.000.000 yaitu sebanyak 101 orang atau 65,2%
dan penghasilan 1.000.000-3.000.000 sebanyak 44 orang atau 28,4%. Hal ini dapat dimaklumi karena melihat harga produk dari starbucks yang cukup mahal dibandingkan dengan produk minuman lainnya, sehingga pelanggan yang memiliki pendapatan lebih yang dapat membelinya.
4.2.2 Analisis Deskriptif Penilaian Responden
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yaitu untuk menggambarkan persepsi responden atas item-item pertanyaan yang diajukan. Angka jawaban responden dimulai dari angka 1 sampai dengan 5 di setiap masing-masing pertanyaan kuesioner dari variabel pemasaran hijau, citra merek dan keputusan pembelian yang diberikan kepada pelanggan Starbucks Focal Point Kota Medan.
Tabel 4. 12 Distribusi Penilaian Responden Terhadap Variabel Pemasaran
Hasil jawaban responden terhadap pemasaran hijau Starbucks Focal Point Kota Medan pada Tabel 4.12 adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan rentan skala 1,5 – 2,4 (tidak baik), 2,5 – 3,4 (kurang baik), 3,5 – 4,4 (baik) dan 4,5 - 5 (sangat baik). Maka dari keseluruhan rata-rata hasil jawaban responden terhadap pemasaran hijau starbucks masuk dalam kategori baik dengan nilai mean 4,32.
2. Kekuatan pemasaran hijau starbucks yaitu terletak pada produk tumbler nya yang berfungsi sebagai sebagai pengganti cup berdasarkan persepsi pelanggan sebab memiliki nilai mean yang paling tinggi yakni 4,60. Sementara ini kelemahan pemasaran hijau pada starbucks yakni harga produknya yang relatif mahal berdasarkan persepsi pelanggan karena memiliki mean yang paling rendah.
3. Adapun rincian kelemahan pemasaran hijau Starbucks Focal Point Kota Medan yaitu harga yang masih kurang terjangkau, masih kurang mempromosikan konsep pemasaran hijau nya sehingga masih banyak pelanggan yang belum mengerti tentang dan apa gunanya pemasaran hijau untuk lingkungan sehingga starbucks perlu untuk mengedukasi pelanggannya tentang fungsi dan penggunaan produk ramah lingkungan.
Tabel 4. 13 Distribusi Penilaian Responden Terhadap Variabel Citra Merek (Y1)
3. Hasil jawaban responden terhadap citra merek Starbucks Focal Point Kota Medan pada Tabel 4.13 adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan rentan skala 1,5 – 2,4 (tidak baik), 2,5 – 3,4 (kurang baik), 3,5 – 4,4 (baik) dan 4,5 - 5 (sangat baik). Maka dari keseluruhan rata-rata hasil jawaban responden terhadap citra merek starbucks masuk dalam kategori sangat baik dengan nilai mean 4,55.
2. Kekuatan pada citra merek starbucks yaitu terletak pada logo starbucks yang mudah diingat berdasarkan persepsi pelanggan sebab memiliki nilai mean yang paling tinggi yakni 4,78. Sementara ini kelemahan citra merek pada starbucks yakni potongan harga produk yang diberikan masih kurang menarik berdasarkan persepsi pelanggan karena memiliki mean yang paling rendah.
3. Adapun kelemahan citra merek starbucks yaitu potongan harga yang diberikan masih kurang menarik hati pelanggan, dan barista masih kurang mempromosikan tumbler serta starbucks card kepada pelanggan.
Tabel 4. 14 Distribusi Penilaian Responden Terhadap Variabel Keputusan
Hasil jawaban responden terhadap keputusan pembelian Starbucks Focal Point Kota Medan pada Tabel 4.14 adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan rentan skala 1,5 – 2,4 (tidak baik), 2,5 – 3,4 (kurang baik), 3,5 – 4,4 (baik) dan 4,5 - 5 (sangat baik). Maka dari keseluruhan rata-rata hasil jawaban responden terhadap keputusan pembelian starbucks masuk dalam kategori baik dengan nilai mean 4,23.
2. Kekuatan pada keputusan pembelian pelanggan terhadap starbucks yaitu
persepsi pelanggan sebab memiliki nilai mean yang paling tinggi yakni 4,42.
Sementara ini kelemahan keputusan pembelian pada starbucks yakni pasca pembelian , apakah pelanggan akan terus menjadikan starbucks sebagai produk minuman prioritas dibanding minuman sejenis lainnya berdasarkan persepsi pelanggan karena memiliki mean yang paling rendah yakni 3,93 hal ini terjadi karena harga produk minuman starbucks yang relatif mahal.
3. Adapun kelemahan keputusan pembelian starbucks yaitu harga yang masih relatif mahal yang tidak dapat dijangkau oleh seluruh kalangan.
4.3 Uji Asumsi Klasik 4.3.1 Uji Normalitas
Uji normlaitas dilakukan untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal. Pada uji normalitas dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu pendekatan histogram, pendekatan grafik dan pendekatan Kolmogorov-Sminrov. Berikut adalah hasil uji normalitas dari ketiga pendekatan tersebut.
a. Pendekatan Histogram
Pada Gambar 4.1 terlihat grafik histogram yang menunjukkan kurva lonceng tidak melenceng ke kiri dan kanan. Hal ini menunjukkan bahwa data memiliki distribusi normal.
Gambar 4. 1 Grafik Histogram Uji Normalitas b. Pendekatan Grafik
Pada Gambar 4.2 terdapat grafik P-Plot terlihat titik yang mengikuti data dan menyebar disepanjang garis diagonal. Hal ini berarti data berdistribusi normal. Namun untuk memastikan apakah data disepanjang garis diagonal berdistribusi normal maka dilakukan uji Kolmogorov- Smirnov.
Gambar 4. 2 Grafik Normalitas P-Plot c. Uji Kolmogorov-Smirnov
Pada Tabel 4.15 terlihat bahwa nilai Asymp.Sig. (2-tailed) adalah 0,747 >
nilai signifikansi (0,05). Hal ini membutikan bahwa data penelitian terdistribusi secara normal.
Tabel 4. 15 Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 155
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation 2.24549766
Asymp. Sig. (2-tailed) .747
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
4.3.2 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk menguji apakah terdapat korelasi antar variabel independen. Pada model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi diantara variabel independen. Batas dari tolerance value > 0,1 atau nilai VIF lebih kecil dari 10 maka tidak terjadi multikolinearitas.
Tabel 4. 16 Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
a. Dependent Variable: Keputusan Pembelian
Berdasarkan Tabel 4.16 dapat dilihat bahwa nila tolerance sebesar 0,634 >
0,1 dan nilai variance inflation factor (VIF) sebesar 1,578 < 10 dari variabel pemasaran hijau, ini menunjukkan tidak terjadi multikolinearitas pada analisis regresi. Begitu juaga pada variabel citra merek ditemukan nilai tolerance sebesar
variabel citra merek ini juga menunjukkan tidak terjadi multikolinearitas pada analisis regresi.
4.3.3 Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas dilakukan untuk menunjukkan ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varian dari satu pengamatan sama dengan pengamatan lain, disebut homokedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas. Berikut adalah hasil pengujian menggunakan grafik Scatterplot:
Gambar 4. 3 Scatterplot Heterokedastisitas
Dari Gambar 4.3 grafik Scatterplot yang disajikan terlihat titik-titik yang menyebar secara acak tidak membentuk sebuah pola tertentu yang jelas serta tersebar diatas maupun dibawah angka nol pada sumbu Y. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi keputusan pembelian, berdasarkan masukan variabel independennya.
4.4 Uji Koefisien Determinasi (R²)
Pengujian dengan menggunakan uji koefisien determinasi (𝑅2), yaitu untuk melihat besarnya pengaruh variabel bebas. R-square (𝑅2) mendekati satu berarti pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat kuat.
Tabel 4. 17 Hasil Uji Determinasi Variabel Pemasaran Hijau dengan Keputusan Pembelian Starbucks
Model Summary
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 .760a .577 .574 2.271
a. Predictors: (Constant), Pemasaran Hijau
Berdasarkan Tabel 4.17 diketahui besarnya nilai R Square adalah 0,577.
Angka 0,577 berarti 57,7% besarnya pengaruh variabel pemasaran hijau terhadap keputusan pembelian starbucks. Dengan kata lain variabel keputusan pembelian dapat dijelaskan oleh variabel pemasaran hijau sebesar 57,7%. Sedangkan sisanya (1 – 0,577 )= 0,423 atau 42,3 % dapat diterangkan oleh variabel lain diuar penelitian ini.
Tabel 4. 18 Hasil Uji Determinasi Variabel Pemasaran Hijau dengan Citra Merek
Model Summary
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 .605a .366 .362 .768
a. Predictors: (Constant), Pemasaran Hijau
Berdasarkan Tabel 4.18 diketahui besarnya nilai R Square adalah 0,366.
Angka 0,366 berarti 36,6% besarnya pengaruh variabel pemasaran hijau terhadap citra merek. Dengan kata lain variabel citra merek dapat dijelaskan oleh variabel pemasaran hijau sebesar 36,6%. Sedangkan sisanya (1- 0,366 )= 0,634 atau 63,4%
dapat diterangkan oleh variabel lain diuar penelitian ini.
Tabel 4. 19 Hasil Uji Determinasi Variabel Citra Merek dengan Keputusan
a. Predictors: (Constant), Citra Merek
Berdasarkan Tabel 4.19 diketahui besarnya nilai R Square adalah 0,275.
Angka 0,275 berarti 27,5% besarnya pengaruh variabel citra merek terhadap keputusan pembelian. Dengan kata lain variabel keputusan pembelian dapat dijelaskan oleh variabel citra merek sebesar 27,5%. Sedangkan sisanya (1-0,275)
= 0,725 atau 72,5 % dapat diterangkan oleh variabel lain diluar penelitian ini.
4.5 Uji Hipotesis
4.5.1 Uji Signifikansi Parsial (Uji – T)
Uji-T (uji parsial) dilakukan untuk melihat secara individu atau masing- masing pengaruh secara signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mencari nilai t tabel 𝛂 menentukan derajat kebebasan (df) b. Membandingkan dengan nilai t hitung pada uji t
c. Jika t hitung > t tabel maka hipotesis diterima. jika t hitung < t tabel maka hipotesis ditolak.
Tabel 4. 20 Hasil Uji T Pemasaran Hijau Terhadap Keputusan Pembelian
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
a. Dependent Variable: Keputusan Pembelian
Berdasarkan Tabel 4.20 hasil uji parsial dapat dijelaskan seperti berikut ini:
1. Uji Hipotesis 1
Berdasarkan Tabel 4.20 hasil uji parsial yang telah dilakukan terlihat bahwa t hitung variabel independen pemasaran hijau sebesar 14,443 lebih besar dari t tabel yaitu 1,976, sehingga t hitung > t tabel (14,443 > 1,976) dengan nilai signifikansi 0,000 yaitu < 0,05. Berarti variabel pemasaran hijau secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Maka H1
diterima bahwa terdapat pengaruh antara pemasaran hijau terhadap keputusan pembelian starbucks.
Tabel 4. 21 Hasil Uji T Pemasaran Hijau Terhadap Citra Merek
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1
(Constant) -1.997 .633 -3.154 .002
Pemasaran Hijau
.098 .010 .605 9.402 .000
a. Dependent Variable: Citra Merek
Berdasarkan tabel 4.21 hasil uji parsial dapat dijelaskan seperti berikut ini:
2. Uji Hipotesis 2
Berdasarkan Tabel 4.21 hasil uji parsial yang telah dilakukan terlihat bahwa t hitung variabel independen pemasaran hijau sebesar 9,402 lebih besar dari t tabel yaitu 1,976, sehingga t hitung > t tabel (9,402 > 1,976) dengan nilai signifikansi 0,000 yaitu < 0,05. Berarti variabel pemasaran hijau secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap citra merek. Maka H2 diterima bahwa terdapat pengaruh antara pemasaran hijau terhadap citra merek starbucks.
Tabel 4. 22 Hasil Uji T Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 29.002 1.008 28.775 .000
Citra Merek 1.899 .249 .525 7.621 .000
a. Dependent Variable: Keputusan Pembelian
Berdasarkan Tabel 4.22 hasil uji parsial dapat dijelaskan seperti berikut ini:
3. Uji Hipotesis 3
Berdasarkan Tabel 4.22 hasil uji parsial yang telah dilakukan terlihat bahwa t hitung variabel independen citra merek sebesar 7,621 lebih besar dari t tabel yaitu 1,976, sehingga t hitung > t tabel (7,621 > 1,976) dengan nilai signifikansi 0,000 yaitu < 0,05. Berarti variabel citra merek secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepusan pembelian. Maka H3 diterima bahwa terdapat pengaruh antara citra merek terhadap keputusan pembelian starbucks.
4.5.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F)
Uji F dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Jika nilai sig dibawah 0.05 maka variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Hasil perhitungan uji F dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4. 23 Hasil Uji F Pemasaran Hijau dan Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian Starbucks
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1
Regression 1088.047 2 544.023 106.492 .000b
Residual 776.508 152 5.109
Total 1864.555 154
a. Dependent Variable: Keputusan Pembelian
b. Predictors: (Constant), Citra Merek, Pemasaran Hijau
Berdasarkan Tabel 4.23 dapat dilihat hasil pengujian secara simultan, dimana nilai fhitung sebesar 106,492 lebih besar dari ftabel yaitu 3,06, dengan demikian bahwa pemasaran hijau dan citra merek secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, dengan nilai signifikan (0,000) lebih kecil dari 0,05. Maka dapat disimpulkan bahwa pemasaran hijau dan citra merek secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian.
4.6 Analisis Jalur (Path analysis)
Analisis jalur adalah suatu teknik pengembangan dari regresi linier berganda. Teknik analisis jalur digunakan untuk mengukur keterkaitan hubungan antara variabel independen, intervening dan dependen. Menggambarkan keterkaitan rergresi berganda dengan variabel yang hendak diukur.
Khusus untuk program SPSS menu analisis regresi, koefisien path ditunjukkan oleh output yang dinamakan coefficient yang dinyatakan sebagai standarized coefficients atau dikenal dengan nilai beta. Standardized coefficients adalah koefisien parameter regresi dari standardized variables. Standardized variabels adalah variabel-variabel yang datanya telah distandarisasi dengan standar deviasi masing-masing variabel independen maupun variabel dependen.
Dari hasil uji parsial maka dapat ditemukan nilai standarized coefficients dari variabel independen dan variabel interveing.
Hasil uji persamaan (1) yaitu Y1 = ρ₂X₁, dimana Y1 adalah citra merek dan X adalah pemasaran hijau dapat dilihat dari tabel berikut:
Tabel 4. 24 Hasil Uji Persamaan 1
Model Summary
Model R R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 .605a .366 .362 .768
a. Predictors: (Constant), Pemasaran Hijau
a. Predictors: (Constant), Pemasaran Hijau